Tag: revitalisasi

  • Revitalisasi Kota Yogyakarta dan Dampak yang Dirasakan Warga

    Revitalisasi Kota Yogyakarta dan Dampak yang Dirasakan Warga

    7cloud.asia – Sejak Sumbu Filosofi Yogyakarta—garis imajiner yang menghubungkan Tugu Jogja, Keraton Yogyakarta, dan Panggung Krapyak—resmi ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada 18 September 2023, Kota Yogyakarta terus berbenah.

    Penataan Kota Yogyakarta dilakukan dengan mengikuti rekomendasi UNESCO dalam menjaga nilai-nilai universal luar biasa atau universal outstanding value (UOV).

    UOV merupakan standar utama yang digunakan UNESCO untuk menentukan apakah suatu peninggalan sejarah dapat ditetapkan sebagai warisan budaya atau tidak.

    Standar ini memiliki arti bahwa budaya atau lanskap alam tertentu memiliki nilai yang penting untuk umat manusia dan generasi mendatang. Penetapannya didasarkan pada kriteria yang tertulis dalam operational guidelines.

    Sayangnya, upaya untuk memenuhi kriteria tersebut kerap mengubah dinamika kawasan warisan budaya dan menjauhkan penduduk dan ruang hidup mereka.

    Namun, konsep ini tidak sepenuhnya bisa diterapkan ke semua warisan budaya. Di berbagai wilayah, beberapa peninggalan bersejarah bukan hanya sebatas koleksi, tapi lebih jauh dianggap sebagai bagian dari kehidupan sosial bahkan spiritual masyarakat.

    Candi di negara-negara Asia, misalnya, tidak hanya dipandang sebagai monumen, tetapi juga bagian dari kehidupan spiritual masyarakat dan digunakan sebagai tempat ibadah.

    Sehingga, metode perlindungan seperti membatasi akses bagi umat justru bisa memutus hubungan antara masyarakat dan warisan budaya mereka.

    Baca: Revitalisasi Kota Yogyakarta setelah sumbu filosofi diakui sebagai warisan budaya

    Artinya, cara perlindungan nilai UOV dan orisinalitas warisan budaya harus disesuaikan dengan konteks spesifik setiap warisan budaya.

    Model-model pelestarian warisan budaya yang berasal dari Barat tidak bisa diadaptasi sepenuhnya karena kondisi dan pemahaman terhadap warisan budaya di masing-masing wilayah, terutama di Asia, memiliki perbedaan yang signifikan.

    Rawan dianggap penggusuran
    Pengabaian terhadap konteks sosial bisa membuat langkah ini diinterpretasikan sebagai penggusuran, alih-alih revitalisasi.

    Relokasi pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Malioboro perlu ditinjau ulang agar tidak menimbulkan kesan bahwa revitalisasi Sumbu Filosofi Yogyakarta hanya berfokus pada pemulihan lanskap fisik semata.

    Angkringan, lesehan, dan pedagang informal telah menjadi simbol atau ciri khas yang melekat pada Jalan Malioboro. Menghilangkan elemen-elemen ini dapat menghapus bagian penting dari identitas dan dinamika sosial yang telah ada selama puluhan tahun.

    Jebakan gentrifikasi
    Permasalahan semakin kompleks ketika revitalisasi warisan budaya bertemu dengan gentrifikasi, yaitu suatu proses di mana perubahan tata ruang dan ekonomi suatu kawasan mendorong masuknya kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi, sementara penduduk asli terpinggirkan akibat naiknya biaya hidup dan harga properti.

    Upaya untuk meremajakan kawasan dan meningkatkan daya tariknya sebagai destinasi wisata sering kali lebih menguntungkan pemilik bisnis dengan modal besar dibandingkan masyarakat lokal.

    Baca: UNESCO akui sumbu Filosofi Yogyakarta jadi warisan budaya

    Dampaknya, revitalisasi yang dilakukan dapat mengarah pada komersialisasi seperti fenomena yang terjadi di Tianjin, Cina, di mana elemen-elemen tradisional yang dahulu menjadi bagian dari identitas budaya justru terpinggirkan.

