Tag: resolusi

  • Majelis Umum PBB Setujui Resolusi Gencatan Senjata di Gaza, Palestina

    Majelis Umum PBB Setujui Resolusi Gencatan Senjata di Gaza, Palestina

    7cloud.asia – Majelis Umum PBB pada Jumat (27/10/2023) waktu setempat menyetujui resolusi yang menyerukan “gencatan senjata kemanusiaan yang berlangsung lama dan berkelanjutan” segera di Gaza, Palestina

    Draf resolusi Majelis Umum PBB ini diajukan hampir 50 negara, seperti Turki, Palestina, Mesir, Yordania, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE).

    Sebanyak 120 suara mendukung Draf resolusi Majelis Umum PBB ini, dengan 14 suara menolak dan 45 lainnya abstain.

    Baca: Korban terus berjatuhan, baik Palestina maupun Israel kesulitan kuburkan mereka

    Melansir Anadolu Antaranews.com menyebut, Resolusi Majelis Umum PBB ini diadopsi pada pertemuan Sidang Khusus Darurat ke-10 mengenai situasi di Wilayah Pendudukan Palestina.

    Dalam draf tersebut, Majelis Umum PBB mengungkapkan “keprihatinan luar biasa” atas “eskalasi kekerasan terkini” sejak Hamas (sebuah faksi politik di Palestina) melancarkan serangan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.

    Resolusi Majelis Umum PBB itu mengecam “segala aksi kekerasan terhadap warga sipil Palestina dan Israel, termasuk semua aksi teror dan serangan tanpa pandang bulu, serta semua tindakan provokasi, penghasutan dan penghancuran.”

    Baca: Bantuan untuk Palestina dinilai masih kurang

    Resolusi Majelis Umum PBB  itu juga meminta agar “seluruh pihak yang bertikai di Palestina segera dan sepenuhnya mematuhi kewajiban mereka di bawah hukum internasional.”

    Resolusi PBB ini menekankan perlunya melindungi warga sipil “sesuai dengan hukum kemanusiaan internasional dan hukum HAM internasional”.

    Draf resolusi PBB tersebut juga menyerukan “pembebasan segera dan tanpa syarat terhadap semua warga sipil yang disandera secara ilegal.”

    Baca: Menlu RI minta OKI segera bertindak untuk Palestina

    Resolusi Majelis Umum PBB itu juga menggarisbawahi pentingnya “mencegah destabilisasi dan eskalasi kekerasan lebih lanjut di kawasan.”

    Pengesahan RUU tersebut dilakukan menyusul penolakan majelis terhadap amendemen Kanada, yang didukung AS, yang mengecam “serangan teroris” Hamas pada 7 Oktober.

    Pengesahan itu juga terjadi setelah empat rancangan resolusi yang berbeda di Dewan Keamanan PBB diveto dalam 10 hari.

    Baca: Belasan jurnalis meninggal saat meliput perang Israel-Palestina

     

  • Sambut Tahun Baru, Perlu Nggak Bikin Resolusi Tahun Baru?

    Sambut Tahun Baru, Perlu Nggak Bikin Resolusi Tahun Baru?

    7cloud.asia – Memasuki pergantian tahun, banyak orang membuat resolusi tahun baru. Kebiasaan ini juga dilakukan menjlang tahun baru 2024 yang akan berlangsungbeberapa hari lagi.

    Jika kamu masih bertanya-tanya apa manfaat resolusi tahun baru, baca artikel ini sampai habis. Siapa tahu ini bermanfaat dan akan membuat tahun 2024 akan lebih berharga buat kamu semua.

    Psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Novi Poespita Candra menyebut, membuat resolusi tahun baru itu penting sebagai komitmen untuk menjadi diri yang lebih baik di masa depan.

    Resolusi tahun baru juga bisa menjadi arah dan pedoman langkah yang akan ditempuh di masa yang akan datang.

    “Membuat resolusi tahun baru itu perlu karena manusia itu berbeda dengan makhluk hidup lain. Bedanya, salah satu hal yang utama adalah manusia memiliki kesadaran diri yang digunakan untuk membuat pemikiran-pemikiran prediktif dalam hidup,” kata Novi seperti dikutip Antaranews.com

    Baca: Bikin jurnal, adalah resolusi harian kamu

    Novi mencontohkan, manusia bekerja hari ini, tetapi mereka selalu memikirkan masa depan mereka, seperti keinginan untuk membeli atau mencapai sesuatu.

