Tag: sejauh mata memandang

  • Sejauh Mata Memandang dan Misi Chitra Soebiyakto Melestarikan Lingkungan

    Sejauh Mata Memandang dan Misi Chitra Soebiyakto Melestarikan Lingkungan

    7cloud.asia – Sejauh Mata Memandang, demikian Chitra Soebiyakto memberi nama label produk fesyen yang diciptakannya. 

    Namun, Sejauh Mata Memandang tak menghasilkan produk fesyen yang biasa-biasa saja. Ada nilai yang diperjuangkan Chitra dalam setiap piece fesyen Sejauh Mata Memandang yang dihasilkannya. 

    Sejauh Mata Memandang ingin lebih bertanggung jawab dalam berproduksi.

    “Nggak cuma bikin, pakai buang, tetapi sesirkular mungkin dalam berproduksi. Benar-benar dipikirin nanti bisa dibikin apa,” ujar Chitra saat berbicara dalam peluncuran parfum Our Earth dari Greenpeace Indonesia, Jumat (25/8/2023) di Jakarta.

    Baca: DemiBumi lahir untuk kelestarian lingkungan

    Awalnya, Sejauh Mata Memandang lebih fokus menghasilkan wastra. Lantas pada 2019 ia membaca berita tentang paus yang mati terdampar dan ditemukan berkilo-kilo plastik di perutnya.

    Kejadian itu menggerakkan Chitra untuk lebih aktif terlibat dalam aksi untuk melestarikan lingkungan. Ia menegaskan, berjuang untuk lingkungan kini adalah sebuah kebutuhan. 

    “Semua harus ikut, ini bukan tentang menjadi ‘rebel’ atau semacam pemberontakan, ini tentang upaya kita untuk bertahan hidup,” ujarnya gemas. 

    Ia menegaskan, aksi untuk lingkungan sudah tak bisa ditunda lagi karena pencemaran sudah pada titik nasir. Ini ngomongin tentang hidup kita hari ini dan besok, ujarnya, bukan tentang 2050 atau kapan.

    Baca: Mengenal konsep slow fashion

    Menengok ke belakang, Chitra telah banyak melakukan banyak aksi untuk lingkungan. Ia beberapa kali menggelar pameran yang bisa ngubah perilaku.

    “Lewat pameran itu kami tidak ingin menggurui, tapi pulang dari pameran para pengunjung akan berpikir untuk melakukan sesuatu bagi Bumi dan lingkungan,” ujarnya.

    Dalam berproduksi, Sejauh Mata Memandang konsisten dengan jalur yang dipilih yakni ramah untuk lingkungan. Kain-kainnya menggunakan katun yang mudah terbaur dengan tanah, dengan pewarnaan alami yang tidak merusak alam.

    Dalam berkarya, Chitra dan Sejauh Mata Memandang mendasarkan pada lima pilar yakni sirkulitas, transparansi dan ketertelusuran, rantai pasok beretika, memberi kembali, dan aksi iklim.

    Baca: Seperti ini dampak fast fashion pada lingkungan dan kehidupan

    “Kami tidak mengklaim diri sebagai brand yang sustainable karena apapun yang kita lakukan, baik itu bernapas, makan, atau berpakaian, pasti meninggalkan jejak karbon,” tuturnya.

    Namun, Sejauh Mata Memandang selalu berusaha untuk lebih bertanggung jawab dalam berproduksi. Dimulai dari proses desain, produksi, dipakai, sampai pakaian tidak dipakai lagi.

    “Kami memikirkan supaya pakaian tidak menjadi sampah abadi dan bisa didaur ulang. Istilahnya, kami sudah memikirkan sesuatu yang sifatnya circular,” katanya. 

    Baca: Kiat merancang koleksi pakaian ala slow fashion

    Komitmen pada kelestarian lingkungan menghubungkan Chitra dengan komunitas yang punya minat yang sama.

    Komitmen Sejauh Mata Memandang mempertemukan dunia fesyen dan kepedulian terhadap lingkungan melalui kerja sama dengan Yayasan HAkA dan Forum Konservasi Leuser untuk melindungi dan merevitalisasi Kawasan Ekosistem Leuser yang penting di Aceh Timur.

    Kelompok ini bekerja keras bersama #SahabatSejauh yang berdedikasi untuk melindungi habitat hewan yang terancam punah seperti gajah Sumatera, harimau, badak, dan orangutan.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif bagi lingkungan

    Kolaborasi dengan Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) terbangun dalam bentuk penanaman satu pohon di Leuser dari setiap produk Sejauh Mata Memandang yang terjual.

