Tag: produksi plastik

  • Greenpeace Sesalkan KTT Plastik Ottawa Tak Hasilkan Perjanjian Pengurangan Produksi Plastik

    Greenpeace Sesalkan KTT Plastik Ottawa Tak Hasilkan Perjanjian Pengurangan Produksi Plastik

    7cloud.asia – Greenpeace Afrika mengungkapkan kekecewaan atas hasil sesi keempat Komite Negosiasi Antar Pemerintah (INC4) untuk Perjanjian Plastik Global atau KTT Plastik Ottawa.

    Hellen Kahaso Dena, Project Lead Proyek Plastik Pan-Afrika di Greenpeace Afrika melihat ada kemungkinan besar bahwa tidak ada perjanjian pengurangan produksi plastik yang kuat di KTT Plastik Ottawa.

    Menurutnya, mayoritas delegasi yang hadir di KTT Plastik Ottawa menyerah pada kepentingan industri bahan bakar fosil dan petrokimia.

    Hellen mengatakan, hal ini ditandai oleh kurangnya konsensus mengenai penyertaan pengurangan produksi plastik di KTT Plastik Ottawa yang berlangsung 23-29 April 2024.

    Padahal, menurut Hellen, terdapat dukungan kuat dari berbagai negara anggota, kelompok masyarakat sipil, ilmuwan, dan masyarakat adat.

    Baca: KTT Plastik Ottawa ditutup tanpa hasilkan kesepakatan mengikat

    Hasil KTT Plastik Ottawa ini merupakan tanda yang jelas bahwa negara-negara di dunia harus bersiap untuk menyaksikan bencana yang terjadi di depan mata akibat polusi plastik.

    Hellen menegaskan, taruhan dari hasil KTT Plastik Ottawa ini sangat besar, tanpa pengurangan produksi, masyarakat di Afrika akan terus terkena dampak buruk polusi plastik terhadap kesehatan, mata pencaharian, dan lingkungan.

    “Perjanjian pengelolaan sampah tidak akan mengatasi krisis plastik yang tak terkendali,” kata Hellen, dikutip Selasa, 30 April 2024.

    Kepala Delegasi Greenpeace untuk negosiasi Perjanjian Plastik Global dan Pemimpin Kampanye Plastik Global di Greenpeace AS, Graham Forbes mengatakan, negara-negara anggota membuang waktu dan kesempatan dalam perundingan.

    Baca: KTT Plastik Ottawa dan harapan aktivis lingkungan

    “Kami melihat beberapa kemajuan, dibantu oleh upaya berkelanjutan dari negara-negara seperti Rwanda, Peru, dan negara-negara penandatangan deklarasi di Busan dalam mendorong pengurangan produksi plastik,” kata Graham.

    “Kita tidak dapat menyelesaikan krisis plastik kecuali kita berhenti memproduksi begitu banyak plastik”

    Graham menyebut, perundingan yang dibuat adalah hasil yang mengabaikan pengurangan produksi plastik, sehingga semakin menjauhkan kita dari mencapai perjanjian yang disyaratkan oleh ilmu pengetahuan dan tuntutan keadilan.

    Masyarakat dirugikan oleh produksi plastik setiap hari, kata Graham, namun negara-negara lebih mendengarkan para pelobi petrokimia dibandingkan ilmuwan kesehatan.

    Baca: KTT Plastik Ottawa diwarnai perbedaan pendapat tajam soal penanganan plastik sekali pakai

    Setiap anak-anak, katanya, dapat melihat bahwa kita tidak dapat menyelesaikan krisis plastik kecuali kita berhenti memproduksi begitu banyak plastik.

    Graham mengingatkan bahwa seluruh dunia, khususnya negara yang tergabung dalam Koalisi, sedang menyaksikan bahwa jika tidak mengambil tindakan saat ini dan INC5 di Busan, maka perjanjian yang kemungkinan besar akan mereka peroleh adalah perjanjian yang bisa saja dibuat oleh ExxonMobil dan koleganya.

    “Kita sedang menuju bencana, dan seiring berjalannya waktu kita memerlukan Perjanjian Plastik Global yang mengurangi produksi plastik dan mengakhiri penggunaan plastik sekali pakai.“

    “Tidak ada waktu yang terbuang untuk melakukan pendekatan yang tidak akan menyelesaikan masalah,” kata Graham.

    Sumber:betahita.id

  • Posisi Negara-negara di Dunia dalam Menangani Sampah Plastik

    Posisi Negara-negara di Dunia dalam Menangani Sampah Plastik

    7cloud.asia – Sekitar 100 negara yang hadir di perundingan Komite Negosiasi Antarpemerintah (INC) Jenewa yang dimulai pekan ini mendukung perjanjian ambisius yang juga meliputi pengurangan produksi plastik.

