Tag: rumah sakit

  • WHO: Setiap 10 Menit Satu Anak Terbunuh di Gaza

    WHO: Setiap 10 Menit Satu Anak Terbunuh di Gaza

    7cloud.asia – Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, Jumat (10/11/2023) rata-rata seorang anak terbunuh setiap 10 menit di Jalur Gaza.

    Ia membeberkan hal itu kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sambil memperingatkan: “Tidak ada tempat dan tidak ada seorang pun di Gaza yang aman.”

    Dia mengatakan bahwa setengah dari 36 rumah sakit di Gaza dan dua pertiga dari pusat layanan kesehatan primernya tidak berfungsi.

    Rumah sakit yang beroperasi jauh melampaui kapasitasnya, dan menggambarkan sistem layanan kesehatan dalam keadaan “terpuruk.”

    “Koridor rumah sakit penuh dengan korban luka, orang sakit, dan sekarat. Kamar mayat meluap. Pembedahan tanpa anestesi. Puluhan ribu pengungsi berlindung di rumah sakit,” kata Tedros kepada dewan yang beranggotakan 15 orang itu.

    Baca: Gaza layaknya kuburan, PBB serukan gencatan senjata

    “Rata-rata, satu anak terbunuh setiap 10 menit di Gaza,” kata Tedros.

    Sejak 7 Oktober, WHO memverifikasi lebih dari 250 serangan terhadap layanan kesehatan di Gaza dan Tepi Barat, sementara ada 25 serangan terhadap layanan kesehatan di Israel, kata Tedros.

    Israel mengatakan Hamas menyembunyikan senjata di terowongan di bawah rumah sakit. Namun, Hamas membantah tuduhan itu.

    Duta Besar Israel untuk PBB Gilad Erdan mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa Israel membentuk satuan tugas untuk mendirikan rumah sakit di Gaza selatan.

    Pada 12 Oktober, Israel memerintahkan sekitar 1,1 juta orang di Gaza untuk pindah ke selatan menjelang invasi darat.

    Baca: Seruan gencatan senjata dari Majelis Umum PBB dianggap angin lalu

    “Israel sedang melakukan pembicaraan lanjutan dengan Uni Emirat Arab, ICRC (Komite Internasional Palang Merah -red) dan negara-negara Eropa lainnya mengenai pendirian kapal rumah sakit lapangan dan rumah sakit terapung,” kata Erdan.

    Ia menambahkan, “Israel memfasilitasi pengiriman bantuan medis dari Yordania ke rumah sakit di Gaza utara.”

    “Sedihnya, Israel berbuat lebih banyak demi kesejahteraan warga Gaza dibandingkan WHO atau badan PBB lainnya,” katanya.

    Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres berbicara di markas PBB di New York, Senin 6 November 2023.

    Amerika Serikat (AS) berupaya untuk menyediakan bahan bakar ke rumah sakit di Gaza, kata Wakil Duta Besar AS untuk PBB Robert Wood.

     

    Baca: Korban terus berjatuhan di Gaza, pemakaman layak sulit dilakukan

    Ia menekankan bahwa fasilitas sipil dan kemanusiaan harus dihormati dan dilindungi berdasarkan hukum internasional.

    Wood mengatakan Hamas menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia.

    “Taktik pengecut ini tidak mengurangi tanggung jawab Israel untuk membedakan antara warga sipil dan teroris dalam perjuangannya melawan Hamas,” ujarnya.

    “Risiko kerugian terhadap warga sipil di lokasi yang digunakan Hamas untuk tujuan militer harus dipertimbangkan ketika merencanakan operasi.”

    Tedros mengenang masa kecilnya saat perang di Ethiopia, dan mengatakan bahwa dia memahami apa yang harus dialami anak-anak Gaza.

    “Suara tembakan dan peluru yang berdesing di udara, bau asap setelah serangan, peluru pelacak di langit malam, ketakutan, rasa sakit, kehilangan – hal-hal ini selalu melekat pada saya sepanjang hidup saya,” katanya. 

    Sumber: VOA Indonesia

  • Rumah Sakit Digempur Israel dan Pasokan Listrik Terputus, Tiga Bayi Prematur Meninggal

    Rumah Sakit Digempur Israel dan Pasokan Listrik Terputus, Tiga Bayi Prematur Meninggal

    7cloud.asia – Rumah Sakit Al Shifa dan rumah sakit lain di Gaza utara digempur habis-habisan oleh militer Israel.

