Tag: polutan

  • Dosen ITB Soroti Polusi Udara di Jakarta, Ini Solusinya

    Dosen ITB Soroti Polusi Udara di Jakarta, Ini Solusinya

    7cloud.asia – Polusi udara di Jakarta masih tinggi seiring dengan musim kemarau yang kini tengah melanda. Ada beberapa solusi dalam mengatasi polusi tersebut. Diantaranya memperketat standar emisi.

    Hal ini dikatakan oleh dosen Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Puji Lestari dalam dialog polusi udara di Jakarta.

    “Sumber polusi udara di Jakarta sudah saya hitung lama sebelum pandemi. Saya sudah melakukan kajian ini di Jakarta,” ujar Puji yang dikutip Antaranews.

    Berdasarkan studi yang ia lakukan selama lima tahun (2018-2022), terungkap bahwa konsentrasi polusi udara tertinggi terjadi pada Juni-Juli tahun 2019 dengan konsentrasi rata-rata hampir 60 mikrogram per meter kubik.

    Kemudian konsentrasi polusi udara menurun pada tahun 2020, 2021, dan 2022, saat terjadi pandemi. Sedangkan konsentrasi terendah tercatat pernah terjadi pada tahun 2022.

    Puji memaparkan polutan PM2,5 bersumber dari kendaraan bermotor sebanyak 46 persen, industri 43 persen, pembangkit listrik 9 persen, dan pemukiman 2 persen.

    Sedangkan Nitrogen Okside (NOx) lebih didominasi oleh sektor transportasi 57 persen, industri 15 persen, pembangkit listrik 24 persen, dan pemukiman 4 persen.

    Sementara Belerang dioksida (SO2) dihasilkan oleh sektor industri mencapai 67 persen, pembangkit listrik 24 persen, pemukiman 6 persen, dan transportasi 3 persen.

    PM10 disumbangkan oleh transportasi sebanyak 43 persen, industri 45 persen, pembangkit listrik 10 persen, dan pemukiman 2 persen.

    “Data meteorologi sangat berpengaruh terhadap potensi sumber pencemaran di Jakarta yang membawa polutan lintas batas,” kata Puji.

    Karena itu Puji menyarankan agar memperketat standar emisi dan segera memberlakukan kebijakan tersebut, menyediakan bahan bakar yang bersih untuk mendukung implementasi Euro IV.

    Selain itu,  percepatan adopsi kendaraan listrik khususnya kendaraan angkutan berat atau penerapan Euro yang lebih tinggi, memperhatikan emisi dari sepeda motor dalam uji emisi, dan adaptasi untuk publik pindah mode transportasi.

    Sedangkan untuk sektor industri dan pembangkit perlu penerapan alat pengendali pencemaran udara untuk partikulat seperti electrostatic precipitator (ESP), fabric filterwet scrubber atau cyclone perlu diwajibkan dan diawasi ketat.

    Penerapan flue gas desulfurization (FGD) untuk industri juga perlu diterapkan bagi industri yang melewati ambang batas baku mutu untuk polutan SO2.

    Ketua Kelompok Keahlian Pengelolaan Kualitas Udara dan Limbah ITB itu menjelaskan paparan debu dengan partikel udara 2,5 mikrometer atau lebih kecil adalah siklus rutin saat kemarau.

    “Kalau kita lihat gambaran PM2,5 di Jakarta, kita lihat tren dari tahun ke tahun menunjukkan tren yang sama bulan Juni, Juli, Agustus. Saat musim kemarau tren selalu tinggi dan selalu naik, kemudian turun lagi (saat musim hujan),” jelasnya.

    Selanjutnya Puji menjelaskan polusi udara akibat adanya senyawa atau substansi di udara ambien yang tidak diinginkan dalam jumlah yang dapat menyebabkan terganggunya kesehatan manusia dan lingkungan.

    Karena itu, ia meminta semua pihak khususnya Jakarta untuk mencermati fenomena peningkatan polutan PM2,5 saat musim kemarau. 

