7cloud.asia – Direktur Eksekutif Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Fakhriati memaparkan strategi penting yang tengah digalakkan dalam menghadapi risiko bencana, terutama bagi kelompok rentan, dengan memanfaatkan pengetahuan lokal dan teknologi informasi.
Fakhriati memulai pemaparannya soalnya pentingnya teknologi informasi dalam menghadapi risiko bencana dengan merujuk pada pelatihan yang telah dilakukan pada tahun 2023.
Pelatihan itu berfokus pada pemberdayaan peneliti disabilitas dengan keterampilan riset, sehingga mereka mampu menghasilkan proposal-proposal yang berharga.
Pada tahun ini, ujar Fakhriati, fokus program MOST UNESCO adalah memanfaatkan pengetahuan lokal untuk mengurangi risiko bencana bagi kelompok rentan.
Hal ini telah dijelaskan sebelumnya oleh B.W. Ejder mengenai kekayaan pengetahuan lokal terkait kebencanaan di Indonesia, seperti SESA di Jawa dan strategi SMAW.
Baca: Mengoptimalkan kearifan lokal dalam menangani bencana
Namun, masih terdapat potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal, menyebabkan banyaknya korban bencana.
Perempuan yang juga Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu menekankan bahwa pentingnya mengintegrasikan pengetahuan lokal dengan teknologi informasi dalam jangka panjang dalam penanganan bencana.
Hal ini sejalan dengan rencana pembangunan nasional, termasuk Sustainable Development Goals (SDGs).
Program ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan lokal yang efektif dalam mengurangi risiko bencana bagi kelompok rentan, serta meningkatkan literasi dan kesadaran masyarakat akan hal tersebut.
Dalam upaya mencapai tujuan tersebut, Fakhriati menguraikan rencana program kerja selama lima tahun ke depan.
Program-program ini meliputi pemetaan dan identifikasi pengetahuan lokal, penguatan kesadaran masyarakat, kerjasama dengan berbagai pihak terkait dan validasi hasil-hasil program.
Baca: Peran masyarakat adat dalam menghadapi dampak perubahan iklim
Program ini juga meliputi pembangunan platform digital untuk mengintegrasikan pengetahuan lokal dalam informasi yang berkualitas.
Selain itu, Fakhriati juga menggarisbawahi pentingnya adaptasi budaya dalam mengurangi risiko bencana, dengan mengajak untuk mengembangkan lokakarya dan adaptasi budaya yang bertujuan untuk mengurangi risiko bencana secara berkelanjutan.
Potensi kerjasama dengan berbagai lembaga dan instansi pun dijelaskan sebagai bagian dari rencana kerja ke depan.
Melalui kegiatan ini diharapkan akan menghasilkan rekomendasi yang berharga bagi pemerintah dan stakeholder lainnya.
Perusahaan swasta dan komunitas sangat membutuhkan rekomendasi ini dalam mengintegrasikan pengetahuan lokal dan teknologi informasi guna mengurangi risiko bencana secara inklusif dan berkualitas.
“Melalui kolaborasi dan upaya bersama, diharapkan dampak positif dapat dirasakan oleh masyarakat di seluruh dunia,” tutup perempuan lulusan S2 Bidang Islamic Studies di Leiden University.
Baca: Warga daerah pesisir banyak terdampak perubahan iklim tapi diabaikan
