7cloud.asia – Meski telah ditetapkan menjadi pahlawan nasional, nama Ratu Sultanah Nahrasiyah mungkin masih asing bagi telinga orang Indonesia
Nama Ratu Sultanah Nahrasiyah memang tak sementereng penguasa lainnya seperti Airlangga, Jayabaya, Hayam Wuruk, Raden Patah pun Hamngkubuwono.
Tetapi sosok Ratu Sultanah Nahrasiyah ini begitu istimewa dalam sejarah pergerakan pemimpin perempuan di Nusantara.
Ia menjadi satu-satunya raja perempuan dalam sejarah kerajaan Islam di Indonesia. Dan Kiprah Ratu Sultanah Nahrasiyah tak sekadar numpang lewat.
Ratu Sultanah Nahrasiyah sendiri merupakan penguasa Kesultanan Samudera Pasai yang naik tahta menggantikan ayahnya.
Namun, ada versi lain yang menyatakan bahwa Nahrasiyah merupakan istri dari sang raja yang meninggal.
Di mana sebelum Ratu Sultanah Nahrasiyah bertahta, kerajaan dijabat oleh Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir, yang tak lain ayah kandung dari Sultanah Nahrasiyah.
Namun saat menjabat sebagai raja itulah sang ayah tewas dibunuh oleh Raja Nakur, sebagaimana dikisahkan pada buku “Perempuan – Perempuan Tangguh Penguasa Tanah Jawa” dari Krishna Bayu Adji dan Sri Wintala Achmad.
Catatan Ying Yai Sheng Lan menguatkan bahwa adanya pemimpin perempuan muslim pertama di nusantara. Dimana saat itu Raja Samudera Pasai yang diserang oleh Raja Nakur, tewas setelah terkena panah beracun.
Sepeninggal Sultan Zain al-Abidin Malik az-Zahir inilah Nahrasiyah akhirnya naik tahta. Ia merupakan perempuan pertama di Asia Tenggara yang memerintah sebagai raja.
Ratu Sultanah Nahrasiyah bertahta dan memimpin Kerajaan Samudera Pasai, selama lebih 20 tahun atau sejak 1405 – 1428 M.
Baca Juga: Mengenang Pemikiran Kartini: Mendidik Perempuan Berarti Mendidik Satu Bangsa
Ratu Sultanah Nahrasiyah sudah menggoreskan konsep kesetaraan gender sejak lahirnya kerajaan Islam pertama di Nusantara.
Dilansir intisari.online, Ratu Sultanah Nahrasiyah berhasil membawa Kerajaan Samudera Pasai ke puncak kejayaannya.
Dia dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, adil, cinta damai, dan peduli terhadap rakyatnya.
Dia juga memiliki sifat keibuan dan penuh kasih sayang, serta selalu memuliakan harkat dan martabat perempuan.
Salah satu bukti kepemimpinan Sultanah Nahrasiyah yang baik adalah ia berhasil menjaga hubungan baik dengan negara-negara tetangga maupun asing.
Dia menjalin persahabatan dengan Maharaja Cina melalui utusan Cheng Ho yang datang berkunjung ke Samudera Pasai pada tahun 1413 Masehi.
Baca Juga: Munas Perempuan 2024: Ketika Partispasi Bermakna Perempuan dan Disabiiitas Diabaikan
Sultanah juga mengirimkan duta-duta ke India untuk menjalin hubungan dagang dan budaya.
Cerita lain, pasca kematian sang raja membuat permaisurinya konon menyatakan sumpah di depan rakyatnya bahwa siapa yang dapat menuntut balas atas kematian suaminya, ia akan menikahinya dan bersedia untuk bersama-sama memerintah Kerajaan Samudera Pasai.
Muncullah seorang Panglima Laot, pejabat kerajaan yang ditugaskan untuk mengurus perikanan yang menyatakan kesanggupannya untuk mengemban amanah.
Berangkatlah ia bersama bala tentara Samudera Pasai untuk berperang melawan Raja Nakur.
Pada peperangan itu, pasukan Raja Nakur berhasil dikalahkan dan menyerah. Bahkan sang raja berjanji tidak akan melakukan permusuhan terhadap Kerajaan Samudera Pasai.
Baca Juga: Puan Maharani Didapuk Menjadi Duta IPU untuk Promosi Kepemimpinan Perempuan di Parlemen
Sebagai pemimpin sejati pun, Sultanah Nahrasiyah menepati janjinya dan menikahi Panglima Laot.
Pada tahun 1409, karena sadar akan kewibawaannya, suami Sultanah Nahrasiyah mengantar upeti kepada raja China Ch’engestu yang terdiri dari berbagai hasil bumi dan diterima oleh raja Cina.
Pada tahun 1412, ia kembali ke Samudera Pasai, setibanya di kerajaan putra raja terdahulu yang sudah menginjak dewasa berhasil membunuh ayah tirinya yaitu Panglima Laot.
Ratu Sultanah Nahrasiyah wafat pada 17 Dzulhijjah 831 H atau 1428 M. Pada makamnya terukir surat Yasin dengan kaligrafi indah dan ayat kursi yang termaktub dalam surat Al-Baqarah.
Esti Utami, dari berbagai sumber