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Menanam Vegetasi Penyerap Polutan, Alternatif Atasi Polusi Udara

    Menanam Vegetasi Penyerap Polutan, Alternatif Atasi Polusi Udara

    7cloud.asia – Polusi udara masih terjadi terutama di kota-kota besar. Salah satu upaya mengatasinya dengan menanam vegetasi penyerap polutan.

    Direktur Pengendalian Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Luckmi Purwandari menjelaskan tak hanya adanya  tanaman penyerapan polutan tetapi perlu adanya Ruang Terbuka Hijau (RTH).

    “Khususnya untuk perbaikan kualitas udara di perkotaan ini tadi contohnya, salah satunya untuk mengurangi pencemaran udara dari kendaraan bermotor,” jelas Luckmi seperti yang dilansir Antaranews.

    “Berikutnya untuk RTH penyerap polutan di daerah-daerah yang padat penduduk, yang padat kendaraan bagaimana melakukan mitigasi untuk perbaikan kualitas udara,” lanjutnya.

    Baca: Dinas kehutanan Kalsel tanam 1500 pohon kayu putih

    Memang di wilayah perkotaan sering dijumpai adanya keterbatasan lahan. Karena itu, dapat diatasi dengan memperbanyak penanaman di pot-pot.

    “Jadi tidak mesti RTH itu seperti taman yang indah, tidak mesti. Yang penting tanamannya adalah menyerap polutan. Ini suatu terobosan untuk menjadi salah satu contoh kegiatan yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah dalam meningkatkan indeks reponsnya di dalam Program Langit Biru,” urainya.

    Pihaknya, lanjut Luckmi sudah mendata jenis-jenis yang dapat menyerap polutan melalui petunjuk teknis (juknis) tengah disusun dan dibahas oleh pakar untuk memastikan manfaat dan tidak membahayakan lingkungan.

    “Akan terus dilakukan kajian lagi untuk kelanjutannya ,tetapi penyerapan polutan ini paling tidak juga untuk memberikan suasana di perkotaan yang padat penduduk lebih teduh, tentu mengurangi panas, juga bisa menyerap CO2, paling tidak itu sudah bisa dilakukan,” terangnya.

    Baca: Pemkot Cirebon kembangkan urban farming

    Sementara itu, pakar tanaman hutan kota, Prof. Endes N Dahlan mengatakan tanaman pepohonan sangat efektif dalam menyerap polutan yang menyebabkan polusi udara dibandingkan tanaman jenis lain.

    “Mawar, anggrek, lidah mertua juga bisa, tapi tidak setinggi tanaman pepohonan kemampuan serapan polutannya,” ujarnya.

    Tanaman yang dapat menyerap polutan sangat tinggi, ujarnya adalah tanaman pepohonan yang berdaun banyak dan diameter daunnya cukup lebar, contohnya pohon trembesi atau disebut juga pohon hujan.

    “Semua daun bisa menyerap dan menjerap. Tapi jumlah daunnya banyak tidak? Luas tidak?,” tegasnya.

    Baca: Mitigasi perubahan iklim dengan tanam pohon serentak

    Dalam menyerap polutan tersebut, tanaman pada umumnya memiliki dua fungsi, yaitu menyerap polusi yang berbentuk gas dan menjerap polutan yang berbentuk debu. Semua dedaunan, kata dia dapat menyerap polutan yang berbentuk gas.

    Tetapi jika konsentrasi polutannya terlalu tinggi, maka tanaman tersebut akan mati keracunan.

    Karena itu, sebaiknya tanaman tersebut perlu ditanam jauh sebelum konsentrasi gas polutan di udara terlalu tinggi.

    Saat berhadapan dengan polutan debu, tanaman juga memiliki fungsi menjerap partikel debu tersebut.

    Baca: Pemprov DKI tanam 200 pohon langka

    Tanaman akan menjerap partikel debu yang terbawa angin sementara waktu. Partikel debu tersebut akan luruh ketika tanaman diguyur hujan.

