7cloud.asia – Pemerintah Provinsi Riau menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan, meski hujan hingga menyebabkan banjir melanda sebagian wilayah ini.
Status siaga darurat kebakaran hutan yang berlaku hingga akhir November ini dituangkan dalam Surat Keputusan (SK) nomor: Kpts.293/III/2024 dan ditandatangani oleh Penjabat (Pj) Gubernur Riau SF Hariyanto,
“Riau melakukan penetapan siaga darurat karhutla itu karena ada daerah yakni Kota Dumai dan Kabupaten Bengkalis yang telah menetapkan status siaga darurat yang sama,” jelas Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, M Edy Afrizal seperti yang dilansir Kompas.
Baca: BMKG ingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan
Menurut Edy, dengan status darurat seperti ini, penanganan kebakaran hutan dan lahan di Riau dapat dilakukan secara maksimal.
Selain itu pihaknya juga dapat membantu meminimalkan cedera pada manusia, kerusakan lingkungan, kerugian aset/peralatan, dan dampak reputasi yang dapat terjadi.
Sementara itu berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir per 12 Maret 2024 menunjukkan ada 116 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia.
Jumlah titik panas ini bertambah 95 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Baca: Titik panas di Sumatera bertambah
Dari 116 titik panas terdeteksi, satu titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi (skala 80-100), 113 titik skala sedang (30-79), dan dua titik skala rendah (0-29).
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Timur sebanyak 54 titik. Kalimantan Selatan menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 15 titik.
Kepulauan Riau berada di posisi ketiga sebanyak 11 titik panas. Sebanyak tujuh titik panas terdeteksi di Aceh.
Kemudian Sulawesi Selatan dengan enam titik panas, serta Sulawesi Tengah dan Jambi masing-masing memiliki enam dan empat titik panas terdeteksi.
Baca: BPBD Riau minta tambahan helikopter untuk padamkan kebakaran hutan
Untuk wilayah Riau, menurut Edy situasi tahun ini cukup berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Sejumlah daerah seperti Pelalawan, Kampar dan Indragiri Hulu masih terendam banjir, tapi daerah pesisir terbakar.
“Tahun ini cukup unik, Pelalawan, Indragiri Hulu dan daerah lain masih banjir. Tetapi di daerah pesisir seperti Dumai, Bengkalis ini sudah terbakar. Tentu kita patut bersiap,” jelas Edy.
Reporter: Nurakhmayani

