Tag: politik

  • Parpol Masih Setengah Hati Penuhi Keterwakilan Perempuan di Panggung Politik

    Parpol Masih Setengah Hati Penuhi Keterwakilan Perempuan di Panggung Politik

    7cloud.asia – Angka keterwakilan perempuan di panggung politik terus meningkat, baik di tingkat pusat maupun daerah. Bahkan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) saat ini adalah seorang perempuan.

    Berdasarkan hasil Pemilu 2019, keterwakilan perempuan di  DPR-RI berada pada angka 20,8% atau 120 anggota legislatif perempuan dari 575 anggota DPR RI. Persentase keterwakilan perempuan tersebut masih di bawah angka persyaratan 30% jumlah calon legislatif perempuan pada saat parpol mendaftar menjadi peserta pemilu.

    Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga mengatakan, perempuan patut berbangga atas capaian ini. Namun demikian dukungan sesama perempuan belum optimal sehingga kuota 30 persen keterwakilan perempuan belum terealisasi. 

    “Penting bagi seluruh perempuan di seluruh Indonesia, kalau saja sesama perempuan kita saling mendukung, saling memotivasi, saling menginspirasi, saya yakin kuota 30 persen keterwakilan perempuan dalam politik itu akan bisa tercapai. Kita mulai dari para perempuan itu sendiri,” tegas Menteri PPPA dalam kegiatan Seminar Langkah Strategis Peningkatan Keterwakilan Perempuan Pada Pemilu 2024, Desember lalu di Jakarta.

    Baca: Jangan cuma capre/cawapres kenali juga rekam jejak Caleg
        
    Ditambahkan hasil survei Bank Dunia menyatakan saat perempuan dan laki-laki punya kesempatan sama di panggung politik dan pengambilan kebijakan, maka akan lahir kebijakan-kebijakan yang lebih inklusif untuk mencapai pembangunan yang lebih baik.

    Riset State of The World’s Girls Report (SOTWG) yang dipublikasikan Plan Indonesia awal 2023 mencatat, sebanyak 9 dari 10 perempuan percaya bahwa partisipasi politik itu penting, namun para perempuan juga mengakui adanya berbagai hambatan dalam terwujudnya keterwakilan perempuan. 

    Namun, Menteri PPPA mengingatkan bahwa kuota keterwakilan perempuan tidak akan efektif jika pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan politik serta kesetaraan gender perempuan masih minim.

    Seluruh pihak perlu bahu-membahu membuka ruang seluas-luasnya, bukan hanya untuk keterwakilan perempuan di panggung politik, namun juga memperoleh pengetahuan, memperluas pemahaman, dan meningkatkan keterampilan politiknya.

    “Sehingga kelak ketika mereka duduk di kursi kekuasaan akan lahir kebijakan-kebijakan yang lebih responsif, inklusif dan humanis,” jelas Menteri PPPA.

    Dalam meningkatkan dan mendorong partisipasi dan keterwakilan perempuan dalam dunia rill politik, partai politik (parpol) punya peran besar. Menurut Menteri PPPA, parpol berada di lini depan dalam rekrutmen politik dan realisasi keterwakilan perempuan.

    “Artinya partai politik berfungsi untuk mencari dan mengajak perempuan-perempuan yang memiliki potensi untuk turut aktif menyampaikan aspirasinya dan merumuskan kebijakan yang berpihak kepada perempuan tentunya di bawah payung kesetaraan,” tambah Menteri PPPA.

    Baca: Penjelasan Jokowi mengapa mengumpulkan pimpinan parpol

    Nuraeni Anggota Komisi IV DPR-RI sekaligus Wakil Sekjen Kaukus Perempuan Parlemen mengatakan, Ada sejumlah kendala yang dihadapi para perempuan politik yang saat ini belum beruntung untuk bisa terpilih. 

    “Memang ada beberapa hal yang harus dikuatkan oleh perempuan itu sendiri. Pertama, perempuan memang harus percaya diri, kuatkan dulu keinginan dari diri perempuan itu sendiri bahwa saya ingin sukses, saya ingin maju, terpilih. Yakinkan itu terlebih dahulu. Kedua, harus ada restu dan dukungan keluarga,” tutur Nuraeni.

    Di lain sisi, kepemimpinan perempuan dalam posisi-posisi strategis di parlemen masih kurang. Partai politik belum sepenuhnya membuka peluang yang sama bagi perempuan dan laki-laki di posisi ini.

    “Ini sangat penting untuk perempuan bisa didorong mengisi AKD-AKD yang memiliki keputusan-keputusan strategis seperti badan anggaran. Sebab, anggaran ini merupakan penentu bagi semua kebijakan dan keputusan agar responsif gender,” jelas Nuraeni.

    Terpisah, Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengatakan, peningkatan partisipasi dan keterwakilan perempuan khususnya perempuan muda dalam proses politik memerlukan dukungan semua pihak dan harus diupayakan secara konsisten.  

    Lestari melihat adanya hambatan bersifat interseksional dan struktural karena usia dan gender yang dianggap belum dewasa serta berbagai stereotipe yang berkembang di masyarakat.

    Baca: Tahapan dan jadwal Pemilu 2024

    Tantangan lainnya adalah kurangnya akses ke dalam pengambilan keputusan, persepsi kurangnya pengetahuan atau keterampilan, hingga gagasan dari orang lain tentang apa yang pantas untuk remaja perempuan.

    Menurut Lestari, sangat kompleksnya tantangan yang dihadapi, membuat upaya melibatkan perempuan untuk berpartisipasi dalam proses politik membutuhkan dukungan dari banyak pihak dan strategi yang tepat.

    Karena, tidak mudah mengikis anggapan atau persepsi masyarakat yang berkembang terkait bagaimana seharusnya perempuan berkegiatan di masyarakat.

    Sementera Dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia Chusnul Mar’iyah melihat sistem pemilu terbuka juga menjadi hambatan bagi jalan perempuan menuju parlemen. Ia melihat  dukungan partai politik yang dirasa masih maskulin dan ketidakpercayaan diri jadi penghambat keterwakilan perempuan.

    “Ikut pemilu memang mahal tapi bukan berarti tidak bisa, namun untuk perempuan memang berat. Selain itu ideologi, peran media dan perempuannya sendiri masih kurang percaya diri. Jadi, dukungan dari partai politik untuk rekrutmen calon anggota parlemen itu sangat penting. Pelatihan sebelum dicalonkan, jangan sesudah. Ini penting agar perempuan siap,” jelas Chusnul.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     

     

     

     

  • Ganjar Pranowo Ajak Anak Muda Berproses dari Bawah dan Tak Alergi Politik

    Ganjar Pranowo Ajak Anak Muda Berproses dari Bawah dan Tak Alergi Politik

    7cloud.asia – Bakal calon presiden yang diusung PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo mengajak anak muda untuk tidak alergi dengan politik.

    Saat memberikan kuliah umum bertajuk “Peran Pemuda dalam Masa Depan Politik Indonesia” yang digelar di Kampus Universitas Parahyangan Bandung, Jawa Barat pada Rabu (11/10/2023) Ganjar Pranowo juga mendorong anak muda untuk terlibat di partai politik sejak muda.

