Tag: slow fashion

  • Apakah Slow Fashion Jadi Solusi Dampak Lingkungan Fast Fashion?

    Apakah Slow Fashion Jadi Solusi Dampak Lingkungan Fast Fashion?

    7cloud.asia – Dalam tulisan sebelumnya kita sudah mengulas tentang dampak fast fashion bagi lingkungan.

    Mungkin banyak dari kita yang bertanya-tanya apakah ada solusi atau alternatif dari fast fashion? Apakah slow fashion yang menjaid kebalikan dari fast fashion bisa menjadi solusi?

    Slow fashion adalah reaksi luas terhadap fast fashion dan dampak lingkungannya. Slow fashin berargumen untuk menghentikan produksi yang berlebihan, rantai pasokan yang terlalu rumit, dan konsumsi yang tidak masuk akal.

    Baca: Mengurai dampak fast fashion pada lingkungan

    Berbeda dengan fast fashion, slow fashion menganjurkan industri fashion untuk lebih menghormati manusia, lingkungan dan binatang.

    World Resources Institute menyarankan agar perusahaan perlu merancang, menguji, dan berinvestasi dalam model bisnis yang menggunakan kembali pakaian dan memaksimalkan masa manfaatnya.

    PBB telah meluncurkan Alliance for Sustainable Fashion untuk mengatasi kerusakan yang disebabkan oleh fast fashion.

    Baca: Mengapa gaya hidup minimlais lebih ramah lingkungan

    Aliansi ini berusaha untuk ‘menghentikan praktik mode atau fast fashion yang merusak lingkungan dan sosial ekonomi masyarakat’.

    Salah satu cara pembeli mengurangi konsumsi fast fashion adalah dengan membeli dari penjual barang bekas seperti ThredUp Inc. dan Poshmark, keduanya berbasis di California, AS.

    Dalam sistem ini, pembeli mengirimkan pakaian yang tidak diinginkan ke situs web ini dan orang-orang membeli pakaian tersebut dengan harga lebih murah dari aslinya.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif pada lingkungan

    Solusi lain adalah menyewa pakaian, seperti Rent the Runway dan Gwynnie Bee yang berbasis di AS, Girl Meets Dress yang berbasis di Inggris, dan perusahaan Belanda Mud Jeans yang menyewakan jeans organik yang dapat disimpan, ditukar, atau dikembalikan.

    Pengecer lain seperti Adidas sedang bereksperimen dengan perlengkapan yang dipersonalisasi untuk mengurangi pengembalian, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan mengurangi inventaris.

    Ralph Lauren telah mengumumkan akan menggunakan 100% bahan utama yang berkelanjutan pada tahun 2025.

    Baca: Nicholas Saputra ajak warga kota ubah gaya hidup demi lingkungan

    Pengambil kebijakan di dunia perlu lebih aktif terlibat dalam efek merusak industri fast fashion.

    Menteri Inggris menolak laporan anggota parlemen untuk mengatasi dampak lingkungan dari fast fashion.

    Di sisi lain, Presiden Prancis, Emmanuel Macron telah membuat perjanjian dengan 150 merek untuk membuat industri fesyen lebih berkelanjutan.

    Baca: 17 cara jalani gaya hidup ramah lingkungan

    Nasihat terbaik untuk mengurangi dampak lingkungan dari fast fashion datang dari Patsy Perry, dosen senior pemasaran mode di University of Manchester, yang mengatakan, “Sedikit selalu lebih baik.”

    Jadi mulai sekarang, secara bertahap mulailah mengonsumsi dengan lebih bijak dan tinggalkan fast fashion demi kehidupan di Bumi yang lebih baik. 

    Sumber: earth.org

     

     

  • Cerita Slow Fashion: Saya Memperpanjang Umur Dua Jumper Hanya dalam Beberapa Jam

    Cerita Slow Fashion: Saya Memperpanjang Umur Dua Jumper Hanya dalam Beberapa Jam

    ruangkotacom – Slow fashion belakangan sering didengungkan untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan fast fashion pada lingkungan

    Inti dari slow fashion adalah memperpanjang penggunaan pakaian selama mungkin, guna mengurangi limbah yang mencemari lingkungan

    Masuk dalam slow fashion adalah memperbaiki dan mendaurulang pakaian yang rusak dan tidak bisa lagi dipakai.

