7cloud.asia – Pergantian tahun oleh banyak orang dimanfaatkan untuk membuat resolusi. Resolusi tahun baru ini merupakan bentuk niat atau komitmen untuk memperbaiki diri, kebiasaan, atau mencapai tujuan di tahun yang akan datang.
Namun, resolusi tahun baru ternyata tak hanya upaya menata hidup tetapi juga bentuk menyayangi diri sendiri yang dimulai dengan langkah yang realistis. Tujuannya agar dapat dijalankan dengan perasaan yang lebih ringan dan bukan sebagai hukuman atas kekurangan diri.
“Mulailah dari langkah kecil yang realistis, fokus pada proses, dan beri apresiasi pada setiap kemajuan sekecil apa pun,” kata Psikolog klinis di Personal Growth Phoebe Ramadina M.Psi., Psikolog, dikutip Antaranews.com, Senin (30/12/2025)
Phoebe mengatakan dalam membuat resolusi tahun baru, penting untuk melihat secara realistis dan sesuai dengan nilai hidup.
Menurutnya, kebanyakan orang menetapkan resolusi yang terlalu umum, terlalu tinggi atau terlalu banyak dalam satu waktu sehingga terasa berat dijalankan sejak awal.
Baca: Resolusi tahun baru yang lebih ramah lingkungan
Ia juga menyarankan untuk tidak membandingkan pencapaian diri dengan orang lain karena setiap orang memiliki ritme dan tantangan hidup yang berbeda agar tercipta rencana masa depan yang sehat.
“Resolusi yang sehat sebaiknya spesifik, jelas, bisa diukur, dan dapat dilakukan secara bertahap. Resolusi juga perlu relevan dengan kebutuhan emosional dan situasi hidup kita sekarang, bukan sekadar mengikuti standar orang lain,” kata psikolog lulusan Universitas Indonesia ini.
Dengan resolusi tahun baru yang jelas dan terukur, katanya, otak akan lebih mudah membangun kebiasaan baru karena targetnya terasa mungkin untuk dicapai, bukan menakutkan.
Resolusi tahun baru yang selaras dengan kebutuhan pribadi dan dilakukan secara bertahap, juga akan lebih mungkin dijalani dengan perasaan senang dan konsisten, bukan dengan rasa tertekan.
Sementara jika resolusi tahun lalu ada yang tidak tercapai bukanlah tanda kegagalan, melainkan sinyal ada faktor tertentu yang perlu dievaluasi.
Baca: Resolusi tahun baru yang fokus pada kesejahteraan ketimbang materi
Itu bisa berarti target yang kurang realistis, perubahan kondisi hidup atau kelelahan fisik dan emosional yang tidak diperhitungkan sebelumnya.
“Apa yang terpenting adalah melakukan refleksi, bukan menghakimi diri. Kita perlu bertanya dengan jujur pada diri sendiri tentang hambatan apa yang muncul, lalu menyesuaikan kembali target agar lebih sesuai dengan kapasitas kita. Sikap ini membantu kita belajar dari pengalaman, dan tidak tenggelam dalam rasa bersalah,” kata Phoebe.
Ia juga menekankan resolusi tahunan tidak harus selalu tercapai, karena tidak tercapainya resolusi tidak membuat seseorang menjadi pribadi yang gagal atau kurang berharga.
Resolusi tidak tercapai justru karena pribadi yang bertumbuh, prioritas hidup berubah, atau menjadi lebih sadar akan batas diri sendiri.
Phoebe mengatakan resolusi sebaiknya dipandang sebagai alat refleksi dan arah pertumbuhan, bukan sebagai kontrak mutlak yang harus dipenuhi tanpa mempertimbangkan dinamika kehidupan.