    Tanaman yang memiliki daya jerap cukup tinggi adalah tanaman yang bentuk daunnya berlekuk-lekuk tidak licin, contohnya daun jambu, kata dia.

     Reporter: Nurakhmayani

     

  • Benarkah Berwisata ke Daerah dengan Udara Segar Bisa Membersihkan Paru-paru?

    Benarkah Berwisata ke Daerah dengan Udara Segar Bisa Membersihkan Paru-paru?

    7cloud.asia – Menteri Pariwisata Sandiaga Uno mendorong masyarakat berwisata ke daerah di sekitar Jakarta yang kualitas udaranya masih baik, untuk membersihkan paru-paru.

    Sandiaga Uno mengimbau orang tua mengajak anak-anaknya untuk berlibur ke luar kota karena kualitas udara di Jakarta sedang tidak sehat. Sandi menganggap, liburan ke daerah dengan kualitas udara baik dapat membersihkan paru-paru kita.

    Banyak di Kabupaten Bogor, juga di Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat itu air quality-nya masih bagus. Jadi, kita bisa healing sembari bersihkan juga paru-paru kita dengan menghirup udara yang segar,” katanya di Jakarta, 24 Juni 2024.

    Benarkah pernyataan Sandiaga itu? The Conversation Indonesia berkolaborasi dengan Dosen Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, Dinar Lubis, untuk memeriksa kebenaran ini.

    Baca Juga: IDAI: Polusi Udara Ganggu Pertumbuhan Anak

    Dinar mengemukakan bahwa klaim Sandiaga salah. Menurut dia, perpindahan orang sementara tidak akan efektif membersihkan polutan yang terlanjur mengendap di tubuh.

    Polutan seperti partikel debu 10 mikron (PM/Particulate matter), misalnya, dapat menempel pada di saluran pernapasan atas . Sementara, PM 2,5 mikron yang berukuran jauh lebih kecil, dapat masuk dan terbawa ke seluruh tubuh melalui aliran darah.

    Dampak paparan polutan seperti PM10, PM2,5, karbon monoksida, nitrogen oksida, dan lain-lain tak main-main.

    Dalam jangka waktu yang lama dapat mengakibatkan berbagai masalah kesehatan. Beberapa di antaranya adalah persoalan pernapasan, jantung, gangguan kehamilan, kanker, masalah kesehatan mental, dan lain-lain.

    Baca Juga: Dampak Polusi Udara Jakarta pada Kesehatan Fisik dan Mental

    Partikel polusi yang menumpuk di dalam tubuh melalui mekanisme tertentu bisa jadi sudah menimbulkan peradangan ataupun reaksi lainnya yang berbahaya bagi tubuh.

    “Polusinya sudah terjadi dan berlangsung lama, kemungkinan partikel sudah terserap di pada pernapasan sehingga saluran pernapasan sudah terganggu. Sudah terbiasa menghirup udara yang polusi. Sudah ada kandungan polusi di tubuh kita,” ujar Dinar.

    Oleh karena itu, kata Dinar, cara yang benar untuk mencegah penyakit akibat polusi udara adalah menghindari paparan udara kotor.

    Kebijakan pencegahan yang utama semestinya bukanlah imbauan untuk berplesir, melainkan mengatasi sumber-sumber pencemar seperti asap pabrik, kendaraan bermotor, ataupun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batubara.

    Baca Juga: Seperti Ini Dampak Polusi Udara bagi Kesehatan Ibu Hamil

    Pemerintah dapat mencontoh langkah Cina polusi dari sumber-sumber seperti PLTU batubara.

    Cina memperketat standar emisi, memperbaiki teknologi pembakaran, dan melakukan pemantauan emisi berkala dari PLTU. Ada juga beberapa upaya lainnya seperti pembatasan kendaraan dan industri.

    Artikel ini merupakan hasil kolaborasi program Panel Ahli Cek Fakta The Conversation Indonesia bersama Kompas.com dan Tempo.co, didukung oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI).