Tag: sinkhole

  • ‘Sinkhole’ Fenomena Alam yang Jamak Terjadi dan Bisa Membesar Hingga Jadi Danau

    ‘Sinkhole’ Fenomena Alam yang Jamak Terjadi dan Bisa Membesar Hingga Jadi Danau

    7cloud.asia – Awal 2026, masyarakat Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat dikejutkan dengan fenomena tanah yang tiba-tiba amblas (sinkhole) di tengah hamparan sawah sekitar lereng Gunung Sago.

    Pada mulanya, lubang itu hanya berdiameter kecil. Namun seiring waktu, ukurannya terus melebar dan semakin dalam—hingga mencapai lebar sekitar 7 meter dengan kedalaman 5 meter di bawah permukaan tanah.

    Air yang menggenang dari dasar lubang sinkhole pun perlahan naik ke permukaan tanah setelah seminggu.

    Sinkhole umumnya terjadi di wilayah karst atau bukit berkapur akibat adanya pelarutan kapur secara alami atau karena hujan asam. Namun, dalam kasus di Sumatra Barat tersebut, sinkhole terjadi di sekitar gunung berapi atau vulkanis.

    Mengapa sinkhole bisa terjadi di kawasan vulkanis?
    Di daerah vulkanis, sinkhole bisa terbentuk akibat pengikisan material tanah di bawah permukaan oleh aliran air dari dalam.

    Tanah vulkanis berasal dari material letusan gunung api (abu, tuf, breksi) yang berpori dan rapuh, sehingga air hujan mudah meresap dan mengalir ke dalam tanah.

    Air tersebut lantas menggerus dan membawa butiran tanah halus sedikit demi sedikit. Proses ini disebut piping, yang membentuk rongga kosong nan tersembunyi di bawah tanah dan terus membesar dari waktu ke waktu.

    Tanda awalnya, muncul retakan halus hingga penurunan sedikit demi sedikit muka tanah. Seiring berkurangnya daya dukung lapisan bawah, lama kelamaan bagian atas rongga semakin menipis.

    Baca: Mengenal fenomena titik balik matahari

    Saat lapisan atas sudah tidak lagi mampu menahan beban tanah dan air di atasnya, tanah runtuh mendadak, membentuk lubang besar. Hal ini sering terjadi setelah hujan deras yang berlangsung lama.

    Sinkhole di Sumbar
    Kejadian sinkhole di sekitar lereng Gunung Sago tidak bisa dianggap sepele. Wilayah ini memiliki kombinasi “sempurna” untuk memicu runtuhan tanah:

    Faktor itu adalah curah hujan tinggi, bentang alam perbukitan curam, serta kondisi geologi yang rapuh karena kombinasi batuan karst dan vulkanis yang luas.

    Jika air hujan terus masuk ke dalam lubang, rongga semakin melebar. Akibatnya, tepi sinkhole bisa runtuh perlahan dan lubang semakin melebar dari tahun ke tahun.

    Dalam kondisi tertentu, jika sinkhole sudah cukup besar dan bagian dasarnya tertutup lapisan kedap air, maka air hujan tidak bisa lagi meresap ke bawah dan akan tertahan di dalam lubang.

    Lama-kelamaan, genangan ini bisa berkembang menjadi danau alami yang disebut danau dolina. Di berbagai negara seperti China dan kawasan Balkan, banyak danau yang muasalnya terbentuk dari sinkhole.

    Ukuran sinkhole sangat bervariasi—tergantung jenis batuan, sistem air bawah tanah, serta sejarah bentang alam suatu wilayah.

    Sinkhole terbesar ditemukan di Cina (lebar 500 meter dan kedalaman 600 meter), Chili (25 dan 200 meter), Venezuela (352 dan 354 m), dan Bali (30 dan 50 meter).

    Baca: Mengenal fenomena gerhana bulan “blood moon”

    Sinkhole sejatinya merupakan proses geologi yang wajar dalam perkembangan bentang alam. Namun, ketika terjadi di dekat permukiman manusia, sinkhole menjadi ancaman serius karena bisa merusak lahan pertanian, kebun, dan infrastruktur.

