Tag: rumput laut

  • Menengok Pemberdayaan Masyarakat Pesisir sebagai Kampung Bahari Nusantara

    Menengok Pemberdayaan Masyarakat Pesisir sebagai Kampung Bahari Nusantara

    RUANGKOTA.COM – Kampung Bungin, Desa Pantai Bakti, Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat memiliki pantai yang cantik yang bisa dijadikan tujuan wisata di Bekasi

    Selain pariwisata, Kampung Bungin juga memiliki potensi ekonomi kelautan dan maritim cukup tinggi dalam sektor perikanan dan rumput laut. Namun potensi ini belum dikelola optimal sehingga belum berdampak signifikan pada kesejahteraan masyarakat. 

    Desa yang berlokasi sekitar 120 kilometer dari Jakarta ini juga menghadapi masalah lingkungan, pantainya terkikis abrasi yang terus mengancam tempat tinggal warga.

    Desa Pantai Bakti berpenduduk 6.282 jiwa. Sebagian besar masyarakat di desa seluas 3.401 hektare ini bekerja sebagai nelayan, budidaya tambak ikan, dan rumput laut.

    Baca: Ribuan desa pesisir terancam hilang akibat perubahan iklim

    Dengan dibantu Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia (Intani), PT Pegadaian dan  Korps Marinir TNI Angkatan Laut, Desa Pantai Bakti dikembangkan menjadi salah satu  Kampung Bahari Nusantara atau KBN

    Implementasi program kampung bahari nusantara ini dimulai dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir dengan peningkatan kapasitas masyarakat, khususnya petani rumput laut yang menjadi mata pencaharian sebagian besar warga kampung Bungin selain nelayan.

    Pelatihan Budidaya Rumput Laut berkelanjutan, yang diselenggarakan pada 11-13 Juli 2023 lalu dengan menghadirkan pakar dari IPB dan BRIN. 

    Baca: Perubahan iklim picu ‘bedol desa’ di Pantura

    Ada 30 peserta pelatihan dari tiga kelompok tani di Desa Pantai Bakti. Mereka umumnya sudah membudidayakan rumput laut secara turun temurun, namun kualitas dan hasil produksi dan nilai ekonomi rumput lautnya masih rendah.

    Para petani rumput laut, tidak hanya mendapatkan pelatihan budidaya, tetapi juga akan terjun praktek dengan membangun demplot budidaya rumput laut dan mendapat pendampingan hingga panen.

    “Selain pelatihan dan pendampingan, Intani juga siap menjadi off-taker untuk pasar lokal dan ekspor rumput laut,” kata Ketua Umum Intani Guntur Subagja Mahardika.

    Baca: Desa pesisir ini terdampak perubahan iklim, bangkit dengan listrik tenaga surya

    Guntur mengapresiasi kepedulian TNI AL mengembangkan masyarakat pesisir lewat program Kampung Bahari Nusantara, sebagai dari bagian meningkatkan ketahanan nasional. 

    Ia berharap kolaborasi Korps Marinir TNI AL dan Pegadaian lewat program Kampung Bahari Nusantara ini dapat membangun dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan. 

    Dijelaskan, pengembangan budidaya rumput laut juga akan menjadi bagian dari program Gade Integrated Farming yang merupakan kolaborasi Pegadaian dengan Intani di berbagai daerah di Indonesia.

    Baca: Nasib nelayan terombang-ambing oleh perubahan iklim

    “Melalui program ini kita bangun ekosistem pertanian dan perikanan secara terintegrasi dan ramah lingkungan,” jelasnya.

    Mayor TNI AL Deny Aprianto Putro memaparkan program Kampung Bahari Nusantara (KBN) digagas oleh Korps Marinir TNI AL.

    “Program yang melibatkan masyarakat ini dapat memperkuat ketahanan nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” papar Deny.

    Baca: Kebijakan ekspor pasir laut ancam ekosistem laut

    Deny menambahkan secara keseluruhan ada empat program utama yang dilakukan yakni Bela Negara, Pendidikan, Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat.

    “Pelatihan dan pendampingan budidaya rumput laut bersama Intani dan Pegadaian ini merupakan bagian dari program ekonomi, pemberdayaan masyarakat,” ujarnya

    Kepala Business Support Kanwil VIII Pegadaian Suyanto memaparkan Pegadaian mendukung program Kampung Bahari Nusantara antara lain melalui pemberdayaan ekonomi petani rumput laut, peningkatan fasilitas Kesehatan berupa pelayanan posyandu, dan di sektor Pendidikan membangun Tempat Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di Kampung Bungin Muara Gembong.

