Tag: suhu global

  • Bulan Juli 2023 Tercatat Sebagai Masa Terpanas dalam Sejarah Suhu Global

    Bulan Juli 2023 Tercatat Sebagai Masa Terpanas dalam Sejarah Suhu Global

    7cloud.asia – Bulan Juli 2023 menjadi bulan dengan suhu global terpanas dalam sejarah.

    Pekan lalu Badan Antariksa Eropa mengumumkan rata-rata suhu global pada Juli 2023 sudah mencapai 1,5°C lebih tinggi dibandingkan era praindustri (sejak 1850-an).

    Dilansir Copernicus.eu, bulan Juli 2023 ditandai pemecahan rekor suhu udara permukaan rata-rata global atau suhu global harian selama empat hari berturut-turut, pada tanggal 3-6 Juli.

    Seluruh hari sepanjang sisa bulan Juli 2023  lebih panas dari rekor sebelumnya yaitu 16,80°C, yang terjadi pada 13 Agustus 2016, menjadikan 29 hari pada tanggal 3-31 Juli sebagai rekor 29 hari terpanas. 

    Hari terpanas terjadi pada tanggal 6 Juli, ketika rata-rata suhu global mencapai 17,08°C, dan nilai yang tercatat pada tanggal 5 dan 7 Juli berada dalam kisaran 0,01°C. 

    Baca: Pemanasan global sebabkan separuh danau di dunia kering

    Selama minggu pertama dan ketiga setiap bulan, suhu juga untuk sementara melampaui ambang batas 1,5°C di atas tingkat pra-industri – batas yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris, dan hal ini pertama kali terjadi pada bulan Juli.

    Sebuah judul berita kemudian menyatakan bahwa planet Bumi telah melampaui target Perjanjian Paris tahun 2015. Perjanjian ini bertujuan menahan pemanasan Bumi hingga 1,5℃—sekitar satu dekade lebih awal dari perkiraan dalam Perjanjian Paris pada 2030.

    Lantas, apakah kita sudah game over dalam usaha meredam kenaikan suhu bumi? Apa umat manusia sudah kalah?

    Jawabannya sama dengan semua hal terkait perubahan iklim: tidak sesederhana itu. Batasan tersebut naik hanya sebulan, kemudian temperatur rata-rata Bumi menurun lagi.

    Baca: Telah ditemukan bakteri pemangsa metana yang bisa menahan laju pemanasan global

    Dilansir di The Conversation, Bulan Juli 2023 juga bukanlah yang pertama saat kita melampaui target 1,5°C. Pada Februari 2016 lalu, kejadian serupa berlangsung walaupun cuma beberapa hari.

    Pada 2015, suasana dunia berlangsung seperti kita siap memulai aksi memerangi perubahan iklim. Setelah debat panas selama puluhan tahun, sekitar 195 negara mengadopsi Perjanjian Paris.

    Perjanjian ini merupakan kesepakatan formal yang tak mengikat dengan kesepakatan yang jelas: membatasi pemanasan global sampai 1,5℃ di atas level praindustri untuk menghindari efek terburuk perubahan iklim.

    Namun, angka tersebut bukanlah nomor sakti. Setiap kenaikan suhu akan memperburuk dampak perubahan iklim.

    Lantas mengapa angka 1,5℃ begitu krusial? Jawaban utamanya, angka tersebut dipatok sebagai batasan untuk mewakili kegawatan yang akan kita hadapi.

    Baca: Dampak sampah makanan pada pemanasan global

    Perjanjian Paris menyatakan usaha menghindari perubahan iklim yang berbahaya, kenaikan temperatur bumi “harus berada di bawah 2℃”. Inilah yang melahirkan batasan 1,5℃.

    Lalu, apakah itu level berbahaya dari perubahan iklim? Level ini terjadi saat kerusakan akibat perubahan iklim menjadi sangat luas ataupun parah.

    Kerusakan ini dapat mengancam perekonomian, ekosistem, pertanian, dan memiliki risiko superbesar yang tak bisa dipulihkan lagi seperti keruntuhan lapisan es ataupun sirkulasi laut.

