7cloud.asia – Kandidat beraliran moderat yang bersahaja, Massoud Pezeshkian memimpin penghitungan suara sementara dalam pemilihan presiden atau Pilpres Iran.
Massoud Pezeshkian mengungguli empat kandidat yang bertarung di Pilpres Iran pada Jumat (28/6/2024) yang rata-rata setia kepada pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei
Dengan lebih dari 3,8 juta surat suara dari pilpres Iran yang telah dihitung, Massoud Pezeshkian meraup lebih dari 1.595.000 suara. Sementara penantangnya, mantan perunding nuklir Saeed Jalili yang bergaris keras, memperoleh sekitar 1.594.000 suara.
Hasil perhitungan sementara itu diungkapkan oleh pejabat Kementerian Dalam Negeri Mohsen Eslami kepada TV pemerintah pada Sabtu (29/6/2024) pagi.
Kantor berita Iran Tasnim mengatakan pemilihan putaran kedua “sangat mungkin” untuk memilih presiden berikutnya setelah kematian Ebrahim Raisi dalam kecelakaan helikopter.
Baca Juga: Mengenal Mohammad Mokhber, Pengganti Ebrahim Raisi sebagai Penjabat Presiden Iran
Tidak ada perubahan Kebijakan
Pemilu Iran berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan regional akibat perang antara Israel dan sekutu Iran, gerakan Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon.
Iran juga menghadapi meningkatnya tekanan Barat terhadap Iran atas program nuklirnya yang berkembang pesat.
Presiden berikutnya diperkirakan tidak akan melakukan perubahan besar dalam kebijakan program nuklir Iran. Pun demikian dengan dukungan terhadap kelompok milisi di Timur Tengah, karena Khamenei mengambil alih semua urusan penting negara.
Namun, presiden Iran yang menjalankan pemerintahan sehari-hari dan dapat mempengaruhi kebijakan luar negeri dan dalam negeri Iran.
Tiga kandidat penantang Massoud Pezeshkian adalah tokoh garis keras dan satu kandidat adalah tokoh moderat, yang didukung oleh faksi reformis yang sebagian besar telah terpinggirkan di Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Presiden Ebrahim Raisi Meninggal, Iran Tetapkan Masa Berkabung Selama 5 Hari
Tokoh terkemuka di antara kelompok garis keras yang tersisa adalah ketua parlemen dan mantan komandan Garda Revolusi, Mohammad Baqer Qalibaf, serta Jalili, yang menjabat selama empat tahun di kantor Khamenei.
Kritik terhadap pemerintahan Iran mengatakan bahwa rendahnya jumlah pemilih yang menggunakan hak pilih dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan legitimasi sistem tersebut telah terkikis.
Tingkat partisipasi pemilih mencapai 48 persen pada pemilihan presiden 2021 dan rekor terendah sebesar 41 persen dalam pemilihan parlemen pada Maret.
”Berdasarkan laporan yang belum terkonfirmasi, pemilu kemungkinan besar akan memasuki putaran kedua. Berdasarkan perolehan suara sejauh ini, Jalili dan Pezeshkian akan bersaing dalam pemilu putaran kedua,” lapor Tasnim.
Sumber:VOAIndonesia
