Tag: superflu

  • Pakar UGM Sebut Infuenza A Bisa Berakibat Fatal Bagi Kelompok Rentan

    Pakar UGM Sebut Infuenza A Bisa Berakibat Fatal Bagi Kelompok Rentan

    7cloud.asia – Sebanyak 62 kasus influenza A ”subclade” K atau dikenal sebagai Superflu ditemukan di Indonesia dengan jumlah kasus terbanyak dilaporkan di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

    Menurut hasil pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) kasus Influenza A ”subclade” K telah terdeteksi sejak Agustus 2025 dan terus meningkat hingga pada Desember 2025 telah terkumpul sebanyak 62 kasus.

    Meskipun virus Influenza A ”subclade” K tidak menunjukkan peningkatan keparahan, akan tetapi virus ini tetap perlu diwaspadai. Berdasarkan kabar terbaru, 1 orang meninggal dunia di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung usai terjangkit superflu.

    Menanggapi hal tersebut, Dosen Mikrobiologi FK-KMK UGM, Prof. dr. Tri Wibawa, Ph.D., Sp.MK (K), mengatakan bahwa virus Influenza A ”subclade” K secara genetik memiliki perbedaan dengan virus yang telah menyebar sebelumnya.

    Meski demikian, dapat dipastikan bahwa Influenza A ini tetap memiliki kekerabatan yang dekat dengan virus flu musiman yang kerap dialami oleh banyak orang.

    Baca: Penyebaran influenza A masih terkendali

    Para ahli virus menganggap bahwa saat ini belum ada tanda yang menunjukkan sesuatu yang tidak biasa dalam cara virus ini berevolusi, sebab virus tersebut selalu berubah dalam rangka revolusinya.

    “Sejauh ini, tidak ada bukti dari studi laboratorium maupun studi populasi bahwa varian ini dapat menghindari kekebalan tubuh manusia yang terbentuk oleh infeksi influenza sebelumnya atau dari vaksin yang telah didapatkan,” jelasnya, sebagaimana dikutip ugm.ac.id, Jumat (9/1/2025).

    Menurut Tri penggunaan nama ‘superflu’ pada varian virus  Influenza A ”subclade” K bukanlah istilah ilmiah.

    Berdasarkan bukti yang ada selama ini, belum ada indikasi bahwa Influenza A ”subclade” K lebih virulen (ganas) dibandingkan virus influenza H3N2 yang telah beredar selama ini. Tetapi, tetap perlu waspada dengan virus ini.

    “Harus tetap waspada, karena virus influenza H3N2 memang dapat berakibat fatal pada orang yang rentan, seperti lansia,” jelasnya.

    Baca: Polusi udara memperburuk efek influenza A

    Lebih lanjut, Tri menjelaskan bahwa varian Influenza A ”subclade” K mengalami perubahan dari waktu ke waktu, berdasarkan dari sifat materi genetik (RNA) yang dibawanya.

    Dari perubahan genetik kecil yang terjadi tersebut, Influenza A dapat menghasilkan virus-virus varian baru yang berkerabat dekat. Menurut Tri dengan perubahan virus yang cepat dan muncul varian baru yang secara signifikan berbeda akan memengaruhi sistem kekebalan tubuh manusia.

    “Ada potensi akan menyebabkan sistem kekebalan manusia menjadi tidak mampu untuk melawan, dan konsekuensi lainnya, seperti penularan yang lebih cepat,” terang Tri.

    Tri menegaskan, pencegahan dari penularan varian virus ini dengan menerapkan protokol gaya hidup bersih

    Seperti batuk yang baik, menggunakan masker bagi untuk orang yang sedang mengalami gejala flu, mencuci tangan secara periodik, beristirahat cukup, serta memastikan ruangan memiliki ventilasi yang cukup. Menurutnya vaksinasi tetap diperlukan untuk kelompok rentan.

    “Vaksinasi tetap dianjurkan untuk kelompok rentan, seperti anak-anak, orang lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis,” pungkasnya.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

     

  • Pahami Karakter dan Pola Penyebaran Superflu

    Pahami Karakter dan Pola Penyebaran Superflu

    7cloud.asia – Istilah “superflu” belakangan ramai dibicarakan publik. Banyak orang langsung khawatir, seolah-olah ini adalah virus baru yang jauh lebih berbahaya.

    Padahal superflu bukan istilah medis resmi, melainkan julukan yang disematkan media asing untuk menyebut varian Influenza A (H3N2) subclade K atau dikenal sebagai clade 3C.2a1b.2a.2a.3a.1.

    Virus ini sudah menyebar di lebih dari 34 negara, termasuk Indonesia sejak Agustus 2025 lalu. Di Eropa, sekitar musim dingin di akhir tahun lalu, sejumlah ilmuwan bahkan sudah memprediksi virus Influenza A (H3N2) subclade K akan mewabah.

    Influenza A (H3N2) subclade K masih berada dalam kelompok Influenza penyebab flu musiman yang sudah lama kita kenal. Jadi, Superflu bukan virus baru ataupun penyakit misterius.