    Yang lebih penting, tingkat pemanasan ini berisiko melampaui batas kemampuan manusia beradaptasi.

    Gampangnya, ambang batas 1,5℃ adalah ‘jalur terbaik seperti saat kita berada dalam perahu di atas sungai, tanpa dayung’.

    Apakah kita terlambat? Lalu, apakah kita menyerah saja? Jawabannya, Belum!

    Baca: Perjuangan dunia untuk capai emisi nol

    Otoritas global tentang perubahan iklim, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC_, mengartikan 1,5℃ sebagai titik landasan suhu rata-rata global yang naik dari rata-rata suhu selama 1850 – 1900 (praindustrial).

    Memang benar bahwa batasan ini sudah terlampaui pada Juli 2023. Namun, iklim tak hanya dilihat dari fenomena sebulan.

    Temperatur rata-rata global naik-turun setiap tahun di atas tren pemanasan global. Pasalnya, secara alamiah iklim dari tahun ke tahun bervariasi.

    Suhu global beberapa tahun belakangan memang lebih panas dari rata-rata. Namun tren tersebut sebenarnya agak dingin karena fenomena La Niña yang berturut-turut.

    Apalagi, tahun ini ada pemanasan signifikan yang terutama berlangsung akibat kejadian El Niño di kawasan Pasifik. Tahun-tahun El Niño membuat Bumi menjadi lebih panas.

    Agar tren tahunan terlihat lebih jelas, kita biasanya menggunakan data rata-rata selama beberapa dekade.

    Baca: Riset mengungkap emisi karbon capai rekor pada 2022

    Oleh karena itu, laporan IPCC 2021 menetapkan ambang batas 1,5℃ sebagai periode 20 tahun pertama yang dihitung ketika kenaikan suhu global menyentuh 1,5℃ (berdasarkan suhu udara di permukaan Bumi).

    Penelitian terbaru menunjukkan perkiraan terbaik untuk melewati ambang batas ini adalah pada awal tahun 2030-an.

    Artinya, berdasarkan definisi IPCC, rata-rata suhu global antara awal dekade 2020-an dan dekade tahun 2040-an diperkirakan sebesar 1,5°C.

    Nyaris melampaui garis merah
    Sejauh ini kita memang belum melampaui target Perjanjian Paris. Namun, temperatur Juli lalu menunjukkan kita sedang berada di ujung tanduk.

    Saat dunia terus memanas, kita akan terus melihat ‘Juli-juli’ selanjutnya. Kita akan terus bergerak semakin dekat dengan batas 1,5℃, dan pemanasan global akan menjadi lebih berbahaya.

    Apakah mungkin pemanasan suhu Bumi ini di bawah 1,5℃? Mungkin saja. Kita membutuhkan pemangkasan emisi yang agresif nan ekstrem untuk mencapai kondisi tersebut.

    Baca: Pentingnya green skill untuk hadapi perubahan iklim

    Jika gagal, kita bakal melampaui target Perjanjian Paris dalam satu dekade mendatang ataupun sesudahnya.

    Katakanlah itu batasan itu sudah kita lewati. Apakah artinya kita sudahi saja aksi iklim di dunia ini?

    Jangan sampai begitu. Kenaikan suhu 1,5℃ saja sudah buruk, apalagi 1,6℃. Pemanasan global 2℃ lebih buruk lagi. Kenaikan suhu 3℃ akan tak terbayangkan. Setiap pergerakan suhu akan sangat krusial.

    Sedekat mungkin kita dengan batas itu–-sekalipun sudah terlewat–-masih lebih baik.

    Saat ini, ada bukti menggembirakan bahwa sekalipun kita sudah melampaui 1,5℃, kita masih bisa membalikannya dengan mengakhiri pelepasan emisi gas rumah kaca dan menyedot kelebihannya di atmosfer.

    Upaya ini seperti membalikkan kapal kontainer raksasa-–membutuhkan waktu untuk mengatasi kelambanan kita. Namun, secepat mungkin kita berusaha, maka akan lebih baik.