    Ganjar Pranowo lantas memaparkan jalan politik yang sudah ditempuhnya sejak dirinya masih jadi anak muda.

    Didorong kegelisahan pada kondisi saat itu, Ganjar muda memutuskan untuk ikut terlibat di partai politik saat masih di bangku kuliah.

    Baca: Dari AHY hingga Kaesang, menyorot dinasti politik di Indonesia

    “Sebagai anak muda, saya punya mimpi besar untuk mengubah kondisi saat itu menjadi lebih baik. Kegelisahan ini kemudian saya memutuskan untuk masuk ke dalam sistem politik dengan segala konsekuensinya, “ ujar Ganjar Pranowo

    Ganjar Pranowo memaparkan, situasi yang dialaminya saat itu mendorongnya untuk memilih ideologi yang berpihak kepada rakyat.

    Pilihannya kemudian jatuh kepada marhaenisme yang saat itu menjadi landasan idologi Parati Demokrasi Indonesia.

    “Setelah saya hitung, saya sudah 30 tahun masuk partai, yakni sejak usia 24 tahun dengan bergabung dengan PDIP ,” ujarnya.

    Baca: Perjuangan caleg bermodal cekak atasi politik biaya tinggi

    Perjalanan politik Ganjar Pranowo berlanjut, kemudian dia terpilih menjadi anggota DPR di usia 36 tahun, lalu menjadi eksekutif dengan kepala daerah/Gubernur Jawa Tengah di usia 45 tahun.

    Dan, sekarang di usia 54 tahun Ganjar Pranowo sedang mengikuti kontestasi di Pilpres 2024.

    Ganjar memaparkan, jalan yang ditempuhnya hampir sama dengan yang ditempuh Presiden China Xin Jinping dan mantan Presiden AS, Barack Obama.

    Kedua tokoh dunia ini juga merintis karier poltik dari bawah dengan menjadi anggota partai sejak usia muda sebelum akhirnya menjadi orang tertinggi di negaranya masing-masing.

    Baca: Kaum muda di panggung politik, ada yang berbekal previlese dan yang berjuang sendiri

    Sebelumnya, saat membuka pemaparannya Ganjar mengakui, banyak anak muda yang tidak puas dengan sistem demokrasi yang ada saat ini.

    Mengutip data CSIS, Ganjar Pranowo menyebut 39,5 persen anak muda mempunyai persepsi buruk soal demokrasi yang ada Indonesia.

    Namun, ia berharap persepsi buruk ini tidak serta merta membuat anak muda menjadi apatis pada politik dan justru menjadi pendorong bagi mereka untuk turun mendorong perubahan itu.

    Mengutip pidato Presiden Soekarno, Ganjar menegaskan, justru di tangan anak mudalah motor perubahan itu digerakkan. Dan Pemilu 2024 ini menjadi momen yang tepat bagi anak muda untuk melakukan perubahan itu.

    Baca: Cara beda PDIP dan PSI tangani pemilih muda

    Pasalnya di Pemilu 2024 yang digelar pada Februari 2024 mendatang, suara anak muda mendominasi jumlah pemilih dengan jumlah 54 persen dari total jumlah pemilih.

    Sehingga suara anak muda akan sangat menentukan bagaimana kondisi Indonesia lima tahun ke depan.

    Dalam kesempatan ini, Ganjar mengajak anak muda untuk tidak alergi dan mau terjun ke politik, atau bahkan terlibat menjadi anggota partai politik dan terlibat secara aktif melakukan perubahan dan perbaikan untuk apa yang dinilai harus diperbaiki.

    “Reformasi 1998 mengubah sistem demokrasi di Indonesia, saat ini siapa saja bisa menjadi apa saja yang dia inginkan. Tinggal kita mau nggak terlibat,” ujarnya.

     

  • Pemilu 2024: Simak Program Capres Soal Lingkungan

    Pemilu 2024: Simak Program Capres Soal Lingkungan

    7cloud.asia – Pesta  politik bernama Pemilu 2024 akan sangat menentukan masa depan bangsa Indonesia, termasuk kondisi lingkungan di Indonesia.

    Sayangnya, masalah lingkungan ini cenderung diabaikan dan tidak dipandang serius oleh para pemilih maupun para politisi.

    Parahnya lagi, berbagai kebijakan politik, hukum, perekonomian, dan pembangunan justru jadi peluru panas yang mengancam kelestarian lingkungan.

    Padahal politik dan lingkungan punya kaitan erat, karena kebijakan politik akan sangat mempengaruhi kelestarian lingkungan.

    Dilansir greeneration.org, ekologi politik menjelaskan hubungan politik dan lingkungan terutama terkait pengelolaan sumber daya alam.

    Baca: Pilih pemimpin pro lingkungan

    “Ekologi politik berperan untuk memberikan solusi-solusi pengelolaan sumber daya yang dapat mendukung implementasi kebijakan dengan baik dan tepat,: demikian greeneration.org menulis.

    Kebijakan tentang pengelolaan sumber daya ini akan menentukan apakah kebijakan itu akan pro lingkungan atau justru melawan semangat konservasi alam.

    Pro kontra tersebut sering terjadi karena adanya gesekan kepentingan perekonomian, sosial, dan konservasi yang tidak menemui kompromi.

    Oleh karena itu, penting bagi pemilih untuk mengetahui gagasan lingkungan para calon presiden dan wakil presiden sebelum menentukan pilihan. 

    Indonesia punya harapan untuk kehidupan yang lebih baik jika pemimpinnya punya perspektif lingkungan yang baik.

    Baca: DPR usulkan insentif untuk daerah penghasil oksigen

    Untuk membantu kamu memahami perspektif lingkungan para calon pemimpin di Pemilu 2024, berikut 7cloud.asia rangkumkan dari visi mereka: 

    1. Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar
    Pasangan ini mengangkat tema lingkungan untuk mewujudkan keadilan lingkungan yang berkelanjutan demi masa depan generasi penerus.

    Untuk mewujudkan visi itu, kampanye yang mereka galakkan adalah:

    Ketahanan energi dan kedaulatan air
    Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan
    Reformasi agraria
    Pengembangan kawasan pesisir, pulau, dan pedalaman
    Menyelaraskan pembangunan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan
    Fokus menerapkan pajak karbon

    Baca: Perdagangan karbon ditataulang untuk maksimalkan pendapatan negara

    2. Ganjar Pranowo – Mahfud MD
    Misi lingkungan Ganjar dan Mahfud adalah mengakselerasi realisasi keberlanjutan lingkungan lewat pembangunan ekonomi hijau dan ekonomi biru.

    Kampanye yang akan dilaksanakan adalah:

    Adaptasi dan mitigasi krisis iklim
    Mengintegrasikan area pemukiman dengan perkantoran, trotoar, dan transportasi umum
    Industri makanan yang berkelanjutan
    Percepatan pembangunan ibu kota nusantara
    Menjalankan pasar karbon
    Melakukan transisi ke energi terbarukan
    Menerapkan ekonomi sirkular dalam aktivitas industri

    Baca: Terdampak perubahan iklim, Indonesia berhak dapatkan dana loss and damage

    3. Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka
    Visi lingkungan pasangan Prabowo – Gibran adalah memperkuat harmonisasi kehidupan dengan lingkungan, alam, dan kebudayaan.

