Tag: sandera

  • Unjukrasa di Israel Masuki Malam Ketiga, AS Terus Dorong Gencatan Senjata

    Unjukrasa di Israel Masuki Malam Ketiga, AS Terus Dorong Gencatan Senjata

    7cloud.asia – Aksi unjuk rasa menuntut pembebasan sandera di ibu kota Israel, Tel Aviv, telah memasuki malam ketiga pada hari Selasa (3/9/2024).

    Para demonstran berhadapan dengan polisi ketika mereka berkumpul untuk menuntut kesepakatan pengembalian sandera yang ditawan oleh Hamas.

    Para demonstran menuntut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas untuk membawa pulang 101 sandera yang tersisa.

    Aksi unjuk rasa ini terjadi setelah temuan enam tawanan Hamas meninggal di Gaza pada akhir pekan lalu, yang menurut otoritas dibunuh dalam waktu 48-72 jam sebelum ditemukan.

    Baca: AS segera tawarkan kesepakatan gencat senjata final

    Demonstrasi besar-besaran meletus di Tel Aviv yang berujung pada aksi mogok yang diprakarsai serikat buruh terbesar negara itu pada hari Senin (2/9/2024).

    Setidaknya setengah juta orang turun ke jalanan Yerusalem dan Tel Aviv pada hari Minggu (1/9/2024).

    Sementara itu, juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat Matthew Miller pada hari Selasa menyatakan bahwa AS akan terus berkomunikasi dengan para mitra regional dalam beberapa hari mendatang.

    Pertemuan ini diharapkan dapat menyelesaikan proposal gencatan senjata di Gaza, berikut pembebasan sandera.

    Baca: Hamas hanya akan terima draf gencatan senjata yang sudah disepakati sebelumnya

    Miller menjelaskan, pihaknya telah melakukan pembicaraan konstruktif pekan lalu di kawasan, untuk mencoba dan mencapai kesepakatan mengenai berbagai kesenjangan yang ada.

    “Saya pikir, seperti yang Anda dengar, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan ketika dia berada di wilayah tersebut beberapa minggu yang lalu, Israel telah menyetujui proposal yang menjembatani. Namun, itu bukanlah akhir dari segalanya,” jelas Miller.

    Dia juga menambahkan bahwa sejumlah kemajuan telah dicapai, tetapi untuk mencapai kesepakatan akan membutuhkan fleksibilitas pihak Israel maupun Hamas.

    Israel meluncurkan serangannya terhadap Gaza setelah para anggota Hamas menyerbu bagian selatan Israel pada 7 Oktober, menewaskan 1.200 orang, kebanyakan warga sipil dan menangkap lebih dari 250 orang sandera.

    Sejak itu, lebih 40 ribu orang Palestina telah tewas dalam ofensif Israel di Gaza. Menurut kementerian kesehatan Gaza, puluhan ribu warga Palestina terluka dan ratusan ribu lainnya harus tinggal di pengungsian.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Sesuai Kesepakatan Gencatan Senjata, Hamas Bebaskan Lagi 8 Sandera

    Sesuai Kesepakatan Gencatan Senjata, Hamas Bebaskan Lagi 8 Sandera

    7cloud.asia – Militer Israel mengatakan delapan sandera, termasuk tiga orang Israel dan lima orang berkebangsaan Thailand, dibebaskan hari Kamis (30/1/2025).

    Israel dan Hamas melakukan pertukaran sandera dan tahanan yang ketiga berdasarkan kesepakatan gencatan senjata untuk menghentikan pertempuran selama 15 bulan lebih di Gaza.

    Pertukaran sebelumnya telah membebaskan tujuh sandera yang ditawan militan di Gaza dan 300 orang Palestina yang ditahan Israel.

    Hamas dijadwalkan membebaskan tiga sandera lagi pada hari Sabtu, sedangkan Israel akan membebaskan lebih banyak lagi orang Palestina yang dipenjara.

    Tentara Israel Agam Berger diserahkan kepada Palang Merah di kamp pengungsi Jabaliya di Gaza utara, kemudian menuju ke Israel, di mana ia dipertemukan kembali dengan orang tuanya.

    “Terima kasih Tuhan kami telah mencapai momen ini, dan pahlawan kami Agam telah dikembalikan kepada kami setelah 482 hari di tangan musuh,” kata keluarga Berger dalam sebuah pernyataan.

    Baca: Israel intensifkan operasi militer ke Tepi Barat

    “Sekarang Agam dan keluarga kami dapat memulai proses pemulihan, tetapi pemulihan tidak akan komplet sebelum semua sandera kembali pulang.”