    Bukan tidak mungkin Jalan Malioboro akan mengalami transformasi serupa, menjadi kawasan ekslusif yang lebih mirip dengan Hollywood Boulevard—sebuah jalan ikonik di Los Angeles yang dikenal sebagai pusat hiburan dengan deretan toko mewah, teater terkenal, dan Walk of Fame.

    Jika itu terjadi, Malioboro bisa kehilangan karakter sosialnya yang inklusif.

    Hilangnya dinamika budaya
    Saat ini, pemerintah Kota Yogyakarta dan Keraton Yogyakarta tampaknya akan fokus mengembalikan fungsi ruang sesuai dengan peruntukannya dalam sejarah.

    Pemerintah belum mempertimbangkan bagaimana ruang-ruang tersebut telah berkembang secara sosial dan budaya bersama masyarakat.

    Dari sudut pandang pelestarian orisinalitas tata ruang, langkah ini memang memiliki dasar yang kuat. Namun, penting untuk mempertimbangkan bahwa perspektif ini dapat berisiko menghapus lanskap budaya yang telah tumbuh dan berevolusi bersama masyarakat.

    Setiap perubahan besar terhadap ruang budaya yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat bisa berpotensi merusak hubungan emosional yang telah terjalin selama bertahun-tahun, serta menghilangkan dinamika budaya yang membuat ruang tersebut hidup dan bermakna.

    Baca: Malioboro ditataulang sesuai posisinya dalam Sumbu Filosofi Yogyakarta

    Keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan ekonomi
    Sumbu Filosofi Yogyakarta sepatutnya dipahami lebih dari sekadar garis lurus imajiner yang menghubungkan bangunan-bangunan tua.

    Sebab, ia telah berkembang seiring waktu bersama masyarakatnya melalui berbagai interaksi sosial yang telah berlangsung lama.

    Meskipun pembatasan penggunaan ruang yang bersifat masif memang diperlukan untuk menjaga kelestarian dan keteraturan, hal ini harus memperhitungkan dan mempertahankan hubungan yang erat antara masyarakat dengan ruang budaya mereka.

    Sehingga, perencanaan revitalisasi dengan melibatkan partisipasi komunitas (bottom-up approach) merupakan aspek penting dalam pelestarian warisan budaya.

    Sesuai slogan Kota Yogyakarta, ‘Berhati Nyaman’, warisan budaya harus tetap hidup dalam keseharian warganya, bukan sekadar menjadi ruang statis yang terpisah dari realitas sosial.

    Agar tetap lestari, perlu ada keseimbangan antara konservasi warisan budaya dan pemanfaatannya secara ekonomi.

    Warga harus dilibatkan dalam upaya pelestarian, sehingga budaya tetap hidup, bermanfaat secara sosial, dan berkelanjutan secara ekonomi tanpa kehilangan keasliannya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Bagas Aditya (Research assistant, Universitas Gadjah Mada)

  • Pemprov DKI Jakarta Akan Merevitalisasi Lima Pasar, Salah Satunya Pasar Minggu

    Pemprov DKI Jakarta Akan Merevitalisasi Lima Pasar, Salah Satunya Pasar Minggu

    7cloud.asia – Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno menegaskan, revitalisasi pasar tradisional akan dilaksanakan secara bertahap mulai tahun ini.

    Revitalisasi, menurut Rano, perlu dilakukan untuk menciptakan pasar menjadi pusat perdagangan yang lebih modern, nyaman, aman dan menarik bagi pengunjung ataupun pedagang.

    Dia optmistis, jika revitalisasi selesai dilakukan maka isu mengenai pasar yang tidak layak di Jakarta akan segera terselesaikan.

    “Memang belum bisa serentak, ada lima pasar segera kita revitalisasi dan yang paling terbesar adalah Pasar Minggu,” kata Rano, Kamis (11/9/2025).

    Dijelaskan Rano, revitalisasi Pasar Minggu tidak hanya mendirikan ulang pasar dengan bangunan dan infrastruktur lebih layak. Direncanakan, revitalisasi Pasar Minggu akan memadukan pasar dengan hunian.

    Baca: Revitalisasi Pasar Taman Puring 

    Sehingga nantinya bagian bawah akan berfungsi sebagai tempat berdagang, sedangkan bagian atas menjadi hunian vertikal

    Disebutkan Rano, Perumda Pasar Jaya telah menyiapkan perencanaan dan anggaran untuk melaksanakan revitalisasi. Diharapkannya, salah satu dari lima pasar yang akan direvitalisasi bisa rampung tahun depan.

