Tag: Rafah

  • Israel Sebut Kota Rafah Sebagai Sasaran Berikutnya

    Israel Sebut Kota Rafah Sebagai Sasaran Berikutnya

    7cloud.asia – Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengatakan target militer berikutnya di Jalur Gaza adalah kota selatan Rafah, yang dia klaim menjadi benteng terakhir kelompok Palestina Hamas.

    Pernyataan tersebut diucapkan Gallant dalam konferensi pers, menurut media publik KAN.

    Gallant mengatakan pejuang Hamas dan para pemimpinnya bersembunyi di Rafah.

    “Kami juga akan menjangkau daerah-daerah yang belum kami serang yaitu di Jalur Gaza tengah dan selatan, dan terutama (benteng) terakhir Hamas di Rafah, ” kata dia.

    Baca: Kebijakan Israel membuat penduduk Gaza kelaparan

    Lebih dari 1,3 juta orang saat ini tinggal di Rafah dan wilayah sekitarnya, yang sebagian besar mereka yang mengungsi dari wilayah lain Gaza.

    Beberapa kelompok hak asasi telah memperingatkan atas serangan militer Israel di Rafah, yang dapat menyebabkan banyak korban jiwa.

    Gallant menegaskan kembali bahwa pada akhir perang, Hamas tidak akan dapat lagi mengendalikan Gaza.

    Dia menggambarkan operasi darat militer di Gaza sebagai “salah satu yang paling kompleks dan rumit sepanjang sejarah perang.”

    Baca: Serangan Israel di Gaza hancurkan 1000 masjiid

    Sementara itu Hamas belum memberi tanggapan atas pernyataan Gallant.

    Israel telah melancarkan serangan mematikan di Jalur Gaza sebagai balasan atas serangan Hamas pada 7 Oktober yang menurut Tel Aviv menewaskan hampir 1.200 warga Israel.

    Setidaknya 27.478 warga Palestina tewas dan 66.835 lainnya terluka dalam serangan Israel tersebut, kata Kementerian Kesehatan di wilayah kantong itu pada Senin.

    Serangan Israel telah menyebabkan 85 persen penduduk Gaza menjadi pengungsi di tengah kekurangan makanan, air bersih dan obat-obatan, sementara 60 persen infrastruktur di wilayah kantong tersebut telah rusak atau hancur, menurut PBB.

    Sumber: Anadolu

  • PBB Prihatin dengan Rencana Israel Serang Kota Rafah

    PBB Prihatin dengan Rencana Israel Serang Kota Rafah

    7cloud.asia – Kepala bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Martin Griffiths menyatakan keprihatinan akan terus berlanjutnya peperangan di Kota Rafah yang berada di Jalur Gaza selatan

    Dalam pernyataannya pada Rabu (7/2), pejabat PBB tersebut mengatakan peperangan di Kota Rafah dapat menimbulkan semakin banyak korban tewas dan memperburuk kondisi kemanusiaan di sana.

    “Saat peperangan di Gaza memasuki bulan kelimanya, harapan semakin surut untuk jutaan orang yang terdampak serta personel kemanusiaan yang berjuang membantu mereka,” kata Griffiths.

    Baca: Israel sebut Rafah sebagai sasaran berikutnya

    Dia mengatakan bahwa dirinya sangat prihatin terhadap keselamatan dan kehidupan keluarga-keluarga Palestina yang terus menghadapi hal-hal yang tak terbayangkan demi mencari tempat aman.

    Terlebih, lebih dari setengah dari 2 juta penduduk Gaza saat ini mengungsi di Kota Rafah.

    “Keadaan hidup mereka sangat buruk; mereka kekurangan kebutuhan dasar untuk hidup dan dibayangi kelaparan, penyakit, dan kematian,” ucapnya.

    Ucapnya, pertempuran yang berlanjut di Rafah akan semakin mempersulit operasi kemanusiaan yang saat ini saja sudah terhambat oleh tiadanya jaminan keamanan, kerusakan infrastruktur, dan pembatasan akses.

    “Sederhananya, perang ini mesti dihentikan,” katanya, menambahkan.

    Baca: Serangan Israel tewaskan lebih dari 27 ribu warga Palestina

    Perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya menyebut akan meneruskan serangannya di Gaza hingga ke Kota Rafah dan tidak akan berhenti hingga kemenangan Israel atas Hamas menjadi “sempurna”.

