Tag: sriwijaya

  • Sejarah Panjang Palembang sebagai Kota Tertua di Indonesia

    Sejarah Panjang Palembang sebagai Kota Tertua di Indonesia

    7cloud.asia – Berdasarkan sejarahnya, kota Palembang yang saat ini menjadi ibu kota Provinsi Sumatera Selatan dan pernah jadi ibu kota Sriwijaya bisa dikatakan sebagai kota tertua di Indonesia.

    Berdasarkan perhitungan dari prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit, kota Palembang telah berumur setidaknya 1341 tahun.

    Menurut Prasasti Sriwijaya yang berangka tahun 16 Juni 682, saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang.

    Nama kota Palembang tak lepas dari kondisi topografinya yang dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh air, baik yang bersumber dari sungai maupun rawa, juga air hujan.

    Baca: Mengenal Salatiga, salah satu kota tertua di Indonesia

    Nama Palembang berasal dari gabungan kata Pa/Pe dan kata lembang/lembeng. Dalam bahasa Melayu, Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan.

    Sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air (menurut kamus melayu).

    Sedangkan kalau menurut bahasa Melayu-Palembang, lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang adalah suatu tempat yang digenangi oleh air.

    Kondisi alam ini bagi nenek moyang masyarakat Palembang menjadi modal mereka dalam menghidupkan kota.

    Baca: Perjalanan Jakarta, berawal dari Pangeran Jayakarta

    Air menjadi sarana transportasi yang sangat vital, ekonomis, efisien dan punya daya jangkau dan punya kecepatan yang tinggi.

    Selain kondisi alam, letak strategis kota Palembang yang berada dalam satu jaringan yang mampu mengendalikan lalu lintas antara tiga kesatuan wilayah.

    Yakni dataran tinggi Bukit Barisan di sisi barat, daerah kaki bukit atau piedmont dan pertemuan anak-anak sungai sewaktu memasuki dataran rendah dan daerah pesisir timur laut.

    Ketiga kesatuan wilayah ini merupakan faktor yang sangat mementukan dalam pembentukan pola kebudayaan dan peradaban masyarakat Palembang.

    Baca: Mengenal Kota Kupang, dari Lou Kopan yang diperebutkan Belanda dan Portugis

    Faktor setempat yang berupa jaringan dan komoditi dengan frekuensi tinggi sudah terbentuk lebih dulu dan berhasil mendorong warga setempat melahirkan kebudayaan tinggi di Sumatera Selatan.

    Faktor setempat inilah yang membuat Palembang menjadi ibukota Sriwijaya, yang merupakan kekuatan politik dan ekonomi di Asia pada waktu itu. Tak hanya menjadi ‘kiblat’ penganut Budha, Sriwijaya juga menjadi pusat perniagaan terkemuka. 

    George Coedes dalam buku “The Indianized States of Southeast Asia. trans.  ” menyebut, pada paruh kedua abad ke-9, Jawa dan Sumatra disatukan di bawah kekuasaan Sailendra yang memerintah di Jawa … pusatnya di Palembang.”[9]:92

    Sebagai ibu kota kerajaan Sriwijaya, kota tertua kedua di Asia Tenggara ini telah menjadi pusat perdagangan penting di Asia Tenggara maritim selama lebih dari satu millenium.

    Baca: Manado, kota di negeri jauh yang cantik

    Kerajaan Sriwijaya berkembang dan mengendalikan perdagangan internasional melalui Selat Malaka dari abad ke-7 hingga abad ke-13, mengukuhkan hegemoni atas negara-negara di Sumatra dan Semenanjung Malaya.

    Prasasti Sanskerta dan catatan perjalanan Tiongkok melaporkan bahwa kerajaan ini menjadi makmur karena menjadi perantara dalam perdagangan internasional antara Tiongkok dan India.

    Karena angin muson yang terjadi dua kali setahun, setelah sampai di Sriwijaya, para pedagang dari Tiongkok atau India harus tinggal di sana selama beberapa bulan menunggu perubahan arah angin, atau harus kembali ke Tiongkok atau India.

    Oleh karena itu, Sriwijaya tumbuh menjadi pusat perdagangan internasional terbesar, dan tidak hanya pasarnya, tetapi juga infrastruktur untuk para pedagang seperti penginapan dan hiburan juga dikembangkan.

    Baca: Mengenal uniknya tradisi Seba masyarakat adat Badui

    Saat itu Sriwijaya juga berfungsi sebagai sebuah pusat budaya di Asia Tenggara. Yijing, seorang pengelana Buddhis Tiongkok yang tinggal di Palembang dan Jambi pada tahun 671, mencatat bahwa terdapat lebih dari seribu biksu dan sarjana terpelajar.

    Mereka didukung oleh kerajaan untuk belajar agama di Palembang. Dia juga mencatat bahwa terdapat banyak “negara” di bawah kerajaan yang disebut Sriwijaya (Shili Foshi).

    Sebuah rupaka Buddha, ditemukan di situs arkeologi Bukit Seguntang, kini dipajang di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang.