    Orang Israel yang dibebaskan itu adalah Arbel Yehoud dan Gadi Moses, dan warga negara Thailand yang dibebaskan adalah Thenna Pongsak, Sathian Suwannakhan, Sriaoun Watchara, Seathao Bannawat dan Rumnao Surasak.

    Militer mengatakan warga Israel itu akan dipertemukan kembali dengan keluarga mereka, sedangkan para pejabat pemerintah Thailand akan bertemu dengan warga negaranya.

    Pembebasan mereka tertunda setelah militan bersenjata berjuang keras untuk menahan kerumunan besar orang-orang Palestina yang berkumpul di sekitar mobil-mobil Palang Merah.

    Para sandera akhirnya dibawa melewati massa dengan dikelilingi sekelompok orang bersenjata.

    “Saya melihat dengan sangat serius pemandangan mengejutkan selama pembebasan para sandera kami,” kata PM Israel Benjamin Netanyahu dalam sebuah pernyataan yang dilansir kantornya tidak lama setelah penyerahan sandera selesai.

    Baca: Lebih dari 430.000 warga Palestina kembali ke Gaza Utara

    Netanyahu mengatakan dirinyaa “meminta agar para mediator memastikan pemandangan mengerikan semacam itu tidak terulang dan menjamin keselamatan orang-orang kami yang disandera.”

    Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengukuhkan kelompok sandera itu kemudian menyeberang ke teritori Israel.

    Sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata, Israel siap membebaskan 110 orang Palestina yang dipenjarakan, termasuk sekitar 30 orang yang menjalani hukuman seumur hidup karena serangan mematikan terhadap warga Israel.

    Setelah gencatan senjata diberlakukan, lebih dari 423 ribu orang Palestina telah kembali ke Gaza utara selama tiga hari terakhir setelah militer Israel memerintahkan mereka keluar kawasan itu pada masa-masa awal perang pada Oktober 2023.

    Namun, kepulangan itu terasa pahit juga bagi mereka karena hampir semua orang memiliki teman atau kerabat yang tewas dalam perang itu, dan banyak permukiman di utara yang hancur total akibat pertempuran.

  • Kelompok Hamas Dijadwalkan Bebaskan Tiga Sandera Hari Ini

    Kelompok Hamas Dijadwalkan Bebaskan Tiga Sandera Hari Ini

    7cloud.asia – Kelompok Hamas dijadwalkan akan membebaskan tiga sandera yang akan ditukar dengan tahanan Palestina pada akhir pekan ini, setelah menyatakan komitmennya untuk gencatan senjata dengan Israel.

    Pembebasan sandera berikutnya masih dipertanyakan, setelah Hamas menuduh Israel melanggar perjanjian gencatan senjata dan mengancam akan kembali berperang.

    “Kami tidak tertarik dengan runtuhnnya perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, dan kami sangat ingin agar perjanjian tersebut dilaksanakan dan memastikan bahwa pendudukan [Israel] mematuhinya sepenuhnya,” kata juru bicara Hamas Abdel-Latif al-Qanoua.

    Qanoua juga mengkritik apa yang disebutnya sebagai “bahasa ancaman dan intimidasi” dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

    Dia mengatakan bahwa pernyataan Trump itu tidak membantu pelaksanaan gencatan senjata.

    Baca: PBB tegaskan gencatan senjata di Gaza harus ditegakkan

    Pemerintah Israel kemudian menegaskan kembali bahwa Hamas harus membebaskan tiga sandera akhir pekan ini.

    “Jika ketiganya tidak dibebaskan, jika Hamas tidak mengembalikan sandera kami pada Sabtu (15/2/2025) siang, gencatan senjata akan berakhir,” kata juru bicara pemerintah Israel David Mencer.

    Hamas awal minggu ini menuduh Israel melanggar kesepakatan dengan terus melancarkan serangan udara terhadap warga di Gaza dan memblokir bantuan.

    Kelompok Hamas mengatakan bahwa pembebasan sandera di masa mendatang akan ditunda hingga waktu yang tidak ditentukan.

    Netanyahu mengatakan pertempuran akan kembali terjadi jika lebih banyak tawanan tidak dibebaskan pada Sabtu, dan Trump mengatakan pada Senin (10/2/2025) bahwa “semua kekacauan akan terjadi” jika para sandera tidak dikembalikan.

    Baca: Hamas ancam akan tunda pembebasan sandera

    Sejak gencatan senjata mulai berlaku bulan lalu, Hamas, yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat, telah membebaskan 21 sandera, dan Israel telah membebaskan lebih dari 730 tahanan.