    “Kami bekerjasama dengan Intani dalam beberapa program dan saat ini dengan TNI AL,” paparnya.

    Baca: Butuh kebijakan yang memihak nelayan yang terdampak perubahan iklim

    Program Kampung Bahari Nusantara diresmikan Wakil Presiden RI Prof Dr KH Maruf Amin di Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu Jakarta, 15 Mei 2023. 

    Dalam sambutannya, Wapres berharap dalam program Kampung Bahari Nusantara ini TNI AL juga turut berperan dalam menjaga keberlangsungan lingkungan dan memitigasi perubahan iklim.

    “Saya harapkan TNI AL juga menjadi pandu bagi masyarakat pesisir dalam menjadikan isu perubahan iklim sebagai bagian dari program literasi dan edukasi di Kampung Bahari Nusantara,” ujar Wapres.

    Kepala Staf TNI AL Laksamana Muhammad Ali menjelaskan saat ini ada 68 Kampung Bahari Nusantara, akan dikembangkan terutama membangun ketahanan nasional di perbatasan, di pulau-pulau terluar.

  • Komoditas Rumput Laut Bernilai Puluhan Triliun: Bisakah Gen Z Memanfaatkan Potensinya

    Komoditas Rumput Laut Bernilai Puluhan Triliun: Bisakah Gen Z Memanfaatkan Potensinya

     

    7cloud.asia – Sebagai negara maritim, potensi rumput laut Indonesia merupakan salah satu yang terbesar dunia. Varian rumput laut seperti Kappaphycus, Eucheuma, dan Gracillaria Indonesia menyumbang porsi besar dalam perdagangan dunia.

    Hal ini tak lepas dari tingginya permintaan global untuk memenuhi hilirisasi komoditas rumput laut seperti kosmetik, bioplastik, hingga bioenergi. Wakil Presiden Gibran Rakabuming juga sempat menekankan pentingnya pengolahan rumput laut di Indonesia yang nilai ekonominya amat menjanjikan.

    Namun di balik potensi tersebut, terdapat tantangan serius. Layaknya sektor pertanian pada umumnya, pelaku usaha rumput laut juga menghadapi masalah regenerasi.

    Mayoritas petani rumput laut saat ini sudah memasuki usia senja. Sementara minat generasi muda untuk terjun ke sektor ini relatif rendah. Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia berisiko kehilangan momentum sebagai kekuatan utama dalam industri rumput laut global.

    Padahal, ekonomi biru yang menekankan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan rumput laut bisa jadi sektor yang cukup menjanjikan. Terlebih ruang untuk memperkaya sektor ini dengan pendekatan green jobs juga masih terbuka lebar.

    Butuh sentuhan modern dari Gen Z

    Masyarakat kerap menganggap budi daya rumput laut sebagai pekerjaan kuno yang jauh dari nilai prestise modern.

    Padahal rumput laut adalah komoditas strategis untuk meredam perubahan iklim. Rumput laut menyerap karbon dan menjaga keseimbangan nutrisi (eutrofikasi) perairan.

    Per 2024, bisnis yang dinilai kuno ini bisa menghasilkan omzet Rp24,2 triliun. Tentunya realisasi tersebut bisa berlipat ganda jika mendapat sentuhan digital dan produksi industri turunan yang modern.

    Di sisi produksi, modal untuk membudidayakan rumput laut bisa lebih sedikit dari sektor pertanian karena tidak membutuhkan lahan, pakan, pupuk kimia, maupun air tawar dalam jumlah besar.

    Jika peluang ini mendapatkan sentuhan kaum muda yang melek digital, budi daya rumput laut bisa menciptakan nilai lebih besar lagi.

    Misalnya, melalui pemaduan budi daya dengan platform pemasaran daring, sistem monitoring dan pengawasan (traceability), dan teknologi finansial (financial technology), sektor ini bertransformasi menjadi sebuah industri modern.

    Penerapan konsep budi daya pintar (smart aquaculture) yang mencakup penggunaan sensor kualitas air, pemantauan berbasis satelit, aplikasi manajemen produksi, hingga analitik berbasis akal imitasi (AI) bisa meningkatkan efisiensi sekaligus mengurangi risiko kegagalan panen.