    Setelah mengalami kejayaan di abad ke-7 dan 9, maka kurun abad ke-12 Sriwijaya perlahan mengalami penurunan. 

    Baca: Peran sumbu filosofi dalam penataan Kota Yogyakarta

    Sriwijaya turun selain karena persaingan dengan kerajaan di Jawa, juga dipicu pertempuran dengan kerajaan Cola dari India. Kejatuhan Sriwijaya tak terelakkan setelah bangkitnya bangkitnya kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.

    Kejayaan Sriwijaya diambil oleh Kesultanan Palembang Darusallam pada abad pertengahan atau tahun 1600an. Sriwijaya kemudian menjadi kesultanan Palembang yang disegani di kawasan Nusantara.

     

    Pamor kesultanan Palembang meredup karena kedatangan Kompeni ke Nusantara, hingga akhirnya Kesultanan Palembang dihapus oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1825.

    Pada awal abad 20, tepatnya tahun 1920-an, Palembang dikembangkan menjadi layaknya kota di Eropa di bawah bimbingan Thomas Karsten yang saat itu dikenal sebagai arsitek banyak kota di Hindia Belanda. 

    Baca: Metamorfosa Jakarta dengan penataan fasilitas transportasi publik

    Setelah Indonesia merdeka pada Agustus  1945, sejumlah pembangunan dilakukan di Palembang.

    Pada 1962 dibangun Jembatan Ampera yang membentang di atas Sungai Musi. Hingga saat ini, Jembatan Ampera menjadi salah satu kebanggaan warga Kota Palembang.

    Penunjukan Sumatera Selatan sebagai tuan rumah PON turut mengubah wajah kota Palembang. Penetapan Palembang menjadi Kota Wisata Air dan tuan rumah bersama ASIAN Games 2018 melengkapi sejarah panjang kota Palembang. 

    Esti Utami, dari berbagai sumber. 

     

  • Menelusuri Kejayaan Kerajaan Sriwijaya lewat Pameran Temporer Arthefact 2025 di Museum Bahari

    Menelusuri Kejayaan Kerajaan Sriwijaya lewat Pameran Temporer Arthefact 2025 di Museum Bahari

    7cloud.asia – Pameran Temporer Arthefact 2025 bertajuk “Sriwijaya: Across the Land, River, and Sea”, dibuka pada Senin (11/8/2025) di Museum Bahari, Penjaringan, Jakarta Utara.

    Pameran yang digelar pada 11 Agustus-16 November 2025 ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80.

    Pameran ini menampilkan koleksi dan artefak berharga tentang sejarah Sriwijaya, sebuah kerajaan maritim yang mencapai puncak kejayaan pada abad 7 hingga abad 11.

    Sriwijaya saat itu menjadi simbol keunggulan pelayaran, kejayaan diplomasi, dan kekayaan budaya yang menghubungkan Nusantara dengan berbagai penjuru dunia.

    Sejalan dengan peran Jakarta sebagai kota global, Wagub Rano Karno mengajak seluruh pihak memperkuat diplomasi budaya sekaligus menjaga warisan sejarah maritim bangsa.

    Baca: Pameran ‘Ghost Nets: Awakening the Drifting Giants’

    “Relief serta arsip hasil penelitian pameran ini diharapkan dapat menjadi pengingat akan kekuatan maritim bangsa-bangsa ASEAN,” ujarnya.

    Kolaborator pameran tentang masa keemasan Sriwijaya ini juga melibatkan pihak luar negeri, yaitu kedutaan besar dari Singapura, Malaysia, India, dan China.

    Didukung dengan riset dan kurasi mendalam, pameran ini mengajak masyarakat menelusuri kejayaan Sriwijaya yang tak hanya bertumpu pada kekayaan alam, tetapi juga kekuatan intelektual dan jejaring budaya yang mempererat peradaban

    Rano mengungkapkan, pameran tentang Sriwijaya ini menjadi salah satu program unggulan Museum Bahari Jakarta, dengan pendanaan yang didukung melalui Dana Alokasi Khusus Nonfisik Bantuan Operasional Penyelenggaraan Museum dan Taman Budaya dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

    Baca: Pameran lab perspektif perempuan: “Kukuh, Bertumbuh”

    Rano menyebut dukungan tersebut mencerminkan komitmen bersama untuk memperkuat peran museum sebagai pusat edukasi, pelestarian, dan pengembangan budaya bangsa.

    Kolaborasi ini juga menghasilkan media edukasi baru berupa film animasi “Arung: Petualangan Bawah Laut” yang inspiratif bagi generasi muda Indonesia.

    Rano berharap, pameran ini dapat menjadi sumber inspirasi dan semangat bagi kita semua untuk terus mengingat dan melestarikan kejayaan masa lalu sebagai fondasi membangun Indonesia yang lebih maju.

    “Dan mudah-mudahan semakin banyak anak-anak kita yang berkunjung ke museum dan belajar,” tuturnya.