    Dalam kelompok ini, antara lain termasuk sejumlah besar negara Afrika dan Amerika Latin, juga Jerman dan Uni Eropa.

    Namun, negara-negara produsen plastik dan minyak dalam “Koalisi Sepemikiran”, seperti Rusia, Iran, dan Arab Saudi, selama ini menghalangi regulasi produksi yang lebih ketat.

    Mereka ingin melanjutkan produksi plastik seperti biasa dan mencegah kesepakatan yang membatasi permintaan, misalnya larangan produk plastik sekali pakai, kata Florian Titze dari WWF.

    Industri plastik dan negara-negara yang mendapat keuntungan terbesar melihat krisis plastik sebagai masalah pengelolaan sampah yang buruk.

    Mereka ingin perjanjiannya terfokus pada pengumpulan plastik, edukasi konsumen, dan tingkat daur ulang. Namun, produksi berlebih, sumber masalah utama, tidak akan dihentikan dengan cara ini.

    Baca: Mampukah Perundingan Plastik Jenewa mengerem produksi plastik global?

    Direktur Asosiasi Industri Plastik Eropa, Virginia Janssens menentang pembatasan produksi plastik primer secara global dan menegaskan industri plastik serius menghadapi masalah pencemaran.

    Tetapi solusi mengatasi sampah plastik memerlukan kerja sama lintas sektor dan sepanjang rantai nilai, termasuk dengan pemerintah.

    Daur ulang tidak cukup
    Daur ulang dan pengelolaan sampah memang penting, tapi tidak cukup tanpa pengurangan jumlah plastik, jelas Melanie Bergmann, ahli biologi laut dari Alfred-Wegener-Institut yang menjadi pengamat ilmiah delegasi Jerman.

    “Jika jumlah plastik terus bertambah setiap tahun, kita perlu sistem daur ulang dan pengelolaan sampah yang lebih besar. Sistem di negara kaya saja sudah kewalahan,” katanya.

    Biaya pengelolaan sampah sangat besar, misalnya Jerman mengeluarkan 16 miliar euro per tahun, sekitar 0,4 persen PDB, dan proporsi sampah plastik terus naik.

    Dalam negosiasi, Uni Eropa kemungkinan mengaitkan dukungan finansial kepada negara berkembang dengan komitmen pengurangan produksi plastik.

    Baca: Pengurangan produksi plastik global sudah mendesak

    Aleksandar Rankovic, pendiri think tank Common Initiative, memperingatkan agar tanggung jawab tidak hanya dibebankan pada negara produsen minyak dan plastik.

    Ia menuduh negara-negara Barat seperti Jerman, Prancis, dan Inggris munafik karena klaim ambisius mereka tidak disertai tindakan nyata.

    Dengan produksi sekitar 8 juta ton plastik per tahun, Jerman adalah produsen plastik terbesar di Eropa. Secara global, sepertiga plastik berasal dari Cina, hampir 20 persen dari Asia lainnya dan Amerika Utara.

    Meski koalisi ambisi tinggi mendukung perjanjian lebih ketat, belum ada target konkret yang mengikat untuk mengurangi produksi plastik, yang dinilai Rankovic terlalu samar.

    Kementerian Lingkungan Jerman menolak kritik ini dengan alasan data belum cukup untuk menetapkan target numerik seperti target 1,5 derajat dalam perjanjian iklim.

    Namun, Melanie Bergmann menyatakan produksi plastik harus dikurangi minimal 12 hingga 19 persen untuk memenuhi target Perjanjian Paris.

    Baca: Tiga isul yang menghalangi perjanjian pengurangan produksi plastik global

    Kekuatan lobi industri plastik
    Di Jenewa, selain delegasi negara, ratusan perwakilan industri plastik dan kimia hadir. Solusi hanya bisa dicapai dengan kerja sama antara masyarakat sipil dan dunia usaha, demikian menurut sumber dari Kementerian Lingkungan Jerman.

    Bethanie Carney Almroth, ahli ekotoksikologi dari Universitas Göteborg, Swedia, mengungkapkan adanya upaya lobi untuk melemahkan ilmu pengetahuan di bidang plastik dan intimidasi terhadap ilmuwan yang meneliti dampak berbahaya bahan kimia plastik.

    Jumlah pelobi industri bahkan lebih banyak dari delegasi resmi Uni Eropa. Industri menggunakan studi bias untuk meragukan kredibilitas ilmuwan, namun Plastics Europe menegaskan mereka menghargai ilmu pengetahuan independen.

    Almroth menceritakan pengalaman intimidasi dan upaya pelemahan reputasi oleh industri plastik melalui berbagai cara, termasuk di konferensi internasional.

    Kesempatan bersejarah untuk perjanjian efektif?
    Rankovic meragukan perjanjian terobosan akan lahir di Jenewa, melainkan kerangka kerja minimal yang bisa dikembangkan.

