7cloud.asia – Tangan mungil Muhammad Khoirul Muzaqi atau biasa disapa Zaki (11 tahun) cekatan mengaduk semen basah, lalu mencelupkan popok bekas sumbangan warga yang telah dicuci bersih.
Siang itu, terik matahari ditutupi mendung tipis, namun cukup baik untuk mengeringkan hasil cetakan popok bekas yang akan dimanfaatkan menjadi pot tanaman oleh warga kampung Rawageni, Depok, Jawa Barat.
Zaki, bocah SD memilih tidak bermain dengan kawan-kawan sebayanya. Dia lebih suka melukis pot tanaman dari popok bekas yang sudah kering dengan gambar yang lucu dan warna-warni.
Pot tanaman dari limbah popok merupakan salah satu dari sederet kerajinan tangan lain berbahan sampah yang diproduksi warga Kampung Rawageni, Depok, Jawa Barat.
“Lumayan kalau di jual harga per pot Rp7 ribu sampai Rp10 ribu, kadang pot-pot ini digunakan untuk cinderamata, kalau banyak tamu-tamu yang hadir dari luar kota atau luar pulau,“ ujar Edo Budi Santoso.
Baca: Parongpong RAW Lab sukses mengolah limbah puntung rokok jadi perabotan
Edo menggagas pengolahan popok bekas menjadi pot tanaman didorong rasa prihatinnya atas masalah lingkungan yang ditimbulkan popok bekas ini.
Setidaknya 55 persen bahan popok bekas kemasan seperti pampers, berasal dari plastik yang sulit terurai.
Menurut Edo, butuh 20 hingga 35 tahun lamanya untuk terurai. Sampah popok bekas juga mengandung senyawa kimia super Absorbent Polymer (SAP) sebanyak 42 persen
yang akan berubah gel jika terkena air.
Jadi sebelum dibuat pot tanaman, gel ini terlebih dulu dipisahkan dari lapisan plastik yang ada.
Gel ini, oleh Edo dikumpulkan ke dalam karung terpisah. Saat ini, dia sedang mencari cara untuk mengolah agar gel-gel itu bisa dimanfaatkan kembali di kemudian hari.
Wilayah RW 07 yang membawahi enam RT memang dikenal sebagai kampung yang mandiri dan pernah meraih penghargaan kampung iklim tingkat nasional. Kampung Rawageni, sejak lama memegang prinsip “bebas sampah”.
Baca: Robries mengolah sampah plastik jadi perabotan
Termasuk popok bekas yang disebut salah satu sumber sampah terbesar diolah menjadi pot tanaman.
Kemandirian kampung ini digagas Sanusi, 47 tahun, yang sekaligus Ketua RW 07. Laki-laki jebolan SMP ini mampu mengubah tujuh kampung yang kumuh, penuh
sampah yang berserak menjadi kampung yang ramah lingkungan.
Awalnya Sanusi hanya mengajak enam tetangganya untuk patungan dana dan secara swadaya membangun jalan kampung dengan semen.
Maklumlah, saat itu jalan-jalan di kampung Rawageni masih tanah. Jika hujan akan becek dan sampah yang dibuang sembarangan akan memicu bau tak sedap.
Edo adalah salah satu warga yang banyak membantu Sanusi aktif dalam berbagai gerakan lingkungan yang kreatif hingga melahirkan inovasi yang ramah lingkungan.
Setiap akhir pekan Edo Budi Santoso terus mengajarkan anak-anak muda mencipta perubahan di kampung Rawageni, dari membuat taman bermain hingga mengolah sampah rumah tangga.
Baca: Produk ramah lingkungan dari DemiBumi
Selain memilah sampah, mengolah sampah dan memanfaatkannya sehingga memiliki nilai
ekonomi.
Kampung Rawageni kini menjadi ruang pembelajaran dalam mengelola lingkungan sehingga tercipta zero sampah.
Tamu-tamu yang berkunjung ke kampung ini dari berbagai lapisan usia, bahkan
datang dari berbagai kota dan pulau.
Tidak sedikit pelajar dan mahasiswa yang melakukan studi banding terkait inovasi-inovasi ramah lingkungan yang dilakukan oleh warga kampung Rawageni.
Replika-replika robot yang terbuat dari botol-botol plastik bekas, mural-mural
edukatif yang dekat dengan alam menjadi etalase yang menyambut setiap tamu yang datang di Kampung Rawageni ini.
Reporter: Farida Indriastuti