    Akibatnya tiga bayi yang lahir prematur meninggal dunia kerena tiada pasokan listrik di rumah sakit di Gaza itu  pada Minggu (12/11/2023).

    Petugas medis di Rumah Sakit Al Shifa mengatakan Setiap hari, jumlah korban tewas dan terluka akibat serangan Israel kian bertambah, tetapi tempat untuk merawat mereka semakin sedikit.

    Bahkan banyak rumah sakit yang hampir tidak mampu merawat pasien. Di RS Al Shifa, juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza, Ashraf Al-Qidra, mengatakan serangan Israel “meneror petugas medis dan warga sipil”.

    baca: israel akan terapkan jeda operasi militer 4 jam sehari di gaza

    Selain itu, Al-Qidra mengatakan dari 45 bayi yang dirawat, tiga di antaranya sudah meninggal dunia dan mereka tidak diberi tahu oleh militer Israel bagaimana membawa bayi-bayi itu ke tempat yang aman.

    Sementara itu juru bicara militer Israel, Laksamana Madya Daniel Hagari, mengatakan militer Israel akan membantu evakuasi bayi dari rumah sakit tersebut atas permintaan staf di sana.

    Namun, Seorang ahli bedah plastik di Al Shifa mengatakan akibat pengeboman terhadap ruang inkubator, bayi-bayi prematur terpaksa dirawat di ranjang biasa dengan sedikit daya yang tersedia untuk mengubah AC menjadi pemanas.

    “Kami tahu ini sangat berisiko. Kami menduga akan kehilangan bayi lebih banyak lagi setiap hari,” kata dr Ahmed El Mokhallalati seperti yang dilansir Reuters.

    baca: israel gencatan senjata dengan hamas tidak akan terjadi

    Hantaman roket Israel mengakibatkan bayi laki-laki bernama Mosab Subeih dilarikan ke RS Indonesia di Beit Lahiya, Gaza utara setelah rumah keluarganya hancur.

    “Dia terluka langsung di kepala dan mengalami pendarahan, dan kami tidak punya operasi,” kata petugas medis yang merawatnya dengan resusitator manual karena listrik padam.

    Minimnya obat-obatan, makanan dan air membuat staf medis di RS terbesar kedua di Gaza utara, Al-Quds, kesulitan merawat pasien.

    “Rumah sakit Al Quds terisolasi dari dunia dalam 6-7 hari terakhir. Tak ada jalan masuk, tak ada jalan keluar,” kata Tommaso Della Longa, juru bicara Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.

    baca: korban tewas akibat perang israel dan hamas palestina dekati 4000 orang

    Salah seorang dokter pada RS Nasser di Khan Younis, Gaza selatan, Mohammad Qandil, mengatakan RS Shifa juga tak dapat diakses oleh mereka yang baru saja terluka.

    “RS Shifa sekarang tidak berfungsi, tak ada yang diizinkan masuk, tak ada yang boleh keluar,”

    Kondisi ini membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kehilangan kontak dengan RS itu dan mengkhawatirkan orang-orang yang terjebak di sana.

    Israel mengatakan RS-RS di Gaza utara harus dikosongkan sehingga militer bisa menghancurkan apa yang mereka anggap sebagai pusat komando Hamas di bawah gedungnya dan di daerah sekitarnya. Hamas membantah dalih Israel itu.

    Pihak Israel  mengatakan orang-orang bisa dievakuasi dengan aman dari tiga RS di Gaza utara, termasuk Al Shifa.

    Direktur RS itu, Mohammad Abu Selmeyah, mengatakan kepada stasiun TV Al Arabiya bahwa tidak ada jalur keluar yang aman.

    Reporter: Nurakhmayani/berbagai sumber

  • Pasukan Israel Kepung RS Indonesia di Gaza, 8 Orang Tewas

    Pasukan Israel Kepung RS Indonesia di Gaza, 8 Orang Tewas

    7cloud.asia – Rumah Sakit Indonesia yang berada di jalur Gaza sejak Minggu (19/11/2023) dikepung dan di bombardir pasukan Israel hingga Senin (20/11/2023). Akibatnya, 8 orang dilaporkan tewas.