    Program bertajuk Trees for Better Earth tersebut dimulai pada 2020, dan hingga kini sekitar 8.000 pohon telah ditanam untuk menghijaukan 20 hektare hutan di Gunung Leuser.

     

    Jadi, buat kamu yang ingin tampil trendi tapi juga ingin alam tetap lestari ikuti ajakan dari Chitra Soebiyakto untuk ikut beraksi. Sekarang bukan lagi nanti!

    Baca: Ciri produk ramah lingkungan

     

     

     

     

  • Butik Ini Menjual Produk Ramah Lingkungan dari Limbah Tekstil

    Butik Ini Menjual Produk Ramah Lingkungan dari Limbah Tekstil

    7cloud.asia –  Butik mungil berwarna hijau di salah satu pusat perbelanjaan ternama di DKI Jakarta, Grand Indonesia itu tak pernah sepi.

    Sejumlah anak muda hingga orang tua silih berganti mendatangi butik Sejauh Mata Memandang yang menjual fesyen ramah lingkungan ini.

    Masuk ke dalam butik sejauh mata memandang terlihat berbagai jenis produk fesyen mulai dari pakaian, aksesoris, jilbab, hingga kebaya. Semuanya ramah lingkungan karena dibuat  dari limbah tekstil.

    Pemilik butik Sejauh Mata Memandang, Chitra Subyakto mendaur limbah tekstil, busana atau sisa-sisa kain yang sudah tak terpakai lagi menjadi produk fesyen apik yang kini terpajang di butiknya. 

    Desainer Chitra Subyakto akhirnya tergerak untuk menjadikan bisnis fesyen yang telah dirintisnya sejak 2014, turut membuat produk dari daur ulang limbah tekstil.

    Baca: Misi lingkungan Chitra Subyakto

    Hal itu bermula dari ajakan para komunitas pecinta lingkungan untuk melihat langsung kondisi alam yang memprihatinkan, karena banyak limbah tekstil menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sungai, hingga laut.

    Chitra menyadari bahwa produk fesyen menjadi lima terbesar sebagai penyumbang polusi dunia, mulai dari proses pembuatan sampai akhirnya tidak terpakai lagi.

    Ia kemudian memutar otak dan mencoba bekerja sama dengan sejumlah perusahaan yang mendaur ulang limbah tekstil untuk belajar bagaimana mengolah pakaian bekas menjadi benang.

    Para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang bisa membuat benang-benang menjadi kain juga turut dilibatkan dalam produksi butik Sejauh Mata Memandang ini.

    Baca: DemiBumi hadir demi lingkungan

    Akhirnya benang-benang ditenun menjadi kain, dan dia mulai merancang guna menjadikannya produk pakaian, tas, jilbab, kebaya, aksesoris, fiber penyekat, hingga insulator atau peredam suara.

    Produk fesyen hasil daur ulang tersebut dijual seharga mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

    Kini para penggunanya tidak hanya dari kalangan masyarakat umum dan artis dalam negeri, tapi juga telah menyasar pelanggan luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura.

    Sepanjang September 2021 hingga Mei 2023, Chitra telah mengumpulkan sebanyak 5.719 kilogram pakaian bekas atau limbah tekstil yang didaur ulang.

    Baca: Alasan untuk segera beralih ke pembalut kain

    Masyarakat juga dapat mengirimkan pakaian dengan kondisi apapun, seperti robek, bolong, ataupun kain perca, yang penting bukan termasuk bahan poliester.

    Dengan menyumbangkan pakaian bekas warga sudah ikut kontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan.

    Ada tiga langkah yang bisa diterapkan dalam menjaga kelestarian lingkungan, dan menyelamatkan para generasi yang akan datang.

    Langkah pertama bisa dilakukan dengan membeli pakaian yang bisa digunakan untuk jangka waktu panjang dan tidak kehilangan tren.

    Hindari bahan poliester karena tidak bisa terurai, serta memilih produk lokal yang memperhatikan cara berproses yakni slow fashion.

    Baca: Thrifting, cara anak muda kurangi sampah

    Kedua, tidak malu menggunakan pakaian secara berulang-ulang, dimana hal itu sudah mulai dikampanyekan lewat sejumlah publik figur.

    Terakhir adalah tidak langsung membuang pakaian yang sudah rusak, tetapi diperbaiki, atau membuat arisan tukar-tukar baju kepada sesama teman maupun keluarga.