    Hal tersebut dapat dikatakan sebagai resolusi karena adanya semacam komitmen untuk menjadi lebih baik atau perubahan.

    Resolusi, termasuk resolusi tahun baru itu menurut Novi bagus dan setiap manusia butuh momen untuk merefleksikan hidupnya.

    “Karena kalau nggak, ada nggak sih manusia yang nggak punya resolusi atau cita-cita? Ada, sehingga butuh momen untuk merefleksi dia mencatat capaian apa yang sudah dibuat dan perbaikan apa yang ingin dia lakukan untuk ke depan,” kata Novi.

    Baca: Meditasi, cara unik merefleksi kegiatan kamu

    Menurut Novi, resolusi juga bisa dilakukan di momen lain dan tidak harus selalu di momen pergantian tahun. Bahkan, ada baiknya resolusi dilakukan setiap hari, meskipun melalui hal kecil.

    Dari hal kecil, seperti ingin bangun tidur lebih pagi, atau tersenyum lebih banyak, niscaya perjalanan resolusi yang ingin dicapai juga lebih mudah untuk dilakukan.

    Di negara Jepang, ada istilah “kaizen” atau cara untuk memperbaiki diri dengan tindakan kecil secara bertahap, kemudian akan menjadi kebiasaan dan dapat mengarah pada kesuksesan.

    “Manusia itu perlu setiap hari mempunyai resolusi. Nah, resolusi per tahun itu sebetulnya momentum pergantian tahun. Momentum yang terbaik itu mungkin di pergantian tahun,” kata dia.

    Baca: Cara cerdas atasi gangguan ala slow living

    Namun, acap kali seseorang menemui kegagalan saat ingin mewujudkan resolusinya. Faktornya pun beragam, salah satunya kurang berkomitmen untuk melakukannya, meskipun dari hal kecil.

    “Kuncinya itu komitmen untuk mengubah perilaku-perilaku sederhana, atau kebiasaan kecil. Resolusi besar itu tidak akan ke mana-mana kalau kita memulai dari langkah kecil,” kata Novi.

    Dia menambahkan, kalau langkah kecil tidak dilakukan, seseorang tidak bisa melakukan perubahan-perubahan kecil setiap harinya, itu yang kemudian menjadi gagal.

    “Jadi, resolusi saja tidak cukup karena harus diikuti oleh kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten,” katanya.

    Baca: Refleksikan hari di sanctuary mu

    Selain melakukan resolusi secara konsisten, Novi juga memberikan kiat agar resolusi tahun 2024 dapat diterapkan dengan baik.

    Menurutnya, seseorang harus memiliki alasan yang kuat dari resolusi yang dibuatnya, sehingga orang tersebut akan memiliki aksi yang sama kuat untuk mewujudkannya.

    “Dia tahu alasan untuk berubah. Itu yang terpenting, dia tahu kalau ditanya orang lain, alasannya kuat. Misalnya, ‘Kenapa ingin menurunkan berat badan?’, nah ada lima pertanyaan ‘mengapa’ untuk mengujinya,” kata Novi.

    Pertama, tanyakan ke diri sendiri alasan ingin melakukan resolusi tersebut. Contohnya, ingin menurunkan berat badan dan jika selama lima kali diri sendiri dapat menjawab pertanyaan dari alasan menurunkan berat badan.

    Baca: Memulai hari ala penganut slow living

    Itu bisa karena “Ingin sehat”, “Masih ada banyak agenda dalam hidup yang ingin dilakukan”, dan lainnya selama lima kali, niscaya keinginannya untuk berubah akan kuat dan resolusi dapat tercapai.

    “Jika dia bisa menjawab lima pertanyaan ‘mengapa’ nya itu sebanyak lima kali, maka keinginannya itu kuat. Kalau nggak tau ‘mengapa’ nya dan hanya mengikuti tren, biasanya nggak akan bertahan lama,” kata Novi.