    Sementara dua orang dokter di rumah sakit ini mengalami luka-luka akibat serangan bertubi-tubi dari pasukan Israel.

    Melansir Al Jazeera, salah seorang tim medis menjelaskan rumah sakit ini menjadi target serangan sejak Minggu malam tanpa ada peringatan terlebih dahulu.

    Karena itu, pihaknya mendesak meminta bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Palang Merah.

    Sementara itu, kantor berita Palestina, WAFA melaporkan Israel menyerang rumah sakit tersebut dengan peluru artileri dan rudal.

    Baca: presiden turki sebut banyak bukti untuk seret israel ke mahkamah internasional

    Tidak hanya itu, sejumlah tentara menembaki siapapun yang bergerak di luar pintu rumah sakit.

    WAFA melaporkan serangan Israel tersebut telah mengakibatkan sejumlah fasilitas di rumah sakit tersebut mengalami kerusakan.

    Pengeboman tersebut mengenai bagian bedah khusus perempuan dan melukai beberapa dokter yang tengah melakukan operasi.

    Selain itu terdapat kerusakan di lantai dua rumah sakit milik Indonesia di Gaza tersebut.   

    Serangan Israel juga mengenai generator listrik rumah sakit. Akibatnya listrik padam dan memaksa para tenaga medis menggunakan lampu dari ponsel mereka untuk mengoperasi pasien.

    Hingga kini belum ada tanggapan dari militer Israel terhadap serangan ke rumah sakit Indonesia ini.

    Baca: pbb israel hanya mengizinkan separuh bantuan masuk ke gaza palestina

    Koresponden Al Jazeera, Safwat al Kahout yang berada di jalur Gaza, menjelaskan pasukan Israel tersebut diduga akan mengulangi apa yang mereka lakukan di Rumah sakit Al Shifa dan akan menduduki RS Indonesia.

    Di tengah serangan pasukan Israel, RS Indonesia yang terletak di jalur Gaza bagian utara ini menjadi satu-satunya rumah sakit yang masih berusaha memberikan layanan medis di area Gaza City dan Gaza bagian utara.

    Saat ini RS Indonesia tengah merawat sekitar 150 pasien yang mengalami luka-luka akibat serangan pasukan Israel dan dibantu oleh 100 orang tenaga medis.

    RS Indonesia juga menjadi tempat berlindung ribuan warga Gaza untuk menghindari serangan pasukan Israel.

    Baca: israel bersikeras akan kelola gaza pasca perang palestina menolak

    Menurut direktur RS. Indonesia, Dr. Marwan Al Sultan sekitar 5000 warga sipil yang berlindung di tempat ini.

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, pasukan Israel mengincar sejumlah fasilitas publik untuk dihancurkan.

    Beberapa fasilitas yang jadi target serangan itu antara lain masjid, Rumah Sakit Al Shifa, sejumlah kamp pengungsian hingga sekolah.

    Serangan tersebut menewaskan banyak warga sipil dari pihak Palestina, termasuk anak-anak dan perempuan.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

  • Rumah Sakit Indonesia Jadi Tumpuan Usai Fasilitas Medis Utama di Gaza Ditutup

    Rumah Sakit Indonesia Jadi Tumpuan Usai Fasilitas Medis Utama di Gaza Ditutup

    7cloud.asia – Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara telah berubah menjadi fasilitas medis fungsional utama di bagian utara wilayah kantong Palestina tersebut.

    Sementara militer Israel melancarkan serangan jauh ke dalam Kota Gaza dan memaksa ditutupnya banyak rumah sakit dan klinik di Gaza Utara.

    Dilansir VOA Indonesia, puluhan pasien dirawat di rumah sakit tersebut setelah fasilitas medis utama di Kota Gaza ditutup, kata direktur rumah sakit Marawan al-Sultan, Selasa (9/7/2024).

    “Situasinya sangat buruk dan bukan pertanda baik,” cetusnya.

    Baca: Unjukrasa besar-besaran di Israel tandai 9 bulan perang Gaza

    Ia menambahkan bahwa pasien berisiko bertambah parah karena langkanya bahan bakar yang dibutuhkan untuk mengoperasikan generator listrik.

    Dia mengatakan rumah sakit tersebut menerima 80 pasien dan mereka yang luka-luka dari rumah sakit al-Ahly di bagian timur Kota Gaza yang ditutup di tengah pertempuran sengit antara Israel dan militan Palestina.