     

  • Chitra Subyakto, Limbah Fesyen dan Mikroplastik di Air Hujan

    Chitra Subyakto, Limbah Fesyen dan Mikroplastik di Air Hujan

    7cloud.asia – Pendiri sekaligus Direktur Kreatif “Sejauh Mata Memandang” Chitra Subyakto mengatakan, saat ini industri fesyen tengah berfokus pada keberlanjutan lingkungan.

    Hal ini, menurut Chitra Subyakto dapat dilihat dari proses pengolahan limbah pakaian yang mulai dilakukan sejumlah pelaku industri fesyen, termasuk Sejauh Mata Memandang.

    Sejauh Mata Memandang telah menjalin kerja sama dengan Ecotouch di Bandung, Jawa Barat, untuk melakukan proses pemotongan kain, pencopotan kancing, ritsleting sampai dengan menjadikan limbah fesyen menjadi benang yang siap pakai.

    “Kita berusaha bagaimana prosesnya panjang, bukan daur ulang, bukan proses yang terbaik, tapi harus dilakukan karena sampah pakaian itu terlalu banyak menumpuk di TPA, TPS, sungai, dan laut,” katanya dikutip Antaranews.com.

    Chitra mengingatkan bahwa masalah mikroplastik dapat memengaruhi kehidupan 8 miliar manusia yang hidup di bumi.

    Karena itu, Chitra Subyakto mengajak semua pihak agar tidak abai dan mulai meningkatkan kepedulian pada lingkungan sekitar.

    Baca: Misi Chitra Soebiyakto melestarikan lingkungan

    Chitra lantas membeberkan bagaimana limbah fesyen dapat berisiko memunculkan mikroplastik yang berbahaya bagi keberlangsungan alam, iklim maupun kesehatan manusia.

    “Sampah pakaian itu kan salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia dan salah satunya bahannya mengandung mikroplastik,” katanya.

    Menanggapi temuan BRIN adanya mikroplastik dalam air hujan di Jakarta, Chitra mengatakan bahwa limbah fesyen banyak menggunakan bahan polyester.

    Bahan itu banyak dijadikan seperti pakaian olahraga atau piyama karena memiliki sifat tidak mudah lecak dan awet untuk digunakan.

    Saat ini, sampah itu telah berserakan di beberapa titik seperti Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sungai hingga laut. Mikroplastik yang keluar kemudian mencemari air dan biota laut yang hidup.

    Dia mengingatkan, kondisi ini sudah sangat mengkhawatirkan mengingat para ahli telah menyatakan bahwa mikroplastik berkaitan dengan penurunan imunitas tubuh hingga kanker.

    Baca: Slow Fashion yang lebih ramah lingkungan

    “Banyak sekali efek atau dampak dari pakaian polyester ini dan kita sebagai masyarakat harus peduli dan paham akan dampak dari benda-benda yang kita konsumsi dan kita pakai,” katanya.

    Maka dari itu, ia mengajak agar masyarakat lebih peduli terhadap bahan pakaian atau kain yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Salah satu caranya yakni dengan membaca dan mencari informasi lebih lanjut terkait dengan jenis kain yang akan dipakai.

    Masyarakat juga diminta agar tidak terburu-buru dalam membuang pakaian. Ia menilai akan jauh lebih baik jika barang-barang itu dirawat dengan baik atau diolah menjadi produk yang menarik untuk dipakai kembali, misalnya dijadikan tas ataupun sarung bantal.

    Diberitakan sebelumnya, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova sebelumnya menyampaikan bahwa penelitian yang dilakukan sejak 2022 menunjukkan adanya mikroplastik dalam setiap sampel air hujan di Jakarta.

    “Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka. Yang beracun bukan air hujannya, tetapi partikel mikroplastik di dalamnya karena mengandung bahan kimia aditif atau menyerap polutan lain,” ia menjelaskan.

    Peneliti menemukan rata-rata 15 partikel mikroplastik per meter persegi area per hari pada sampel air hujan di kawasan pesisir Jakarta.

    Menurut Reza, ini ini terjadi karena siklus plastik kini telah menjangkau atmosfer.​​​​​​ Mikroplastik yang terbawa angin turun kembali bersama air hujan. Guna menekan polusi mikroplastik dan risiko paparannya, penggunaan produk plastik harus diminimalkan.

    Baca: Sisi gelap fast fashion bagi lingkungan