Tag: Robries

  • Tak Sekadar Mengolah Sampah Plastik, Robries Memberi Nilai Lebih pada Plastik

    Tak Sekadar Mengolah Sampah Plastik, Robries Memberi Nilai Lebih pada Plastik

    7cloud.asia –  Penampian fisik alat rumah tangga produksi Robries itu terlihat mewah, dengan aksen warna-warna tertentu di beberapa lokasi. 

    Sepintas, alat produk Robries seperti tatakan gelas, gantungan kunci, jam meja hingga bangku dan meja konsol itu terbuat dari marmer ataupun terazo.

    Siapa sangka, alat rumah tangga yang terlihat begitu mewah itu terbuat dari sampah plastik seperti tutup botol, bekas botol air mineral atau bahkan serpihan ember bekas. 

    Ya, meski dibuat dari sampah plastik produk Robries tidak sekadar dibuat. Produk Robries dicreate sedemikian rupa menjadi sebuah karya yang membuat orang yang melihat tertarik membeli dan bangga menggunakan.

    Robries ingin mengajak penggunanya untuk merasakan hidup yang lebih bertanggung jawab lagi berkelanjutan.

    “Kami ingin memberi nilai lebih pada setiap produk yang dihasilkan Robries. Value ini yang selalu kita pegang,” terang Syukriatrun Niamah, pendiri sekaligus Robries kepada 7cloud.asia melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.

    Baca: Cara mutakhir Singapura atasi krisis sampah makanan

    Maka dalam setiap produk Robries ada cerita yang disampaikan kepada pelanggan. Produk itu dibuat dari berapa banyak sampah plastik dan dari mana bahan yang digunakan.

    Niamah menambahkan, di balik setiap produk Robries tersimpan visi besar, untuk tidak hanya mengurangi sampah plastik tetapi juga mengubah sampah plastik menjadi benda yang bermanfaat dan bernilai tinggi.

    “Mungkin untuk membuat zero waste masih jauh ya, tapi setidaknya tidak ada lagi sampah plastik yang berserakan dan mengotori lingkungan,” ujarnya.

    Robries lahir berangkat dari keresahan Niamah tentang permasalahan lingkungan yang tidak kunjung selesai.

    Baca: Produk ramah lingkungan dari DemiBumi

    Niamah yang saat itu masih tercatat sebagai mahasiswi jurusan desain produk di sebuah perguruan tinggi di kota Surabaya melihat penanganan sampah tidak banyak mencapai kemajuan.

    Sampah khususnya sampah plastik dikelola secara konvensional, yakni dikumpulkan kemudian ditimbun begitu saja.

    Cara pengelolaan sampah seperti ini terbukti telah menimbulkan masalah baik untuk lingkungan maupun masalah sosial.

    “Branding atau citra sampah itu sudah jelek, kotor dan kadang menjijikkan. Saya ingin mengubah itu,” terangnya. 

    Niamah ingin membuka perspektif baru dengan mengubah anggapan orang tentang sampah plastik yang semula adalah masalah menjadi sesuatu yang tak hanya berguna tetapi juga memiliki nilai seni.

    Baca: Dengan sistem isi ulang dari Siklus kamu bisa kurangi sampah plastik

    Niamah lantas memutar otak. Di mata Niamah plastik adalah material paling mutakhir. Belum ada material yang bisa menggantikan plastik, sehingga sampah plastik pun bisa dianggap menjadi bahan atau material yang bisa diolah menjadi beragam produk. 

    Dari pandangan inilah, kemudian lahir nama Robries yang merupakan singkatan dari kata ‘recycle object industry’ 

    Karya pertama Robries lahir pada 2018, berupa sebuah jam meja yang dibuat dari 100 gram sampah plastik. Saat itu jam meja produk Robries tersebut dijual seharga Rp 164.000.

    “Untuk membuat produk itu, saya menggunakan oven bekas dan meminjam peralatan yang ada coworking space disediakan oleh Pemprov Jawa Timur,” kenang Niamah.

    Karya Niamah ini ternyata mendapat apresiasi tinggi, sehingga pesanan terus mengalir. Kini produk Robries makin beragam dan ukurannya juga semakin besar hingga membuat furnitur. 

    Baca: KLHK ajak masyarakat boikot produk yang tak kelola sampah plastik 

    Usaha Robries juga semakin berkembang sehingga kini mempekerjakan 50an orang. Kini kapasitas produksi Robries yang semula 100-200 kilogram sampah plastik sebulan, kini mencapai 7-10 ton sampah plastik sebulan.

    Sampah plastik yang diolah Robries adalah palstik jenis HDPE seperti tutup botol, wadah sampo dan sabun dll; plastik jenis PETE: packaging kosmetik, sedotan, cup minuman dan sebagainya; serta plastik jenis PP seperti ember, baskom dan sebagainya. 

    Sampah plastik ini kemudian dirajang dan dilelehkan yang selanjutnya dipres untuk dibuat beragam produk. Produk Robries kini dipasarkan di sejumlah marketplace. 

    Produk Robries juga telah diekspor ke sejumlah negara seperti Jepang, AS dan Eropa. Juni ini Robries juga melaunching website resmi untuk mengenalkan produknya secara luas. 

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

    Pasang surut pernah dialami Niamah selama lebih 8 tahun bersama Robries. Salah satu yang paling menantang dalam mengelola usaha ini adalah mebangun tim yang bisa saling support dengan baik. Menyatukan isi banyak kepala itu tantangan sebuah bisnis. 

    Tapi tim juga yang membuat Robries bertahan dan terus berinovasi, dan Niamah yakin jika konsisten akan memberikan hasil dan menghasilkan impact bagi lingkungan.

    “Untuk memberi impact mungkin tidak mudah, tetapi jangan lihat sulitnya tetapi lihat dari impactnya. Sekecil apapun jika kita lakukan bareng-bareng maka impactnya akan besar. Jadi fokus pada impactnya fokus pada apa yang kita lakukan,” ujarnya.

    Niamah punya mimpi agar setiap produk Robries memberikan impact bukan hanya bagi penggunanya, tetapi bagi juga orang lain. 

    “Kita ingin impactnya tidak hanya internal di tim Robries dan pembeli produk Robries, tetapi juga banyak pihak seperti bank sampah, pemulung, pengepul dan lebih luas kepada lingkungan,” pungkasnya.