    Pasukan Israel kembali memerangi militan di wilayah yang menurut tentara sebagian besar telah dibersihkan beberapa bulan lalu di Gaza utara.

    Militer Israel memerintahkan evakuasi sebelum serangan-serangan itu, namun warga Palestina mengatakan tidak ada tempat yang aman.

    Baca: Perang sengsarakan jutaan anak Palestina

    Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, Perang Israel-Hamas telah menewaskan lebih dari 38.000 orang dan melukai puluhan ribu lainnya.

    Perang juga mengakibatkan jutaan warga Palestina kehilangan tempat tinggal dan terpaksa tinggal di tempat pengungsian.

    Perang dipicu serangan lintas batas Hamas pada 7 Oktober menewaskan 1.200 orang di Israel selatan, sebagian besar adalah warga sipil.

  • Rumah Sakit Al-Awda di Gaza Utara Beroperasi Seadanya Karena Kekurangan Pasokan

    Rumah Sakit Al-Awda di Gaza Utara Beroperasi Seadanya Karena Kekurangan Pasokan

    7cloud.asia – Rumah Sakit Al-Awda di Gaza Utara menyatakan bahwa mereka kesulitan merawat puluhan orang yang terluka karena kekurangan pasokan peralatan medis.

    Dilansir Anadolu, kondisi ini akibat serangan Israel yang terus berlangsung di wilayah tersebut selama lebih dari sebulan terakhir.

    Direktur Rumah Sakit Al-Awda, Mohammad Saleha, mengatakan kepada Anadolu pada Rabu (6/11/2024) malam bahwa rumah sakit tersebut menghadapi kekurangan obat-obatan dan pasokan medis yang parah selama lebih dari tiga bulan.

    Kondisi ini diperburuk dengan pemutusan pasokan bahan bakar yang menghambat operasional rumah sakit selama sebulan.

    Pada Rabu pagi, lanjutnya, generator kecil rumah sakit yang selama ini memberikan dukungan operasional minimal, rusak akibat kekurangan bahan bakar.

    Baca: ILO tingkatkan status Palestina menjadi Negara Pengamat

    “Kami terpaksa menggunakan generator utama yang mengonsumsi lebih banyak bahan bakar, namun itu diperlukan untuk melakukan empat operasi bagi pasien yang terluka parah,” kata Saleha.

    Ia menambahkan bahwa rumah sakit telah menerima beberapa jenazah dan puluhan orang yang terluka sejak Rabu pagi, termasuk kasus-kasus kritis karena layanan ambulans di wilayah tersebut telah berhenti.

    Berkurangnya ambulans, kata dia, disebabkan oleh serangan terarah oleh pasukan Israel terhadap semua kendaraan darurat, termasuk yang berasal dari rumah sakit Al-Awda, rumah sakit Kamal Adwan, dan unit pertahanan sipil.

    “Penargetan yang disengaja terhadap ambulans dan petugas medis ini telah memaksa warga untuk mengangkut yang terluka ke rumah sakit dengan berjalan kaki, dipanggul, atau menggunakan gerobak darurat yang membahayakan nyawa karena keterlambatan penanganan medis,” tambahnya.

    Mengenai operasi medis dalam kondisi saat ini, Saleha menjelaskan bahwa satu-satunya ahli bedah di Gaza Utara telah melakukan dua operasi sejak pagi dan terus menangani kasus-kasus kritis lainnya.

    Baca: Pertemuan internasional untuk wujudkan dua negara Israel dan Palestina

    Dia mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk segera memfasilitasi pasokan bahan bakar, obat-obatan, pasokan medis, dan makanan untuk pasien dan staf karena dukungan tersebut sangat penting untuk mempertahankan layanan di Gaza Utara di tengah perang genosida.

    Tentara Israel terus melakukan serangan mematikan di Gaza Utara sejak 5 Oktober dengan alasan mencegah Hamas berkumpul kembali di tengah blokade yang sangat ketat di wilayah tersebut.

    Namun, warga Palestina menuduh Israel berusaha untuk menduduki wilayah tersebut dan memaksa pengusiran penduduknya.

