Tag: sastra

  • Mengenal Abdoel Moeis Penulis Salah Asuhan yang Kelahirannya Dijadikan Hari Sastra Indonesia

    Mengenal Abdoel Moeis Penulis Salah Asuhan yang Kelahirannya Dijadikan Hari Sastra Indonesia

    Abdoel Moeis penulis Salah Asuhan

    7cloud.asia – Hari Sastra Indonesia yang diperingati setiap tanggal 3 Juli didasarkan pada hari kelahiran sastrawan Abdoel Moeis pada tahun 1883. 

    Salah satu karya sastra fenomenal Abdoel Moeis adalah novel  Salah Asuhan yang memotret gegar budaya di masa penjajahan Belanda.

    Abdoel Moeis dikenal sebagai sastrawan, wartawan dan tokoh pergerakan juga menjadi orang pertama yang dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Presiden Soekarno pada 30 Agustus 1959.

    Abdoel Moeis yang merupakan Pputra Minang ini menghembuskan napas terakhir di Bandung pada 17 Juni 1959, jauh dari tempat kelahirannya di Bukittinggi, Sumatra Barat.

    Baca Juga: Membaca Pemikiran Kartini Lewat Habis Gelap Terbitlah Terang

    Kiprah Abdoel Moeis sebagai tokoh pergerakan membuat pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan larangan keluar dari pulau Jawa.

    Dikutip dari buku “Pahlawan-Pahlawan Indonesia Sepanjang Masa” dari Didi Junaedi, Abdoel Moeis diasingkan oleh pemerintah Belanda ke Garut, Jawa Barat.

     

    Kota itu sekaligus jadi tempat Abdoel Moeis menyelesaikan novel “Salah Asuhan, salah satu karyanya yang ternama.

    Baca Juga: Selain Petualangan Sherina, Berikut Daftar Film Berkualitas Produksi Miles Films

    Salah Asuhan terbit dalam bahasa Melayu pada 1928 di bawah penerbit Balai Pustaka. “Salah Asuhan” juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Never the Twain” oleh Yayasan Lontar pada 2010.

    “Pemahaman Salah Asuhan” keluaran Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1985 mendeskripsikan “Salah Asuhan” sebagai novel yang membahas pembauran serta benturan antara kebudayaan Timur dan Barat.

    “Salah Asuhan” bercerita tentang Hanafi, pemuda Minangkabau yang berada di tengah pendidikan dan lingkungan yang menganut nilai-nilai dan sikap hidup orientasi Barat.

    Baca Juga: Film dan Festival Film Jadi Media Kampanye Perubahan Iklim

    Pendidikan Barat yang salah membuat dia tak bisa membaur dengan bangsanya, tapi tidak pula diterima oleh kaum Barat.

    Hanafi dianggap salah asuhan karena kebarat-baratan. Hanafi dinikahkan dengan Rapiah, namun bercerai karena memilih untuk menjalin kasih dengan Corrie du Busse, seorang gadis Indo-Prancis.

    Kehidupan rumah tangga Hanafi dan Corrie tidak harmonis dan Hanafi hidup dalam penyesalan.

    Baca Juga: Cara Pemkab Boyolali Tingkatkan Literasi Jadi Best Practice Nasional

    Versi salah Asuhan yang diterbitkan berbeda dari naskah aslinya. Novelnya bisa terbit setelah ditulis ulang dengan karakter Eropa yang memberi kesan positif.

    Dalam “Di Balik Tirai Salah Asuhan” dari Syafi Radjo Batuah, karakter Corrie dalam novel yang diterbitkan dan dalam naskah aslinya sangat berbeda.

    Pada naskah asli, Corrie adalah gadis pesolek yang menyukai pergaulan bebas. Lewat bujukan Tante Lien, mak comblang, ia bergaul intim dengan pemain orkes keroncong, menjual diri kepada seorang Arab kaya raya, hingga kapten kapal. Ini jadi salah satu penyebabnya bercerai dengan Hanafi.

    Baca Juga: Mengenal Sosok Ulama Buya Hamka lewat Film

    Corrie terjerumus ke dalam dunia pelacur dan mati ditembak seorang langganannya.

    Naskah ini ditolak, karakter Corrie ditulis ulang sebagai perempuan yang tidak tergoda bujukan Tante Lien, meski dia tetap dituduh selingkuh oleh Hanafi. Corrie digambarkan sebagai korban fitnah, dia kemudian meninggal akibat kolera.

    “Salah Asuhan” kemudian diadaptasi menjadi film oleh sutradara Asrul Sani dengan bintang Dicky Zulkarnaen sebagai Hanafi, Rima Melati sebagai Rapiah dan Ruth Pelupessy –pemeran Darminah dalam film horor “Pengabdi Setan”- sebagai Corrie du Bussee.

