Tag: siklon

  • Siklon yang ‘Lemah’ Bisa Memicu Banjir Mematikan: Dampak Nyata Perubahan Iklim

    Siklon yang ‘Lemah’ Bisa Memicu Banjir Mematikan: Dampak Nyata Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Pekan terakhir November lalu, sejumlah negara di Asia tenggara dan selatan porak-poranda akibat bencana yang menerjang sejumlah wilayah di negara tersebut.

    Warga Sri Lanka, Indonesia and Thailand terendam banjir ketika Siklon Ditwah dan Senyar mengakibatkan hujan tak henti-henti selama berhari-hari.

    Jutaan orang terdampak. Lebih dari 1.500 orang kehilangan nyawa. Ratusan orang masih hilang. Kerugian materi pun mencapai jutaan dolar AS. Presiden Sri Lanka bahkan menyebut peristiwa ini sebagai bencana alam paling menantang yang pernah dialami negaranya.

    Ketika bencana seperti ini terjadi, kesalahan biasanya dilemparkan pada sistem peringatan dini yang gagal atau kesiapsiagaan yang buruk. Hal ini juga terjadi ketika banjir besar melanda Kerala, India bagian selatan (kampung halaman saya), pada 2018.

    Namun kali ini, prakiraan cuaca sebenarnya cukup akurat. Otoritas mengetahui badai akan datang. Namun, kerusakannya tetap luar biasa besar. Mengapa demikian?

    Selain karena faktor kesiapan dan kondisi masing-masing negara, ada beberapa faktor yang memengaruhi terjadinya bencana besar ini.

    Angin lemah, tapi hujan ekstrem
    Salah satu penjelasan yang banyak muncul adalah badai-badai ini sebenarnya tidak berbahaya karena kekuatan anginnya. Justru kerusakan terjadi karena curah hujan yang sangat intens dan tidak biasa yang dibawanya.

    Dalam kasus Siklon Ditwah di Sri Lanka misalnya, kecepatan angin puncaknya sekitar 75 km/jam. Itu memang kencang, tetapi bukan sesuatu yang luar biasa. Sebagai perbandingan, di Inggris, kekuatan seperti itu bahkan hanya dikategorikan sebagai gale (angin kencang), bukan badai.

    Baca: Mengapa siklon langka melanda kawasan tropis

    Kekuatan siklon ini juga lebih lemah dibandingkan siklon dahsyat pada 1978 dengan kecepatan angin 220 km/jam yang juga menghantam Sri Lanka. Namun, Ditwah menimbulkan kerusakan lebih masif.

    Apa yang menjelaskan situasi ini? Masih terlalu dini untuk menyimpulkannya. Namun, perubahan iklim menjadi bagian penting dari cerita ini. Ketika angin badai tidak terlalu kencang, mengapa jumlah uap air yang dibawanya tetap sangat besar?

    Atmosfer yang hangat menampung lebih banyak uap air. Dalam ilmu meteorologi, setiap kenaikan suhu global 1ºC, atmosfer bakal menampung sekitar 7 persen lebih banyak uap air. Saat Bumi menghangat, udara pun menguap lebih banyak dan siap menjatuhkan lebih banyak air.

    Ketika badai terbentuk, mereka akan menyedot persediaan uap air ekstra ini, dan akhirnya menghasilkan hujan ekstrem dalam waktu yang sangat singkat. Jadi, meski anginnya hanya sedang, curah hujan deras yang dibawanya sudah bisa menyebabkan bencana.

    Lautan memainkan peran besar
    Laut yang semakin hangat punya pengaruh kuat, karena siklon mendapat energi dari perairan hangat.

    Data satelit pada akhir November menunjukkan betapa panasnya Samudra Hindia bagian timur, dengan area luas yang suhunya lebih dari 1°C di atas normal saat siklon Ditwah dan Senyar terbentuk.

    Kondisi anomali panas seperti ini kini tidak lagi langka. Lautan sudah menyerap lebih dari 90 persen panas yang terperangkap oleh gas rumah kaca, dan pengamatan jangka panjang menunjukkan tren kenaikan suhu laut yang jelas.