    Dia menambahkan, “Perubahan apapun dalam kehidupan ini, resolusi sebesar apapun di dalam hidup kita itu dimulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan secara kontinu,” begitu menurut Novi.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Kelompok Arab di Dewan Keamanan PBB Menolak Resolusi untuk Gaza yang Diinisiasi AS

    Kelompok Arab di Dewan Keamanan PBB Menolak Resolusi untuk Gaza yang Diinisiasi AS

    7cloud.asia – Kelompok negara-negara Arab di PBB menolak resolusi yang dipimpin AS mengenai Gaza, yang gagal disetujui Dewan Keamanan pada Jumat (22/3/2024) waktu setempat.

    Negara-negara Arab mengecam resolusi soal Gaza yang diusulkan dibahas di Dewan Keamanan PBB  ini ini sebagai “resolusi sepihak.”

    Setelah pemungutan suara di Dewan Keamanan, utusan Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, yang berbicara atas nama kelompok tersebut, mengkritik resolusi tersebut karena kegagalannya mengatasi kejahatan Israel di Gaza yang juga dikenal sebagai wilayah kantong Palestina.

    “Ini tidak menyerukan gencatan senjata (di Gaza) Kita perlu membicarakan hal ini dengan jelas, atau tidak memelintirnya,” katanya.

    Baca: Kelaparan di Gaza makin kritis

    Memperhatikan bahwa Kelompok Arab akan mendukung resolusi yang menuntut gencatan senjata di Gaza selama bulan Ramadhan,

    Mansour mengatakan: “Kami menolak untuk menyebut apa yang terjadi adalah masalah terorisme. Ini adalah genosida terhadap seluruh populasi rakyat Palestina di Jalur Gaza.”

    Lebih lanjut dia menyatakan bahwa Kelompok Arab akan menekan Dewan Keamanan PBB untuk mengakui Palestina sebagai anggota resmi pada bulan April mendatang.

    Resolusi tersebut, yang mengaitkan gencatan senjata dengan pembebasan sandera dan menyerukan dukungan terhadap upaya tersebut, diveto oleh Rusia dan China.

    Baca: Israel dituduh sengaja membiarkan warga Gaza kelaparan

    Sebelas anggota Dewan Keamanan PBB sepakat. Aljazair juga memilih “tidak”, sementara Guyana abstain.

    Israel telah melancarkan serangan militer mematikan di Jalur Gaza sejak serangan lintas batas pada 7 Oktober yang dipimpin oleh Hamas yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel.

    Akibatnya, hampir 32 ribu warga Palestina, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, tewas di Gaza, dan lebih dari 74 ribu orang terluka akibat kehancuran massal dan kekurangan kebutuhan pokok.

    Perang Israel telah menyebabkan 85 persen penduduk Gaza terpaksa mengungsi di tengah blokade yang melumpuhkan sebagian besarpasokan makanan, air bersih, dan obat-obatan.

    Baca: Palestina desak PBB tekan Israel untuk wujudkan gencatan senjata

    Sementara hampir 60 persen infrastruktur di wilayah tersebut telah rusak atau hancur, menurut PBB.

    Sidang Mahkamah Internasional (ICJ) akhir tahun lalu telah memvonis Israel telah melakukan genosida di Gaza.

    Keputusan sementara ICJ pada Januari memerintahkan Tel Aviv untuk memastikan pasukannya tidak melakukan tindakan genosida, dan menjamin bahwa bantuan kemanusiaan diberikan kepada warga sipil di Gaza.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • AS Abstain, Dewan Keamanan PBB Sukses Lahirkan Resolusi Gencatan Senjata di Gaza

    AS Abstain, Dewan Keamanan PBB Sukses Lahirkan Resolusi Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Dewan Keamanan PBB, Senin (25/3/2024) menyepakati resolusi yang menuntut gencatan senjata segera antara Israel dan kelompok militan Palestina Hamas.

    Dewan Keamanan PBB ini juga menuntut pembebasan seluruh sandera Hamas dengan segera dan tanpa syarat, pasca gencatan senjata ini.

    Resolusi Dewan Keamanan PBB ini disahkan setelah Amerika Serikat memutuskan abstain dari pemungutan suara terhadap resolusi DK tersebut.

    Sementara itu, 14 negara anggota DK PBB lainnya memberi suara mendukung resolusi yang diusulkan 10 negara anggota tidak tetap Dwan Keamanan PBB.

