Tag: seniman

  • Koalisi Masyarakat Sipil Kawal Pemilu Demokratis Kecam Intimidasi Polisi kepada Seniman Butet Kartarejasa

    Koalisi Masyarakat Sipil Kawal Pemilu Demokratis Kecam Intimidasi Polisi kepada Seniman Butet Kartarejasa

    7cloud.asia – Koalisi Masyarakat Sipil Kawal Pemilu Demokratis yang terdiri dari berbagai organisasi mendesak Kapolri menindak tegas anggota kepolisian yang melakukan intimidasi kepada para seniman beberapa waktu lalu.

    Desakan ini muncul menyusul intimidasi yang dilakukan oleh Kepolisian Sektor Cikini terhadap Butet Kartarejasa dan Agus Noor saat akan menggelar pertunjukkan di Taman Ismail Marzuki pada 1 Desember lalu.

    Saat itu para seniman tersebut diminta pihak kepolisian untuk tidak menampilkan pertunjukkan yang mengandung unsur politik.  

     Baca: Alumni UI desak pemerintah hentikan intimidasi

    Dalam rilis yang diterima 7cloud.asia, koalisi menilai hal tersebut sebagai intimidasi yang merupakan pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi warga negara yang telah dijamin oleh konstitusi dan undang-undang.

    Muhammad Isnur, Ketua YLBHI, salah satu anggota Koalisi Masyarakat Sipil mengatakan, pertunjukan seni dan muatan pesan didalamya, sekalipun mengandung unsur politik, sesungguhnya adalah hak setiap warga negara

    Ini harus dihormati oleh siapapun, termasuk kepolisian. Isnur menjelaskan, setiap anggota kepolisan seharusnya menghormati dan menjamin hak asasi manusia dalam menjalankan fungsi dan tugas pokoknya.

    “Tidak ada satupun alasan yang membenarkan bagi kepolisian untuk melakukan pembatasan terhadap kebebasan tersebut. Apalagi hal tersebut dilakukan dengan cara-cara intimidatif,” katanya.

    Baca: intimidasi terhadap oposisi dari mulai ketua BEM UI sampai DPC PDIP

    Dalam kondisi jelang pemilu seperti saat ini, lanjut Isnur, anggota kepolisian harus bersikap profesional dan netral dalam menyikapi dinamika sosial politik di masyarakat.

    Sebab pemilu merupakan perwujudan prinsip kedaulatan rakyat di dalam demokrasi.

    “Untuk menjamin pemilu yang demokratis, intervensi alat-alat keamanan dan hukum negara termasuk yang dilakukan dengan pembatasan kebabasan warga negara harus dihindari, sebab dapat merusak demokrasi pemilu,” paparnya.

    Koalisi masyarakat sipil juga meminta jaminan kepada Kapolri bahwa pelaksanaan tugas oleh setiap anggota kepolisan harus menjunjung tinggi HAM untuk memastikan pelaksanaan pemilu berlangsung jujur, adil dan bebas.    

    Reporter: Nurakhmayani

  • ARTJOG 2026 Diprotes Karena Dinilai Kehilangan Keberpihakan pada Rakyat

    ARTJOG 2026 Diprotes Karena Dinilai Kehilangan Keberpihakan pada Rakyat

    7cloud.asia – Gelaran ARTJOG 2026 yang berlangsung mulai Jumat (19/6/2026) hingga 31 Agustus 2026 mendatang menuai perhatian publik karena protes yang dilontarkan sejumlah seniman yang tergabung dalam ARTJOKEs.

    ARTJOKES menilai festival seni ARTJOG yang mulai digelar pada 2008 berangsur kehilangan keberpihakannya kepada rakyat. Tangan-tangan kekuasaan dan pemilik modal telah mempengaruhi gelaran ini lewat uang yang mereka miliki.

    Dalam pernyataan tertulisnya kepada media, seniman yang tergabung dalam ARTJOKES mengakui, selama dua dekade ARTJOG berhasil membius jutaan pasang mata dari berbagai belahan dunia.

    “ARTJOG adalah panggung kesenian yang prestisius. Namun, di dinding dan ruang pameran itu jugalah penderitaan dan kenyataan hidup kita semua disulap sebagai komoditas yang bernilai fantastis di mata para kolektor,” demikian ARTJOKES dalam pernyataannya.

    Kondisi ini menurut para seniman yang tergabung dalam ARTJOKES mbuat seni berubah menjadi komoditi semata dan ruang pamer kesenian menjelma sebagai pasar paling mewah.

    Sebagai sebuah brand, ARTJOG berhasil menyilaukan banyak mata generasi hari ini. Para seniman berlomba untuk masuk dan tercatat sebagai bagian dari perjalanan ARTJOG.

    Baca: Disponsori Didit Foundation, Gelaran ARTJOG 2026 Menuai Protes

    Popularitas yang ditawarkan, membutakan banyak mata bahwa ARTJOG bukan lagi ruang kebudayaan yang netral, alih-alih mengharapkan adanya pasar yang memiliki keberpihakan pada generasi yang nasibnya terkatung-katung bak layang-layang zaman.

    Tak mengherankan memang ketika kita melihat kaki-tangan rezim kekuasaan bercokol di atas dan belakang pasar semacam ini. Sebab, memang begitulah relasi kuasa yang sedang beroperasi di ruang kebudayaan kita saat ini.

    Sekalipun konon tak ada penyensoran dan para seniman tetap diberi ruang kebebasan dalam memvisualisasikan pemikiran mereka, tetapi kebebasan semacam apakah yang dimaksud ketika representasi wajah rezim ada di balik proses kerja-kerja tersebut?

    “Maka dari itu, kembali kami ingin mempertanyakan: Generatio semacam apakah yang dimaksud di sini?” lanjut pernyataan itu.

    Di saat jutaan generasi sedang memprotes berbagai kebijakan rezim yang dianggap memperkuat konsolidasi kekuasaan, ARTJOG justru kehilangan empati dan memilih jalan menjalin kedekatan dengan lingkar kekuasaan.

    Di titik ini, persoalannya bukan lagi sekadar siapa yang mensponsori dan lain sebagainya. Persoalannya adalah di mana sikap kita semua ketika ruang bernapas makin menyempit dan kesenian yang kita cintai justru secara telanjang bercumbu dengan rezim kekuasaan yang selama ini mengungkung ruang gerak kita?

    Baca: Sarat Kritik, Pameran Lukisan Tunggal Yos Suprapto Dibredel

    Artinya, lanjut ARTJOKES, kami adalah generasi yang tidak sedang memperdebatkan hak seseorang untuk mendukung kesenian sebagai satu dari banyak lajur perlawanan atau tidak.

    Kami hanya sedang mempertanyakan apa yang akan terjadi ketika seni kehilangan kemampuan untuk menjaga jarak dari patron-patron politik rezim yang zalim?

    ARTJOKES meyakini bahwa kekuasaan tidak selalu membungkam seni dan seniman lewat penyensoran maupun pengontrolan langsung. Sebab, sering kali rezim kekuasaan justru merangkulnya lewat berbagai instrumen yang dimiliki.

    Seniman yang tergabung dalam ARTJOKES mengajak para pekerja seni dan rekan-rekan seniman yang pernah dan sedang terjebak dalam hubungan tidak transparan, manipulatif, dan eksploitatif yang ditawarkan oleh sebuah ruang kongkalikong antara elite kesenian dan para peng-peng untuk merenung.

    “Juga untuk kalian semua yang sikap politiknya telah ditukar dan dikubur dalam ruang hegemoni kekuasaan, kami ingin bertanya: Kalian duduk di mana?” ARTJOKES memungkasi pernyataannya.

    Tentang ARTJOG
    ARTJOG dikenal sebagai sebuah festival sekaligus pameran seni kontemporer yang rutin digelar di Yogyakarta. ARTJOG bukan hanya sekedar ajang pameran karya seni, tetapi juga tempat bertemunya kreativitas, budaya, dan interaksi masyarakat.

    Di sini, hasil karya para seniman dinikmati sekaligus dipelajari oleh masyarakat melalui nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. Ajang ARTJOG juga menjadi tempat seniman mengekspresikan diri maupun menyampaikan isu-isu sosial.

    Baca: Mekanisme Sensor Seni di Era Digital

    Tak heran jika ARTJOG selalu berhasil menarik perhatian wisatawan, pecinta seni, hingga generasi muda yang penasaran dengan pengalaman unik di dalamnya.

    ARTJOG berawal dari Jogja Art Fair (JAF) yang diselenggarakan pertama kalinya pada tahun 2008 sebagai bagian dari Festival Kesenian Yogyakarta. Barulah pada tahun 2010, acara ini mulai berdiri sendiri dan resmi menggunakan nama ARTJOG.

    ARTJOG bermula dari sebuah konsep pasar seni yang menjadi wadah bagi seniman untuk memperkenalkan karya mereka kepada publik. Seiring berjalannya waktu, ARTJOG terus berkembang menjadi festival seni kontemporer berskala besar yang dikenal hingga mancanegara.

    Kehadiran ARTJOG membuktikan bahwa karya seniman Indonesia memiliki daya tarik yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional sehingga patut diperhitungkan di mata dunia.

    ARTJOG selalu punya tema yang berbeda setiap tahun, sehingga membuat ARTJOG senantiasa dinanti oleh masyarakat. Tema yang diangkat selalu berbeda dan penuh kejutan sehingga tidak membuatnya monoton.

    Tema-tema yang diangkat oleh ARTJOG biasanya mengangkat isu sosial, budaya, lingkungan, hingga kehidupan modern yang dekat dengan masyarakat. Adapun pada ARTJOG 2026 mengusung tema “Ars Longa: Generatio”. Makna Ars Longa sendiri adalah Seni itu panjang.

    Tema Ars Longa ini diturunkan menjadi Trilogi untuk tiga tahun ke depan dalam rangka menyambut 20 tahun gelaran ARTJOG. Tema ini diharapkan mampu membawa perubahan dan hal baru bagi seniman untuk menciptakan sebuah dialog antar generasi di antara para seniman, sekaligus menyambut dua dekade ARTJOG.

    Oleh karena itu, setiap penyelenggaraan ARTJOG selalu menghadirkan suasana baru. Pengunjung tak hanya datang menyaksikan karya seni, tetapi juga untuk memahami makna di balik setiap instalansi seni karya para seniman.