    Sejak saat itu, tidak ada bantuan kemanusiaan, termasuk makanan, obat-obatan, dan bahan bakar yang diizinkan masuk oleh tentara Israel ke wilayah tersebut sehingga membuat sebagian besar penduduk di sana terancam kelaparan.

    Lebih dari 1.800 orang telah tewas sejak saat itu, menurut otoritas kesehatan Palestina. (Sumber: Antaranews.com/Anadolu)

  • WHO: Serangan Israel Lumpuhkan Rumah Sakit Terakhir di Gaza

    WHO: Serangan Israel Lumpuhkan Rumah Sakit Terakhir di Gaza

    7cloud.asia – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa serangan Israel terhadap Rumah Sakit Kamal Adwan telah melumpuhkan “fasilitas kesehatan utama terakhir” di Jalur Gaza utara.

    Organisasi PBB itu juga menyerukan agar situasi yang mengerikan di Gaza itu segera dihentikan.

    Laporan awal menunjukkan bahwa beberapa fasilitas penting di Rumah Sakit Kamal Adwan tersebut rusak parah akibat kebakaran dan penghancuran selama serangan.

    Di platform X pada Jumat (27/12/2024), WHO mengatakan bahwa 60 tenaga kesehatan dan 25 pasien kritis, termasuk yang menggunakan ventilator, dilaporkan masih berada di Rumah Sakit Kamal Adwan itu.

    Pasien dengan kondisi sedang hingga berat dipaksa dipindahkan ke Rumah Sakit Indonesia yang sudah hancur dan tidak lagi berfungsi.

    “WHO sangat mengkhawatirkan keselamatan mereka,” kata organisasi itu.

    Baca: Tiga bayi meninggal di pengungsian Gaza karena kedinginan

    Menurut WHO, serangan terhadap RS Kamal Adwan terjadi setelah Israel menerapkan pembatasan akses lebih ketat bagi WHO dan para mitranya, serta serangan terus menerus terhadap Rumah Sakit itu sejak awal Oktober.

    Serangan-serangan itu menghentikan semua upaya dan bantuan agar fasilitas kesehatan itu tetap berfungsi secara minimal.

    “Penghancuran sistem kesehatan secara sistematis di Gaza adalah hukuman mati bagi puluhan ribu warga Palestina yang membutuhkan perawatan medis,” kata WHO.

    “Kengerian ini harus dihentikan dan layanan kesehatan harus dilindungi. Gencatan senjata sekarang!”

    Israel melancarkan serangan darat besar-besaran di Gaza utara sejak 5 Oktober dengan dalih mencegah kelompok perlawanan Palestina, Hamas, menggalang kekuatan lagi.

    Namun, warga Palestina menuduh Israel berupaya merebut wilayah itu dan mengusir penduduknya.

    Baca: Sekitar 1,2 juta pengungsi Gaza kekurangan makanan dan air

    Sejak saat itu, bantuan kemanusiaan seperti makanan, obat-obatan, dan bahan bakar tidak diizinkan masuk ke wilayah kantong Palestina itu.

    Kondisi tersebut membuat warga Palestina yang masih bertahan di Gaza utara terancam kelaparan.

    Agresi Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 45.400 warga Palestina dan menghancurkan sebagian besar wilayah itu sejak 7 Oktober 2023.

    Bulan lalu, Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin Israel Benjamin Netanyahu dan mantan menteri pertahanannya, Yoav Gallant.

    Mereka dituduh telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga tengah menghadapi gugatan kasus genosida di Mahkamah Internasional atas tindakannya dalam perang di wilayah kantong Palestina itu.

    Sumber: Antara/Anadolu

  • Kecam Kekerasan Seksual di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Komnas Perempuan Tegaskan Kekerasan di Area Publik Tergolong Tinggi

    Kecam Kekerasan Seksual di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Komnas Perempuan Tegaskan Kekerasan di Area Publik Tergolong Tinggi

    7cloud.asia – Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengutuk tindakan pemerkosaan yang dilakukan oleh Dokter Residen Anestesi peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) terhadap keluarga pasien di Rumah Sakit (RS) Hasan Sadikin Bandung.

    Peristiwa ini menegaskan kembali fenomena gunung es kekerasan seksual di fasilitas pelayanan kesehatan. Meski kejadian serupa telah berulang di berbagai rumah sakit, namun jumlah korban yang berani melaporkan masih sangat sedikit.