    Pemanasan ini memang belum tentu menyebabkan siklon yang lebih sering. Pembentukan badai tetap bergantung pada arah dan kecepatan angin serta struktur atmosfer yang mendukung.

    Baca: Perubahan iklim membuat siklon tropis makin tak terduga

    Meski begitu, lautan yang lebih hangat menentukan seberapa besar energi untuk membentuk badai. Ketika laut memanas, siklon memiliki bahan bakar lebih banyak sehingga penguapan meningkat. Alhasil, atmosfer yang terisi lebih banyak uap air bisa turun sebagai hujan ekstrem.

    Jadi, siklon yang “lemah” sekalipun bisa membawa curah hujan yang luar biasa.

    Angin permukaan turut mempercepat proses ini. Saat bergerak melintasi lautan, angin di atas permukaan air menyapu udara yang jenuh uap air lalu menggantinya dengan udara yang lebih kering. Ini memungkinkan penguapan terus berlanjut.

    Kombinasi lautan hangat, evaporasi tinggi, dan atmosfer yang berisi lebih banyak uap air membuat potensi hujan dalam siklon meningkat drastis.

    Kondisi garis pantai memperburuk banjir
    Faktor geografis lokal ikut memperparah dampak. Ditwah dan Senyar terbentuk sangat dekat dengan daratan dan bergerak mengikuti garis pantai dalam waktu cukup lama.

    Hal ini membuat mereka tetap berada di atas perairan hangat cukup lama untuk terus menyerap uap air, tapi juga cukup dekat dengan daratan untuk segera menumpahkan hujan ekstrem dalam waktu singkat.

    Siklon Ditwah, khususnya, bergerak lambat saat mendekati Sri Lanka. Badai yang bergerak lambat bisa sangat berbahaya karena terus-menerus mengguyur area yang sama dengan hujan lebat.

    Baca: Bencana alam makin intens akibat perubahan iklim

    Dalam kasus ini, anginnya yang lemah, berkombinasi lautan hangat dan kedekatannya dengan pantai justru bisa menghasilkan dampak yang menghancurkan.

    Ancaman baru
    Kedua badai ini menunjukkan bahwa perubahan iklim—khususnya pemanasan laut—mengubah tingkat risiko yang ditimbulkan siklon. Badai yang paling berbahaya mungkin bukan lagi yang anginnya paling kencang, tetapi yang paling lembap.

    Sistem prakiraan cuaca, termasuk pemodelan berbasis AI, memang semakin baik dalam memprediksi jalur dan kecepatan angin siklon. Namun, banjir akibat hujan ekstrem jauh lebih sulit diprediksi.

    Seiring lautan yang menghangat, pemerintah dan lembaga penanggulangan bencana perlu bersiap menghadapi badai yang mungkin lemah dari segi angin tetapi ekstrem dari sisi curah hujan.

    Kajian ini masih berdasarkan analisis awal dan pemahaman ilmiah yang tengah berkembang. Studi ilmiah yang lebih mendalam dan telah di-review tentunya dibutuhkan untuk memastikan penyebab spesifik mengapa Ditwah dan Senyar menghasilkan hujan begitu ekstrem.

    Namun, pola yang kini muncul—siklon lemah yang berujung banjir besar di dunia yang semakin hangat—tidak boleh dianggap enteng.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Ligin Joseph (PhD Candidate, Oceanography, University of Southampton)

  • Indonesia Tak Lagi Bebas Siklon, Pemerintah Diminta Serius Bangun Sistem Manajemen Bencana

    Indonesia Tak Lagi Bebas Siklon, Pemerintah Diminta Serius Bangun Sistem Manajemen Bencana

    7cloud.asia – Dalam sidang kabinet di Istana Kepresidenan Senin, 15 Desember lalu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa Indonesia saat ini tengah dikepung tiga siklon tropis.

    Ketiga siklon ini berpotensi meningkatkan cuaca ekstrem dan risiko bencana hidrometeorologis seperti banjir bandang hingga tanah longsor.