    Penulis: , Associate Professor, School of Earth, Atmosphere and Environment, Monash University dan  Postdoctoral Research Fellow in Atmospheric Sciences, Monash University

  • Copernicus Pastikan Tahun 2024 Menjadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah

    Copernicus Pastikan Tahun 2024 Menjadi Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah

    7cloud.asia – Suhu global kembali mencatat rekor tertinggi pada tahun ini. Tahun 2024 hampir dapat dipastikan menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah sejak pencatatan suhu global mulai dilakukan pada 1850-an.

    Berdasarkan analisis terbaru dari lembaga pemantau perubahan iklim bentukan Uni Eropa, Copernicus Climate Change Service (C3S), bulan Oktober 2024 menjadi Oktober paling panas kedua setelah Oktober 2023.

    Dilansir Kompas.com, suhu global selama Oktober 2024 menurut pemantauan C3S adalah 15,25°C.

    Temperatur tersebut lebih tinggi 0,80 derajat celsius dibandingkan suhu global rata-rata bulan Oktober pada periode 1991 sampai 2020. Suhu rata-rata Oktober 2024 bahkan lebih tinggi 1,65 derajat celsius dibandingkan era praindustri.

    Baca: Suhu Bumi makin panas, dunia diminta kurangi penggunaan bahan-bakar fosil

    Kondisi tersebut menjadikan Oktober 2024 bulan ke-15 dari 16 bulan terakhir di mana suhu global telah melampaui 1,5°C.

    C3S juga mencatat, sepanjang Januari hingga Oktober 2024, suhu rata-rata global tercatat 0,71°C lebih panas dibandingkan temperatur rata-rata tahun 1991 hingga 2020.

    Bahkan, suhu rata-rata Januari hingga Oktober 2024 lebih tinggi 0,16°C dibandingkan 10 bulan pertama tahun 2023.

    “Setelah 10 bulan di tahun 2024, kini hampir dapat dipastikan bahwa tahun 2024 akan menjadi tahun terpanas yang pernah tercatat,” kata Wakil Direktur C3S Samantha Burgess dikutip dari siaran pers, Kamis (7/11/2024).

    Baca: Langkah mitigasi dan adaptasi terhadap pemanasan global

    Untuk diketahui, suhu rata-rata global pada 2023 tercatat naik 1,48°C dibandingkan masa praindustri tahun 1850-1900.

    C3S memperkirakan suhu rata-rata global pada 2024 bisa naik 1,62°C dibandingkan periode praindustri. Padahal, berdasarkan Perjanjian Paris, dunia sepakat untuk membatasi suhu Bumi tidak naik di atas 1,5°C.

    Upaya untuk membatasi pemanasan global agar tidak melampaui 1,5°C merupakan salah satu tujuan utama Perjanjian Paris.

    “Hal ini menandai tonggak sejarah baru dalam catatan suhu global dan harus menjadi katalis untuk meningkatkan ambisi untuk KTT Iklim mendatang, COP29,” ujar Burgess.

  • Rata-rata Suhu Global 2024 Kembali Catat Rekor: Dunia Diminta Segera Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca

    Rata-rata Suhu Global 2024 Kembali Catat Rekor: Dunia Diminta Segera Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca

    7cloud.asia – Suhu global kembali mencatat rekor tertinggi pada tahun ini. Tahun 2024 hampir dapat dipastikan menjadi tahun terpanas sepanjang sejarah sejak pencatatan suhu global mulai dilakukan pada 1850-an.

    Berdasarkan analisis terbaru dari lembaga pemantau perubahan iklim bentukan Uni Eropa, Copernicus Climate Change Service (C3S), bulan Oktober 2024 menjadi Oktober paling panas kedua setelah Oktober 2023.

    Menurut pemantauan Copernicus Climate Change Service atau C3S, rata-rata suhu global selama Oktober 2024 adalah 15,25°C.

    Temperatur tersebut lebih tinggi 0,80°C dibandingkan suhu global rata-rata bulan Oktober pada periode 1991 sampai 2020. Suhu rata-rata Oktober 2024 bahkan lebih tinggi 1,65 °C dibandingkan era praindustri.