    Kampanye yang mereka usung untuk merealisasikan visi tersebut adalah:

    Swasembada pangan, energi, air, ekonomi hijau dan biru
    Tindakan tegas terhadap pelaku pencemaran dan perusakan lingkungan hidup dengan sistem kontrol komando untuk pelanggaran berat
    Mengurangi ketergantungan energi fosil
    Mempercepat dekarbonasi melalui penyerapan karbon dan carbon offset
    Menggunakan pendekatan politik bebas-aktif

    Esti Utami, dari berbagai sumber

  • Danty Soeharto Maju Caleg di Jakarta Timur, Bagaimana Peruntungannya?

    Danty Soeharto Maju Caleg di Jakarta Timur, Bagaimana Peruntungannya?

    7cloud.asia – Cucu mantan Presiden ke-2 Indonesia Soeharto, Danty Indriastuti Purnamasari Rukmana turut meramaikan Pemilu 2024.

    Putri sulung Siti Hardijanti Rukmana atau Tutut Seoeharto itu maju menjadi calon anggota DPR dari Partai Golkar. 

    Danty Soeharto mulai melakukan sosialisasi di teras mesjid Al Muhajirin, Malaka Jaya, Jumat (24/11/2023) lalu.

    Baca: Pelajaran yang dipetik Alam Ganjar dari Soekarno  

    Dalam sosialisasinya, Danty yang tak lain adalah anak dari mengaku baru pertama kali ini mencalonkan diri sebagai calon legislatif (caleg). 

    Ibu beranak enam ini memilih Partai Golkar yang dibentuk dan telah membesarkan sang kakek, Soeharto yang menjaid penguasa selama 32 tahun.

    Danty sengaja memilih daerah pemilihan (Dapil) Jakarta Timur karena wilayahini sudah tak asing lagi baginya.

    Baca: Cara pasangan Ganjar-Mahfud merawat semangat proklamator

    Danty mengaku, keluarganya tidak mempermasalahkan pilihannya tidak bergabung dengan Partai Berkarya, tempat ibu dan pamannya, Tommy Soeharto bernaung. 

    “Keluarga saya demokratis dan semua setuju dengan pilihan saya,” tandasnya lagi.

    Di akhir acara sosialisasi, Danty yang pernah menjadi pembawa bendera pusaka saat Soeharto berkuasa ini membagikan sembako berupa beras 3 liter dan sekotak snack.

    Baca: Ada banyak tokoh berintegritas, mengapa Jokowi memaksa Gibran?

    Cucu Soeharto ini juga dengan ramah melayani perminataan ajakan foto bersama dengan ratusan jamaah mesjid Al Muhajirin yang sebelumnya mengikuti pengajian.

    Bisa dikatakan Danty menjadi satu-satunya keluarga Soeharto yang mencoba peruntungan di jalur politik. 

    Dari catatan ruangkota,com, tak banyak keluarga dan keturunan Soeharto yang terjun ke dunia politik.

    Baca: Politik dinasti Jokowi menciderai cita-cita reformasi

    Tercatat hanya Tommy Soeharto dan Titiek Soeharto yang terjun ke panggung politik. Tommy membuat Partai Berkarya sedangkan Titiek aktif di Partai Golkar. 

    Namun keduanya tidak terlalu moncer. Jadi kita tunggu apakah Danty berhasil mengembalikan nama Soeharto ke panggung politik.

  • Tolak Politik Dinasti, Mahasiswa dari Ratusan Kampus di Indonesia Turun ke Jalan Bagikan Selebaran

    Tolak Politik Dinasti, Mahasiswa dari Ratusan Kampus di Indonesia Turun ke Jalan Bagikan Selebaran

    7cloud.asia – Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus membagikan selebaran dan stiker menolak politik dinasti di depan Gedung Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Ciputat, Tangerang.

    Mereka merupakan perwakilan mahasiswa dari berbagai kampus di sekitar Ciputat di antaranya UIN, UMJ, Ganesha, Unpam. Aksi ini dilakukan sejak pukul 09.00 hingga pukul 11.00 WIB.

    Selebaran tersebut berisi ajakan kepada masyarakat untuk menolak politik dinasti di Indonesia.

    “Tuntutan kita adalah kita menolak dan mengajak masyarakat pengguna jalan yang melintas untuk tidak memilih orang yang terlibat dalam politik dinasti dan punya sejarah masa lalu yang kelam, yaitu penculikan aktivitas,” jelas Glamora, salah satu mahasiswa seperti yang dikutip Kompas.com.

    Baca: bahaya dan dampak politik dinasti

    Di Jakarta dan sekitarnya, ada 37 kampus yang bergerak untuk menggagalkan agenda politik dinasti di Indonesia.

    Aksi serupa juga dilakukan di lebih kurang 800 kampus yang tersebar di 35 provinsi di Indonesia.

    Glamora menjelaskan, secara teknis cara yang dilakkan beda-beda, ada yang skalanya besar, ada yang skalanya kecil.

    “Tetapi memang kita pusatkan di UIN Jakarta karena kita yang menginisiasi dan mengonsolidasikan teman-teman kampus, aktivis, dan mahasiswa di berbagai kampus,” urainya.

    Selebaran poster tersebut dibagikan kepada para pengguna jalan yang melintas. Isinya data-data dan fakta-fakta sejarah yang dikumpulkan dari beberapa media.

    Baca: Cara membatasi dinasti politik

    Aksi pembagian poster ini termasuk dari salah satu rangkaian penolakan adanya politik dinasti di Indonesia.

    Sebelumnya mahasiswa juga turun ke jalan menolak keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) meloloskan gugatan batas minimum cawapres.

    Glamora menegaskan, aksi ini tidak didanai pihak mana pun. Dana yang digunakan berasal dari patungan mahasiswa dan beberapa alumni di kampus.

    “Tentu saja ini tidak mungkin dibiayai oleh satu pihak. Kami memang sejak satu bulan lalu melakukan konsolidasi dan alhamdulillah banyak yang patungan,” ungkapnya.

    “Pertama, senior-senior yang memang memiliki spirit yang sama, terutama yang dulu merasakan pahit getirnya dipimpin oleh Orde Baru dan mereka tidak ingin generasi berikutnya mengalami hal serupa,” lanjutnya.

    Baca: Beda dinasti Jokowi dengan luar negeri

    Rencananya nanti mahasiswa juga akan melakukan aksi serupa yang lebih besar. “Kami sedang menyiapkan, setelah ini lebih besar dari ini. Kami akan pusatkan di satu titik,” ungkapnya.

    Pada kesempatan itu, mahasiswa meminta kepada Jokowi, Aparatur Sipil Negara (ASN), TNI- Polri untuk netral menjelang pemilu.

    Jangan sampai, ujarnya, kita menemukan kecurangan dan ada keberpihakan aparat penggunaan insfastruktur negara untuk memenangkan paslon tersebut.