    Pertama adalah Siklon Bakung yang berkembang di wilayah barat daya Lampung. Meski siklon ini sudah menjauhi wilayah Indonesia, sejumlah daerah tetap bisa merasakan dampaknya secara tidak langsung.

    Dua bibit siklon lainnya adalah bibit Siklon 93S di selatan Bali, Nusa Tenggara, dan Jawa Timur, serta bibit Siklon 95S yang baru muncul di selatan Papua.

    Keberadaan siklon dan bibit siklon tersebut diperkirakan bakal meningkatkan potensi hujan lebat serta gelombang tinggi di perairan sekitar wilayah Indonesia.

    Teuku menyebut, risiko cuaca ekstrem juga kian meningkat karena perairan Indonesia lebih hangat dari biasanya. Adapun laut yang hangat berisiko memicu badai, karena siklon mendapatkan energi dari perairan hangat.

    “Indonesia menjadi semacam steam engine atau tungku di mana terbentuk awan tinggi dan juga pertumbuhan siklon-siklon tropis,” ujar Teuku Faisal saat melaporkan kondisi cuaca terkini kepada Prabowo.

    BMKG memprediksi puncak musim hujan di wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara akan terjadi pada Januari, sementara Sumatera bagian utara dan tengah telah memasuki puncak musim hujan sejak November hingga Desember.

    Baca: Perubahan iklim membuat siklon lemah bisa memicu banjir mematikan

    Indonesia tidak lagi bebas badai tropis.
    Siklon memang jarang terbentuk dekat garis khatulistiwa, termasuk wilayah Indonesia. Sebab, kekuatan Coriolis atau gaya semu akibat rotasi bumi yang diperlukan untuk memutar badai, terlalu lemah di khatulistiwa. Tanpa putaran itu, badai sulit terbentuk menjadi siklon.

    Tapi November lalu, siklon Senyar muncul di utara khatulistiwa dan memicu terjadinya banjir besar yang mematikan di wilayah Sumatra.

    Para ahli memperkirakan laut yang menghangat berkontribusi menjadi ‘bahan bakar’ terbentuknya badai, sehingga siklon yang lemah sekalipun bisa membawa curah hujan yang tinggi.

    Pakar cuaca dan iklim ekstrem di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menyebutkan bahwa sejak beberapa tahun belakangan, Indonesia tak lagi bebas dari badai tropis.

    “Sejak ada (siklon) Seroja, saya sudah konsisten mengatakan di mana-mana bahwa Indonesia sudah tak lagi ‘free’ dari badai tropis,” ujar dia dalam Webinar Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN pada Selasa, 9 Desember 2025.

    Menurut Erma, lembaganya sudah mengembangkan aplikasi berbasis web, Kamajaya dan Sadewa, untuk memantau potensi siklon tropis di Indonesia.

    Alat ini terbukti bisa memprediksi Siklon Seroja di Nusa Tenggara Timur pada 2021 ataupun sebelum Siklon Senyar di Sumatra pada November lalu.

    Baca: Mengapa siklon langka melanda kawasan tropis

    Pusat prakiraan cuaca global European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF), ujar dia, juga sudah memprediksi (90-100 persen) Senyar akan mendarat di Sumatera.

    Prakiraan cuaca ini semestinya menjadi dasar bagi pemerintah pusat dan daerah untuk mengambil langkah mitigasi guna meminimalisir dampak.

    “Early warning system sangat menentukan. Perlu mitigasi untuk menekan dampak katastropik, kalau penanganan ya sudah tidak bisa lagi,” tuturnya.

    Menurut Erma, Indonesia membutuhkan komite atau tim koordinasi khusus untuk merespons cuaca ekstrem dengan cepat dan tepat.

    “Kita butuh semacam komite atau apa pun bentuknya, yang menggabungkan berbagai pakar supaya kita bisa merespons cepat,” ujarnya.

    Pada kesempatan yang sama, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN, Yanu Endar Prasetyo menyayangkan bahwa bangsa ini tidak pernah belajar dari siklon sebelumnya untuk melakukan langkah mitigasi yang lebih baik.