    Baca: Copernicus Climate Change Service sebut suhu global 2024 catat rekor terpanas

    Terus naiknya suhu global tak lepas dari emisi gas rumah kaca yang terus meningkat akibat penggunaan bahan bakar fosil.

    Pembakaran batu bara, gas alam, dan minyak untuk menghasilkan listrik dan pemanas merupakan sumber emisi gas rumah kaca global yang terbesar.

    Hal inilah yang merupakan penyebab utama pemanasan global karena memerangkap panas di atmosfer dan meningkatkan suhu permukaan bumi.

    Badan Energi Internasional (IEA) terus mendesak negara-negara di dunia untuk menghentikan proyek ladang gas dan minyak baru.

    Baca: Dampak kenaikan suhu global makin terasa nyata

    Pasalnya, dihentikannya penggunaan gas dan minyak adalah satu-satunya cara untuk menjaga skenario emisi net-zero yang kompatibel dengan batas kenaikan suh global sebesar 1,5°C.

    Konsumsi bahan bakar fosil global meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir, seiring dengan upaya negara-negara di seluruh dunia untuk meningkatkan standar hidup dan output ekonomi mereka.

    Pada tahun 2023, konsentrasi ketiga gas rumah kaca yang paling kuat di atmosfer – karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida – mencapai rekor tertinggi.

    Karena daya tahannya yang sangat lama di atmosfer, dunia kini “berkomitmen terhadap peningkatan suhu selama bertahun-tahun yang akan datang,” kata Ko Barret, Wakil Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia.

    Baca: Banjir besar di Eropa bukti kenaikan suhu global

    Meningkatnya suhu atmosfer dan lautan, diyakini berhubungan langsung dengan kejadian cuaca ekstrem yang lebih sering dan parah, termasuk angin topan, banjir, gelombang panas, dan kekeringan.

    Kenaikan permukaan laut dan erosi pantai akibat pemanasan lautan, pencairan gletser, dan hilangnya lapisan es juga menandai kenaikan suhu global ini.

    Beberapa peristiwa cuaca ekstrem terbaru yang disebabkan oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh ulah manusia, mulai dari badai Helene dan Milton yang dahsyat di AS hingga banjir mematikan di Valencia, Spanyol.

    Fakta-fakta ini seharusnya membuat pemimpin negara-negara di dunia untuk segera mengambil langkah nyata untuk menurunkan emisi gas rumah kaca.

  • Bisakah Manusia Bertahan Jika Kenaikan Suhu Global Mencapai 2,6°C hingga 3,1°C

    Bisakah Manusia Bertahan Jika Kenaikan Suhu Global Mencapai 2,6°C hingga 3,1°C

    7cloud.asia – Dunia tidak sedang berada dalam kondisi baik-baik saja saat ini. Dampak kenaikan suhu global sudah nyata di depan mata.

    Seiring kenaikan suhu global yang saat ini mendekat 1,5°C, cuaca ekstrem makin sering terjadi dan mengakibatkan bencana ekologis yang memakan ribuan korban jiwa.

    Sebut saja, banjir di Spanyol dan sejumlah wilayah Eropa Timur yang memakan ratusan korban jiwa. Atau kebakaran hebat yang terjadi di hutan Amazon Brasil adalah contoh dampak nyata kenaikan suhu global ini.

    Hingga hari ini, belum terlihat kemauan serius dari negara-negara di dunia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan memotong secara drastis pengunaan bahan bakar fosil.

    Laporan Kesenjangan Emisi Lembaga lingkungan PBB, UNEP baru-baru ini menemukan bahwa suhu Bumi dapat mencapai suhu antara 2,6°C dan 3,1°C pada akhir abad ini kecuali masyarakat dunia mengendalikan emisi gas rumah kaca.

    Lantas, apa yang akan terjadi jika masyarakat dunia tak juga mengurangi emisi gas rumah kaca? Berikut kami cuplikan wawancara dengan Direktur Adaptasi dan Ketahanan Iklim UNEP, Mirey Atallah.

    Baca: Hutan Amazon Brasil alami kebakaran tertinggi pada 2024 akibat kekeringan

    Bisakah umat manusia beradaptasi dengan kenaikan suhu global sebesar 2,6°C dan 3,1°C?