    Baca: Sekjen PBB akui tak punya kuasa hentikan serangan Israel ke Gaza

    Pada berbagai kesempatan sebelumnya, Washington menolak istilah “gencatan senjata” dalam perang di Jalur Gaza yang sudah berlangsung selama hampir enam bulan.

    AS juga menggunakan hak vetonya untuk melindungi Israel, sekutu dekatnya dalam upayanya membalas serangan Hamas pada 7 Oktober yang disebut Israel telah menewaskan 1.200 orang.

    Akan tetapi, di tengah meningkatnya tekanan global untuk gencatan senjata dalam perang yang telah menewaskan 32.000 warga Palestina itu, AS akhirnya abstain dari pemungutan suara pada hari Senin (25/3/2024).

    Sikap AS ini memungkinkan Dewan Keamanan PBB menuntut gencatan senjata segera selama bulan suci Ramadan, yang akan berakhir dua minggu lagi.

    Baca: Kelaparan di Gaza sudah sangat parah

    DK PBB juga menuntut pembebasan seluruh sandera dengan segera dan tanpa syarat. Israel mengatakan Hamas menculik 253 orang pada serangan 7 Oktober lalu.

    Resolusi DK PBB juga “menekankan kebutuhan mendesak untuk membuka distribusi bantuan kemanusiaan dan memperkuat perlindungan warga sipil di seluruh Jalur Gaza.

    Resolusi itu juga menegaskan kembali tuntutannya untuk mencabut semua hambatan atas penyediaan bantuan kemanusiaan dalam skala besar.”

    Sesaat sebelum pertemuan Dewan Keamanan PBB dimulai, radio militer Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan membatalkan pengiriman delegasi Israel ke Washington apabila AS tidak memveto resolusi tersebut.

    Baca: Israel jadikan kelaparan sebagai senjata perang barunya di Gaza

    AS sudah tiga kali memveto draf resolusi Dewan Keamanan PBB terkait perang israel dan Hamas di Gaza.

    AS juga telah dua kali menyatakan abstain, sehingga memungkinkan Dewan Keamanan PBB mengadopsi sejumlah resolusi yang bertujuan untuk meningkatkan bantuan ke Gaza dan menyerukan jeda pertempuran yang diperpanjang.

    Rusia dan China juga telah memveto dua draf resolusi AS terkait konflik Isral-Hamas pada Oktober dan Jumat (22/3/2024) lalu.

    Sumber: skynews. 

  • Tahun Baru 2025 Tak Akan Mudah, Perhatikan Hal Ini dalam Menyusun Rencana dan Resolusi

    Tahun Baru 2025 Tak Akan Mudah, Perhatikan Hal Ini dalam Menyusun Rencana dan Resolusi

    7cloud.asia – Tahun baru 2025 diramalkan akan menjadi tahun yang berat secara finansial bagi banyak warga Indonesia dan dunia.

    Untuk menghadapi situasi ini, Psikolog Klinis lulusan Universitas Indonesia Nirmala Ika M.Psi menyarankan agar masyarakat membuat resolusi yang lebih realistis agar tidak menimbulkan stres dan kekecewaan.

    “Ketika membuat resolusi, penting bagi kita untuk melihat kondisi yang ada dan menetapkan target yang terukur serta relevan dengan kebutuhan,” kata Ika dikutip dari Antaranews.com, Selasa (31/12/2024)

    Menurutnya, resolusi yang terlalu ambisius tanpa mempertimbangkan realitas dapat memicu frustrasi dan tekanan mental.

    Oleh karena itu, beberapa hal perlu untuk diperhatikan dalam membuat resolusi menyambut tahun baru 2025, yakni;

    1. Skala prioritas untuk resolusi
    Ia menjelaskan pentingnya membuat skala prioritas dalam menentukan resolusi. Misalnya, jika resolusi tahun depan adalah pergi liburan, pertimbangkan urgensinya.

    “Apakah liburan ini hanya karena ikut-ikutan tren, atau memang diperlukan untuk mengisi ulang energi dan mempererat hubungan keluarga? Jika liburan tidak krusial, mungkin dapat ditunda atau diganti dengan alternatif yang lebih terjangkau,” kata Ika.

    Sebagai contoh, jika rencana awal adalah pergi ke Bali yang memerlukan anggaran besar, bisa menggantinya dengan destinasi lokal yang lebih dekat dan ramah biaya, seperti Bogor atau Puncak.