    Setidaknya 14 warga Palestina terbunuh dan sejumlah lainnya terluka saat pesawat tempur Israel menembaki rumah-rumah di Kota Rafah serta Deir al-Balah di Jalur Gaza tengah, demikian dilaporkan kantor berita Palestina Wafa pada Rabu malam.

    Serangan Israel ke Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 27.800 rakyat Palestina dan mencederai 67.317 orang lainnya. Sementara itu, sekitar 1.200 warga Israel disebut tewas akibat serangan Hamas.

    PBB menyebut serbuan Israel itu menyebabkan 85 persen populasi Gaza terusir dari tempat tinggalnya, 60 persen infrastruktur Gaza rusak dan hancur, serta menyebabkan kelangkaan makanan, air bersih, serta obat-obatan.

    Sumber: Antaranews

  • PMI Kembali Distribusikan Paket Kebersihan Pengungsi Warga Palestina di Rafah

    PMI Kembali Distribusikan Paket Kebersihan Pengungsi Warga Palestina di Rafah

    7cloud.asia – Palang Merah Indonesia (PMI) bekerjasama dengan Lembaga Bantuan Kemanusiaan di Rafah, Gaza kembali mendistribusikan paket kebersihan dari tenda ke tenda.

    Kegiatan ini seiring agresi militer Israel yang terus meningkat di wilayah pemukiman pengungsi.

    Kepala Markas PMI Pusat, Arifin Muh Hadi, melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Sabtu (17/02/2024) menjelaskan bahwa paket kebersihan ini sangat diperlukan oleh pengungsi.

    Sebab mereka kesulitan membeli peralatan paket kebersihan mandi, cuci dan kakus lantaran tidak mempunyai uang dan juga stok barang yang terbatas.

    “Kami berharap dengan adanya paket kebersihan ini, para pengungsi tetap dapat menjaga kebersihan dan kesehatan dirinya sehari-hari. Pendistribusian paket kebersihan ini adalah bagian dari upaya proteksi untuk memastikan setiap orang mendapatkan akses kebutuhan dan mendorong mereka untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat,” kata Arifin.

    Baca: Serangan Israel tewaskan 27 ribu lebih warga Palestina

    Arifin yang juga Ketua Tim PMI untuk Misi Kemanusiaan Gaza, menjelaskan bahwa pendistribusian paket kebersihan merupakan kali kedua.

    Tim Kemanusiaan PMI sebelumnya juga mendistribusikan paket kebersihan serupa bagi para pasien dan keluarganya yang di rawat di Rumah Sakit Palestina di Kairo, Mesir beberapa waktu yang lalu.

    “Walaupun situasinya sangat sulit, namun kami tetap berupaya agar bantuan kemanusiaan ini tetap terus dapat disalurkan,” ucapnya.

    Sementara itu, Kepala Divisi Penanggulangan Bencana, Ridwan Sobri Carman menyatakan bantuan paket hygiene kits untuk keluarga dikemas dan didistribusikan dalam plastik.

    Paket tersebut berisikan tisu, handuk, sikat gigi, pasta gigi, sandal, sabun mandi, sabun cuci, sampo, dan lainnya.

    Baca: Mungkinkah mewujudkan Palestina yang merdeka dan berdaulat

    “Pendistribusian hygiene kits untuk paket keluarga ini kami lakukan secara langsung bagi warga pengungsi di Rafah Gaza yang saat ini masih tinggal di tenda tenda pemukiman darurat,” jelasnya.

    Meningkatnya serangan udara di Kamp Pengungsian di Rafah telah meningkatkan kekhawatiran yang selanjutnya akan sangat menghambat upaya kemanusiaan.

    Hampir 1,5 juta orang tinggal di Rafah, meningkat lebih dari enam kali lipat populasinya dibandingkan sebelum 7 Oktober.

    Mengutip pernyataan Wakil Sekretaris Jenderal Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat, Martin Griffiths, operasi militer di Rafah dapat menyebabkan pembantaian di Gaza dan menempatkan operasi kemanusiaan yang rapuh di ambang kematian.