    Saat mengunjungi Pasar Cikini pada Juli lalu, Rano memastikan revitalisasi sejumlah pasar tradisional yang akan dimulai pada tahun ini.

    Saat itu Rano mengatakan, meski pengembangan pasar tradisional akan dilakukan menggunakan pendekatan modern, fungsi pasar dipastikan tetap akan berjalan seperti sebelum direvitalisasi.

    Baca: Usai revitalisasi Pasar Baru akan kembali menjadi ikon Jakarta

    Menurut Rano, pendekatan unsur modern seperti digitalisasi pembayaran serta pembaharuan bangunan, tak bisa dihindari dan justru akan memudahkan masyarakat.

    “Selain fungsi ekonomi, keberadaan pasar nantinya juga akan dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung, seperti sarana sosial, olahraga dan fasilitas kebersihan,” jelas Rano.

    Pemprov DKI Jakarta juga telah menugaskan Perumda Pasar Jaya untuk membantu revitalisasi Pasar Baru menjadi lebih menarik bagi pengunjung.

    “Itu konsep yang selama ini kita janjikan. Nah jadi ini menjadi tipe baru dan mudah-mudahan semua lahan bisa bermanfaat buat masyarakat,” tandasnya.

  • Revitalisasi Waduk Giri Kencana Tingkatkan Daya Tampung Air Hingga Tiga Kali Lipat

    Revitalisasi Waduk Giri Kencana Tingkatkan Daya Tampung Air Hingga Tiga Kali Lipat

    7cloud.asia – Progres revitalisasi Waduk Giri Kencana di Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur akan meningkatkan daya tampungnya menjadi tiga kali lipat.

    Kepala Seksi Pembangunan Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Timur, Tengku Saugi Zikri mengatakan, daya tampung Waduk Giri Kencana setelah dikeruk diperkirakan mencapai 92.225 meter kubik.

    “Semula hanya 35.749 meter kubik, naik hampir tiga kali lipat,” ujar Tengku Minggu (2/11/2025) sebagaimana dikutip beritajakarta.id.

    Waduk Giri Kencana dirancang memiliki kedalaman hingga enam meter, meningkat dari kondisi eksisting dua meter. Nantinya, waduk ini akan menampung aliran air dari Saluran Penghubung (Phb) Cilangkap.

    Baca: DKI Jakarta andalkan 147 waduk dan embung untuk konservasi air

    Diproyeksikan, revitalisasi Waduk Giri Kencana dapat mengatasi genangan yang biasa terjadi wilayah RW 02, 03, 04  dan 06 Kelurahan Cilangkap.

    Adapun revitalisasi Waduk Giri Kencana yang memiliki luas area basah mencapai 2,7 hektare ini sudah mencapai 54,6 persen.

    Tengku mengatakan, dia sudah meminta kepada pihak ketiga untuk melakukan akselerasi agar infrastruktur pencegahan banjir tersebut dapat selesai tepat waktu.

    “Sesuai schedule, realisasinya seharusnya sudah 62,2 persen, namun baru tercapai 54,6 persen. Ada deviasi progres sekitar 7,6 persen,” ujarnya,

    Baca: DKI Jakarta terancam krisis air bersih

    Tengku menjelaskan, revitalisasi waduk seluas 4,5 hektare tersebut dimulai sejak awal Juni 2025 melalui sistem lelang e-Katalog dengan target pengerjaan tuntas pada akhir tahun 2025.

    “Proyek ini mencakup pengerukan lahan, pembangunan turap bronjong hingga penataan kawasan. Sejauh ini, pekerjaan bronjong dan ramp sudah rampung 100 persen. Sementara, pembangunan arsitektur, taman, dan fasilitas pendukung masih berjalan,” terangnya.

    Menurutnya, sejumlah fasilitas yang akan dibangun di kawasan waduk antara lain Kantor Satuan Pelaksana SDA Kecamatan Cipayung, musala, lapangan basket.

    Selain itu juga akan dibangun power house, jogging dan cycling track, viewing deck, jembatan, amphiteater, outdoor gym, gazebo, hingga playground anak.