    “Karena kita melihat hari ini pengerahan lembaga negara itu sangat nyata, sangat terlihat,” jelasnya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Tantangan Kepemimpinan Indonesia Pasca Pemilu 2024: Tingkatkan Literasi Politik dan Menyudahi Politik Dinasti

    Tantangan Kepemimpinan Indonesia Pasca Pemilu 2024: Tingkatkan Literasi Politik dan Menyudahi Politik Dinasti

    7cloud.asia – Tahun 2024 menjadi tahun politik yang penting untuk melihat perkembangan rezim demokrasi di era digital.

    Pada tahun yang sama, selain Indonesia, terdapat 56 negara demokratis lainnya yang akan menyelenggarakan pemilu untuk suksesi kepemimpinan periode selanjutnya, termasuk India dan Amerika Serikat.

    Ini menjadi hal yang menarik untuk ditelaah dan dianalisis lebih lanjut oleh para periset BRIN.

    BRIN telah menyelenggarakan seminar nasional untuk membahas disrupsi demokrasi dan tantangan kepemimpinan pasca pemilu untuk memperkuat pemerintahan demokratis yang stabil dan efektif.

    Kepala Pusat Riset Politik BRIN Athiqah Nur Alami mengatakan, kegiatan tersebut untuk meningkatkan literasi politik masyarakat dan kesadaran publik terkait perkembangan dan proyeksi perpolitikan Indonesia, khususnya pada tahun politik seperti saat ini.

    “Melalui kegiatan ini, kita berharap masyarakat dapat secara bijak, kritis, dan cerdas dalam menghadapi hajat besar demokrasi tahun 2024 dan mengetahui posisi Indonesia di tingkat global. Kita perlu meningkatkan partisipasi politik dan bersama-sama mengawal pelaksanaan Pemilu 2024 yang berkualitas dan berintegritas,” ujarnya.

    Pandangan-pandangan yang akan disampaikan, yaitu klaster riset Perwakilan Politik, Pemerintahan, dan Otonomi Daerah, menyampaikan secara umum kondisi demokrasi di tingkat global yang mengalami stagnasi.

    Termasuk kondisi demokrasi di Indonesia yang juga cenderung mengalami stagnasi ataupun regresi.

    Dalam konteks pergantian kepemimpinan nasional 2024, persoalan konstitusional, etika politik, dan isu-isu tentang demokrasi substansial menjadi catatan penting.

    Dalam hal ini, persoalan konstitusionalisme dan isu pelanggaran etika politik dalam pemilu 2024 yang jelas menghambat demokrasi pada era disrupsi saat ini.

    Di sisi lain, potensi pengulangan pelanggaran dalam pemilu 2024 baik dalam pemilu presiden, anggota DPR provinsi/kabupaten/kota maupun pemilihan kepala daerah (pilkada), dan munculnya isu netralitas penyelenggara pemilu yang masih menjadi ancaman bagi integritas penyelenggaraan pemilu.

    Untuk itu, diperlukan upaya kolektif guna mendorong praktik demokrasi substansial. Caranya dengan menyelamatkan konstitusi sebagai pondasi bernegara, mencukupkan dinasti politik dan mendorong politik meritokrasi dalam berbagai level kepemimpinan politik.

    BRIN juga merekomendasikan upaya untuk memperkuat institusi kepartaian, institusi penyelenggaraan pemilu, penegakan hukum atas pelanggaran-pelanggaran pemilu.

    Juga dibutuhkan upaya untuk memperkuat mitigasi kerawanan pemilu di berbagai daerah, serta mendorong netralitas aparatur negara dan penjabat kepala daerah dalam politik elektoral 2024.

    Sedangkan klaster Ekonomi Politik dan Isu-Isu Strategis akan menyampaikan tentang ketimpangan antara investasi energi fosil dengan energi terbarukan yang dapat diminimalisasi.

    Hal itu melalui implementasi transisi energi dengan penurunan emisi karbon, penekanan laju deforestasi, dan rehabilitasi lahan hutan.

    Klaster Pertahanan, Keamanan, dan Konflik menyampaikan pandangannya bahwa secara procedural, pemilu 2024 di Papua kemungkinan besar terlaksana dengan lancar.

    Namun, secara substansial, pemilu 2024 belum tentu dapat menyelesaikan konflik dan menyejahterakan Orang Asli Papua (OAP).

    Di sisi lain, klaster Agama, Gender, dan Minoritas mengungkapkan bahwa isu perang Israel-Hamas di Gaza, Palestina direspon oleh para capres peserta pemilu 2024 sebagai isu kemanusiaan untuk menunjukkan sikap politik Indonesia yang anti penjajahan.

    Meskipun demikian, penguatan isu Palestina ini akan bersifat disrupsi bagi demokrasi jika diikuti oleh penguatan politik identitas, sebagaimana terjadi pada pemilu 2014 dan 2019.

    Terkait hal tersebut, potensi penggunaan politik identitas bangkit kembali menjadi semakin besar jika terjadi pengerucutan pada dua paslon di pemilu putaran kedua.

    Selanjutnya, klaster Politik Luar Negeri dan Isu Internasional menyatakan bahwa Indonesia menghadapi tantangan dinamika geopolitik regional, keamanan maritim, isu hak asasi manusia, isu ekonomi dan perdagangan, perubahan kepemimpinan global, perubahan iklim, dan isu keberlanjutan.

    Tantangan-tantangan tersebut hanya dapat dihadapi bila Indonesia menggabungkan kepentingan nasional dan menerapkan diplomasi yang aktif dan fleksibel, serta mempertahankan peran kepemimpinan dalam kancah internasional.

  • Risiko Keterlibatan Influencer dalam Kampanye Politik

    Risiko Keterlibatan Influencer dalam Kampanye Politik

    7cloud.asia – Influencer atau pesohor media sosial telah menjadi kekuatan penting dalam lanskap politik modern.

    Dengan basis pengikut yang besar dan loyal, mereka memiliki kemampuan untuk memengaruhi opini publik.

    Keberadaan influencer dalam politik saat ini merefleksikan pergeseran dari kampanye tradisional ke strategi yang lebih terfokus pada media sosial dan pemasaran digital.

    Lalu apa dampak keterlibatan mereka dalam kampanye politik?

    Terdapat beberapa alasan mengapa influencer dapat berperan penting dalam usaha meraup suara, di antaranya jangkauan audiens yang luas secara instan dan membangun ilusi keterwakilan.

    Influencer sering dianggap sebagai ‘one of us’ atau bagian dari masyarakat umum. Mereka memiliki pengikut dan mampu memberikan opini yang membentuk pandangan followers atau pengikutnya sendiri.

    Pesan mereka mudah untuk diterima dan diikuti para pengikutnya, karena terasa lebih nyata dan dapat dipercaya, dibandingkan dengan iklan politik tradisional.

    Tapi keterlibatan influencer dalam politik juga menyimpan sejumlah risiko.

    Baca: Mengapa politisi gunakan influencer untuk raih dukungan

    Dalam tulisannya di The Conversation Indonesia, Peneliti di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia, Universitas Indonesia Wawan Kurniawan menyebut risiko tersebut antara lain: 

    1. Akurasi dan bias
    Dalam konteks politik, masalah kepercayaan dan verifikasi fakta menjadi lebih krusial, karena informasi yang salah atau menyesatkan dapat tersebar dengan cepat melalui influencer.