    Baca: Akibat serangan Israel lebih dari 17 ribu anak hidup tanpa pendampng

    Skenario biadab dan tidak berperikemanusiaan tersebut kini telah berlangsung dengan gerakan dan kecepatan yang mengkhawatirkan.

    Lebih dari satu juta orang atau separuh penduduk Gaza berdesakan di Rafah menghadapi kematian,

    “Mereka hanya punya sedikit makanan, hampir tidak ada akses terhadap perawatan medis, tidak ada tempat untuk tidur, tidak ada tempat yang aman untuk dituju,” katanya.

    Sumber: Antaranews

  • Israel Akan Serang Kota Rafah, WHO Prihatin

    Israel Akan Serang Kota Rafah, WHO Prihatin

    7cloud.asia – Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Selasa menyatakan keprihatinannya dengan rencana invasi darat Israel ke Kota Rafah di Gaza selatan yang dihuni lebih dari 1 juta warga Palestina yang berlindung dari perang Israel-Hamas.

    “Invasi besar-besaran di Kota Rafah akan menjadi bencana kemanusiaan. Kami minta Israel membatalkan (rencana) itu,” kata Tedros di platform media sosial X.

    “Kami mendesak semua pihak untuk mengusahakan gencatan senjata dan perdamaian yang kekal,” katanya, menambahkan.

    Baca: Lebih dari 10 ribu warga Palestina hilang akibat serangan Israel

    Pernyataan Tedros itu muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Selasa (30/4/2024) bersumpah akan menyerang Rafah,

    Rencana Israel untuk menyerang Rafah ini dilontarkan di tengah laporan tentang kemungkinan perjanjian gencatan senjata antara militer Israel dengan Hamas.

    Rafah menjadi tempat pertahanan dan perlindungan terakhir bagi warga Palestina di Gaza.

    Netanyahu mengatakan militer Israel akan mendatangi Rafah untuk menghancurkan pasukan Hamas di sana “dengan atau tanpa perjanjian”.

    Baca: Pejabat Israel dibayangi surat perintah penangkapan Mahkamah Kriminal Internasional

    Israel terus membombardir Gaza sebagai balasan atas serangan lintas batas Hamas pada 7 Oktober lalu yang menewaskan sekitar 1.200 orang.

    Lebih dari 34.500 warga Palestina, kebanyakan perempuan dan anak-anak, terbunuh dan ribuan orang lainnya terluka di tengah kehancuran massal dan krisis kebutuhan pokok.

    Selama lebih dari enam bulan perang Israel, sebagian besar wilayah Gaza hancur dan 85 persen penduduknya mengungsi di tengah kelangkaan bahan makanan, air bersih, dan obat-obatan akibat blokade oleh Israel, menurut PBB.

    Sumber: Anadolu

  • Israel Memulai Serangan Darat ke Rafah, Ratusan Ribu Anak Palestina Tak Punya Tempat Aman

    Israel Memulai Serangan Darat ke Rafah, Ratusan Ribu Anak Palestina Tak Punya Tempat Aman

    7cloud.asia – Serangan darat yang dilakukan pasukan Israel akan menimbulkan ‘risiko bencana’ bagi ratusan ribu anak yang selama ini berlindung di Rafah, Gaza Selatan.

    Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNICEF merilis pernyataan tersebut pada Senin (6/5/2024), setelah Israel memerintahkan evakuasi di beberapa lingkungan di Rafah menjelang kemungkinan invasi darat.

    “Rafah sekarang menjadi kota anak-anak yang tidak punya tempat aman untuk dikunjungi di Gaza,” kata Catherine Russell, direktur eksekutif UNICEF.

    “Jika operasi militer skala besar dimulai di Rafah, anak-anak tidak hanya akan berisiko terkena kekerasan, tapi juga kekacauan dan kepanikan, dan pada saat kondisi fisik dan mental mereka sudah melemah,” tambahnya.

    Baca Juga: KTT OKI Lahirkan Resolusi Kecam Genosida di Gaza, Pengamat Nilai Upaya OKI untuk Palestina Belum Optimal

    UNICEF mengatakan anak-anak di Rafah tidak boleh direlokasi secara paksa, dan infrastruktur serta bantuan yang mereka andalkan harus dilindungi.