    Keputusan soal pembatasan produksi plastik harus segera diambil dengan konsensus tetapi posisi negara-negara yang hadir di Perundingan Plastik Jenewa ini sangat berbeda.

    Namun, waktu sudah sangat mendesak karena produksi plastik diperkirakan akan berlipat ganda dalam 20 tahun ke depan. Perjanjian ini adalah kesempatan bersejarah untuk mengendalikan masalah plastik, pungkas Melanie Bergmann.

    Baca: Sirkularitas penting untuk atasi ledakan sampah plastik

     

  • Sampah Plastik Tenggelamkan Dunia: Mampukah Perundingan Jenewa Mengerem Produksi Plastik Global?

    Sampah Plastik Tenggelamkan Dunia: Mampukah Perundingan Jenewa Mengerem Produksi Plastik Global?

    7cloud.asia – Perwakilan lebih dari 170 negara akan bertemu di Jenewa, Swiss, mulai awal pekan ini hingga 14 Agustus mendatang, untuk merundingkan perjanjian yang mengikat guna mengurangi sampah plastik global.

    Perundingan Komite Negosiasi Antarpemerintah (INC) Jenewa atau KTT Plastik Jenewa ini meneruskan konferensi serupa tahun lalu di Busan yang dipimpin oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), tetapi gagal menghasilkan keputusan.

    Topik utama yang dibahas di Perundingan Plastik Jenewa, yakni apakah produksi plastik harus dibatasi, bagaimana memperbaiki pengelolaan produk plastik berbahaya bagi kesehatan dan bahan kimia terkait.

    Juga akan dibahas bentuk dukungan keuangan apa yang akan diterima negara berkembang untuk melaksanakan perjanjian tersebut.

    Setiap tahun, dunia memproduksi 413 juta ton plastik, jumlah yang cukup untuk mengisi lebih dari setengah juta kolam renang Olimpiade.

    Namun, hanya sekitar 9 persen dari sampah plastik itu yang didaur ulang secara global. Sisanya dibakar, dibuang ke tempat pembuangan akhir, mencemari lautan, tanah, dan merugikan satwa serta kesehatan manusia.

    Mikroplastik kini tersebar di seluruh dunia dan bahkan dapat ditemukan di tubuh manusia.

    Baca: Kurangi produksi plastik sudah mendesak

    Siapa yang menginginkan apa?
    Sekitar 100 negara mendukung perjanjian ambisius yang juga meliputi pengurangan produksi plastik. Termasuk banyak negara Afrika dan Amerika Latin, juga Jerman dan Uni Eropa.

    Namun, negara-negara produsen plastik dan minyak dalam “Koalisi Sepemikiran”, seperti Rusia, Iran, dan Arab Saudi, selama ini menghalangi regulasi produksi yang lebih ketat.

    Mereka ingin melanjutkan produksi plastik seperti biasa dan mencegah kesepakatan yang membatasi permintaan, misalnya larangan produk plastik sekali pakai, kata Florian Titze dari WWF.

    Industri plastik dan negara-negara yang mendapat keuntungan terbesar melihat krisis plastik sebagai masalah pengelolaan sampah yang buruk.

    Mereka ingin perjanjiannya terfokus pada pengumpulan plastik, edukasi konsumen, dan tingkat daur ulang. Namun, produksi berlebih, sumber masalah utama, tidak akan dihentikan dengan cara ini.

    Baca: Daur ulang tak akan mampu atasi ledakan sampah plastik

    Direktur Asosiasi Industri Plastik Eropa, Virginia Janssens menentang pembatasan produksi plastik primer secara global dan menegaskan industri plastik serius menghadapi masalah pencemaran.

    Tetapi solusi mengatasi sampah plastik memerlukan kerja sama lintas sektor dan sepanjang rantai nilai, termasuk dengan pemerintah.

    Daur ulang tidak cukup
    Daur ulang dan pengelolaan sampah memang penting, tapi tidak cukup tanpa pengurangan jumlah plastik, jelas Melanie Bergmann, ahli biologi laut dari Alfred-Wegener-Institut yang menjadi pengamat ilmiah delegasi Jerman.

    “Jika jumlah plastik terus bertambah setiap tahun, kita perlu sistem daur ulang dan pengelolaan sampah yang lebih besar. Sistem di negara kaya saja sudah kewalahan,” katanya.

    Biaya pengelolaan sampah sangat besar, misalnya Jerman mengeluarkan 16 miliar euro per tahun, sekitar 0,4 persen PDB, dan proporsi sampah plastik terus naik.

    Dalam negosiasi, Uni Eropa kemungkinan mengaitkan dukungan finansial kepada negara berkembang dengan komitmen pengurangan produksi plastik.

    Baca: Sirkularitas penting untuk atasi ledakan sampah plastik