7cloud.asia – Post power syndrome sering dialami mereka yang baru saja memasuki masa pensiun.
Post power syndrome muncul lantaran karena harus meninggalkan pekerjaan, teman-teman sejawat dan segala aktivitas lain yang dilakukan selama masih bekerja.
Pada pejabat, post power syndrome muncul antara lain karena segala previlese dan kewenangan yang dimiliki tak lagi sebesar saat dia menjabat
Umumnya individu yang mengalami post power syndrome cenderung mudah mengalami kecemasan yang bisa mengubah cara interaksi.
Apabila hal ini terjadi berkelanjutan maka post power syndrome ini berpotensi berdampak pada keseimbangan emosional dan akhirnya akan menimbulkan berbagai keluhan fisik.
Baca: Kota pilihan untuk menghapuskan masa pensiun
Lantas, apa yang harus dilakukan oleh mereka yang akan memasuki masa pensiun? Mempersiapkan diri sedini mungkin. dengan menanamkan di dalam hati bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup selamanya.
Bahwa suatu waktu, suka ataupun tidak, kedudukan kita akan digantikan oleh orang lain.
Tanamkanlah pada diri kita, bahwa pensiun adalah sesuatu yang wajar yang merupakan proses alami.
“Dengan jalan menerima bahwa hal tersebut adalah suatu kenyataan hidup, maka hati kita menjadi tenang,” tulis Septi Indriati, psikolog klinis RSJ Jawa Tengah.
Septi menambahkan,agar membuangjauh pikiran masa pensiun. dan lebih baik mempersiapkan tabungan sebaik-baiknya/rencana investasi jangka panjang dengan risiko yang seminim mungkin.
Baca: Kriteria kota ramah lansia
Ada berbagai usaha yang bisa dicoba, seperti membuka kos-kosan, warung makan, toko kelontong atau usaha kecil lainnya.
Misal ibu-ibu yang hobi masak atau bikin kue di rumah, bisa menyalurkan hobinya tersebut dan dijual secara online melalui media facebook, instagram atau melalui status whatsapp.
Bagi bapak-bapak bisa berbisnis tanaman, peternakan atau kuliner. Bisnis produk makanan sehat juga bisa dijadikan suatu peluang dimana gaya hidup masyarakat saat ini beralih ke gaya hidup yang lebih sehat.
“Apapun bisa dijadikan peluang usaha asalkan kita menjalaninya dengan senang hati dan tanpa paksaan, apalagi sesuai hobi masing-masing,” imbuhnya.
Baca: Kenali gejala stres terselubung pada lansia
Keluarga atau orang lain yang terdekat akan sangat membantu atau mempengaruhi seseorang agar tidak mengalami post power syndrome.
Menurut Septi, keluarga terdekatlah yang lebih mengetahui kondisi seseorang yang akan pensiun.
Cara paling mudah adalah dengan terus menjalin silaturahim dengan orang-orang di sekitar, baik itu keluarga maupun tetangga.
Berkumpullah dengan mereka agar kita tidak pernah merasa sendirian atau kesepian.
Baca: Kapan Hari Lansia dirayakan?
“Jika perlu bentuklah semacam komunitas dengan aktivitas yang sederhana tetapi menyehatkan jiwa raga, ujarnya.
Seperti komunitas religi seperti pengajian atau aktivis gereja, bisa juga komunitas berdasarkan hobi.
Selain itu jalinlah komunikasi yang baik pada siapa saja tanpa memandang apakah itu selevel ataupun tidak dengan kita.
Sehingga ketika memasuki masa pensiun, kita akan tetap akan dihargai dengan baik.
Jangan melupakan bahwa segala sesuatu yang sudah berhasil dicapai, tidak akan selamanya kita miliki
Sehingga kelak bila waktunya memasuki masa pensiun, maka kita dengan berbesar hati dan percaya diri, berani melenggang masuk ke gelangang arena pensiunan.