    Pertukaran berikutnya pada Sabtu menyerukan pembebasan tiga warga Israel lagi dengan imbalan ratusan tahanan Palestina yang dipenjara oleh Israel.

    Perang di Gaza dipicu oleh serangan Hamas pada Oktober 2023 terhadap Israel yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan penangkapan 250 sandera.

    Serangan balasan Israel menewaskan lebih dari 48.200 warga Palestina, lebih dari setengahnya adalah perempuan dan anak-anak, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Israel mengatakan jumlah korban tewas termasuk 17.000 militan yang telah dibunuhnya. Baik Israel maupun Hamas telah divonis melakukan kejahatan perang oleh Mahkamah Internasional.

  • Setelah Sempat Diragukan, Kelompok Hamas Akhirnya Kembali Bebaskan Tiga Sandera Israel

    Setelah Sempat Diragukan, Kelompok Hamas Akhirnya Kembali Bebaskan Tiga Sandera Israel

    7cloud.asia – Kelompok militan Hamas merilis nama tiga sandera yang dibebaskan Sabtu (15/2/2025) waktu setempat

    Pembebasan sandera oleh Hamas ini merupakan bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan Palestina, setelah menyatakan komitmennya terhadap gencatan senjata dengan Israel.

    Para sandera, sebagaimana dilaporkan oleh Hamas dan dikonfirmasi oleh otoritas Israel, termasuk warga negara Israel-Amerika Sagui Dekel Chen, (36), Sasha Troufanov (29) dan Iair Horn (46)

    Chen adalah warga Kibbutz Nir Oz di Israel selatan. Dia ditawan saat berhadapan dengan militan Hamas pada serangan teror 7 Oktober 2023 di Israel selatan.

    Dua bulan setelah penangkapannya, istrinya, Avital, melahirkan putri ketiga mereka.

    Baca: Hamas sempat akan menunda pembebasan sandera karena Israel langar kesepakatan gencatan senjata

    Sasha Troufanov, juga dari Kibbutz Nir Oz. Ia disandera pada Oktober 2023, bersama ibunya Elena, neneknya Irina Tati, dan pacarnya Sapir Cohen, yang semuanya dibebaskan dalam kesepakatan pembebasan sandera sebulan kemudian.

    Ayahnya, Vitaly, tewas dalam serangan Hamas. Keluarga tersebut beremigrasi ke Israel dari Rusia 25 tahun lalu.

    Sedangkan sandera ketiga, Horn adalah warga negara Israel Argentina, juga dari Kibbutz Nir Oz. Ia diculik pada 7 Oktober bersama saudaranya Eitan, yang tidak termasuk dalam pembebasan sandera kali ini.

    Pembebasan sandera Israel ini sempat diragukan, setelah Kelompok Hamas menuduh Israel melanggar perjanjian gencatan senjata dan mengancam akan kembali berperang.

    “Kami tidak tertarik dengan runtuhnya perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, dan kami ingin agar perjanjian tersebut dilaksanakan dan memastikan bahwa pendudukan [Israel] mematuhinya sepenuhnya,” kata juru bicara Hamas Abdel-Latif al-Qanoua.

    Baca: Menakar kemungkinan perpanjangan gencatan senjata di Gaza

    Qanoua juga mengkritik apa yang disebutnya sebagai “bahasa ancaman dan intimidasi” dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dengan mengatakan bahwa hal tersebut tidak membantu pelaksanaan gencatan senjata.

    Pemerintah Israel kemudian menegaskan kembali bahwa Hamas harus membebaskan tiga sandera akhir pekan ini.

    “Jika ketiga orang itu tidak dibebaskan, jika Hamas tidak mengembalikan sandera kami pada Sabtu siang, gencatan senjata akan berakhir,” kata juru bicara pemerintah Israel David Mencer.

    Hamas awal minggu ini menuduh Israel melanggar kesepakatan dengan melanjutkan serangan udara terhadap orang-orang di Gaza dan memblokir bantuan. Kelompok itu mengatakan akan menunda pembebasan sandera.

    Netanyahu mengatakan pertempuran akan berlanjut jika lebih banyak tawanan tidak dibebaskan pada Sabtu, sementara Trump mengatakan pada Senin bahwa “semua akan kacau” jika sandera tidak dikembalikan.