    Dalam keterangan tertulis yang diterima Sabtu (12/4/2025), Komnas Perempuan menyebut, rasa takut oleh ancaman pelaku, rasa malu, dianggap membuka aib, hingga kekhawatiran akan kriminalisasi menjadi faktor utama yang menghambat pelaporan kasus kekerasan seksual.

    Berdasarkan Catatan Tahunan Komnas Perempuan 2024, kekerasan seksual di ranah publik tergolomh tinggi, yakni mencapai 1830 kasus, dengan tiga di antaranya terjadi di fasilitas kesehatan.

    Komnas Perempuan menyayangkan fakta ini, mengingat fasilitas kesehatan seharusnya menjadi ruang aman bagi semua penggunanya, terlebih pelaku adalah dokter yang terikat sumpah dan etika profesi.

    Baca: Dua tahun UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual

    Komnas Perempuan menyampaikan dukungan kepada korban yang langsung berani bicara dan melaporkan peristiwa yang dialaminya ke Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Barat, dan mengajak korban lain untuk melapor.

    Ini masa-masa sulit bagi korban, apalagi mengalami kekerasan seksual di tempat yang semestinya didedikasikan untuk penyembuhan dan perawatan, sungguh di luar nalar dan kemanusiaan, dan pasti sangat berat untuk korban dan keluarganya.

    ”Kami memberikan dukungan sepenuhnya kepada korban, dan mengapresiasi respon cepat yang diambil oleh RS Hasan Sadikin, Kementerian Kesehatan, dan Universitas Padjajaran yang segera mengambil tindakan disiplin,” ujar Dahlia Madanih, Komisioner Komnas Perempuan.

    Menanggapi kasus ini, Komnas Perempuan merekomendasikan Menteri Kesehatan untuk segera menetapkan kebijakan ‘Zona Tanpa Toleransi’ terhadap kekerasan, termasuk kekerasan seksual, di seluruh fasilitas layanan kesehatan di Indonesia.

    Komnas Perempuan juga mendorong RS Hasan Sadikin untuk mengambil langkah konkret dalam mencegah dan menangani kekerasan seksual, sekecil apapun bentuknya, agar kejadian ini tidak terulang.

    Baca: Masukan mayarakat sipil soal aturan turunan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual

    Peristiwa ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap jaminan ruang aman di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya sebagai ruang publik.

    Komnas Perempuan menegaskan bahwa rumah sakit wajib menjadi tempat yang bebas dari kekerasan, baik bagi tenaga kesehatan maupun pasien dan keluarganya.

    Profesi dokter adalah profesi yang mulia dan terhormat, terikat sumpah dan Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) yang ketat.

    Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 42 Tahun 2018 tentang Kode Etik dan Hukum Rumah Sakit serta peraturan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Nomor 4 Tahun 2011 tentang Disiplin Profesional Dokter dan Dokter Gigi.

    ”Fasilitas kesehatan adalah garda terdepan dalam menangani korban kekerasan, dan tidak seharusnya justru menjadi tempat terjadinya kekerasan itu sendiri,” lanjut Dahlia.

  • Direktur RS Indonesia di Gaza Meninggal Akibat Serangan Israel

    Direktur RS Indonesia di Gaza Meninggal Akibat Serangan Israel

    7cloud.asia – Direktur Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, dr. Marwan Al-Sultan, gugur akibat serangan Israel terhadap gedung apartemen kediamannya di Gaza barat, Rabu (2/7/2025).

    Dilaporkan kantor berita Palestina WAFA, dr. Marwan meninggal bersama istri dan beberapa anaknya dalam serangan itu. Jenazah mereka telah dibawa ke RS Al-Shifa di Gaza.

    Dalam laporan yang sama, terdapat pula dua warga Palestina meninggal dan sejumlah lainnya terluka dalam serangan terpisah ke Sekolah Al-Zaytoun di Gaza City bagian selatan.

    Senada, organisasi kemanusiaan MER-C Indonesia juga menyatakan bahwa dr. Marwan beserta keluarganya meninggal dalam serangan langsung terhadap kediaman mereka.

    Baca: Korban tewas akibat genosida Israel di Gaza capai 56.600 jiwa

    “Informasi yang diterima menyebutkan bahwa total sembilan warga Palestina syahid dalam serangan tersebut, dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka,” menurut pernyataan tertulis MER-C dalam akun media sosial mereka.