    Baca Juga: Marsinah, Simbol Abadi Perjuangan Buruh Perempuan Indonesia

    Film yang dirilis pada 1972 ini diubah latar belakangnya menjadi 1970-an. Salah Asuhan juga hadir di layar kaca dalam sinetron berjudul sama arahan Azhar Kinoy Lubis. Sinetron “Salah Asuhan” yang dibintangi oleh Dimas Aditya ini tayang pada akhir 2017.

     

     

     

     

     

     

  • Dikukuhkan Jadi Guru Besar FIB UGM, Aprinus Salam Sebut Sastra Tak Haram Angkat SARA

    Dikukuhkan Jadi Guru Besar FIB UGM, Aprinus Salam Sebut Sastra Tak Haram Angkat SARA

    7cloud.asia – Sastra sebagai suatu ekspresi seni berpeluang mempersoalkan berbagai peristiwa di dunia nyata, salah satunya adalah persoalan Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).

    Namun kondisi sastra Indonesia hari-hari ini dinilai gagap dalam menggali persoalan-persoalan agama, masalah-masalah suku dan ras, dan juga perasaan tidak nyaman untuk mengeksplorasi politik kepentingan golongan-golongan.

    “Kondisi ini diduga muncul karena adanya semacam kelatahan sekaligus ketakutan yang telah tertanam sejak lama,” kata Dosen Departemen Sastra dan Bahasa, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM Prof. Aprinus Salam dalam pengukuhannya sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Sosiologi Sastra pada Selasa (29/4/2025).

    Dilansir dari ugm.ac.id, dalam upacara pengukuhan yang berlangsung di Balai Senat UGM, Aprinus membacakan pidatonya yang berjudul “Sastra, SARA, dan Politik Salah Paham”.

    Dalam pemaparannya, Aprinus mencontohkan beberapa karya yang kandungan SARA yakni pada novel Salah Asuhan yang pada draf awalnya disebut menyinggung ras Barat (Belanda).

    Baca: Sejarah ditetapkannya Hari Sastra Indonesia

    Lain lagi kisah-kisah karya sastra yang dilarang pada masa Orde Baru seperti yang dihadapi tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.

    “Negara takut terhadap adanya sastra membongkar dan memperlihatkan implikasi-implikasi ideologis yang dipraktikkan secara keliru oleh kekuasaan,” ujarnya.

    Novel seperti Bumi Manusia berhasil menunjukkan rasisme kolonial, feodalisme, ketimpangan gender, dan kapitalisme dan menggiring pembaca agar bertahan dalam rasionalisme yang lebih manusiawi dalam dunia yang setara.

    Hal ini, menurutnya, tidak disukai oleh kekuasaan yang dominan sebab dapat melemahkan kekuasaannya. Persoalannya adalah masyarakat tidak paham dengan adanya situasi kesengajaan salah paham masalah sastra ini yang jejaknya masih bisa dirasakan hingga kini.

    Untuk itu, sastra melakukan upaya pencarian dan menjelaskan kebenaran. Sastra juga “menghasut” pembacanya agar dapat menerima keyakinan yang berbeda.

    Baca: Memahami pemikiran Kartini lewat “Habis Gelap Terbitlah Terang”

    Belajar dari pengalaman Orde Baru dan Bumi Manusia yang menurut Aprinus dengan sengaja pura-pura tidak tahu, salah paham, dan sengaja menyalahpahami novel tersebut berbahaya bagi kekuasaan.

    “Karena itulah sebabnya sastra yang dianggap mempersoalkan SARA dianggap membahayakan negara. Jika membahayakan negara, karya tersebut dilarang beredar,” paparnya.

    Upaya Negara melarang kandungan unsur SARA dalam karya sastra menurutnya, bukan lagi atas nama keamanan bangsa dan negara, tetapi lebih-lebih atas nama keamanan dan kepentingan kekuasaan politik tertentu.

    “Negara yang benar tidak mungkin membiarkan masyarakat hidup dalam kesalahpahaman. Akan tetapi, kekuasaan akan terus melanggengkan kekuasaanya,” imbuhnya.

    Ia menyebut proses-proses yang berjalan memang berat utamanya dengan media sosial yang gamblang meramaikan demokratisasi.

    Baca: Dokumentasi bahasa dapat lestarikan bahasa yang terancam punah

    Dalam konteks ini, bukan karena Negara melakukan pelonggaran atau mencoba demokratis, tetapi pemerintah juga semakin tidak paham bagaimana sastra bekerja dan menjadi ajang dan ruang pencarian kebenaran supaya sastrawan dan masyarakat juga semakin cerdas.

    “Ke depannya saya berharap agar tidak perlu ada lagi syarat ‘tidak boleh menyinggung SARA’ dalam lomba sastra sebab sastra terus menghasut, bersama-sama dalam pencarian menuju dan menjaga kebenaran,” pungkasnya.

    Usai pemaparan ini, Prof. Aprinus Salam dinyatakan resmi menyandang gelar guru besar Ketua Dewan Guru Besar UGM Prof. Dr. Baiquni.