    Tema umum podcast UNEP, Resilience adalah adaptasi terhadap kenaikan suhu global akan jauh lebih menantang jika dunia gagal mengurangi emisi gas rumah kaca.

    Jurnalis adaptasi The New York Times, Christopher Flavelle mengatakan, ada batasan dalam adaptasi, dan dunia akan menghadapi batasan tersebut di dunia yang suhunya mencapai 3°C.

    Dia memberikan contoh yang baik tentang pekerja di luar ruangan ketika suhu mencapai 50°C.

    Apa yang Anda lakukan dalam situasi itu? Kita perlu mengakui batasan adaptasi. Hal ini bukanlah pengganti kebutuhan mendesak untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

    Bisakah Anda memberikan gambaran singkat tentang apa yang harus dilakukan dunia untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim?

    Pertama, kita perlu mengeluarkan miliaran dolar pendanaan untuk adaptasi iklim.
    Kedua, kita perlu berinvestasi pada alam; Hutan, bakau, dan lahan basah merupakan perisai alami terhadap bencana iklim.

    Baca: Rencana pemerintah membuka 20 juta hektare hutan bisa memicu Kiamat Ekologis

    Ketiga, kita perlu memasukkan strategi adaptasi ke dalam pembuatan kebijakan nasional, khususnya dengan mengembangkan rencana adaptasi nasional.

    Ketika perubahan iklim semakin intensif, hampir tidak ada satu pun sektor perekonomian dan masyarakat kita yang tidak tersentuh.

    Oleh karena itu, dunia memerlukan rencana adaptasi yang menyatukan seluruh pemangku kepentingan; itulah satu-satunya cara agar dunia dapat melindungi kemajuan pembangunan yang diperoleh dengan susah payah dari dampak perubahan iklim.

    Laporan Kesenjangan Adaptasi UNEP menyatakan bahwa dunia tidak mengeluarkan cukup uang untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. Bagaimana kita bisa mengubahnya?

    Secara harfiah, ini adalah pertanyaan bernilai miliaran dolar. Kesenjangan pendanaan adaptasi saat ini mencapai sekitar 300 miliar dolar per tahun.

    Dalam salah satu episode Resilience, kami berbicara panjang lebar dengan Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen, yang membahas cara-cara yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan untuk melindungi komunitas yang rentan.

    Hal ini mencakup segala sesuatu mulai dari apa yang disebut ‘pertukaran utang’ untuk adaptasi, kredit ketahanan, hingga pembayaran jasa ekosistem.

    Seperti yang akan Anda dengar, pertanyaannya bukanlah apakah kita mampu beradaptasi, namun apakah kita mampu untuk tidak beradaptasi.

  • Rata-rata Suhu Global 2024 Lampaui Perjanjian Paris: Tercatat 1,6°C di Atas Masa Pra-industri

    Rata-rata Suhu Global 2024 Lampaui Perjanjian Paris: Tercatat 1,6°C di Atas Masa Pra-industri

    7cloud.asia – Rata-rata suhu global mencetak rekor baru pada tahun 2024: mencapai tingkat tertinggi dan meningkat hingga lebih dari 1,5°C di atas era pra-industri.

    Dirilis di Earth.org, rata-rata suhu global tahunan pada tahun 2024 berada pada 1,60°C di atas tingkat pra-industri.

    Sebelumnya para pakar menyebut, Tahun 2023 menjadi tahun terhangat yang pernah tercatat, tetapi suhu global tidak turun seperti yang diprediksi setelah El Niño mereda pada Juni 2024 lalu.

    El Nino yang dikaitkan dengan pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik ekuator tengah-timur, mendorong suhu global “keluar dari grafik” pada tahun 2023, menjadikannya tahun terpanas yang pernah tercatat.

    Namun demkian, saat kondisi di Pasifik ekuator kembali normal pertengahan tahun lalu, suhu global tidak menunjukkan pola yang sama.

