7cloud.asia – Upaya mencetak sawah baru yang digalakkan Presiden Prabowo untuk menuju swasembada pangan menuai kritik dari sejumlah kalangan, termasuk dari Komisi IV DPR yang membidangi pangan.
Anggota Komisi IV DPR, Sulaeman L. Hamzah menyebut program sawah baru ini menemui banyak tantangan di lapangan yang belum terselesaikan. Salah stunya adalah pemilihan lokasi yang tidak tepat.
“Ketidaksesuaian lokasi menjadi faktor pertama kegagalan dari cetak sawah itu dan kemudian banyak hal teknis lain yang juga memang perlu ada pembenahannya,” ujar Sulaeman seperti dikutip Parlementaria, Jumat (22/8/2025)
Ketimbang mencetak sawah baru, Sulaeman mendorong pemerintah memaksimalkan lahan persawahan yang sudah ada, tetapi tidak digarap maksimal.
Baca: Meski dikritik, pemerintah tetap lanjutkan proyek food estate di Merauke
“Sebaiknya pemerintah lebih fokus pada optimalisasi lahan sawah yang memang tanahnya sudah digunakan, tapi kemudian berhenti beroperasi. Otomatis penyesuaian tanah itu sebetulnya sudah ada, hanya tidak optimal saja,” katanya.
Saat ini, kata Sulaeman, optimalisasi sawah yang kurang maksimal menjadi opsi yang lebih baik ketimbang mencetak lahan sawah baru. Opsi ini juga lebih menjanjikan bagi petani, dan harapan untuk keberhasilannya lebih besar.
Politisi Partai NasDem ini juga menyoroti masalah tenaga kerja dalam sektor pertanian. Regenerasi menjadi petani dinilai belum berhasil, anak-anak muda belum tertarik masuk ke dunia pertanian.
“Generasi mana yang bisa menggantikan generasi petani sebelumnya? sehingga ini juga menjadi catatan penting. Kita terlambat memulai, mempersiapkan orang,” tegasnya.
Baca: Proyek cetak sejuta hektare sawah di Merauke diminta dihentikan
Sulaeman berharap pemerintah segera mengevaluasi program cetak sawah baru agar ke depan dapat berjalan lebih maksimal.
Catatan-catatan ini, lanjutnya, mudah-mudahan menjadi perhatian pemerintah karena memang masih berjalan cukup panjang.
“Kita apresiasi bahwa Presiden sudah memulai dengan cara yang benar dan mudah-mudahan kita bisa mencapai swasembada pangan,” tukasnya.
Seperti diketahui, Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan pada Jumat (15/8/2025) menegaskan kemandirian pangan jadi prioritas pemerintahannya.
Karena itu, pemerintahannya akan membuka jutaan hektar sawah baru di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatera, Papua, dan sejumlah daerah lainnya.