    Dengan begitu, tujuan liburan tetap tercapai tanpa membebani keuangan.

    2. Resolusi yang terukur dan realistis
    Psikolog Ika juga mengingatkan agar resolusi tidak sekadar berupa keinginan yang tidak dianalisis.

    “Misalnya, seseorang ingin ke Jepang karena teman-temannya sudah pernah ke sana. Tapi, apakah kondisi finansial dan pekerjaan memungkinkan? Jika tidak realistis, keinginan ini justru akan menjadi beban,” jelasnya.

    Menurutnya, resolusi yang baik seharusnya seperti rencana kerja dalam sebuah perusahaan, yaitu memiliki tujuan jelas, langkah-langkah terukur, dan dapat dievaluasi.

    3. Hindari stres dengan cara review pencapaian
    Salah satu cara untuk mengurangi stres akibat resolusi adalah dengan mereview pencapaian di tahun sebelumnya.

    “Kadang kita merasa tidak mencapai apa-apa, padahal jika melihat kembali, mungkin kita sudah melakukan banyak hal yang signifikan,” ungkapnya.

    Sebagai contoh, jika resolusi tahun sebelumnya adalah berolahraga secara rutin, meskipun belum mencapai berat badan ideal, upaya seperti berjalan 10 ribu langkah setiap hari tetap merupakan pencapaian yang patut diapresiasi.

    4. Jangan hilang harapan di tengah prediksi yang berat
    Ika mengingatkan bahwa prediksi mengenai tahun 2025 hanyalah gambaran kemungkinan, bukan kepastian.

    “Setiap orang memiliki rezeki dan cara bertahan hidup masing-masing. Penting untuk tetap optimis dan melihat peluang di tengah tantangan,” ujarnya.

    Dengan menerapkan skala prioritas, menetapkan target yang realistis, dan mereview pencapaian, masyarakat dapat menghadapi tahun 2025 dengan lebih tenang dan percaya diri.

    Resolusi tidak perlu menjadi beban, tetapi justru menjadi panduan untuk meraih kehidupan yang lebih baik.

    Adapun, resolusi bukanlah sekadar daftar keinginan, melainkan peta jalan menuju perubahan yang lebih baik.

    Dengan membuat target yang realistis, menetapkan prioritas, dan merefleksikan pencapaian, kita bisa menjadikan tahun baru 2025 bukan sebagai beban, melainkan peluang untuk bertumbuh.

    Jangan lupa, di tengah tantangan yang mungkin datang, harapan selalu ada, dan Ika menyarankan untuk tetap optimis dan jadikan setiap langkah berarti dalam perjalanan menuju versi terbaik dari diri kita.

  • Majelis Umum PBB Rilis Resolusi Menuntut Gencatan Senjata Segera di Gaza

    Majelis Umum PBB Rilis Resolusi Menuntut Gencatan Senjata Segera di Gaza

    7cloud.asia – Majelis Umum PBB dalam Sidang Khusus Darurat, pada Kamis (12/6/2025) mengadopsi sebuah resolusi yang menuntut gencatan senjata segera di Gaza dan akses bantuan kemanusiaan dalam skala besar.

    Resolusi Majelis Umum PBB tersebut diadopsi dengan 149 suara setuju, 12 suara tidak setuju, dan 19 suara abstain.

    Selain Israel dan Amerika Serikat, 10 negara lainnya juga menyuarakan penolakan terhadap rancangan resolusi tersebut, yakni Argentina, Fiji, Hongaria, Mikronesia, Nauru, Palau, Papua Nugini, Paraguay, Tonga, dan Tuvalu.

    Sidang ke-10 yang diselenggarakan Majelis Umum PBB pada Kamis itu diadakan atas permintaan Kelompok Arab dan Kelompok Organisasi Kerja Sama Islam.

    Usulan ini setelah Amerika Serikat memveto rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang akan menuntut gencatan senjata segera di Gaza dan pencabutan segera semua pembatasan bantuan kemanusiaan.

    Baca: AS memveto rancangan Resolusi Dewan Keamanan PBB soal Gaza

    Resolusi tersebut menuntut “gencatan senjata segera, tanpa syarat, dan permanen, yang harus dihormati oleh semua pihak.”