    Aprinus menjadi salah satu dari total 17 guru besar aktif yang dimiliki oleh Fakultas Ilmu Budaya UGM.

     

  • Dramatisasi Bukan Perawan Maria: Saat Teater Jadi Ruang Perjumpaan Antara Cerita, Ingatan, dan Realitas Sosial

    Dramatisasi Bukan Perawan Maria: Saat Teater Jadi Ruang Perjumpaan Antara Cerita, Ingatan, dan Realitas Sosial

    7cloud.asia – Sejak terbit secara indie pada 2017, kumpulan cerpen Bukan Perawan Maria karya Feby Indriani kerap diadaptasi ke panggung teater dengan berkolaborasi dengan seniman lintas medium dan kota seperti Jakarta, Bandung, Mataram, dan Berlin.

    Kali ini, giliran komunitas Ketemu Di Seni yang bakal mendramatisasi sastra Bukan Perawan Maria. Ketemu Di Seni akan mengadaptasi dari tiga cerita pendek karya Feby Indirani.

    Adapun dramatisasi Bukan Perawan Maria akan dipentaskan pada 12-13 Desember mendatang di Jakarta.

    Dramatisasi Bukan Perawan Maria menjadi langkah Ketemu Di Seni dalam mempertemukan
    sastra dan teater secara jujur dan relevan dengan percakapan sosial hari ini.

    Pementasan ini menghadirkan sastra ke atas panggung sebagai pengalaman yang hidup, dekat, dan menyentuh tubuh serta kesadaran penonton. Teater menjadi ruang perjumpaan antara cerita, ingatan, dan realitas sosial yang terus bergerak.

    Bukan Perawan Maria dikenal sebagai karya yang berani membuka persoalan stigma, tafsir agama, dan tekanan moral yang membebani individu, terutama perempuan.

    Ketemu Di Seni membaca ulang kegelisahan ini lalu membawanya ke panggung secara intim. Jarak aktor dan penonton dibuat dekat agar setiap emosi dan dialog terasa langsung.

    Baca: Sastra tentang kisah keterasingan makin relevan

    Tiga cerita diadaptasi oleh Ego Haryanto dan Vito Prasasta Adipurwanto yang sekaligus menjadi sutradara. Ruang Tunggu menghadirkan sosok pemuda yang bergulat dengan keyakinan yang selama ini ia anggap pasti.

    Pertanyaan Malaikat menyorot kebingungan saat iman bertemu realitas yang tidak selalu memberi jawaban. Bukan Perawan Maria menyuarakan keberanian perempuan yang menolak tunduk pada penilaian moral publik atas tubuh dan hidupnya.

    Vito menyebut alasan utama memilih karya ini karena ingin menunjukkan sisi abu-abu moral. Ia menolak pandangan hitam putih tentang baik dan buruk.

    Ia menegaskan bahwa banyak hal yang tidak sepenuhnya sesuai norma, tetapi tetap manusiawi. Ego melihat karya Feby Indirani ini menghadirkan isu yang tampak umum sekaligus sangat personal.

    Perpaduan ini membuat ceritanya terasa timeless dan terus relevan dengan situasi
    sosial hari ini.

    Dalam proses artistik, tim memilih pendekatan minimalis dan sugestif. Set, pencahayaan, dan suara dirancang sederhana dan fokus pada kekuatan dialog asli cerpen.

    Pilihan ini memberi ruang bagi penonton untuk membangun tafsir sendiri berdasarkan pengalaman personal. Para aktor mengolah cerita melalui gerak, suara, dan ritme yang memperlihatkan konflik batin tokoh secara nyata.

    Baca: Penulis Gol A Gong usulkan membaca karya sastra diwajibkan di sekolah

    Tubuh menjadi medium penting yang menjembatani kata dan makna. Penonton diajak masuk ke lapisan emosi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    Penulis Bukan Perawan Maria, Feby Indirani, mengungkapkan antsiasmenya dengan dramatisasi ini.

    “Saya merasa terhormat dan antusias menyaksikan teater karya Ketemu Di Seni ini, sebuah kolektif seni dari para seniman muda multitalenta yang bersungguh-sungguh mencintai seni dan mencintai Indonesia,” kata Feby dalam Konferensi pers Jumat, (21/11/2025) di Jakarta

    Dalam forum ini, tim adaptasi memaparkan konsep artistik dan proses kreatif, disertai dialog terbuka bersama pemain dan kru.

    Nong Darol Mahmada, Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, menyatakan dukungan penuh
    terhadap inisiatif anak-anak muda yang menjadikan seni sebagai ruang menyuarakan
    toleransi dan perdamaian.

    Ia menilai pertunjukan ini memberi contoh nyata bagaimana ekspresi artistik mampu membuka dialog sehat di tengah perbedaan.

    “Pemprov DKI Jakarta mendorong ruang-ruang seni seperti ini agar terus hidup, tumbuh, dan menjangkau publik yang lebih luas,” ujar Nong.