    “Kita semua yang membuat proyeksi di awal tahun meremehkan seberapa hangatnya suhu pada tahun 2024,” kata Zeke Hausfather, ilmuwan iklim di Berkeley Earth seperti dikutip Earth.org

    Baca: Dampak lingkungan jika suhu global naik 2°C

    Sebaliknya, tahun 2024 mencatat musim dingin boreal (sumber untuk udara dingin yang mempengaruhi lintang sedang ke selatan di musim dingin) terpanas sepanjang Desember 2023-Februari 2024.

    Juga musim semi boreal (Maret-Mei) dan musim panas boreal (Juni-Agustus), rekor suhu rata-rata global harian tertinggi, dan rata-rata 41 hari tambahan.

    Para ahli menyebut hal ini sebagai hari-hari “panas yang berbahaya” di seluruh dunia.

    Menurut analisis akhir tahun dari Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, tak ada negara yang luput dari dampak panas ini.

    Dengan semua wilayah benua, kecuali Antartika dan Australasia, mencatat tahun terhangatnya pada tahun 2024 ini.

    Baca: Kenaikan suhu global hingga 2°C akan picu cuaca ekstrem

    Yoko Tsushima, ilmuwan iklim di Kantor Meteorologi Inggris, menyampaikan dalam sebuah artikel di Nature, “[p]emanasan terjadi hampir di mana-mana.”

    Suhu permukaan laut tetap pada rekor tertinggi dari Januari hingga Juni, mengikuti tren dari akhir tahun 2023. Pada paruh kedua tahun 2024, suhu mencapai rekor terhangat kedua untuk periode tersebut dalam setahun, setelah tahun sebelumnya.

    Melampaui Perjanjian Paris
    Pada hari Jumat (10/1/2025) program pengamatan Bumi Uni Eropa juga mengonfirmasi prediksi sebelumnya: bahwa tahun 2024 akan menjadi tahun kalender pertama di mana suhu global rata-rata akan melebihi 1,5°C di atas tingkat pra-industri.

    Ambang batas kritis 1,5°C ditetapkan pada pertemuan puncak iklim COP21 tahun 2015, ketika 196 pihak menandatangani Perjanjian Paris yang mengikat secara hukum.

    Mereka sepakat untuk terus membatasi pemanasan global hingga di bawah 1,5C atau “jauh di bawah 2°C” di atas tingkat pra-industri pada akhir abad ini.

    Baca: Ini yang terjadi pada kehidupan jika suhu global naik 2°C 

    Di luar batas ini, para ahli memperingatkan bahwa titik kritis akan terlewati, yang mengakibatkan konsekuensi yang menghancurkan dan berpotensi tidak dapat diubah lagi bagi beberapa sistem Bumi vital yang menopang planet yang ramah.

    Tetapi suhu pada tahun 2024 secara konsisten lebih tinggi daripada suhu ambang batas Perjanjian Paris, kecuali pada bulan Juli. Rata-rata tahunannya berada pada 1,60°C di atas tingkat pra-industri.

    Meskipun hal ini tidak menandakan pelanggaran permanen terhadap batas kritis, yang menurut para ilmuwan diukur selama beberapa dekade

    Hal ini mengirimkan peringatan yang jelas kepada umat manusia bahwa planet Bumi sedang mendekati titik yang tidak bisa kembali, jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.

    Baca: Mitigasi dan adaptasi jika suhu global naik 2°C

     

  • Rata-rata Suhu Global 2024 Lampaui Ambang Batas Perjanjian Paris: Dipicu Emisi Gas Rumah Kaca yang Terus Meningkat

    Rata-rata Suhu Global 2024 Lampaui Ambang Batas Perjanjian Paris: Dipicu Emisi Gas Rumah Kaca yang Terus Meningkat

    7cloud.asia – Pada pertemuan puncak iklim COP21 tahun 2015, 196 pihak menandatangani Perjanjian Paris yang menyepakati ambang batas kritis 1,5°C di atas suhu global pra-industri

    Perjanjian Paris ini mengikat secara hukum, dan negara-negara yang hadir
    sepakat untuk terus membatasi pemanasan global hingga di bawah 1,5°C atau “jauh di bawah 2°C” di atas tingkat pra-industri pada akhir abad ini.