    Resolusi tersebut juga mengecam keras semua penggunaan kelaparan terhadap warga sipil sebagai metode perang dan pemutusan akses bantuan kemanusiaan yang melanggar hukum.

    Resolusi itu menekankan kewajiban untuk tidak merampas benda-benda yang sangat diperlukan oleh warga sipil di Jalur Gaza untuk kelangsungan hidup mereka, termasuk dengan sengaja menghalangi pasokan dan akses bantuan.

    Resolusi tersebut juga menekankan bahwa Israel, sebagai pihak yang melakukan pendudukan, di bawah hukum internasional berkewajiban memastikan bantuan kemanusiaan telah menjangkau semua pihak yang membutuhkan.

    Baca: Hamas dan Israel sepakati gencatan senjata di Gaza

    Resolusi itu menuntut pemfasilitasan segera dan permanen untuk masuknya bantuan kemanusiaan secara penuh, cepat, aman, dan tanpa hambatan dalam skala besar ke dan di seluruh Jalur Gaza serta distribusinya ke semua warga sipil Palestina.

    Resolusi tersebut juga menuntut Israel untuk segera mengakhiri blokade, membuka semua perlintasan perbatasan, dan memastikan bantuan telah menjangkau warga sipil Palestina di seluruh Jalur Gaza dengan segera dan dalam skala besar.

    Lebih lanjut, resolusi itu menekankan perlunya akuntabilitas dalam memastikan kepatuhan Israel terhadap kewajiban hukum internasional.

    Dan, dalam hal ini menyerukan semua negara anggota PBB untuk secara individu maupun kolektif agar mengambil semua langkah yang diperlukan guna memastikan kepatuhan Israel terhadap kewajibannya.

    Pewarta: Antaranews.com/Xinhua

  • Hamas Sebut Resolusi Dewan Keamanan PBB Soal Gaza Tak Sesuai Keinginan Rakyat Palestina

    Hamas Sebut Resolusi Dewan Keamanan PBB Soal Gaza Tak Sesuai Keinginan Rakyat Palestina

    7cloud.asia – Kelompok perjuangan kemerdekaan Palestina, Hamas, mengecam resolusi terkait pemulihan Gaza yang disahkan oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) baru-baru ini.

    Dalam pernyataannya, Hamas menyebut Resolusi Dewan Keamanan PBB tersebut tidak sesuai dengan kehendak ataupun tuntutan rakyat Palestina.

    “Resolusi tersebut tidak menjawab tuntutan dan hak politik maupun kemanusiaan rakyat Palestina, khususnya mereka yang berada di Jalur Gaza,” kata pernyataan Hamas pada Senin (17/11/2025).

    “Resolusi ini memberlakukan mekanisme perwalian internasional di Jalur Gaza, sesuatu yang ditolak oleh rakyat kami maupun faksi-faksi mereka,” menurut organisasi Palestina tersebut.

    Baca: Otoritas Palestina desak komunitas internasional tekan Israel percepat masuknya bantuan

    Diketahui, Dewan Keamanan PBB, Senin (17/11/2025) mengadopsi resolusi yang disponsori Amerika Serikat (AS) untuk membentuk Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilisation Force/ISF) di Jalur Gaza.

    Resolusi tersebut memberi dasar bagi pembentukan ISF yang akan beroperasi di Gaza melalui kerja sama dengan Israel dan Mesir, serta dengan mandat awal selama dua tahun.

    Pasukan tersebut bertugas mengamankan perbatasan Gaza, melindungi warga sipil, menyalurkan bantuan kemanusiaan, melatih kembali kepolisian Palestina, serta mengawasi proses pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya.

    Sebanyak 13 negara anggota Dewan Keamanan PBB mendukung resolusi tersebut, sementara Rusia dan China menyatakan abstain.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA

  • Resolusi Tahun Baru: Lebih Baik Fokus pada Kesejahteraan Ketimbang Hanya Berat Badan

    Resolusi Tahun Baru: Lebih Baik Fokus pada Kesejahteraan Ketimbang Hanya Berat Badan

    7cloud.asia – Awal tahun merupakan waktu yang tepat untuk menetapkan rencana resolusi Tahun Baru. Terutama resolusi mengenai pengembangan diri atau self-improvement.