    Selain kerusakan di permukaan, sinkhole juga mengganggu sistem air tanah. Aliran sungai bawah tanah bisa berubah arah dan menyebabkan sumur warga tiba-tiba mengering atau malah meluap saat musim hujan.

    Air sinkhole tidak aman dikonsumsi
    Sejak kemunculan sinkhole, warga Situjuah Batua berbondong-bondong mengambil airnya, karena bersih dan muncul rumor bahwa airnya berkhasiat.

    Secara kasat mata, air di sinkhole memang tampak jernih. Namun kejernihan ini sebenarnya menipu. Hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut.

    Sinkhole ibarat corong raksasa yang menghubungkan permukaan tanah langsung ke sistem air tanah.

    Semua yang ada di permukaan bisa masuk tanpa penyaringan, termasuk limbah rumah tangga, nitrat, kalsium dan magnesium yang tinggi, kotoran ternak, residu pupuk, hingga logam berat dari pestisida.

    Berbeda dengan akuifer biasa yang terlindungi lapisan tanah tebal, sistem karst bersifat terbuka. Setelah hujan lebat, air bisa langsung keruh dan membawa bakteri seperti E. coli.

    Baca: Mengenal fenomena bulan “Hunter Moon”

    Penulis juga pernah mengalami gangguan kesehatan setelah meminum air yang bersumber dari daerah karst. Setelah 2-3 bulan, pemeriksaan laboratorium mendapati adanya microcrystalline calcium atau kristal mineral di ginjal penulis.

    Ini disebabkan air dari akuifer karst mengandung mineral yang cukup tinggi sehingga berpotensi memengaruhi kesehatan ginjal jika dikonsumsi.

    Air yang ada di sinkhole Nagari Situjuah Batua mempunyai risiko yang sama walaupun bukan berasal dari karst. Air sinkhole kemungkinan besar terkontaminasi dengan berbagai aktivitas pertanian.

    Inilah sebabnya air dari sinkhole sebaiknya tidak diminum langsung tanpa pengolahan. Konsumsi jangka panjang tanpa pengolahan bisa berdampak pada gangguan pencernaan, risiko batu ginjal, hingga merusak gigi.

    Deteksi sinkhole
    Sinkhole sebenarnya bisa kita deteksi lebih awal, meskipun tidak selalu mudah dan membutuhkan kombinasi pengamatan lapangan serta teknologi geofisika.

    Tanda-tanda sederhananya adalah muncul retakan kecil di tanah dan dinding rumah, halaman turun perlahan, condongnya pohon, hingga mengeringnya sumur secara tiba-tiba.

    Di sinilah peranan ilmu pengetahuan sebagai alat pembaca tanda-tanda tersebut. Dengan teknologi seperti radar tembus tanah, metode geolistrik, dan pemetaan geologi, para peneliti bisa “mengintip” perut bumi tanpa harus menggalinya. Data hujan dan dinamika air tanah bisa melengkapi analisis.

    Kita memang tidak bisa meramalkan kapan waktu pasti runtuhnya tanah, tetapi mengenali tanda-tandanya bisa memperkecil risiko. Sebab, mitigasi sejati bukan menunggu bencana datang, melainkan belajar memahami isyarat alam sebelum ia berbicara lebih keras.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Dian Fiantis (Professor of Soil Science, Universitas Andalas Padang)

  • Lubang Besar di Aceh Tengah Bukan Sinkhole, Peneliti BRIN Menyebut sebagai Ngarai

    Lubang Besar di Aceh Tengah Bukan Sinkhole, Peneliti BRIN Menyebut sebagai Ngarai

    7cloud.asia – Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari mengatakan, lubang besar yang terus meluas di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah bukanlah fenomena sinkhole seperti yang dipersepsikan publik.

    Menurut Adrin, secara geologi kawasan tersebut tidak tersusun oleh batu gamping yang lazim menjadi penyebab sinkhole, melainkan oleh endapan piroklastik aliran yang berupa material tufa hasil aktivitas gunung api Geurendong yang sudah tidak aktif saat ini.

    Material ini tergolong muda secara geologis dan belum mengalami pemadatan sempurna, sehingga sifatnya rapuh dan mudah runtuh.

