7cloud.asia – Selama beberapa dekade terakhir, para ilmuwan di seluruh dunia semakin mencemaskan tanda-tanda bahwa anak perempuan kini memasuki masa pubertas pada usia yang jauh lebih muda dibandingkan generasi sebelumnya.
Para ilmuwan itu melihat sejumlah perubahan penting yang menandai dimulainya masa remaja perempuan saat ini, terjadi semakin cepat.
Perubahan itu antara lain menstruasi pertama anak perempuan, yang oleh para ilmuwan disebut sebagai usia menarche, fase di saat perkembangan payudara dimulai.
Anak perempuan Amerika saat ini diperkirakan mendapatkan menstruasi pertama mereka empat tahun lebih awal dibandingkan dengan anak perempuan yang hidup satu abad yang lalu.
Rata-rata itu turun dibandingkan anak-anak perempuan AS yang lahir antara tahun 1950 hingga 1969, yang umumnya mendapatkan mestruasi pertama mereka pada usia 12,5 tahun.
Pubertas dini itu berupa, antara lain, perkembangan payudara atau menstruasi sebelum usia delapan tahun.
Baca: Remaja Indonesia banyak terpapar isu seksualitas tapi minim informasi
“Kami juga melihat bahwa penurunan usia pubertas bahkan terjadi lebih nyata pada anak-anak perempuan dari kelompok ekonomi-sosial rendah dan kelompok etnis minoritas,” kata Audrey Gaskins, seorang profesor di Emory University di Atlanta, AS.
“Ini mempunyai implikasi penting bagi kesehatan jangka panjang,” ujar Gaskins.
Para peneliti seperti Gaskins mencemaskan bahwa pubertas dini akan memicu serangkaian peristiwa yang memiliki konsekuensi besar pada masa dewasa.
Merujuk data ilmiah, pubertas dini berpotensi mengurangi masa subur, terutama jika para perempuan tersebut memasuki masa menopause lebih cepat. Di sisi lain, situasi itu juga dapat memperpendek umur mereka.
Pubertas dini telah berulang kali dikaitkan dengan risiko penyakit yang lebih tinggi, mulai dari kanker payudara, kanker ovarium, sindrom metabolik seperti obesitas dan diabetes tipe 2, serta penyakit kardiovaskular.
Baca: Ketahui usia reproduksi terbaik pada perempuan
Para ilmuwan masih mencoba memahami berbagai alasan mengapa kecenderungan pubertas dini terjadi.
Namun menurut Brenda Eskenazi, profesor kesehatan masyarakat di Universitas California, AS, sebuah teori menunjukkan bahwa sel-sel tubuh yang terpapar pada tingkat sirkulasi hormon seks, seperti estrogen, untuk jangka waktu yang lebih lama, berisiko meningkatkan perkembangan tumor karena hormon tersebut merangsang pertumbuhan sel.
“Ada beberapa teori bahwa paparan hormon yang lebih lama meningkatkan risiko kanker reproduksi,” kata Eskenazi.
Selain dampak medis, pubertas dini juga berpotensi memicu dampak sosial, menurut Eskenazi. Dia berkata, terdapat data bahwa anak perempuan yang memasuki masa pubertas lebih awal juga cenderung aktif secara seksual lebih awal.
“Ada situasi yang menakutkan di AS ketika publik melihat tren aborsi menjadi ilegal dan kontrasepsi tidak tersedia,” ujar Eskenazi.
“Hal ini akan menyebabkan lebih banyak kehamilan yang tidak diinginkan di kalangan remaja, sehingga faktor-faktor tersebut sangat menakutkan,” tuturnya.
Namun mengapa tumbuh kembang anak dipercepat dengan cara seperti itu? Jawabannya akan diulas dalam tulisan selanjutnya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris di BBC Future.