    Dan itulah yang dilakukan Emma Beddington salah seorang penulis dari The Guardian. Berikut kisah Emma saat menerapkan slow fashion dengan mendaur ulang jumpersnya.

    Baca: Demi lingkungan mereka mengurangi frekuensi mencuci

    Saya punya cukup banyak jumper, tapi sepertinya terlalu ketat. Rajutan kelas atas tidak dikenal karena kekokohannya dan ada juga pencuri kesenangan yang nyaman: ngengat pakaian.

    Inventarisasi menunjukkan tujuh jumpers wol saya berlubang; satu jumper hitam bisa dibilang saringan dan rajutan Uniqlo bergaris favorit saya lebih banyak lubangnya daripada selongsongnya.

    Saya sangat ingin memperbaikinya dan yang lain butuh sedikit sentuhan  agar tetap dapat dipakai. Apa yang bisa saya lakukan?

    Syukurlah, saya berhasil menemukan cara yang tepat pada saat yang tepat: gerakan perbaikan sangat besar dari kerusakan yang saya temukan.

    Beberapa perbaikan, tampak seperti karya seni dan kerajinan yang diproduksi  seniman tekstil seperti Celia Pym dan Hikaru Noguchi. Bagaimana keduanya mengeksplorasi keindahan perbaikan dalam karya mereka, dan kemudian menceritakan kisah-kisah tentang hubungan kita dengan pakaian.

    Baca: Mengapa slow fashion ada

    Untuk pemula, bisa mengikuti video petunjuk yang bermanfaat; ada juga kit, workshop dan tutorial Zoom.

    Saya lalu berkonsultasi dan meminta saran Jane Mercer, seorang seniman tekstil yang menjadi sukarelawan di kafe Groves Repair and Share di York, untuk menunjukkan kepada saya bagaimana caranya.

    Kami mulai dengan sederhana, pada praktik kain persegi, saat Mercer menjelaskan cara membuat kisi-kisi benang secara bertahap melintasi lubang dengan jarum permadani dan wol.

    Saya tidak punya keahlian menjahit dan jarang memamsang kancing.Tapi ini mudah dimengerti, ditambah teknik perbaikan yang terlihat dengan menggunakan warna-warna kontras membuatnya lebih mudah untuk melihat apa yang sedang dilakukan.

    Meski hasilnya miring, tapi saya berhasil menyelesaikan jumper pertama saya.

    Didukung oleh kesuksesan ini, saya membeli benang wol biru pucat untuk mengatasi lubang sederhana pada jumper abu-abu kesayangan saya.

    Baca: Mengurai dampak fast fashion bagi lingkungan

    Saya butuh waktu berjam-jam; Saya membongkar pekerjaan saya berkali-kali dan merasa frustrasi dengan ketidakmampuan saya, namun hasil akhirnya jelas dapat dipakai.

    Sebelum menangani lengan Uniqlo saya – perbaikan Everest bagi pemula – saya meminta saran dari desainer pakaian rajut dan pakar perbaikan nyata Flora Collingwood-Norris.

    Menurutnya, lubang besar seharusnya bisa digunakan dan saya tidak perlu terintimidasi oleh skalanya:

    “Tidak ada perbedaan mendasar mengenai lubang besar. Mereka hanya terlihat lebih menakutkan dan memakan waktu lebih lama.”

    Namun, yang benar-benar membuat saya kehilangan rasa takut adalah ketika dia berkata: “Segera setelah masalah ini terlihat membaik, tidak ada aturan apa pun yang harus Anda patuhi. Dengan membuatnya terlihat, Anda memberi tahu orang-orang bahwa Anda memutuskan bahwa itu akan terlihat seperti itu, jadi yang harus Anda lakukan hanyalah memakainya dengan niat.”

    Saran itu membebaskan saya, dan saya berhasil mengurangi  sampah. Butuh tiga sesi, wol merah yang saya pilih sangat tidak kooperatif, tetapi semua itu berakhir dengan sesuatu yang tidak membuat saya malu.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif pada lingkungan

    Perbaikan saya adalah apa yang disebut Collingwood-Norris sebagai “lukisan impresionis” (OK, dari jarak jauh dan jarak dekat yang kacau) tetapi siapa selain saya yang akan mengetahuinya?