    Kebanyakan anak-anak di Rafah terluka, sakit, kekurangan gizi, trauma atau hidup dengan disabilitas.

    Menyusul perintah evakuasi pada Oktober untuk pindah ke selatan, diperkirakan 1,2 juta warga Palestina berlindung di Rafah, yang dulunya merupakan rumah bagi sekitar 250 ribu orang.

    Sekitar setengah dari populasi Rafah adalah anak-anak, banyak di antaranya telah berulang kali menjadi pengungsi.

    Baca Juga: Israel Akan Serang Kota Rafah, WHO Prihatin

    Chaterine mengatakan, anak-anak ini terpaksa berlindung di tenda-tenda dan perumahan yang tidak stabil.

    Anak-anak, ujarnya, lebih rentan terhadap dampak perang di Jalur Gaza dibandingkan orang dewasa.

    UNICEF mengatakan jumlah mereka yang terbunuh dan terluka sangatlah banyak dan menderita lebih parah akibat gangguan terhadap layanan kesehatan, pendidikan dan akses terhadap makanan dan air.

    Sumber:VOAIndonesia

  • 12 Relawan MER-C Masih Terjebak di Rafah Saat Israel Lancarkan Serangan

    7cloud.asia – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyatakan 12 relawannya masih berada di Gaza ketika Israel melancarkan operasi militer ke Rafah, kota di selatan Gaza, Senin lalu (6/5/2024).

    Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Sarbini Abdul Murad, dalam jumpa pers di kantornya di Jakarta, Rabu (8/5/2024), mengatakan hingga saat ini ada 12 relawan MER-C di Rafah.

    Dua relawan di antaranya memang sudah lama tinggal di Rumah Sakit Indonesia di utara Gaza.

    Awalnya, lanjutnya, terdapat dua relawan MER-C di Rafah setelah mereka dievakuasi dari wilayah utara Gaza.

    Jumlahnya bertambah sepuluh orang anggota EMT (Tim Medis Darurat) MER-C dari berbagai elemen di Indonesia di Rafah setelah bergabung dengan rombongan Badan Kesehatan Dunia WHO.

    Baca Juga: Israel Memulai Serangan Darat ke Rafah, Ratusan Ribu Anak Palestina Tak Punya Tempat Aman

    Tim relawan etape ketiga ini, ujar Sarbini, sedianya keluar dari Gaza Senin lalu, rotasi dengan tim keempat yang sudah bersiap masuk ke Gaza. Namun serangan darat Israel ke Rafah membatalkan rencana ini.

    WHO juga telah menginstruksikan untuk tidak melakukan pergantian tim selagi Israel melancarkan operasi militer di Rafah.

    “Kita berharap mereka bisa dievakuasi aau bisa keluar dari Gaza hingga ada pergantian tim yang hendak masuk dari Kairo ke Gaza.”

    “Kita akan terus mengupayakan hal-hal yang serius untuk terus membantu warga Gaza yang pada hari ini memang sangat membutuhkan bantuan, perhatian dari kita semuanya,” katanya.

    Para aktivis mengadakan konferensi pers di dalam kapal Koalisi “Freedom Flotilla” (Armada Kebebasan) saat berlabuh di pelabuhan Tuzla di Istanbul, Turki.

    Baca Juga: Di Tengah Ancaman Serangan ke Rafah, Optimisme Warnai Perundingan Israel-Hamas di Kairo, Mesir

    Sarbini mengakui posisi yang diambil MER-C untuk mempertahankan relawannya di Gaza merupakan posisi yang sulit karena banyak pihak meminta untuk segera mengevakuasi semua relawan.

    Namun, di sisi lain MER-C ingin membantu WHO memastikan adanya tim medis di Gaza secara bergantian.

    Relawan MER-C yang saat ini tinggal di Rafah terdiri dari dokter bedah dan perawat. Jika situasi tidak aman, atau bahkan terus memburuk, tim etape ketiga ini akan tetap berada di kota itu dan membantu merawat warga yang cedera di rumah sakit.

    Koordinasi Erat dengan WHO

    Dalam kesempatan yang sama petugas penghubung EMT MER-C Marissa Noriti mengatakan pihaknya memang berkoordinasi dengan WHO dalam mengirim relawan medis ke Gaza.