    Sejumlah temuan di Jerman menunjukkan bahwa selain memiliki kekuatan untuk memobilisasi dukungan, influencer juga bisa menyebarkan propaganda atau informasi yang bias, baik disengaja maupun tidak, yang dapat memengaruhi pemilih pemula.

    Apalagi, seperti halnya media tradisional, influencer dapat memiliki agenda tersendiri. Mereka sering kali bekerja dengan tim yang membantu menyusun pesan dan strategi mereka, yang mungkin tidak sepenuhnya transparan.

    Berdasarkan temuan Indonesia Corruption Watch (ICW), influencer bahkan dijadikan alat pemerintah untuk menyampaikan pesan atau agenda tertentu.

    Hal itu dapat dilihat dari anggaran belanja pemerintah untuk aktivitas digital, yang berdasarkan kata kunci “influencer” atau “key opinion leader” yang pada periode 2017‒2020 ada 40 paket dengan nilai Rp90,45 miliar.

    Dari 40 paket, jumlah terbanyak terdapat di Kementerian Pariwisata dengan 22 paket. Selanjutnya Kementerian Pendidikan, Budaya dan Pendidikan Tinggi dengan 12 paket,

    Kementerian Komunikasi dan Informasi 4 paket, dan Kementerian Perhubungan serta Kementerian Pemuda dan Olah Raga masing-masing 1 paket. Ini menimbulkan pertanyaan tentang integritas pesan yang disampaikan.

    Baca: Jokowi ajak influencer ke IKN dikritik habis

    2. Efek halo
    Influencer memiliki pengikut yang besar dan beragam. Berdasarkan data AJ Marketing, Raffi Ahmad dan Nagita Slavina yang digandeng pasangan Prabowo-Gibran termasuk dalam Top Instagram Influencers in Asia.

    Mereka berhasil menempati peringkat kedua dengan jumlah followers Instagram sebanyak 67,7 juta akun per 16 Maret 2023.

    Dengan mendukung kandidat tertentu, mereka dapat meningkatkan kesadaran publik terhadap kandidat tersebut.

    Ini sangat berguna untuk meningkatkan popularitas, terutama di kalangan pemilih yang mungkin kurang terinformasi atau kurang tertarik pada politik.

    Ada juga efek halo yang ditimbulkan oleh kondisi ketika persepsi positif tentang seseorang dalam satu area (misalnya, popularitas atau keahlian dalam bidang tertentu) dapat memengaruhi persepsi kita tentang mereka di area lain (seperti politik).

    Jika influencer atau pesohor dianggap memiliki kredibilitas tinggi, dukungan mereka terhadap paslon dapat meningkatkan persepsi positif terhadap paslon tersebut.

    Pada akhirnya, mereka berfungsi sebagai magnet untuk mengumpulkan suara atau dukungan sebanyak mungkin.

    Dalam ilmu psikologi sosial, ada perbedaan antara pengaruh yang dilakukan secara eksplisit, misalnya secara terbuka mendukung kandidat, dan pengaruh yang dilakukan secara implisit, seperti bertemu atau memuji kandidat tanpa menyatakan dukungan langsung.

    Pengaruh implisit ini seringkali lebih efektif dan mudah diterima audiens, karena tidak terasa seperti persuasi langsung.

    Orang seringkali memproses informasi secara tidak langsung melalui pengamatan sosial.

    Melihat influencer yang mereka kagumi bertemu atau memuji suatu kandidat dapat secara tidak langsung membentuk persepsi positif terhadap kandidat tersebut, bahkan tanpa adanya dukungan verbal yang eksplisit.

    Fenomena ini disebut strategi soft endorsement, yaitu ketika influencer tidak secara terbuka mendukung kandidat tertentu, tetapi tindakan mereka menciptakan persepsi positif atau membuka pintu bagi pengikut mereka untuk mendukung kandidat tersebut.

    Baca: Influencer yang kena boikot karena abai terhadap Palestina

    3. Pengalihan isu dan polarisasi
    Penggunaan influencer juga berisiko menggeser fokus kampanye dari isu substantif ke popularitas dan hiburan.

    Ini bisa mengurangi diskusi serius tentang kebijakan dan isu-isu penting, menggantinya dengan narasi yang lebih berfokus pada citra dan kepribadian.

    Mengandalkan influencer dalam politik juga bisa memiliki implikasi jangka panjang pada kualitas diskusi demokratis.

    Ini mungkin mengarah pada pengurangan keterlibatan politik yang serius dan berbasis isu, menggantinya dengan pendekatan yang berorientasi pada popularitas.

    Selain itu, ada risiko bahwa penggunaan influencer dalam politik dapat menyebabkan polarisasi lebih lanjut di antara publik.

    Untuk mengurangi risiko ini, influencer dapat memainkan peran dalam mendukung demokrasi yang sehat dan berbobot, dengan memfasilitasi pertukaran ide yang konstruktif dan meningkatkan pemahaman lintas pandangan politik.

    Selain itu, influencer perlu berusaha untuk mempromosikan diskusi yang inklusif dan menghindari retorika yang memecah belah.

    Mereka dapat melakukannya dengan membuka ruang dialog di antara pengikut yang memiliki berbagai pandangan politik dan mendorong diskusi yang sopan dan produktif.

    Dari sisi pemilih, penting bagi kita untuk tidak hanya mengonsumsi konten influencer secara pasif, tetapi juga secara aktif menganalisis dan mempertanyakan motif di balik pesan yang disampaikan.

    Salah satu caranya dengan mencari informasi dari berbagai sumber dan membandingkannya untuk membuat keputusan politik yang terinformasi dengan baik.

  • Kotak Kosong Pilkada 2024: Dominasi Elite Partai Menyetir Kompetisi Politik Hingga ke Daerah

    Kotak Kosong Pilkada 2024: Dominasi Elite Partai Menyetir Kompetisi Politik Hingga ke Daerah

    7cloud.asia – Perhelatan Pemilihan Umum (pemilu) seharusnya menjadi wujud terjaminnya hak politik warga untuk terlibat aktif dalam tata kelola negara. Ini karena pemilu dapat membuka ruang kepada setiap individu untuk mengekspresikan dan memperjuangkan pandangan politiknya.

    Namun, saat ini pemilu sebagai fondasi utama demokrasi di Indonesia justru menunjukkan penyempitan ruang kompetisi. Ini terlihat dari banyaknya calon tunggal dalam kompetisi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024.

    Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) per September 2024, ada 37 daerah yang menghadirkan pasangan calon tunggal. Dengan makin banyaknya calon tunggal yang melawan kotak kosong, kompetisi politik semakin kabur karena masyarakat tidak disuguhkan pilihan lain.

    Ini menjadi ironi bagi demokrasi. Tren ini tentunya tidak hanya mempersempit kebebasan politik individu tetapi juga menggerus kedaulatan rakyat, kesetaraan, dan keadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Padahal, Indonesia punya banyak partai politik yang masing-masing telah memiliki mekanisme kaderisasi untuk mencetak pemimpin.

    Namun banyak kandidat potensial gagal mengikuti kontestasi karena tidak dikehendaki elite atau petinggi partai politik yang memiliki kuasa merekomendasikan pencalonan. Lagi-lagi, negara ini tampak dikendalikan segelintir elite.