    Bagi banyak pihak, resolusi ini mungkin berkaitan dengan kesehatan. Mulai dari mengatur pola makan yang lebih baik, memperbaiki pola tidur, mengurangi konsumsi alkohol, berolahraga lebih banyak, hingga menurunkan berat badan.

    Nilai – nilai yang ada dalam budaya diet saat ini begitu menyebar luas. Salah satunya adalah pemujaan terhadap penurunan berat badan hingga dorongan untuk mengubah bentuk tubuh.

    Akibatnya, seringkali muncul tekanan untuk menyesuaikan diri pada standar yang tidak realistis. Ini pun memunculkan asumsi bahwa tubuh yang kurus selalu berarti tubuh yang sehat.

    Akibatnya, resolusi tahun baru seputar kesehatan sering kali terseret nilai yang dibentuk oleh budaya diet.

    Meskipun upaya untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan diri ini patut diapresiasi, rasanya sangat sayang apabila tolok ukur keberhasilan kita diukur oleh sekadar ukuran celana atau perut yang berotot saja.

    Oleh karena itu, dalam tahun baru ini, kita sebaiknya mempertimbangkan resolusi weight-neutral dan body-neutral.

    Resolusi ini bertujuan untuk memprioritaskan bagaimana kita merasa dan berfungsi, baik secara fisik maupun mental, serta melihat kesehatan dengan cara yang lebih holistik.

    Baca: Menata tahun 2026 dengan konsep slow living

    Pendekatan weight-neutral sendiri memiliki fokus pada perilaku sehat yang bisa kita kendalikan. Antara lain seperti menjaga hubungan positif dengan aktivitas fisik dan pola makan, serta melawan stigma negatif terhadap orang yang bertubuh besar.

    Resolusi untuk menurunkan berat badan
    Sebagai peneliti body image yang juga pernah dirugikan oleh budaya diet, kami cenderung menghindari resolusi tahun baru karena asosiasinya yang kurang baik. Tapi sepertinya, hal ini justru membuat budaya diet yang ada malah semakin merajalela.

    Oleh karena itu, kami percaya pasti ada cara baru untuk menyikapi resolusi ini. Alih-alih melihat resolusi sekadar pencapaian fisik, orang-orang bisa lebih berfokus pada tujuan merawat diri dan menargetkan kesejahteraan diri yang lebih holistik.

    Pertama, penting bagi siapapun yang pernah kecewa karena gagal menurukan berat badan untuk melatih self-compassion atau ‘belas kasih’.

    Penting pula untuk memberikan ruang untuk memaafkan diri. Meskipun sebenarnya sangat dapat dimengerti, bahwa resolusi ini merupakan respon terhadap pesan-pesan yang hanya berfokus pada berat badan dalam budaya kita.

    Kedua, sangat wajar dan bahkan dapat diprediksi apabila resolusi semacam ini tidak menghasilkan perubahan yang bertahan lama.

    Penelitian menunjukkan bahwa berat badan, ukuran tubuh, dan definisi atas otot dipengaruhi oleh banyak faktor yang sebenarnya tidak sepenuhnya berada di bawah kendali kita.

    Ketiga, terlalu berfokus pada penampilan dan ukuran tubuh justru dapat menyebabkan obsesi yang tidak sehat bagi sebagian orang. Bagi sebagian lainnya, hal ini juga bisa menjadi sumber frustrasi hingga membuat mereka meninggalkan perilaku sehat yang sebenarnya memberikan banyak manfaat.

    Baca: Perhatikan hal ini dalam menyusun resolusi tahun baru

    Berusaha menurunkan berat badan dengan cara seperti ini akibatnya kerap merusak hubungan kita dengan makanan dalam jangka panjang.

    Selain itu, “diet yoyo” atau diet yang berfokus pada sekadar naik-turun berat badan ini, juga menimbulkan berbagai dampak resiko bagi fisik dan psikologis kita.

    Berat badan bukanlah sebuah bentuk perilaku, sehingga tidak tepat rasanya jika dijadikan target untuk perubahan perilaku.

    Pendekatan netral atas berat tubuh
    Pendekatan yang netral terhadap berat tubuh atau weight-netural berkaitan dengan gerakan body-neutral.