    Digitalisasi juga terbukti bisa memperpendek rantai distribusi dan memungkinkan petani memperoleh harga lebih adil.

    Membangun jalur karier dan ekosistem

    Untuk menggugah minat generasi muda, budi daya rumput laut harus dilihat sebagai pintu masuk menuju berbagai profesi menarik mulai dari teknik budi daya perairan, analis kualitas, pengusaha pengolahan, hingga inovator produk berbasis laut.

    Sebelum itu, perlu ada pembenahan sistem pendidikan sektor perikanan dan kelautan yang belum sepenuhnya terhubung dengan kebutuhan industri di lapangan.

    Saat ini banyak lulusan sekolah vokasi maupun perguruan tinggi kelautan dan perikanan minim pengalaman praktis dalam manajemen budidaya, pengolahan, atau kewirausahaan berbasis rumput laut. Alhasil, mereka memilih profesi di luar sektornya.

    Intensifikasi pendekatan pembelajaran model TEFA (teaching factory), magang industri, serta inkubator bisnis berbasis kampus dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik.

    Kita bahkan membutuhkan narasi baru bahwa petani rumput laut bukan sekadar produsen bahan mentah. Mereka adalah aktor penting dalam rantai ekonomi hijau global yang bisa menghasilkan banyak cuan.

    Kawasan produksi yang terhubung dengan industri pengolahan, pusat riset, logistik, dan pasar ekspor, akan ekosistem yang memberikan kepastian permintaan dan peluang berkembang.

    Keterhubungan ini juga mendorong lahirnya inovasi-inovasi usaha seperti startup maritim dan industri kreatif berbasis rumput laut, memperluas spektrum pekerjaan bagi generasi muda.

    Bagi Gen Z yang dikenal memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan, framing ini dapat menjadi daya tarik kuat. Cita-cita ini bisa didapatkan jika ekosistem dan penciptaan tenaga ahli yang sesuai kebutuhan di lapangan bisa dipenuhi.

    Konsistensi kebijakan pemerintah

    Regenerasi pelaku usaha rumput laut berkaitan erat dengan agenda besar bangsa, termasuk pemanfaatan bonus demografi dan visi Indonesia Emas 2045. Negara perlu menempatkan sektor ini sebagai prioritas strategis dalam kebijakan kelautan dan industri hijau.

    Namun orasi politis saja takkan bisa mengubah keadaan ini. Pemerintah juga perlu mengurai sederet hambatan struktural yang ada saat ini.

    Banyak calon pelaku usaha muda menghadapi kesulitan memperoleh pembiayaan, terutama karena lembaga keuangan masih menganggap sektor perikanan berisiko tinggi. Skema kredit sering tidak ramah bagi pemula yang belum memiliki agunan atau rekam jejak usaha.

    Langkah konkret lanjutan dapat mencakup integrasi rumput laut dalam strategi bioekonomi nasional, pemberian insentif bagi industri pengolahan, serta perlindungan harga melalui mekanisme stabilisasi pasar.

    Negara juga perlu hadir melalui kebijakan pembiayaan inovatif, seperti kredit berbunga rendah, dana bergulir, atau pembiayaan campuran (blended finance) yang melibatkan sektor publik dan swasta.

    Kepastian ruang usaha turut menjadi isu krusial. Penataan ruang laut yang transparan dan berbasis data juga penting agar generasi muda memiliki rasa aman untuk berinvestasi jangka panjang. Konflik pemanfaatan pesisir antara budi daya, pariwisata, pertambangan, dan infrastruktur kerap memicu ketidakpastian investasi.

    Regenerasi bukan sekadar pergantian usia pelaku usaha, melainkan proses membangun paradigma baru tentang kerja maritim yang modern, berkelanjutan, dan membanggakan.

    Jika ekosistem ini berhasil dibangun, maka Gen Z tidak hanya akan menjadi pelaku ekonomi, tetapi juga penjaga laut masa depan menghubungkan tradisi bahari Indonesia dengan inovasi global, serta memastikan bahwa kekayaan biru bangsa tetap memberi manfaat bagi generasi yang akan datang.


    La Ode M.Aslan, Professor/ Dosen dan peneliti Bidang perikanan di Universitas Halu Oleo, Universitas Halu Oleo

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.