    Dominasi elite dalam parpol
    Demokrasi Indonesia tampak sedang berjalan secara prosedural, namun tidak sesuai dengan esensinya, tidak berkeadilan dan tidak akuntabel akibat politisasi hukum yang hanya menguntungkan segelintir pihak, yakni elite.

    Saat ini, elite memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah politik Indonesia. Contoh praktiknya adalah dalam kompetisi politik lokal, pimpinan pusat partai politik berperan besar dalam penunjukan kandidat

    Sementara banyak dari para ketua umum partai yang tidak begitu memahami dinamika dan kebutuhan di daerah.

    Menghadirkan calon tunggal bisa menjadi cara elite “mengatur” arah kompetisi di pilkada. Bagi mereka, kemenangan dalam Pilkada akan lebih mudah diraih jika persaingan kandidat makin terbatas.

    Memang, dengan makin sedikitnya pasangan calon, biaya pemilu menjadi lebih murah. Ini karena pragmatisme pemilih yang meminta insentif materi dari kandidat bisa berkurang signifikan.

    Dampak negatif pemilu seperti polarisasi pemilih akibat mobilisasi identitas juga bisa terhindarkan. Pilkada akhirnya bisa berlangsung damai dan kohesi sosial di tingkat lokal tetap terjaga.

    Sayangnya, pemilih jadi tidak memiliki banyak alternatif kandidat sebagai representasi aspirasi mereka, dan kondisi demikian akan membuat Pilkada menjadi tidak kompetitif.

    Namun sepertinya hal itulah yang diinginkan elite. Perilaku pemilih sangat dinamis dan sulit diprediksi, sehingga jika elite menghadirkan makin banyak calon, ini dapat merusak kalkulasi politik mereka dalam upaya meraih kekuasaan.

    Intinya, fenomena calon tunggal melawan kotak kosong ini sebenarnya terjadi karena ambisi elite memenangkan kontestasi dengan beragam cara. Lalu, setelah mendapatkan kekuasaan puncak, mereka berkonsolidasi kembali dalam bentuk pembagian kekuasaan (power sharing), membagi-bagi jabatan bagi siapa saja yang bergabung.

    Pada akhirnya, pemilu hanya menjadi mekanisme prosedural dan seremonial untuk mencari legitimasi kekuasaan.

    Bagaimana elite bisa dominan
    Partai-partai di Indonesia umumnya tidak begitu mengakar di akar rumput. Terdapat jarak lebar antara massa dan partai. Seringkali, rekrutmen anggota partai hanya untuk memenuhi persyaratan mengikuti pemilu.

    Konsekuensinya, rakyat cenderung merasa partai tidak mewakili kepentingannya. Padahal kuatnya koneksi emosional antara partai dan massa menjadi syarat penting bagi keberlangsungan demokrasi.

    Ini terjadi akibat dominannya peran elite dalam tata kelola organisasi internalnya.

    Arah dan kebijakan politik partai pun sangat dipengaruhi oleh preferensi personal elite pimpinan partai. Biasanya hal ini terjadi karena mereka merupakan pendiri maupun penyandang utama dana operasional partai.

    Pendanaan partai inilah yang menjadi salah satu penyebab tidak berfungsinya kelembagaan partai secara optimal. Ini membuat kandidat harus menanggung biaya pemilihan mereka secara mandiri.

    Partai kemudian mencari alternatif pendanaan dari individu-individu dengan sumber ekonomi relatif tak terbatas (oligarki), lalu menjadi bergantung kepada bantuan finansial dari oligarki untuk kegiatan partai, khususnya kampanye pemenangan pemilu.

    Partai akhirnya tidak menjalankan fungsi edukasi, agregasi, maupun artikulasi kepentingan publik, melainkan lebih memilih bergabung ke kekuasaan.

    Melalui posisi strategis di pemerintahan, partai mendistribusikan sumber-sumber kekayaan negara melalui program kementerian/lembaga ke jaringan sosial-politiknya.

    Kondisi ini semakin melembagakan patronase (dukungan atau sponsor) dan klientelisme (hubungan patron-klien) yang melegitimasi praktik-praktik politik transaksional.

    Kondisi ini berkontribusi pada rendahnya transparansi dan maraknya korupsi pada tata kelola pemerintahan. Akibatnya, eksistensi demokrasi yang mensyaratkan akuntabilitas publik tidak lagi menjadi kebutuhan bersama.

    Partai politik butuh ‘pertolongan’
    Suka atau tidak, desain demokrasi kita menempatkan partai pada posisi krusial. Partai berwenang mengajukan calon pejabat publik untuk mengelola negara beserta segala sumber dayanya.

    Demokrasi tidak hanya soal perluasan partisipasi tetapi juga penguatan institusi. Agar demokrasi Indonesia berfungsi dengan baik, penting untuk mendorong pelembagaan partai secara demokratis.

    Peningkatan pendanaan publik untuk partai bisa menjadi langkah awal. Kontrol publik atas partai sangat penting bagi masa depan demokrasi kita.

    Peningkatan pendanaan akan mendorong tuntutan publik terhadap kinerja partai yang lebih baik dalam menjembatani kepentingan warga negara dan pemerintah.

    Publik juga semakin memiliki alasan konkret untuk mendesak tata kelola partai yang lebih demokratis dan profesional.

    Dengan demikian, partai bukan lagi sekadar simbol kekuasaan personal, tetapi menjadi organisasi yang dimiliki bersama untuk memajukan kesejahteraan.

    Wacana ini tentu saja merupakan proses panjang yang membutuhkan kesepakatan bersama. Partai perlu meyakinkan masyarakat sipil bahwa mereka bisa dan siap mengelola pendanaan publik secara transparan dan bertanggung jawab.

    Jerman dan Turki bisa menjadi rujukan perbandingan bagaimana negara memberikan bantuan pendanaan pada partai.

    Hal ini tak lepas dari pandangan bahwa partai merupakan institusi melekat di demokrasi modern yang turut menghadirkan barang-barang publik (publik goods) kepada masyarakat.

    Negara kemudian mengalokasikan dana bantuan ke partai. Pada saat yang sama, negara juga menuntut transparansi dan akuntabilitas melalui lembaga negara yang bertanggung jawab melakukan pengawasan atas pemanfaatan dana publik tersebut.

    Elite juga perlu merelakan berkurangnya kendali mereka atas partai. Persetujuan publik tentunya menjadi kunci mendorong tata kelola partai yang lebih baik.

    Kemarahan publik atas revisi UU Pilkada dan berbagai isu krusial lainnya merupakan tanda bahwa publik semakin peduli sekaligus khawatir terhadap masa depan demokrasi Indonesia.

    Saat ini, oligarki partai menganggap partai adalah milik mereka. Namun, mereka harus ingat bahwa mereka membutuhkan dukungan publik sebagai sumber utama legitimasi meraih kekuasaan pemerintahan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Andhik Beni Saputra (Dosen Universitas Andalas)

  • Kekuatan Fandom Kpop untuk Mobilisasi Massa dan Suarakan Perlawanan, Mungkinkah Terjadi di Indonesia?

    Kekuatan Fandom Kpop untuk Mobilisasi Massa dan Suarakan Perlawanan, Mungkinkah Terjadi di Indonesia?