    Para ahli memperingatkan, jika titik kritis terlewati, akan mengakibatkan konsekuensi yang menghancurkan dan berpotensi tidak dapat diubah lagi bagi beberapa sistem Bumi vital yang menopang planet yang ramah.

    Tetapi rata-rata suhu global pada tahun 2024 secara konsisten lebih tinggi daripada suhu ambang batas Perjanjian Paris, kecuali pada bulan Juli, yakni berada pada 1,60°C di atas tingkat pra-industri.

    Meskipun hal ini tidak menandakan pelanggaran permanen terhadap batas kritis, hal ini menjadi peringatan yang jelas kepada umat manusia bahwa planet Bumi sedang mendekati titik yang tidak bisa kembali, jauh lebih cepat dari yang diperkirakan.

    “Kita kini berada di ambang batas melewati batas 1,5ºC yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris dan rata-rata dua tahun terakhir masih jauh dari harapan. “sudah di atas level ini,” ujar Samantha Burgess, Pemimpin Strategis Bidang Iklim di Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa.

    Baca: Rata-rata suhu global 2024 lampaui kesepakatan Perjanjian Paris

    Emisi gas rumah kaca
    Pada tahun 2024, konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer mencapai tingkat tertinggi yang pernah tercatat sepanjang sejarah.

    Konsentrasi karbon dioksida (CO2) mencapai 422 par per milion (ppm), atau 2,9 ppm lebih tinggi daripada tahun 2023.

    Sebagai produk sampingan dari pembakaran bahan bakar fosil, biomassa, perubahan penggunaan lahan, dan proses industri seperti produksi semen, CO2 merupakan gas rumah kaca antropogenik utama di atmosfer, yang bertanggung jawab atas tiga perempat emisi lobal.

    Emisi CO2 global –yang menghangatkan suhu global– dari bahan bakar fosil telah meningkat lebih dari 60 persen sejak tahun 1990, dengan konsentrasi di atmosfer sekarang 50 persen lebih tinggi daripada sebelum dimulainya Revolusi Industri.

    Sementara itu, konsentrasi metana mencapai 1897 ppb, 4 ppb lebih tinggi dari tahun 2023.

    Gas tersebut – yang sebagian besar terkait dengan penggunaan bahan bakar fosil, pertanian, dan limbah – merupakan gas rumah kaca utama kedua setelah CO2, yang bertanggung jawab atas 25 persen pemanasan global.

    Baca: Mitigasi dan adaptasi jika suhu global naik 2°C

    Namun, zat metana ini 84 kali lebih kuat dalam memerangkap panas di atmosfer daripada CO2 selama periode dua dekade dan memiliki potensi pemanasan global 100 tahun yang 28-34 kali lebih besar daripada CO2.

    Emisi metana global telah meningkat, dan konsentrasi gas ampuh tersebut di atmosfer kini 165 persen lebih tinggi daripada tingkat pra-industri.

    Pembakaran batu bara, gas alam, dan minyak untuk listrik dan panas merupakan sumber emisi gas rumah kaca (GRK) global terbesar.

    Hal-hal tersebut merupakan pendorong utama pemanasan global karena mereka memerangkap panas di atmosfer dan meningkatkan suhu permukaan bumi.

    Badan Energi Internasional (IEA) telah mendesak negara-negara di dunia untuk menghentikan proyek ladang gas dan minyak baru.

    Baca: Dampak lingkungan jika suhu global naik 2°C

    Adapun alasan yang dikemukan bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk menjaga skenario emisi nol bersih yang kompatibel dengan 1,5°C tetap berjalan.

    Cuaca Ekstrem makin Sering Terjadi dan Intensif
    Copernicus juga menyimpulkan bahwa tahun 2024 adalah tahun dengan kandungan uap air atmosfer tertinggi yang pernah tercatat.

    Saat kadar uap air di atmosfer meningkat, kejadian cuaca eksterm basah yang ditandai hujan lebat akan menjadi lebih intens.

    Dikombinasikan dengan rekor panas di lautan, pasokan air yang melimpah berkontribusi terhadap perkembangan badai besar, termasuk siklon tropis.