  • Hamas Akan Bebaskan 10 Sandera Lagi, Enam Sandera Masih Hidup

    Hamas Akan Bebaskan 10 Sandera Lagi, Enam Sandera Masih Hidup

    7cloud.asia – Seorang pemimpin senior Hamas mengatakan pihaknya akan membebaskan enam sandera Israel yang masih hidup dari penahanan mereka di Gaza pada Sabtu (22/2/2025) dan jenazah empat orang lainnya pada Kamis (20/2/2025).

    Pemimpin Hamas Khalil al-Hayya menyampaikan pengumuman mengejutkan tersebut dalam sebuah pernyataan yang direkam pada hari Selasa (18/2/2025), sebagai tanggapan atas keputusan Israel untuk mengizinkan rumah mobil dan peralatan konstruksi yang telah lama diminta masuk ke Jalur Gaza.

    Enam sandera yang masih hidup adalah kelompok terakhir yang akan dibebaskan berdasarkan fase pertama gencatan senjata yang berakhir pada awal Maret.

    Hamas diyakini masih menahan sekitar 70 sandera lagi, setengahnya masih hidup. Empat jenazah sandera lainnya akan dikembalikan pada minggu depan.

    Sejauh ini selama gencatan senjata, Hamas telah membebaskan 24 sandera, dan Israel membebaskan lebih dari 1.000 warga Palestina dari tahanan negara itu.

    Hamas dan Israel belum merundingkan fase kedua yang lebih sulit dari gencatan senjata kedua negara.

    Baca: Kelompok Hamas akhirnya bebaskan 3 sandera Israel

    Hamas mengatakan mereka hanya akan membebaskan sandera yang tersisa sebagai imbalan atas penghentian pertempuran yang bertahan lama dan penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah sempit di sepanjang Laut Mediterania itu.

    Sementara itu, Israel belum mundur dari tujuannya, yang didukung oleh Amerika Serikat, untuk menghapuskan peran militer atau pemerintahan apa pun bagi Hamas di Gaza.

    Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar mengatakan pada Selasa bahwa Israel siap untuk membuka negosiasi mengenai rincian fase kedua. Pembicaraan tersebut seharusnya telah dimulai dua minggu lalu, menurut kesepakatan gencatan senjata.

    Dalam sambutannya, Hayya mengatakan “keluarga Bibas” akan disertakan dalam penyerahan keempat jenazah, yang tampaknya merujuk pada Shiri Bibas dan kedua putranya yang masih kecil, Ariel dan Kfir, yang bagi banyak orang Israel merupakan perwujudan penderitaan para tawanan.

    Israel belum mengonfirmasi kematian mereka, dan kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mendesak masyarakat untuk tidak menyebarkan “foto, nama, dan rumor.”

    Israel mengatakan sangat prihatin dengan keluarga Bibas, sementara Hamas mengatakan mereka tewas dalam serangan udara Israel pada awal perang. Yarden Bibas, suami dan ayah, diculik secara terpisah dan dibebaskan bulan ini.

    Baca: Menakar kemungkinan gencatan senjata di Gaza diperpanjang

    Kfir, yang saat itu berusia 9 bulan, adalah sandera termuda yang disandera dalam serangan mengejutkan Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel yang memicu pertempuran selama 15 bulan.

    Rekaman video penculikan tersebut menunjukkan Shiri membungkus anak laki-lakinya yang berambut merah dengan selimut dan dibawa pergi oleh orang-orang bersenjata.

    “Dalam beberapa jam terakhir kami terguncang setelah pengumuman juru bicara Hamas dipublikasikan tentang pengembalian Shiri, Ariel, dan Kfir pada Kamis mendatang sebagai bagian dari gerakan untuk membebaskan warga sipil yang diculik,” kata keluarga tersebut dalam sebuah pernyataan.

    “Penting bagi kami untuk mengatakan bahwa kami mengetahui laporan tersebut tetapi belum menerima laporan resmi tentang hal itu.”

    “Sampai kami mendapat kepastian, perjalanan kami tidak akan berakhir,” kata keluarga tersebut.

    Seorang pejabat Israel mengatakan Netanyahu telah setuju untuk mengizinkan rumah mobil dan peralatan konstruksi masuk ke Gaza untuk mempercepat pembebasan para sandera.

    Hamas minggu lalu mengancam akan menunda pembebasan lebih banyak sandera, dengan alasan masalah rumah mobil dan dugaan pelanggaran gencatan senjata lainnya.

    Israel diperkirakan akan terus membebaskan ratusan tahanan Palestina, termasuk mereka yang menjalani hukuman seumur hidup karena serangan-serangan mematikan, sebagai pertukaran dengan para sandera.

    Israel dan Palestina memperingati 500 hari perang itu pada hari Senin (17/2/2025).