    7cloud.asia – Desember lalu, media internasional ramai memberitakan aksi fandom Kpop turun ke jalan warga Korea Selatan yang menuntut lengsernya Presiden Yoon Suk Yeol atas pernyataannya tentang penerapan martial law atau hukum militer.

    Istilah ini merujuk pada pengambilalihan pemerintah sipil oleh militer yang biasanya terjadi saat situasi darurat atau krisis besar.

    Tindakan Yoon menuai kontroversi publik yang sudah lama tidak puas dengan kinerja kabinet. Publik menilai, kabinet Yoon sering mempromosikan pemerintahan diktatorial dan penelantaran hak-hak sipil. Protes publik berujung pada dilengserkannya Yoon pada 14 Desember 2024 oleh Parlemen Korea Selatan.

    Selain keberhasilannya menggulingkan rezim Yoon, yang menarik dari protes nasional Korea Selatan ini adalah penggunaan atribut Kpop oleh para pengunjuk rasa.

    Massa yang turun ke jalan dari berbagai latar belakang terlihat mengacungkan light-stick, tongkat LED yang biasa dibawa oleh fans Kpop saat menghadiri konser.

    Light-stick berbagai warna dari bermacam fandom dan lagu-lagu Kpop seperti Girls’ Generation yang berjudul “Into the New World” mengiringi langkah para demonstran menyusuri jalanan kota.

    Meskipun keberhasilan ini tidak sepenuhnya bergantung pada protes penggemar Kpop—karena berbagai kelompok masyarakat sipil juga berperan aktif—keterlibatan dan visibitas mereka tetap menonjol.

    Baca: Mungkinkah menerapkan cancel culture di Indonesia?

    Di era demokrasi modern yang semakin terhubung, kelompok penggemar yang mahir menggunakan media sosial seperti fandom Kpop menjadi kekuatan politik yang patut diperhitungkan.

    Keunikan protes yang dilakukan di Korea Selatan menjadi sorotan banyak media internasional. Kpop dilihat sebagai medium ekspresi politik khususnya bagi generasi muda dan perempuan muda yang identitasnya erat dengan konsumsi budaya populer.

    Popularitas Kpop yang mengglobal juga digunakan sebagai alat dan simbol aktivisme oleh penggemar di negara lain, misalnya di Amerika Serikat (AS) dan Thailand.

    Di Amerika Serikat, sekelompok anak muda yang mengaku fans Kpop di TikTok berhasil menyabotase kampanye politik Donald Trump di Tusla, Oklahoma.

    Di Thailand, protes mahasiswa sepanjang tahun 2020 memperlihatkan keterikatan erat antara identitas penggemar Kpop dan aktivisme politik yang bermodalkan kemampuan digital di sosial media.

    Kekuatan ‘Fan-activism’
    Fenomena yang memperlihatkan keterhubungan antara partisipasi politik dan budaya populer ini dapat dimaknai sebagai fan-activism.

    Fan-activism mengubah penggemar dari penonton pasif menjadi publik aktif yang peduli pada isu sosial-politik. Fandom menggunakan budaya populer untuk mendukung gerakan sosial dan mendorong aksi, bahkan di luar komunitas mereka.

    Baca: #IndonesiaGelap jadi pengingat agar publik tak terlena narasi penguasa

    Aktivisme ini dapat berbentuk bantuan sosial, donasi, sampai resistensi dan protes. Fandom menjadi tempat berkumpulnya berbagai macam individu dengan latar belakang berbeda yang disatukan oleh kecintaan mereka terhadap idol Kpop.

    Fan-activism dapat muncul ketika ada narasi beririsan antara nilai-nilai fandom dengan kondisi sosial-politik dimana para fans tinggal. Karena selain sebagai fans k-pop, mereka juga seorang warga negara dengan identitas politik tertentu.

    Di Amerika Serikat misalnya, BTS Army berhasil mengumpulkan donasi untuk mendukung gerakan Black Lives Matter (BLM) yang memperlihatkan kepedulian mereka terhadap isu rasisme.

    Fandom menjadi ruang partisipasi yang mendorong keterlibatan sipil dan politik, terutama di kalangan generasi muda.

    Dalam konteks protes martial law di Korea Selatan, penggunaan atribut light-stick dan lagu K-pop memperlihatkan fungsinya sebagai alat pemersatu dan membentuk solidaritas kolektif.

    Light-stick menjadi simbol solidaritas dari para penggemar Kpop dari berbagai fandom dan latar belakang yang menyatakan dukungan mereka untuk menggulingkan presiden Yoon dan menjunjung nilai-nilai demokrasi.

    Selain itu, kemampuan fans Kpop untuk membuat trending topic di sosial media juga sangat berguna untuk meningkatkan visibilitas gerakan. Semakin viral isu, maka semakin banyak orang mencari tahu dan mendiskusikan di ruang publik.

    Baca: Menyorot aktivisme digital di Indonesia

    Fandom KPop di Indonesia
    Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pendengar musik Kpop terbesar di dunia. Situasi ini terlihat dari berbagai fanbase yang memenuhi setiap konser Kpop di Jakarta.

    Seperti halnya di negara lain, fans Kpop dalam negeri juga pernah menjadi sorotan karena keterlibatan mereka dalam menaikkan trending topic di X dan berbagai aksi solidaritas untuk mengatasi bencana, perubahan iklim, dan masalah sosial lainnya.

    Tahun 2020 lalu contohnya, protes Omnibus Law atau UU Cipta Kerja menjadi trending topic karena banyaknya penggemar K-pop yang menggunakan hashtag #TolakOmnibusLaw.

    Protes martial law di Korea Selatan dan kasus lain yang terjadi di berbagai belahan dunia dan Indonesia, memperlihatkan bahwa fans K-pop memiliki potensi untuk turut aktif memperjuangkan hak-hak warga negara dan mempengaruhi kebijakan pemerintah.

    Di situasi seperti sekarang, fandom memiliki peran krusial dalam mengangkat isu #IndonesiaGelap ke ruang publik.

    Dengan jaringan yang luas dan keterlibatan aktif di media sosial, fandom dapat berfungsi sebagai pengeras suara yang menyebarkan informasi secara cepat dan masif.

    Solidaritas di antara para penggemar memungkinkan mereka untuk menggalang dukungan, meningkatkan kesadaran, serta menekan pihak terkait agar memberikan respons.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Amalia Nur Andini (PhD Researcher ESSB Erasmus University Rotterdam, Assistant lecturer, Universitas Brawijaya)

  • Politik Kini Ditentukan oleh Algoritma, Bukan Kebijakan Substantif

    7cloud.asia – Di era ketika jempol lebih menentukan daripada parlemen, kekuasaan politik kini tak lagi bersandar pada institusi, konstitusi, ataupun kebijakan rasional, melainkan dalam bentuk algoritme, viralitas, dan resonansi emosional.

    Hal ini menimbulkan berbagai macam objek studi yang belum mendapat tempat “resmi” dalam penelitian sosiologi dan politik. Dari fenomena ini penulis mencetuskan istilah sebut sebagai “Power Morph” (pergeseran kuasa digital).