    Pendekatan ini berusaha mendorong pandangan holistik atau menyeluruh atas diri kita. Termasuk di dalamnya adalah cara pandang terhadap hubungan sosial, talenta, serta minat yang kita miliki. Selain itu, gerakan ini juga mendorong kita untuk mengurangi fokus yang sempit atas penampilan fisik semata.

    Pendekatan yang bepusat pada berat tubuh atau weight-centric biasanya memiliki fokus utama yang menargetkan berat badan dan penampilan tertentu. Sebaliknya, praktik weight-neutral berangkat dari pengalaman internal kita atas tubuh sendiri.

    Pendekatan ini bisa berupa menambahkan aktivitas fisik untuk meningkatkan fungsi tubuh dan kesenangan pada hidup, serta mengatur pola makan yang baik agar lebih ternutrisi dan terpuaskan.

    Penelitian membuktikan, kerangka berpikir seperti ini dapat menghasilkan dampak positif bagi kesejahteraan kita secara menyeluruh.

    Ketika kita berfokus meningkatkan kesehatan alih-alih sekadar menurunkan berat badan, peluang untuk melakukan aktivitas fisik dalam jangka panjang menjadi lebih besar.

    Hal ini juga tentunya dapat berpengaruh secara positif pada beberapa indikator kesehatan kita, seperti tekanan darah, kadar kolestrol, serta gula darah.

    Baca: Rakyat menjerit karena lonjakan harga bahan kebutuhan pokok jelang tahun baru

    Selain itu, pendekatan weght-neutral juga dapat meningkatkan kesehatan mental, termasuk di antaranya adalah self compassion (belas kasih) dan self esteem (kepercayaan diri) yang lebih baik.

    Pendekatan body-neutral di sisi lain juga menawarkan kita cara pandang yang lebih luas terhadap kesejahteraan diri. Pendekatan ini menghadirkan berbagai dimensi kesehatan di luar aspek fisik saja.

    Sebagai contoh, pendekatan ini turut mempertimbangkan aspek sosial, emosional, finansial, intelektual, spiritual, dan bahkan profesional kita. Pendekatan ini bisa menjadi solusi bagi mereka yang sebelumnya sempat kesulitan akibat pendekatan weight-centric di masa lalu.

    Resolusi yang bisa dipertimbangkan
    Salah satu resolusi weight-neutral bisa berupa target untuk berjalan lebih sering agar kita mampu menikmati pendakian gunung bersama keluarga dan teman saat musim panas.

    Contoh lainnya seperti memprioritaskan tidur, mempelajari lebih jauh terkait kebersihan sebelum tidur, serta mencoba strategi mindfulness sebagai bagian dari rutinitas tidur.

    Selain itu, target body-neutral bisa berbentuk upaya untuk lebih aktif secara sosial dengan lingkungan sekitar. Hal ini dapat dilakukan dengan mulai berkomitmen untuk lebih sering menemui teman lama, ataupun mengikuti kelas maupun komunitas untuk menemukan teman baru.

    Menjadi relawan di sebuah lembaga yang memberikan tujuan yang lebih besar dalam hidup bisa juga menjadi salah satu caranya.

    Budaya diet kerap membuat kita menyerahkan keputusan pada panduan dan “ahli” yang datangnya berasal dari luar diri kita sendiri sendiri. Hal ini menjelma menjadi angka grafik, rencana makan tertentu, jadwal olahraga, atau pun berbentuk aplikasi.

    Tahun ini, mari lebih fokus untuk merebut kembali diri dalam proses self improvement. Tentukan apa yang membuatmu benar-benar tertarik daripada sekadar mengikuti skrip dan target yang ditawarkan oleh budaya diet yang ada.

    Ketika kita memperluas prespektif lebih dari sekadar penampilan dan mempertimbangkan apa yang kita rasakan dan paling penting dalam hidup, di masa depan mungkin saja resolusi tahun baru kita justru bisa menjadi sumber energi dan antusiasme.

    Jadi, berikan sedikit hadiah pada diri sendiri. Rawatlah diri secara menyeluruh untuk setahun penuh ke depan. Inilah target kita untuk tahun ini.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Shelly Russell-Mayhew (Professor and Registered Psychologist, Werklund School of Education, University of Calgary) dan Elizabeth Tingle (Coordinator for the Body Image Research Lab; Lecturer at the Werklund School of Education, University of Calgary). Adinda Ghinashalsabila Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.