7cloud.asia – Lahan gambut di sejumlah tempat di Indonesia banyak yang rusak. Total sebanyak 13 juta hektare lahan gambut dalam kondisi rusak.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Kelompok Kerjasama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat pada Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Didy Wurjanto.
“Jumlah yang rusak itu merupakan 50 persen dari total lahan gambut kita saat ini, 2,6 juta hektare,” ujar Didy seperti yang dilansir Antaranews pada Kamis (16/11/2023).
Lebih jauh Didy menjelaskan, lahan gambut yang rusak tersebar di tujuh provinsi mulai dari Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Papua, Riau, dan Sumatera Selatan.
Baca: BRIN sebut pengolahan lahan gambut sering memicu kebakaran lahan
Berdasarkan hasil temuan tim lapangan BRGM, kerusakan lahan gambut tersebut umumnya karena kebakaran, dan aktivitas industrialisasi.
Industrialisasi yang dimaksud seperti perluasan perkebunan kelapa sawit yang membuat air di kawasan gambut semakin kering.
Selain itu, penyebab kerusakan lainnya adalah pembukaan lahan budaya ladang berpindah, perambahan liar oleh kelompok masyarakat. Namun, persentasenya kecil.
Upaya restorasi lahan gambut memang sudah dilakukan. Tetapi, menurut Didy uapaya tersebut belum maksimal. Sebab sebagian besar berada di dalam konsesi perusahaan.
Baca: Karhutla terjadi di mana-mana semua pihak harus bahu membahu memadamkannya
Karena itu, lanjut Didy, BRGM membutuhkan penguatan melalui pengaturan ulang beberapa regulasi untuk merestorasi lahan gambut tersebut.
Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Hukum BRIN, Laely Nurhidayah mengatakan, ekspansi perkebunan skala besar seringkali menyebabkan kebakaran hutan dan lahan gambut.
Seperti yang ditemukan di Desa Lukun dan Temusai, Provinsi Riau, yang telah melakukan aktivitas perkebunan skala besar.
Pembukaan lahan oleh perusahaan ini menyebabkan terjadinya perubahan hidrologi air di Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG).
Baca: Hilangnya keanekaragaman hayati jadi masalah serius bagi lingkungan
Kerusakan lahan gambut ini ternyata juga diakui oleh warga setempat. Menurut mereka ekosistem gambut yang telah mengalami perubahan menimbulkan kekeringan dan rawan terjadi kebakaran.
“Walaupun mungkin di sisi lain mereka menyebutkan bahwa sawit itu menguntungkan bagi mereka secara ekonomi,” ungkap Laely.
Reporter: Nurakhmayani
