7cloud.asia – Pada 1995, Proyek Lahan Gambut (PLG) Suharto mengubah sejuta hektare lahan gambut dan rawa di Kalimantan Tengah menjadi lahan pertanian demi mencapai swasembada beras.
Namun, proyek ini gagal total. Alih-alih panen raya padi, Proyek Lahan Gambut justru merusak ekosistem gambut. Lahan gambut yang mengering menjadi sangat rentan terbakar.
Pada 2014, kebakaran besar melanda Kalimantan Tengah seiring masifnya pembalakan liar. Setahun setelah tragedi itu, pemerintah menerbitkan peraturan larangan total membakar lahan.
Kebijakan ini menyamaratakan larangan tebas-bakar terkendali yang dilakukan masyarakat suku Dayak Ngaju dengan pembakaran liar.
Imbasnya, sistem pangan tradisional berbasis handil mati, benih unggul lokal hilang, dan rantai produksi pangan lokal habis sudah.
Kini, suku Dayak Ngaju terpaksa bergantung pada pasokan beras dari luar daerah.
Baca: Handil, kearifan lokal suku Dayak Ngaju mengelola lahan gambut
Penelitian penulis bersama tim menunjukkan berbagai program pemulihan ekosistem gambut di Kalimantan Tengah sampai saat ini belum ada yang mampu menghidupkan kembali fungsi handil.
Hal ini menunjukkan kegagalan pendekatan top-down pemerintah. Negara semestinya mengakui peran pengetahuan lokal dalam mengelola lahan gambut.
Solusi pemerintah seharusnya bersifat inklusif dan berakar pada budaya lokal. Tokoh adat dan pemimpin komunitas semestinya terlibat sebagai penggerak agar program pemulihan gambut bisa diterima dan dijalankan masyarakat luas.
Sementara itu diupayakan, pemerintah perlu menyediakan alternatif mata pencaharian untuk penghidupan masyarakat di lahan gambut, khususnya orang-orang handil.
Tak mesti bergantung pada tanaman padi, ada teknik paludikultur—cara bercocok tanam di lahan gambut tanpa dikeringkan.
Terdapat sejumlah tanaman yang cocok untuk lahan gambut dan bernilai ekonomi tinggi.
Baca: Pengelolaan lahan gambut jadi isu serius untuk lingkungan
Sebagai contoh, ada kayu blangeran (Shorea balangeran), bintangor (Calophylum soultarri) dan nyamplung (Calophylum inophylum) yang bisa menjadi sumber bahan bakar nabati.
Ada pula jelutung (Dyera polyphylla) yang merupakan tanaman penghasil lateks untuk material berbagai macam industri.
Jadi, sekali lagi, alih-alih mengganti sistem lokal yang telah teruji dengan pendekatan modern yang sering kali gagal, negara semestinya memperkuat sistem-sistem lokal seperti handil yang adaptif dan berkelanjutan.
Ini tak hanya menyelamatkan lingkungan, tapi juga kehidupan sosial dan budaya masyarakat adat.
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Budiyanto Dwi Prasetyo (Peneliti Sosiologi Lingkungan pada Pusat Riset Kependudukan, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)