    Di Atlantik, semua badai yang terjadi antara bulan Juni dan November diperkuat oleh pemanasan laut akibat perubahan iklim, analisis atribusi menyimpulkan.

    Baca: Dampak kenaikan suhu global 2°C pada pola cuaca

    Studi yang sama juga menyimpulkan bahwa badai dalam lima tahun terakhir “lebih cepat 8,3 mil/jam (13,4 kilometer/jam), secara rata-rata, dibandingkan dengan yang terjadi di dunia tanpa perubahan iklim.”

    Studi atribusi mengukur pengaruh perubahan iklim terhadap peristiwa cuaca tertentu, sering kali terjadi segera setelah gelombang panas, badai, atau banjir.

    Seringkali, analisis ilmiah ini menyoroti betapa jarangnya peristiwa seperti itu terjadi di “dunia tanpa perubahan iklim.”

    “Umat manusia bertanggung jawab atas nasibnya sendiri, tetapi cara kita menanggapi tantangan iklim harus didasarkan pada bukti,” kata Carlo Buontempo, Direktur Layanan Perubahan Iklim Copernicus.

    “Masa depan ada di tangan kita – tindakan yang cepat dan tegas masih dapat mengubah arah iklim masa depan kita.”

     

     

  • Copernicus Prediksi Tahun 2025 Bakal Menjadi Tahun Terpanas

    Copernicus Prediksi Tahun 2025 Bakal Menjadi Tahun Terpanas


    7cloud.asiaTahun 2025 diperkirakan akan menyamai catatan tahun 2023 sebagai tahun terpanas kedua sepanjang sejarah pencatatan suhu global.

    Sebuah laporan terbaru Layanan Perubahan Iklim Copernicus (Copernicus Climate Change Service/C3S) yang dirilis baru-baru ini menyebutkan bahwa bulan November 2025 menempati peringkat ketiga sebagai November terpanas secara global.

    “Tahun 2025 hampir pasti akan menjadi tahun terpanas kedua atau ketiga sepanjang sejarah,” kata badan pemantau iklim Uni Eropa (UE) itu.

    Laporan itu menyebut, dari Januari hingga November 2025, suhu rata-rata global tercatat 1,48 derajat Celsius di atas masa praindustri, sama dengan tingkat yang tercatat untuk sepanjang tahun 2023, yang saat ini merupakan tahun terpanas kedua setelah tahun 2024, menurut C3S.

    Meskipun rara-rata suhu global tahun 2025 kemungkinan tidak mencapai 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris, suhu rata-rata global untuk 2023 hingga 2025 kemungkinan akan melampaui 1,5 derajat Celsius. 

    Kondisi ini menandai kali pertama periode tiga tahun berturut-turut melampaui angka itu sepanjang sejarah, kata layanan perubahan iklim tersebut.

    Pada November 2025 saja, suhu rata-rata udara permukaan global mencapai 14,02 derajat Celsius, hanya 0,2 derajat lebih sejuk dibandingkan catatan November 2023 dan 0,08 derajat lebih sejuk dibandingkan November 2024, sebut C3S.

    “Pencapaian-pencapaian ini bukanlah hal yang abstrak, mereka mencerminkan percepatan laju perubahan iklim, dan satu-satunya cara untuk mengurangi kenaikan suhu di masa depan adalah dengan mengurangi emisi gas rumah kaca secara cepat,” kata Samantha Burgess, kepala strategi iklim di Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa.

    Suhu permukaan laut untuk November 2025 juga masih sangat tinggi di sepanjang garis lintang dari 60 derajat selatan hingga 60 derajat utara, yang tercatat mencapai 20,42 derajat Celsius. Ini menjadi suhu tertinggi keempat pada bulan November sepanjang sejarah.

    Luas es laut Arktik tercatat 12 persen di bawah rata-rata, yang merupakan level terendah kedua untuk catatan bulan November mana pun, sementara luas es laut Antartika tercatat 7 persen di bawah rata-rata, yang merupakan level terendah keempat untuk bulan tersebut, ungkap C3S.

    Pewarta: Antaranews.com/Xinhua