    Di samping itu, tambahnya, pemerintah selaku otoritas pembuat kebijakan juga tidak mendengarkan rekomendasi ilmuwan. “Kebijakan-kebijakan kita tidak berbasis hasil riset,” ujar dia.

    Baca: Perubahan iklim membuat siklon tropis makin tak terduga

    Tak ayal, lebih dari seribu jiwa melayang saat banjir Sumatera karena pemerintah gagal mengantisipasi bencana yang dipicu siklon Senyar.

    Yanu juga menyoroti arah kebijakan yang fokus menggenjot ekonomi ekstraktif tanpa memerhatikan kelestarian lingkungan.

    “Panglima pembangunan kita ekonomi, bukan ekologi, seharusnya keduanya berjalan seimbang,” tuturnya.

    Dengan sistem yang lumpuh, ketahanan masyarakat adalah harapan yang tersisa.

    Namun, ujar Yanu, sebagian masyarakat Indonesia juga cenderung ‘fatalis’ alias menganggap bencana itu takdir yang tidak bisa dihindari. Akibatnya, masyarakat juga tidak bersiap, meski lembaga seperti BMKG sebenarnya sudah memberikan peringatan.

    Oleh karena itu, menurut Yanu, komunikasi bencana perlu diperbaiki. Salah satunya dengan mengombinasikan antara pendekatan modern dan tradisional.

    Kanal-kanal tradisional yang lebih dekat dengan masyarakat, seperti pengurus masjid atau gereja, misalnya perlu dilatih dan diaktifkan untuk memberikan peringatan dini sebelum terjadi bencana.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Dewi N. Piliang, (Environment Editor The Conversation)

  • BMKG Peringatkan Potensi Siklon Tropis Bavi di Indonesia Bagian Timur

    BMKG Peringatkan Potensi Siklon Tropis Bavi di Indonesia Bagian Timur

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat di wilayah Indonesia bagian timur untuk mewaspadai potensi dampak cuaca ekstrem berupa angin kencang dan gelombang laut tinggi yang dipicu aktivitas Siklon Tropis Bavi.

    Pelaksana tugas (Plt) Deputi Meteorologi BMKG, Andri Ramadhani mengatakan bahwa siklon tersebut membawa dampak tidak langsung berupa angin kencang dan lonjakan gelombang laut tinggi dalam 24 jam ke depan.

    “Siklon Tropis Bavi berkembang dari Bibit Siklon Tropis 95W yang mencapai intensitas siklon tropis sejak 2 Juli 2026, dan telah memasuki wilayah monitoring TCWC Jakarta pada 7 Juli kemarin,” katanya, seperti dikutip Antaranews.com, Rabu (8/7/2026)

    Andri memaparkan bahwa posisi pusat pusaran badai tersebut terdeteksi berada di Laut Filipina, tepatnya di sebelah utara Pulau Papua, dengan arah pergerakan konstan menuju ke barat.

    Baca: Perubahan Iklim Memicu Siklon Tropis di Khatulistiwa

    Adapun berdasarkan hasil analisis pemodelan cuaca BMKG diketahui kecepatan angin maksimum di sekitar pusat sistem dalam 24 jam ke depan diprakirakan persisten dan intensitasnya berada pada kategori empat.

    Kondisi tersebut, menurut dia, memicu potensi angin kencang secara tidak langsung di daratan empat provinsi, meliputi wilayah Sulawesi Utara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, dan Papua Barat setidaknya hingga Rabu (8/7/2026) malam.

    Selain angin kencang, BMKG juga memberikan peringatan dini gelombang tinggi kategori sedang berukuran 1,25 hingga 2,5 meter di perairan Laut Maluku, Samudra Pasifik utara Papua, serta Kepulauan Sangihe hingga Kepulauan Talaud.

    Sementara itu, gelombang laut yang lebih berisiko dengan kategori tinggi berkisar 2,5 hingga 4,0 meter diproyeksikan berpeluang terjadi di sepanjang kawasan Samudra Pasifik utara Maluku hingga utara Papua Barat.

    Baca: Indonesia Tak Lagi Bebas Siklon, Pemerintah Diminta Serius Bangun Sistem Manajemen Bencana