    Menurut MER-C, dr. Marwan adalah sosok yang berdedikasi tinggi dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat Gaza, khususnya selama masa-masa krisis kemanusiaan yang berkepanjangan.

    “Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi rekan-rekan sejawat, tetapi juga bagi para pasien dan seluruh masyarakat Gaza yang mengenalnya,” ucap organisasi itu.

    Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza sudah berulang kali menjadi sasaran tembak tentara Zionis Israel sejak memulai agresi terhadap wilayah kantong itu pada 7 Oktober 2023.

    Baca: Israel lakukan genosida dengan mencegah kelahiran warga Palestina

    Fasilitas kesehatan tersebut terakhir diserang Israel pada akhir Mei lalu, sehingga menyebabkan kerusakan struktural parah dan menghambat layanan kesehatan warga setempat.

    Sementara, sudah lebih dari 56.500 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, terbunuh dan 133.419 lainnya terluka dalam serangan brutal Zionis Israel terhadap Gaza.

    Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada November lalu mengeluarkan surat perintah penangkapan pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan kepala urusan pertahanan Yoav Gallant, dengan alasan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas perang yang mereka lancarkan di wilayah pesisir yang terkepung itu.

  • Majelis Umum PBB dan China Kecam Serangan Israel ke Rumah Sakit Nasser di Gaza

    Majelis Umum PBB dan China Kecam Serangan Israel ke Rumah Sakit Nasser di Gaza

    7cloud.asia – Presiden Majelis Umum PBB (UNGA) Philemon Yang dan pemerintah China mengecam keras serangan terbaru Israel terhadap Rumah Sakit Nasser di Jalur Gaza selatan.

    Setidaknya 47 orang, termasuk lima orang jurnalis dari media internasional tewas akibat serangan Israel ke Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza bagian selatan pada Senin (25/8/2025).

    Lima jurnalis tersebut bekerja untuk Associated Press, Reuters, Al Jazeera dan Middle East Eye.

    “Presiden Majelis Umum PBB Philemon Yang dengan tegas mengecam serangan Israel di Rumah Sakit Nasser,” ujar juru bicara Majelis Umum Sharon Birch dalam konferensi pers pada Selasa (26/8/2025)

    Yang menuntut diakhirinya serangan semacam itu, seraya menekankan bahwa “pembunuhan warga sipil Palestina yang tidak bersalah, jurnalis, dan tenaga medis tidak dapat diterima,”

    Baca: Belasan ribu warga Gaza membutuhkan evakuasi medis

    Dia menegaskan kembali “tuntutan mendesaknya untuk gencatan senjata segera di Gaza,” serta mendesak Israel memberikan “akses penuh, cepat, aman, dan tanpa hambatan” terhadap organisasi-organisasi kemanusiaan untuk mengirimkan bantuan kepada mereka yang membutuhkan di Jalur Gaza.

    Selain itu, Yang mendesak pula agar para sandera yang ditawan di Gaza dibebaskan.

    Pemerintah China mengecam serangan Israel atas jurnalis dan tenaga medis pada saat mereka sedang melakukan tugasnya di Gaza.

    “Kami terkejut dengan kematian tragis tenaga medis dan jurnalis sekali lagi dalam konflik Gaza. Kami mengecam serangan tersebut, berduka untuk korban, dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban,” kata Juru Bicara Kemlu China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing pada Selasa (26/8/2025).

    Dilaporkan bahwa tentara Israel menyerang lantai empat salah satu gedung komplek Rumah Sakit Nasser di Jalur Gaza dengan dua serangan udara.

    Baca: Korban meninggal akibat kelaparan di Gaza terus meningkat

    Lalu menambahkan bahwa serangan kedua terjadi ketika tim penyelamat tiba untuk mengevakuasi korban luka dan mengevakuasi korban tewas.

    Kementerian Kesehatan awalnya menyatakan 20 orang tewas, termasuk lima jurnalis dan seorang petugas pemadam kebakaran, dalam serangan udara Israel di Kompleks Medis Nasser di Khan Younis, Gaza selatan.

    Di antara korban tewas terdapat Hussam al-Masri, yang bekerja sebagai jurnalis foto untuk kantor berita Reuters, sementara saluran Al Jazeera, Qatar mengonfirmasi bahwa fotografernya, Mohammad Salama, juga tewas.