    Apakah Influenza A (H3N2) berbahaya?
    Virus influenza memang berubah secara alami dari waktu ke waktu. Sejak ditemukan pada 1968, Influenza A (H3N2) sudah bermutasi lusinan kali.

    Akan tetapi, hingga saat ini tidak ada bukti bahwa flu yang disebabkan oleh Influenza A (H3N2) subclade K lebih berbahaya dibanding flu biasa. Gejala utamanya relatif sama, yaitu demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan badan terasa lemas.

    Beberapa pakar menyebut gejala infeksi Influenza A (H3N2) subclade K bisa menimbulkan sakit kepala, nyeri otot, dan demam tinggi 39-41 derajat Celcius. Namun umumnya, flu akibat varian ini bisa disembuhkan.

    Temuan ini masih sejalan dengan penelitian tahun 2018 yang menunjukkan bahwa mutasi virus Influenza A (H3N2) tidak selalu membuat penyakit flu menjadi lebih berat.

    Evolusi virus hanya meningkatkan kemampuan adaptasinya dalam menghindari sistem kekebalan tubuh, sehingga bisa berulang kali menginfeksi kita.

    Baca: Infuenza A bisa berakibat fatal pada kelompok rentan

    Sistem pemantauan dini lebih sigap
    Di Indonesia, varian Influenza A (H3N2) subclade K berhasil terdeteksi dini berkat sistem pemantauan (surveilans) Influenza yang baik.

    Lebih dari satu dekade, Indonesia telah menjalankan sistem pengambilan sampel tenggorokan pasien bergejala flu atau infeksi napas berat secara rutin bernama Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI).

    Sistem pemantauan ILI-SARI melibatkan puskesmas, rumah sakit, dan laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas).

    Spesimen pasien positif Influenza akan dirujuk ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan (BBLBK) untuk dipelajari susunan genetiknya, hingga akhirnya diketahui ada 62 sampel yang mengandung Influenza A (H3N2) subclade K di Indonesia.

    Bersama ratusan laboratorium di seluruh dunia, BBLBK masuk ke dalam jaringan pemantauan influenza global (NICs) milik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Jaringan global ini membantu WHO memantau perubahan bentuk virus, kemunculan varian baru, dan pola penyebarannya.

    Informasi tersebut sangat penting untuk menentukan formula vaksin flu yang diperbarui setiap tahun agar tetap efektif dalam menghadapi perkembangan virus.

    Selain itu, jaringan ini berfungsi sebagai sistem peringatan dini dari WHO untuk memperingatkan negara lain jika terjadi lonjakan kasus flu yang tidak biasa.

    Baca: Kemenkes sebut penyebaran Influenza A masih terkendali

    Flu berbeda dengan Covid-19
    Di sisi lain, diagnosis laboratorium yang cepat dan tepat juga bantu mengetahui apakah pasien mengalami flu atau Covid-19.

    Ini sangat penting untuk mencegah penyebaran lebih lanjut, terutama pada kelompok rentan yang berisiko tinggi mengalami gejala serius.

    Flu dan Covid-19 disebabkan oleh virus yang berbeda. Namun, pola penyebaran keduanya sangat mirip, karena sama-sama melalui droplet (air liur) dan udara.

    Aktivitas masyarakat yang kembali normal, mobilitas tinggi, serta interaksi di ruang tertutup membuat keduanya bisa beredar bersamaan.

    Waspada, tapi tidak perlu panik
    Studi di China tahun 2024 menunjukkan bahwa setiap orang umumnya akan terinfeksi Influenza A (H3N2) sekali dalam lima tahun.

    Kendati sebagian besar kasus bisa sembuh sendiri, kelompok rentan dengan kekebalan tubuh lemah (bayi, anak-anak, lansia, dan orang dengan penyakit penyerta) tetap harus waspada jika mengalami gejala infeksi.

    Jika mulai merasakan gejala seperti demam dan batuk, segera beristirahat di rumah, jaga jarak dari orang lain, dan lakukan pemeriksaan medis guna memperoleh diagnosis dan pengobatan yang tepat.

    Untuk mencegah penularan virus Influenza, WHO menyarankan kita untuk tetap disiplin dalam menjaga kebersihan diri, seperti rutin mencuci tangan dan menerapkan etika batuk atau bersin yang benar.

    Gunakanlah masker, terutama ketika sakit dan berada di ruang tertutup yang ramai.

    Lakukan pula vaksinasi influenza tahunan yang tetap menjadi perlindungan paling efektif untuk mencegah gejala berat.

    Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UK Health Security Agency) menyebut bahwa vaksin influenza efektif mengurangi sekitar 70-75 persen risiko anak yang terinfeksi dirawat di rumah sakit. Sementara, pada orang dewasa risikonya menurun 30-40 persen.

    Jadi, selalu waspada itu penting, tapi tidak perlu takut berlebihan dalam menghadapi superflu.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Kambang Sariadji (Researcher and Policy Analysis Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan), Hana Apsari Pawestri (Senior scientist, National Institute of Health Research and Development/NIHRD Kemenkes), Subangkit (Peneliti, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan)