7cloud.asia – Bagi banyak orang, Lebaran adalah saatnya kembali bersama keluarga. Dan, kisah inilah yang dipotret dalam film “Senin Harga Naik” meski dalam perspektif yang berbeda.
Film “Senin Harga Naik” sebagai film Lebaran tahun ini akan mengajak penonton untuk menemukan arti keluarga yang seutuhnya. Bahwa meminta maaf tak harus melulu datang dari anak-anak ke orang tuanya, tetapi juga bisa sebaliknya.
Chand Parwez Servia, produser “Senin Harga Naik”, mengungkapkan bahwa film ini awalnya dia dedikasikan untuk almarhumah ibunya. Namun, setelah proses produksi selesai, ia menyadari bahwa pesan yang terkandung dalam film ini jauh lebih luas.
“Film ini bukan hanya tentang hubungan anak dengan ibunya, tetapi juga tentang dinamika keluarga secara luas. Ini milik semua orang, milik setiap ibu, milik setiap anak yang punya ibu,” ujarnya saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Film Senin Harga Naik mendorong orang-orang untuk berani saling memeluk dan berdamai tanpa merasa bersalah, terutama di momen Lebaran yang sakral.
Baca: Film “Laut Bercerita” memotret perjuangan aktivis 98
Di tangan sutradara Dina Jasanti, film “Senin Harga Naik” sukses membangun atmosfer yang hangat. Pemilihan sutradara perempuan memberikan perspektif unik dalam menangkap detail-detail emosional dalam keluarga.
Dina Jasanti mengakui bahwa tantangan utama dalam menggarap film ini adalah membangun konflik yang terasa nyata tanpa harus menghilangkan kehangatan hubungan keluarga.
Menurutnya, inti dari perselisihan antara tokoh Bu Retno dan Mutia adalah perbedaan dalam menunjukkan kasih sayang atau yang dikenal sebagai “bahasa cinta”.
“Padahal awalnya dua-duanya cinta, dua-duanya sayang. Cuman ya cara untuk menunjukkannya itu sangat berbeda,” jelas Dina Jasanti.
Melalui film “Senin Harga Naik” penonton diajak untuk lebih peka dalam mencerminkan diri sendiri agar bisa lebih sabar dan menerima cara orang tua menunjukkan kasih sayang mereka yang unik.
Rekonsiliasi butuh keberanian
Film “Senin Harga Naik” juga menyoroti bahwa proses berdamai dalam keluarga tidak selalu harus berlangsung segera.
Baca: Lima film pilihan para pengkaji film Indonesia
Penulis skenario Rino Sarjono menekankan bahwa film ini bukan lagi soal memandang siapa yang kalah, melainkan bagaimana memandang keluarga dengan kesadaran baru untuk menghadirkan kehangatan.
Dina Jasanti menambahkan bahwa rekonsiliasi memerlukan waktu, kesabaran, dan juga keberanian untuk mengakui kesalahan
“Walaupun kita bisa mungkin agak ego, masih nggak bisa minta maaf, nggak apa-apa. Karena rekonsiliasi itu kan bukan cepat ya. Itu sesuatu yang satu hal yang berproses,” tuturnya.
Menonton film “Senin Harga Naik” membuat saya merenungkan makna keluarga dan hubungan antara ibu dan anak
Film “Senin Harga Naik” bukan hanya sekadar tontonan Lebaran, tetapi juga refleksi tentang pentingnya keluarga dan menerima perbedaan pendapat.
Film ini mengajak kita untuk lebih memahami, menghargai, dan mencintai keluarga kita, serta berani memulai rekonsiliasi meskipun prosesnya tidak selalu mudah.
Baca: Film “Suamiku Lukaku“ memutus narasi yang langgengkan KDRT
Film “Senin Harga Naik” mengisahkan hubungan Ibu dan anak yang punya cara berbeda dalam mendefiniskan kebahagiaan. Konflik itu terbangun dalam sebuah rumah dan toko roti yang menjadi warisan keluarga.
Film ini mengikuti perjalanan Mutia (Nadya Arina) yang pergi dari rumah untuk
menentukan jalan hidupnya sendiri. Dia lantas berkarier di sebuah perusahaan properti
Tapi di tengah kariernya yang terus menanjak, dia harus kembali ke rumah. Pasalnya, kariernya bergantung pada keberhasilan menguasai rumah dan toko roti legendaris milik sang Ibu.
Mutia ditugaskan untuk melobi pemilik toko roti Mercusuar, Ibunya, Retno (Meriam Bellina), agar bersedia digusur/dijual.
Di momen-momen itulah kelokan emosi terjadi dan menguras air mata. Film “Senin Harga Naik” memiliki berbagai lapisan drama dari masing-masing karakternya.
Mulai dari konflik anak perempuan dan Ibu, relasi mertua dan menantu perempuan, hingga keras kepalanya orang tua dan anak terhadap apa yang diyakini.