    Sebuah sumber medis mengonfirmasi kepada Anadolu kematian jurnalis foto Mariam Abu Dagga.

    Jurnalis foto Moaz Abu Taha juga tewas dalam serangan Israel yang menargetkan rumah sakit tersebut.

    Sumber medis juga memberi tahu Anadolu bahwa Ahmed Abu Aziz, seorang reporter lepas dari situs berita Tunisia dan Maroko, meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya dalam serangan Israel tersebut.

    Israel telah membunuh hampir 63.000 warga Palestina di Gaza sejak Oktober 2023. Serangan militer tersebut telah menghancurkan wilayah kantong itu, yang kini berada dalam krisis kelaparan.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu-Xinhua

  • Komisi IX DPR Minta Pihak Rumah Sakit Tidak Batasi Masa Rawat Inap Pasien JKN

    7cloud.asia – Anggota Komisi IX DPR Irma Suryani mengingatkan agar rumah sakit tidak semena-mena membatasi masa rawat inap pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

    Pernyataan itu ia sampaikan dalam Rapat Panja JKN Komisi IX DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (24/9/2025).

    Rapat tersebut membahas agenda Pengawasan terhadap Sistem Pengaduan Masyarakat dan Respons Pelayanan JKN, dengan menghadirkan BPJS Kesehatan, Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Ombudsman RI, Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), serta Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI).

    Ia menegaskan, BPJS Kesehatan tidak pernah mengatur pembatasan jumlah hari rawat inap, sehingga tindakan rumah sakit yang mempercepat pemulangan pasien berpotensi membahayakan keselamatan.

    “Banyak kasus pasien baru dirawat tiga hari lalu dipaksa pulang, padahal masih dalam kondisi sakit. Bahkan ada pasien yang kemudian meninggal karena penanganan tidak tuntas. Ini jelas merugikan masyarakat,” kata Irma.

    Baca: DPR tegaskan tak boleh ada diskriminasi bagi pasien BPJS

    Irma mencontohkan, ada pasien di Medan yang dipaksa pulang oleh rumah sakit meskipun masih dalam kondisi menggunakan infus. Setelah dirinya melakukan intervensi, pasien akhirnya bisa tetap dirawat, namun beberapa hari kemudian meninggal dunia.

    “Rumah sakit tidak boleh hanya berpikir soal risiko atau keuntungan. Sumpah dokter itu menempatkan nilai kemanusiaan di atas segalanya,” tegasnya.

    Politisi Partai Nasdem itu juga menyinggung masalah diagnosa yang tidak akurat. Menurutnya, banyak pasien meninggal akibat salah diagnosa awal, seperti kasus pasien sesak napas yang langsung dipulangkan, tetapi ternyata terkena serangan jantung.

    Irma meminta PERSI menindak rumah sakit yang memberikan pelayanan buruk, serta BPJS Kesehatan memastikan kontrak kerja sama hanya dengan rumah sakit yang memenuhi standar.

    “BPJS adalah program kesehatan yang luar biasa bagi rakyat. Jangan sampai dikorbankan karena pelayanan rumah sakit yang tidak profesional,” ujarnya.

    Baca: Kelas dalam BPJS Kesehatan dihapus

    Dalam kesempatan itu, Irma juga menyoroti sejumlah rumah sakit yang masih membebankan biaya tambahan atau urun biaya kepada pasien peserta JKN.

    Ia menilai adanya biaya tambahan ini menyalahi prinsip pelayanan kesehatan yang seharusnya ditanggung BPJS Kesehatan.

    “Banyak rumah sakit yang seharusnya menyediakan obat sesuai standar JKN, tetapi justru menyatakan tidak ada dan kemudian meresepkan obat di luar tanggungan. Ini jelas membebani masyarakat,” tegas Irma.

    Irma menilai masalah urun biaya dan resep obat di luar tanggungan ini bukan kasus tunggal, melainkan sudah sering terjadi di berbagai rumah sakit.

    “BPJS bersama PERSI harus menindak tegas praktik nakal ini. Rumah sakit jangan hanya berpikir keuntungan, tapi juga nilai kemanusiaan,” ujar Legislator dapil Sumatera Selatan II ini.

    Baca: Iuran BPJS Kesehatan naik, layanan harus ditingkatkan