7cloud.asia – Setiap 22 April, masyarakat dunia memperingati Hari Bumi sebagai ajakan untuk kembali merenungkan pentingnya menjaga bumi dan seluruh ekosistemnya.
Pada momen Hari Bumi ini dilakukan penanaman 100 bibit pohon ulin (Eusideroxylon zwageri) di Taman Biodiversitas Hutan Hujan Tropis Lembah Bukit Manjai di Mandiangin Timur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Penanaman pohon ulin ini merupakan hasil kolaborasi Indonesia dan Kanada melalui aksi nyata akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan University of Montreal.
Pohon ulin dipilih, karena pohon ulin merupakan tumbuhan langka yang masuk dalam daftar merah Lembaga Konservasi Internasional IUCN dan perlu dilindungi pelestariannya.
Pohon ulin atau disebut juga dengan bulian atau kayu besi adalah pohon berkayu dan merupakan tanaman khas Asia Tenggara meliputi Indonesia (Sumatera & Kalimantan), Malaysia (Sabah & Sarawak), Filipina (Kepulauan Sulu).
Pohon ulin digolongkan ke dalam suku Lauraceae. Ulin memiliki tinggi pohon umumnya 30–35 meter, diameter setinggi dada (dbh) 60–120 centimeter.
Baca: Konservasi pohon Ulin yang terancam punah
Pohon ulin yang dikenal sangat keras juga berperan penting sebagai habitat bagi berbagai spesies satwa liar yang bergantung pada pohon ini untuk makanan dan perlindungannya.
Di samping itu, pohon ulin dapat berperan sebagai penyerap karbon dioksida (CO2) salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Dengan mengubah CO2 menjadi biomassa, pohon ini berfungsi dalam upaya membantu mengurangi jumlah karbon di atmosfer sebagai mitigasi pemanasan global.
Bibit pohon langka itu didapatkan dari Botanical Private Garden milik Chendrawan Sugianto, seorang pelaku konservasi pohon langka di Banjarmasin dan juga pemilik PT Bandangan Tirta Agung, perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan air murni.
Penanaman pohon ulin pada Minggu (20/4/2025), secara simbolis dilakukan oleh Valerie Preseault dari Universitas Montreal, Kanada diikuti mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi ULM di bawah bimbingan Dr Amalia Rezeki dan Luthfiana Nurtamara MPd.
“Alhamdulillah ini suatu kebanggaan dan kehormatan tim akademisi dari Kanada bisa mengikuti rangkaian peringatan Hari Bumi Sedunia di Kalimantan Selatan,” kata Amalia Rezeki di Banjarmasin.
Baca: Indonesia termasuk penyumbang terbesar deforestasi hutan tropis
Amel mengatakan kegiatan itu merupakan bentuk kepedulian dan ajakan nyata untuk memuliakan alam, sekaligus menumbuhkan kembali kesadaran akan pentingnya mencintai bumi.
Tak hanya menanam pohon, mahasiswa juga didorong untuk membangun mata rantai kepedulian, dengan cara menyebarkan semangat pelestarian lingkungan melalui unggahan di media sosial.
Kampanye di media sosial ini diharapkan agar semakin banyak yang terinspirasi melakukan aksi serupa.
Sementara Valerie Preseault merasa senang dilibatkan pada acara penanaman pohon ulin. Baginya merupakan pengalaman pertama bisa berkontribusi bersama dalam rangkaian acara peringatan Hari Bumi Sedunia di Indonesia.
Sebelumnya Valerie Preseault juga mengisi kuliah tamu hukum pidana di kampus ULM di Banjarmasin.
Baca: Pohon Ficus menjaga ekosistem hutan Sanggabuana