    Tim relawan MER-C etape pertama masuk ke Gaza bersama rombongan WHO pada 18 Maret, dan terus rotasi hingga etape ketiga yang saat ini bertahan di Rafah.

    Baca Juga: Israel Akan Serang Kota Rafah, WHO Prihatin

    Sementara etape keempat masih tertunda masuk ke wilayah konflik itu dan masih berada di Mesir.

    Sejauh ini MER-C telah memberangkatkan 31 relawan meliputi dokter spesialis, dokter umum, perawat, dan bidan.

    “Berdasarkan informasi yang kami dapat dari EMTC di Gaza, untuk saat tidak aman untuk bekerja di rumah sakit An-Najar dan Emirati. Akhirnya kami tidak menugaskan tim kami di sana,” ujarnya.

    Tanpa mengindahkan seruan banyak negara untuk tidak melancarkan serangan ke Rafah, di mana sekitar 1,5 juta pengungsi berlindung, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Senin (6/5/2024) memerintahkan serangan darat ke Rafah.

    Alasan utamanya adalah karena Rafah merupakan benteng terakhir kelompok militan Hamas dan tekanan untuk membebaskan sisa sandera yang diduga kuat ditahan di sana.

    Selang satu hari setelah dimulainya operasi itu, Pasukan Pertahanan Israel IDF merebut perbatasan Rafah, pintu masuk utama bantuan kemanusiaan ke Gaza.

    Sumber:VOAIndonesia

  • UNRWA: 80.000 Warga Palestina Tinggalkan Rafah Sejak Invasi israel

    UNRWA: 80.000 Warga Palestina Tinggalkan Rafah Sejak Invasi israel

    7cloud.asia – Badan PBB untuk urusan pengungsi Palestina, UNRWA, Kamis (9/5/2024) mengatakan bahwa sekitar 80 ribu orang telah mengungsi dari Rafah sejak Israel meningkatkan operasinya pada Senin (6/5/2024).

    “Apa yang dialami keluarga-keluarga ini tidak tertahankan. Tidak ada tempat yang aman,” tulis UNRWA di X.

    Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, Kamis (9/5/2024) mengatakan bahwa militer Israel “akan terus memerangi Hamas hingga kehancurannya.”

    Pernyataannya disampaikan sehari setelah Presiden AS Joe Biden mengatakan AS tidak akan memberikan senjata ofensif kepada Israel untuk digunakan di Rafah, sambil menyatakan komitmen terhadap pertahanan Israel.

    Baca Juga: Israel Memulai Serangan Darat ke Rafah, Ratusan Ribu Anak Palestina Tak Punya Tempat Aman

    Langkah itu diambil setelah para pejabat AS berpekan-pekan menyatakan tentangan terhadap rencana Israel melakukan ofensif di Rafah.

    Sementara itu para pejabat Israel mengatakan perlunya melakukan operasi di kota itu untuk mencapai target mengalahkan Hamas dan memastikan pembebasan para sandera yang ditawan di Gaza.

    Para saksi mata melaporkan Israel hari Kamis (9/5/2024) menggempur Rafah, sementara militer Israel melaporkan pihaknya menyerang posisi-posisi Hamas di Gaza Tengah.

    Para pejabat PBB menyatakan kekhawatiran mengenai pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza, termasuk bahan bakar, di tengah-tengah serangan Israel di kawasan Rafah.

    Baca Juga: 12 Relawan MER-C Masih Terjebak di Rafah Saat Israel Lancarkan Serangan

    Rafah adalah penyeberangan utama untuk membawa masuk bantuan dari Mesir, sementara penyeberangan di dekatnya, Kerem Shalom, memungkinkan pengiriman bantuan itu dari Israel ke Gaza Selatan.

    Militer Israel, Rabu (8/5/2024) mengatakan telah membuka kembali pos penyeberangan Kerem Shalom.

    Namun, PBB mengatakan belum ada bantuan kemanusiaan yang sudah masuk wilayah Palestina karena tak seorang pun yang hadir untuk menerimanya. Para pekerja meninggalkan daerah itu sebelumnya karena serangan Israel di dekatnya.

    Penyeberangan Kerem Shalom ditutup akhir pekan lalu setelah serangan roket Hamas menewaskan empat tentara Israel.