    “Yang terjadi di Aceh Tengah itu sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole. Lapisan tufanya tidak padat dan kekuatannya rendah, sehingga mudah sekali tergerus dan runtuh,” jelas Adrin dilansir di laman resmi BRIN, beberapa waktu lalu.

    Ia menambahkan, jika dilihat dari citra satelit Google Earth sejak 2010, kawasan tersebut sebenarnya telah menunjukkan adanya lembah atau ngarai kecil.

    Seiring waktu, proses erosi dan longsoran terus berlangsung sehingga lembah itu semakin melebar dan memanjang hingga membentuk lubang besar yang terlihat saat ini. Saat ini, luas ngarai telah mencapai 3 hektare atau 30.000 meter persegi

    Baca: Mengenal fenomena ‘Sinkhole’ yang jamak terjadi 

    Andri memperkirakan gempa bumi turut mempercepat proses tersebut. Menurutnya, gempa berkekuatan 6,2 magnitudo yang terjadi di Aceh Tengah pada 2013 memperlemah struktur lereng sehingga memicu ketidakstabilan yang semakin besar.

    Selain faktor geologi dan gempa, hujan lebat menjadi pemicu utama. Batuan tufa yang rapuh mudah jenuh oleh air, sehingga kehilangan daya ikat dan akhirnya runtuh. Kemiringan lereng yang curam akibat proses longsoran sebelumnya juga memperparah kondisi.

    Adrin menjelaskan bahwa air permukaan dari saluran irigasi perkebunan turut berkontribusi terhadap percepatan longsor. Air yang mengalir deras dan meresap ke dalam tanah meningkatkan kelembaban lapisan tufa, sehingga memperbesar risiko runtuhan.

    “Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil,” ujarnya.

    Andri juga mengemukakan hipotesis adanya aliran air tanah di batas antara lapisan aliran lahar di dasar tebing yang lebih padat dan batu tufa di atasnya yang rapuh.

    Penggerusan di bagian kaki lereng oleh air tanah dapat menyebabkan bagian atas tebing kehilangan penyangga dan runtuh secara bertahap.

    Baca: Fenomena hujan jelly kejutkan warga Gorontalo Utara 

    Fenomena ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan merupakan proses yang berlangsung puluhan hingga ratusan tahun. Gempa dan hujan hanya berperan mempercepat proses alami pembentukan lembah atau ngarai tersebut.

    Adrin menyebut bahwa kondisi serupa dapat ditemukan di wilayah lain yang memiliki karakter geologi batuan gunung api muda.

    Ia mencontohkan Ngarai Sianok di Sumatera Barat yang terbentuk melalui proses geologi panjang terkait dengan aktivitas tektonik Sesar Besar Sumatera dengan karakter batuan serupa.

    Untuk kasus ini, menurut Adrin, BRIN belum melakukan penelitian lapangan secara langsung di lokasi tersebut namun pihaknya telah melakukan analisis dari data citra.

    “Kami masih sebatas menganalisis berdasarkan data citra dan informasi publik. Untuk memastikan penyebab secara detail diperlukan penelitian komprehensif,” jelasnya.

    Baca: Melawan penggurunan dengan pertanian biogeneratif

    Menurutnya, penelitian lanjutan dapat dilakukan menggunakan metode geofisika seperti survei geolistrik, seismik refleksi, maupun microtremor untuk mengetahui struktur bawah permukaan, potensi rekahan, serta faktor yang membuat lereng mudah longsor.

    Adrin juga menekankan pentingnya mitigasi, terutama pengendalian air permukaan agar tidak meresap ke dalam tanah, penetapan zona bahaya, serta pemasangan sistem peringatan dini longsor.

    Ia mengingatkan masyarakat untuk waspada terhadap tanda-tanda awal seperti munculnya retakan tanah atau amblesan kecil.

    Ditambahkannya, peta kerentanan gerakan tanah sebenarnya sudah ada, tetapi perlu diperbarui setelah kejadian ini agar lebih akurat dan operasional.

    “Yang terpenting sekarang adalah memahami prosesnya dan segera melakukan langkah mitigasi agar risiko korban jiwa dapat dihindari,” pungkasnya.