    Saya telah berhasil memperpanjang umur dua jumper saya hanya dalam beberapa jam dan merasakan kemungkinan yang nyata: Saya bisa melakukan ini dan saya akan melakukannya lagi.

    Sumber: The Guardian ditulis Emma Beddington,

  • Slow fashion: Tampil Gaya Tetapi Tetap Ramah Lingkungan

    Slow fashion: Tampil Gaya Tetapi Tetap Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Mengikuti tren fesyen kini makin mudah dengan kehadiran platform daring: sekali klik, pakaian baru masuk keranjang dan bisa langsung check out.

    Ada tren baru di dunia fesyen dengan diskon mantap? Tinggal beli lagi. Tanpa disadari, pakaian pun menumpuk di lemari, padahal jarang dipakai.

    Fast fashion, berkembang pesat lewat pengaruh media sosial dan influencer, membuat pakaian trendy dengan harga murah kian menjamur dan menarik minat masyarakat untuk berbelanja, tampil gaya, dan selalu mengikuti mode terbaru.

    Namun, kebiasaan ini membuat banyak anak muda terjebak dalam siklus pembelian impulsif yang tak hanya boros, tetapi juga menyumbang emisi dan permasalahan lingkungan.

    Fenomena ini memunculkan gerakan slow fashion yang mengajak kita lebih sadar, selektif, dan bertanggung jawab dalam belanja fesyen.

    Dari mana asal-muasal emisi pakaian? Emisi pakaian berasal dari proses produksi dan juga limbah setelah pakaian dikonsumsi.

    Proses produksi pakaian seperti pewarnaan dan pemintalan kain butuh energi besar dan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang besar pula.

    Produksi 1 kilogram kain, misalnya, bisa menghasilkan antara 20-23 kg gas rumah kaca. Setelah pakaian digunakan, masalah masih berlanjut.

    Baca: Industri fast fashion menuju ramah lingkungan

    Sekitar 73 persen tekstil berujung sebagai limbah, dan hanya kurang dari 1 persen yang didaur ulang.

    Pembakaran pakaian bekas melepaskan zat kimia berbahaya dan mikroplastik ke udara, menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca dan memperburuk kualitas lingkungan.

    Secara global, industri fesyen menyumbang 92 juta ton sampah pakaian yang menumpuk di tempat pembuangan akhir setiap tahunnya.

    Di Indonesia, limbah tekstil diperkirakan mencapai 2,3 juta ton per tahun, dan diprediksi akan naik hingga 70 persen jika tidak ada intervensi apapun.

    Slow fashion sebagai solusi
    Slow fashion mendorong konsumen agar lebih bijaksana dalam mengonsumsi pakaian dengan pergeseran pola pikir dari kuantitas ke kualitas, sehingga umur pakaian lebih panjang dan berkualitas tinggi. Dengan begitu, konsumen tidak perlu sering-sering membeli pakaian.

    Di ranah etis, gerakan ini menantang industri fast fashion yang sering kali mengabaikan permasalahan tenaga kerja, seperti peristiwa runtuhnya Rana Plaza yang menewaskan ribuan pekerja garmen di Bangladesh pada 2013 lalu.

    Slow fashion fokus pada penghormatan dan pemberian kompensasi yang adil. Komoditas produksinya juga dimaksimalkan berbasis kerajinan produk yang dibuat oleh pekerja berketerampilan tinggi dan sumber lokal.

    Masalahnya, riset yang saya lakukan bersama tim menunjukkan ada banyak tantangan dan butuh kerja ekstra untuk membuat tren ini menjadi gaya hidup masyarakat.

    Baca: Industri fast fashion menjadi salah satu sumber emisi

    Berikut adalah beberapa tantangan sekaligus solusi untuk perkembangan slow fashion:

    1. Fesyen berkelanjutan masih mahal
    Dari sudut pandang konsumen, harga dan tren adalah daya tawar utama. Fast fashion menawarkan perkembangan pakaian terkini dengan harga terjangkau, sementara pakaian ramah lingkungan harganya cenderung lebih mahal.