    Baca Juga: Israel Akan Serang Kota Rafah, WHO Prihatin

    Pada hari Selasa, satu brigade tank Israel merebut penyeberangan Rafah yang berada di antara Gaza dan Mesir, yang juga memaksa penutupannya.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan sekitar 1,2 juta orang berlindung di Rafah, dan lebih dari setengahnya adalah anak-anak.

    Banyak dari mereka berasal dari daerah-daerah lain di Gaza yang mengungsi untuk mencari keselamatan dan perlindungan, sewaktu serangan Israel terhadap Hamas menyebabkan sebagian besar Jalur Gaza hancur.

    Perang Israel-Hamas dipicu oleh serangan Hamas 7 Oktober lalu di Israel Selatan yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan sekitar 250 orang disandera, menurut para pejabat Israel.

    Baca Juga: Di Tengah Ancaman Serangan ke Rafah, Optimisme Warnai Perundingan Israel-Hamas di Kairo, Mesir

    Sekitar 100 sandera telah dibebaskan dalam gencatan senjata sepekan pada akhir November 2023 lalu.

    Serangan balasan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 34.900 orang Palestina, sekitar dua per tiganya adalah perempuan dan anak-anak, menurut kementerian kesehatan di Gaza.

    Militer Israel mengatakan korban tewas mencakup ribuan anggota Hamas yang dibunuhnya.

    Sumber: VOA Indonesia

  • AS Tangguhkan Pengiriman Senjata untuk Israel, Netanyahu Bilang Israel Akan Berjuang Sendirian

    AS Tangguhkan Pengiriman Senjata untuk Israel, Netanyahu Bilang Israel Akan Berjuang Sendirian

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat Joe Biden bahwa dirinya tidak akan mengirim senjata yang dapat digunakan Israel untuk melancarkan serangan berskala penuh di Rafah.

    Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengatakan, “Saat ini kami sedang meninjau sejumlah pengiriman bantuan keamanan jangka pendek, terkait dengan situasi di Rafah.”

    Ini adalah pertama kalinya AS mengungkit soal pengiriman senjata untuk mempengaruhi tata cara Israel dalam berperang, sejak serangan teror Hamas pada 7 Oktober lalu.

    Kelompok-kelompok pembela hak asasi manusia telah lama menuntut AS untuk menghentikan pengiriman senjatanya, dan menuduh Israel melanggar hukum humaniter dalam menggunakan senjatanya.

    Penangguhan ini disambut baik oleh kalangan progresif dari Partai Demokrat pimpinan Biden, namun dikritik oleh anggota kongres dari Partai Republik, termasuk Senator Lindsey Graham.

    Baca Juga: 142 Negara Mendukung Palestina Menjadi Anggota Penuh PBB, 9 Negara Menolak

    “Anda ingin mengatur-atur perang? Kita saja menjatuhkan dua bom atom di Jepang setelah (peristiwa) Pearl Harbor. Apakah ada orang di Amerika yang benar-benar mengkhawatirkan hal itu?” kata Graham.

    Seiring meningkatnya jumlah korban perang di Gaza, pemerintahan Presiden AS Joe Biden pada awal April memperingatkan bahwa negaranya mendukung Israel hanya jika Israel mengambil langkah konkret untuk melindungi warga sipil.

    Peringatan AS tersebut menjadi nyata, ketika Israel pada awal pekan ini menyerang Rafah, kota di bagian selatan Gaza dan tempat di mana 1,3 juta warga sipil mengungsi.

    Menurut keterangan seorang pejabat senior pemerintahan AS, negara itu pertama kali mempertimbangkan untuk menangguhkan pengiriman senjata pada bulan lalu, ketika Israel semakin memantapkan keputusannya perihal Rafah.

    Namun, pihak Israel tidak serius menanggapi kekhawatiran AS, sehingga pemerintah AS memutuskan untuk menangguhkan pengiriman senjatanya minggu lalu.

     

    Baca Juga: UNRWA: 80.000 Warga Palestina Tinggalkan Rafah Sejak Invasi israel

    Penangguhan itu mencakup 1.800 bom, masing-masing seberat 2.000 pound (sekitar 1 ton), dan 1.700 bom seberat 500 pound (sekitar 0,25 ton).