    Istilah ini merefer pada proses transformasi bentuk kekuasaan, dari struktur formal menuju jaringan afektif, yang dibentuk dan disebarluaskan oleh teknologi digital.

    Istilah ini penulis usulkan sendiri sebagai sintetis dari sebuah teori mengenai afektivitas politik dan algoritmisasi pengaruh publik.

    Dalam ekosistem Power Morph, kekuasaan tidak lagi lahir dari struktur dan institusi, melainkan dari kemampuan membentuk resonansi (gema) emosional.

    Dampak dari Power Morph terhadap kualitas pemerintahan adalah dapat mengaburkan kejernihan opini publik dan mengganggu sistem penegakan hukum.

    Terlebih, aturan hukum kita saat ini belum didesain untuk menghadapi dinamika berbasis algoritme. Dalam jangka panjang, ini bisa menyebabkan krisis demokrasi.

    Maka dari itu, pemerintah perlu mendesain ulang tata kelola demokrasi digital yang lebih adaptif dan etis.

    Baca: Pemimpin yang juga kreator konten kerap abaikan substansi

    Dari kebenaran ke resonansi
    Kita hidup di zaman ketika kebenaran tidak lagi ditentukan oleh argumen, data, atau prosedur hukum, melainkan oleh jumlah likes, retweet, view, dan fitur interaksi lain di media sosial.

    Kekuatan tidak lagi bersumber dari bukti ilmiah, melainkan dari pengaruh emosional sebuah pesan.

    Contohnya adalah figur politik seperti Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, atau Dedi Mulyadi, yang viral bukan karena programnya, melainkan karena cuplikan-cuplikan naratif emosional mereka di media sosial masing-masing.

    Ini termasuk pidato penuh simpati, blusukan dramatis, hingga momen tangis mengharukan.

    Dalam konteks global, contohnya adalah Donald Trump, yang juga menunjukkan bagaimana resonansi emosional bisa mengalahkan validitas data.

    Dengan kata lain, politik hari ini telah bergeser dari kontestasi ide menjadi kompetisi atensi. Fakta kalah oleh afeksi.

    Emosi yang dibentuk melalui media sosial lalu diviralkan cenderung lebih memengaruhi opini publik dibandingkan program kebijakan yang substantif.

    ‘Fictocracy’: Kekuasaan berbasis narasi, bukan data
    Penulis memunculkan istilah “fictocracy” sebagai konsekuensi dari fenomena “power morph”, yakni ketika persepsi kolektif dibentuk oleh rezim yang berkuasa melalui narasi emosional.

    Baca: Makin banyak orang yang curhat dengan AI

    Istilah ini penulis ambil dari gagasan fictional governmentality dan teori symbolic power dari sosiolog asal Prancis, Pierre Bourdieu.

    Dengan adanya “fictocracy”, simbol kekuasaan modern tidak lagi berbasis prosedur formal, regulasi, dan data.

    Dalam konteks ini, tokoh-tokoh publik membangun citra dan kepercayaan bukan melalui program, tetapi melalui kemampuan menyentuh emosi publik.

    Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, misalnya, kerap membagikan momen emosional bersama warga melalui vlog. Pendahulunya, Ridwan Kamil, pun merespons peristiwa publik dengan gaya naratif penuh empati.

    Figur seperti Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina, juga menampilkan bagaimana kekuatan cerita dan simbol bisa menggalang dukungan lebih luas daripada prosedur diplomatik formal.

    ‘Nodicentrism’: Kekuasaan berpindah ke simpul digital
    Kekuasaan negara secara formal memang masih diatur lewat hukum dan pemilu. Namun dalam praktiknya, sumber pengaruh paling kuat hari ini justru berada di tangan para platform digital seperti TikTok, YouTube, Instagram, dan X.

    Saya menyebut fenomena ini sebagai “nodicentrism”, yakni situasi ketika simpul digital (node) menjadi pusat kendali kekuasaan, bukan lagi lembaga negara.

    Istilah ini saya adaptasi dari konsep network power, yakni bagaimana platform digital kini berperan sebagai aktor politik baru dalam mengatur visibilitas dan opini publik.

    Baca: Fenomena No Viral No Justice dalam penegakan hukum Indonesia

    Negara bisa membuat undang-undang, tetapi algoritma bisa membungkam siapa pun lewat praktik seperti shadow banning (pembatasan sepihak), boosting (meningkatkan engagement), atau content framing (membingkai suatu peristiwa untuk tujuan tertentu).

    Ini adalah bentuk baru dari kontrol politik yang tidak terlihat, namun sangat menentukan ruang partisipasi publik.

    Contohnya dapat ditemukan dalam berbagai kasus ketika konten aktivisme atau kritik terhadap pemerintah mendadak “hilang” dari linimasa atau sulit ditemukan, sementara konten lain yang mendukung narasi dominan justru naik ke permukaan.

    Istilah affective simulation merujuk pada praktik memproduksi emosi melalui performa digital—menggunakan ekspresi, narasi, musik, dan visual untuk menciptakan resonansi.

    Gagasan ini berakar dari teori simulasi Jean Baudrillard dan diperkuat oleh konsep affective publics dari Zizi Papacharissi.

    Politikus yang tidak cukup punya program, biasanya membuat dirinya harus terlihat peduli dan empatik sehingga dapat mengundang simpati publik.

    Sosiolog Paolo Gerbaudo menyebut politikus digital ini sebagai choreographers of affects yang mengatur suasana, bukan ideologi.

    Dedi Mulyadi, contohnya, dalam video pendeknya di YouTube kerap tampil bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai sosok yang dekat dan emosional. Kekuasaan kini bukan lagi dominasi fisik, tetapi kendali atas mood publik.

    Urgensi kesadaran naratif
    Fenomena Power Morph seharusnya memantik kesadaran kita bahwa dunia sudah tidak lagi dikendalikan oleh ruang sidang atau lembaga formal, melainkan oleh ruang digital.

    Kita tidak bisa melawan kekuasaan digital ini hanya dengan menyebar data atau membantah hoaks. Kita harus mampu mengenali simulasi, membaca narasi palsu, dan memahami logika emosi kolektif.

    Kita membutuhkan kesadaran naratif bahwa setiap video, meme, atau potongan teks adalah bagian dari perebutan makna sosial. Perlawanan terhadap kekuasaan yang bersifat afektif harus dimulai dari kepekaan, bukan sekadar informasi.

    Jika kita ingin menyelamatkan demokrasi, kita harus membangun ulang struktur kekuasaan, dari yang semata prosedural, menjadi yang juga afektif, naratif, dan etis.

    Kekuasaan digital tidak akan hilang, namun kita bisa menjinakkannya jika kita mampu memahami bagaimana ia bekerja.

    Tugas kita bukan sekadar membantah hoaks atau memperkuat data, tetapi membangun ekosistem afektif yang sehat, di mana emosi tidak dimanipulasi, dan algoritme tidak mengatur nurani.

    Kita sebagai publik harus peka dalam membaca emosi kolektif, karena kitalah yang paling bertanggung jawab dalam merangkainya menjadi narasi publik yang etis.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Ilyas Akbar Almadani (Dosen Ilmu Pemerintahan UMUKA, Universitas Gadjah Mada)