    Misalnya, harga kaos berbahan 100% serat TENCEL™ Lyocell, yang mengklaim sebagai lini pakaian berkelanjutan adalah US$85,5 atau Rp1,2 juta.

    Sementara konsumen bisa membeli baju serupa dari ritel fast fashion dengan harga Rp200 ribu–Rp300 ribu.

    Rantai produksi mereka mungkin bisa menjelaskan mengapa pakaian tersebut wajar di banderol dengan harga tinggi.

    Namun, konsumen secara umum tidak melihat pentingnya sistem penghargaan ini–mereka hanya merogoh kocek dan menemukan isi kantong tidak cukup membelinya. Adapun konsumen generasi muda, meski lebih sadar lingkungan, daya beli mereka masih rendah.

    Urusan ‘kantong pembeli’ ini menjadi hambatan utama yang membatasi keberlanjutan dan perilaku pro lingkungan. Harga yang tinggi menjadikan fesyen berkelanjutan tidak inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

    Untuk itu, pelaku bisnis fesyen harus mencari keseimbangan antara ongkos produksi dan harga jual.

    Baca: Cerita tentang slow fashion

    2. Persaingan mode
    Data Tinkerlust Impact Report 2022 mengungkapkan bahwa sebanyak 63,46% orang Indonesia lebih suka membeli produk fast fashion karena kemudahan akses dan tampilannya yang fashionable.

    Sementara slow fashion menghadapi tantangan persepsi bahwa produknya kurang modis alias tidak trendy dan pilihannya juga terbatas.

    Untuk itu, industri slow fashion mungkin harus berusaha memastikan produk mereka tetap stylish agar menarik pelanggan terutama dari kalangan muda.

    3. Kesadaran publik
    Tantangan besar lainnya adalah masih minimnya kesadaran publik akan fesyen berkelanjutan. Ada pekerjaan rumah bersama mengedukasi konsumen untuk menahan pembelian pakaian baru dan melakukan usaha lebih untuk memperpanjang usia pemakaian pakaian.

    Riset kami menunjukkan, salah satu medium yang ampuh untuk mengedukasi masyarakat adalah media sosial, terutama Instagram.

    Menurut Digital Report 2023, 64,5 peren masyarakat Indonesia cenderung menggunakan media sosial untuk mencari informasi mengenai merek dan produk, dan #fashion merupakan hashtag Instagram yang paling banyak digunakan.

    Laporan yang sama menunjukkan bahwa, iklan Instagram berpotensi menjangkau 41,2 persen masyarakat Indonesia.

    Penulis bersama tim sudah mengkaji bagaimana informasi tentang slow fashion tersebar di Instagram, khususnya melalui dua akun berpengaruh, @setali.indonesia di Indonesia dan @klothcircularity di Malaysia, yang aktif mempromosikan fesyen berkelanjutan.

    Hasil studi menunjukkan bahwa konten edukatif mendominasi komunikasi slow fashion di Instagram, mencakup 53 persen dari total unggahan, diikuti oleh konten interaktif (41 persen) yang melibatkan diskusi dan partisipasi komunitas.

    Sementara itu, konten promosi langsung hanya 6 persen. Artinya, promosi slow fashion harus berfokus pada konten edukasi dan keterlibatan komunitas daripada sekadar iklan biasa.

    Masih pilih fast fashion?
    Ingat, tragedi Rana Plaza merenggut 1.100 nyawa pada 2013 silam karena perusahaan garmen mengabaikan peringatan kerusakan bangunan demi memproduksi fast fashion tanpa henti. Berbagai merek populer terlibat tragedi ini karena memilih memproduksi barangnya di sana demi ongkos murah.

    Belum lagi, dampak fast fashion terhadap pemanasan global dan biodiversitas laut yang tercemar mikroplastik. Lebih baik kita sama-sama belajar menahan nafsu, berhenti mengikuti tren fast fashion, dan mulai menabung untuk mendukung fesyen ramah lingkungan, yuk!

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Angga Ariestya (PhD Candidate at ICSJ Charles University | Lecturer, Universitas Multimedia Nusantara)