    Pengiriman lain yang tengah ditinjau adalah seperangkat Munisi Serangan Langsung Gabungan (Joint Direct Attack Munition), yang mengubah bom biasa menjadi amunisi berpandu presisi.

    Menanggapi sikap Washington, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Kamis pekan lalu menyatakan bahwa Israel akan “berjuang sendiri”,

    “Jika kami harus berjuang sendiri, kami akan berjuang sendiri. Saya telah menyatakan, jika harus, kami akan berjuang sampai (titik darah penghabisan),” ujarnya.

    Namun, Netanyahu menegaskan, Israel bisa lebih dari itu. Dan dengan kegigihan yang sama, dengan bantuan Tuhan, ia yakin Israel akan meraih kemenangan bersama.

     

    Baca Juga: Unjukrasa Pro-Palestina Tolak Keikutsertaan Israel di Kompetisi Lagu Pop Eurovision di Malmo, Swedia

    Sehari sebelumnya, Biden menegaskan dukungannya terhadap Israel.

    “Komitmen saya sangat tinggi terhadap keselamatan masyarakat Yahudi, keamanan Israel, dan hak mereka untuk ada sebagai bangsa Yahudi yang merdeka, bahkan saat kami tidak sependapat,” ujar Biden.

    Pemerintahan Biden baru-baru ini menyetujui penjualan senjata senilai 827 juta dolar (setara Rp827 juta) kepada Israel.

    Pada saat yang bersamaan, mereka juga melewatkan tenggat waktu untuk menyerahkan laporan kepada Kongres AS, Rabu (8/5/2024) mengenai apakah Israel melanggar hukum humaniter saat menggunakan senjata AS.

    Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS, Matthew Miller, menyampaikan,“Kami terus berupaya menyelesaikan laporan ini. Kami berencana menyerahkannya dalam waktu dekat.”

    Bahkan ketika Israel bergerak menuju Rafah, proses negosiasi tetap berlanjut demi mengakhiri pertikaian dan membebaskan sandera yang ditahan Hamas, dengan imbalan berupa pembebasan warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Pasukan Israel Mulai Masuk ke Pusat Kota Rafah

    Pasukan Israel Mulai Masuk ke Pusat Kota Rafah

    7cloud.asia – Tank-tank Israel pada Selasa (14/5) bergerak menuju pusat Rafah, kota di ujung selatan Jalur Gaza, sementara puluhan ribu warga mengungsi untuk menghindari serangan darat Israel, lapor sumber setempat.

    Sumber menjelaskan kepada Xinhua bahwa tank-tank itu telah mencapai wilayah permukiman Al-Geneina dan bergerak menuju pusat kota “di tengah gempuran tembakan senjata berat.”

    Setelah Rafah dihujani pengeboman udara dan artileri yang intensif malam sebelumnya, gerak maju tank-tank Israel ke daerah itu menandai perluasan operasi darat yang dimulai oleh militer Israel di wilayah timur Rafah beberapa hari lalu, imbuhnya.

    Dalam sebuah pernyataan pers gabungan, sayap militer Hamas Brigade Al-Qassam dan sayap militer gerakan Jihad Islam Palestina Brigade Al-Quds mengumumkan bahwa pejuang mereka telah menggempur pasukan Israel di Rafah.

    Baca: Lebih dari 15 ribu anak tewas akibat serangan Israel

    Para sayap militer itu mengeklaim bahwa mereka telah “menghancurkan sebuah kendaraan pengangkut pasukan dengan sebuah granat di wilayah permukiman Al-Salam, sebelah timur Kota Rafah.”

    Dalam sebuah pernyataan terpisah, Brigade Al-Quds menambahkan bahwa pihaknya telah menggempur tentara dan kendaraan Israel di dekat perlintasan Rafah menggunakan peluru mortir.

    Hampir 450.000 orang telah diungsikan secara paksa dari Rafah sejak 6 Mei, kata Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) melalui pernyataan pada Selasa.

    “Orang-orang terus-menerus mengalami kelelahan, kelaparan, dan ketakutan. Tidak ada tempat yang aman. Gencatan senjata secepatnya adalah satu-satunya harapan,” imbuh pernyataan itu. 
     

    Sumber: Antaranews

  • AS Resmi Hentikan Pengiriman Bom untuk Militer Israel, Seperti Ini Penjelasan Menhan LLoyd Austin

    AS Resmi Hentikan Pengiriman Bom untuk Militer Israel, Seperti Ini Penjelasan Menhan LLoyd Austin

    7cloud.asia – Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Lloyd Austin telah mengonfirmasi bahwa AS menghentikan pengiriman bom ke Israel pekan lalu.

    Penghentian pengiriman bom tersebut karena adanya kekhawatiran Israel akan mengambil keputusan untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap kota Rafah di Gaza selatan.

    Serangan militer Israel ke Rafah ini bertentangan dengan keinginan AS.
    Pengiriman tersebut seharusnya terdiri dari 1.800 bom seberat 900 kilogram dan 1.700 bom seberat 225 kilogram, menurut pejabat yang tidak mau disebutkan namanya.

    Fokus perhatian AS adalah bahan peledak yang lebih besar dan bagaimana bahan tersebut dapat digunakan di lingkungan perkotaan yang padat penduduk seperti Rafah.

    Rafah adalah perlindungan terakhir, tempat lebih dari 1 juta warga sipil berlindung setelah mengevakuasi bagian lain Gaza di tengah perang Israel terhadap Hamas.

    Austin mengonfirmasi penundaan pengiriman senjata tersebut, dan mengatakan kepada subkomite Alokasi Pertahanan Senat bahwa AS menghentikan “satu pengiriman amunisi muatan tinggi.”

    “Kami akan terus melakukan apa yang diperlukan untuk memastikan bahwa Israel mempunyai sarana untuk mempertahankan diri,” kata Austin.

    Baca Juga: AS Sebut Penggunaan Senjata yang Disuplainya oleh Israel Kemungkinan Melanggar Prinsip Internasional

    “Namun demikian, kami saat ini sedang meninjau beberapa pengiriman bantuan keamanan jangka pendek dalam konteks peristiwa yang terjadi di Rafah.”

    AS secara historis telah memberikan bantuan militer dalam jumlah besar kepada Israel. Hal ini semakin meningkat setelah serangan Hamas pada 7 Oktober yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan menyebabkan sekitar 250 orang ditawan oleh militan itu.

    Penghentian pengiriman bantuan adalah manifestasi paling mencolok dari perselisihan antara pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan pemerintahan Presiden Joe Biden, yang telah meminta Israel untuk berbuat lebih banyak guna melindungi kehidupan warga sipil tak berdosa di Gaza.

    Hal ini juga terjadi ketika pemerintahan Biden akan mengeluarkan keputusan resmi pertama pada minggu ini mengenai apakah serangan udara di Gaza dan pembatasan pengiriman bantuan telah melanggar hukum internasional dan hukum AS.

    Dilansir VOA Indonesia, hukum itu dirancang untuk menyelamatkan warga sipil dari kengerian terburuk dari perang di Gaza.

    Keputusan yang menentang Israel akan semakin menambah tekanan pada Biden untuk mengekang aliran senjata dan uang ke militer Israel.

    Baca Juga: AS Tangguhkan Pengiriman Senjata untuk Israel, Netanyahu Bilang Israel Akan Berjuang Sendirian

    Biden menandatangani jeda tersebut dalam perintah yang disampaikan pekan lalu ke Pentagon, menurut pejabat AS yang tidak berwenang mengomentari masalah tersebut.

    Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih berusaha untuk merahasiakan keputusan tersebut dari publik selama beberapa hari hingga mereka memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai ruang lingkup operasi intensif militer Israel di Rafah

    Juga hingga Biden dapat menyampaikan pidato yang telah lama direncanakan pada hari Selasa untuk memperingati Hari Peringatan Holocaust.

    Pemerintahan Biden pada bulan April mulai meninjau transfer bantuan militer pada masa depan ketika pemerintahan Netanyahu tampaknya bergerak lebih dekat menuju invasi ke Rafah, meskipun ada penolakan selama berbulan-bulan dari Gedung Putih.

    Pejabat itu mengatakan keputusan untuk menghentikan pengiriman tersebut dibuat minggu lalu dan belum ada keputusan akhir mengenai apakah akan melanjutkan pengiriman pada kemudian hari.

    Sumber: VOA Indonesia