Tag: swasembada garam

  • Perpres Targetkan Swasembada Garam Konsumsi pada 2025, Tapi Produksi Garam Masih Defisit

    Perpres Targetkan Swasembada Garam Konsumsi pada 2025, Tapi Produksi Garam Masih Defisit

    7cloud.asia – Komisi IV DPR menekankan pentingnya pemetaan kebutuhan garam nasional secara rinci serta penguatan intensifikasi berbasis teknologi guna mempercepat pencapaian target swasembada garam.

    Wakil Ketua Komisi IV DPR, Panggah Susanto usai Kunjungan Kerja Reses Komisi IV di Manyar, Gresik, Jawa Timur, Senin (23/2/2026) mengatakan pemerintah perlu menetapkan prioritas yang jelas dalam peta jalan swasembada garam.

    Ia menilai stabilitas produksi garam konsumsi dan aneka pangan harus dibenahi terlebih dahulu sebelum mengejar pemenuhan kebutuhan sektor industri secara menyeluruh.

    “Kami meminta pemetaan yang detail dan target yang terukur. Jangan hanya berbicara secara global. Mana yang diswasembadakan lebih dahulu, itu harus jelas,” tegasnya.

    Sebagaimana diketahui, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional yang menargetkan swasembada garam konsumsi dan aneka pangan paling lambat akhir 2025 serta garam industri pada 2027.

    Baca: Indonesia masih tergantung pada impor garam

    Dalam kerangka tersebut, PT Garam menjalankan proyek hilirisasi berbasis teknologi modern dengan nilai investasi lebih dari Rp10 triliun guna meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi nasional.

    Panggah menjelaskan bahwa kebutuhan garam nasional terbagi dalam tiga kategori utama, yakni garam konsumsi rumah tangga, garam aneka pangan untuk industri makanan dan minuman, serta garam industri untuk kebutuhan kimia seperti chlor-alkali plant.

    Kebutuhan garam konsumsi sekitar 1,2 juta ton per tahun, sedangkan kebutuhan garam aneka pangan sekitar 700 ribu ton.

    “Jadi total keduanya berkisar 1,9 hingga 2 juta ton. Sementara garam industri mencapai sekitar 3,5 juta ton dengan spesifikasi yang berbeda,” jelas Panggah.

    Senada dengan itu, Anggota Komisi IV DPR Firman Soebagyo menyoroti masih adanya defisit produksi garam nasional.

    Baca: Komitmen swamsembada garam dipertanyakan

    Ia menyebut kebutuhan nasional sekitar 3 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru mencapai sekitar 1,64 juta ton. Kondisi ini menyebabkan ketergantungan impor masih terjadi, bahkan untuk garam konsumsi.

    Firman menilai pendekatan kebijakan tidak cukup hanya melalui perluasan lahan (ekstensifikasi), melainkan harus beralih pada intensifikasi berbasis teknologi.

    Menurutnya, kadar NaCl garam nasional perlu ditingkatkan melalui modernisasi proses produksi sebagaimana diterapkan di negara-negara maju.

    “Ke depan, kita perlu memotong mata rantai produksi yang tidak efisien. Pengolahan air laut harus langsung diarahkan menjadi produk akhir dengan teknologi modern sehingga lebih efektif dan memiliki nilai tambah,” ujarnya.

    Ia juga mendorong keterlibatan sektor swasta melalui pemberian insentif, kemudahan regulasi, serta jaminan stabilitas harga.

    Baca: Keran impor membuat gulung tikar industri tekstil

    Dalam konteks ini, Firman mengusulkan agar PT Garam tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga menjadi penyangga stok dan stabilisator harga garam nasional.

    “Jika hanya mengandalkan program stimulus tanpa kepastian harga dan investasi jangka panjang, swasembada akan sulit tercapai. Swasta harus dilibatkan dengan jaminan regulasi dan harga,” imbuh politisi Partai Golkar ini.

    Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR RI Usman Husin mengingatkan pentingnya konsistensi implementasi kebijakan. Ia menyoroti tren produksi garam yang belum menunjukkan peningkatan signifikan meskipun anggaran terus bertambah.

    “Jangan sampai anggaran besar digelontorkan, tetapi produksi stagnan atau bahkan menurun. Swasembada harus diwujudkan dengan kesungguhan dan komitmen pengelolaan,” ujarnya.

  • BAM DPR Dorong Perkuatan Intervesi Negara untuk Realisasikan Swasembada Garam

    BAM DPR Dorong Perkuatan Intervesi Negara untuk Realisasikan Swasembada Garam

    7cloud.asia – Melalui kegiatan Festival Aspirasi, Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR melakukan kunjungan kerja ke Pulau Madura dalam rangka menyerap aspirasi masyarakat terkait isu peningkatan kesejahteraan petani garam serta penguatan kemandirian garam nasional.

    Komoditas garam memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat pesisir seperti di Madura.

    Ketua BAM DPR, Ahmad Heryawan menjelaskan bahwa Indonesia sebagai negara maritim dengan sekitar 70 persen wilayah berupa lautan memiliki potensi besar dalam produksi garam.

    Madura memiliki kontribusi signifikan terhadap produksi garam nasional. Dengan kapasitas mencapai sekitar 600 ribu ton per tahun atau sekitar 35 persen dari total produksi, potensi tersebut seharusnya menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan kemandirian garam nasional.

    Kebutuhan garam nasional yang mencapai sekitar 4,8 juta ton per tahun masih belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri, sehingga sebagian masih bergantung pada impor.

    “Diperlukan upaya peningkatan produktivitas dan penguatan kebijakan agar potensi yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujar Ahmad Heryawan dilansir Parlementaria di Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur, Senin (6/7/2026).

    Aher menilai, adanya keberpihakan terhadap petani garam dalam negeri sebagai bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat.

    Menurutnya, pengembangan produksi garam nasional akan memberikan dampak ekonomi yang luas, termasuk penyerapan tenaga kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

    Baca: Indonesia Negara Bahari, Tetapi Tergantung pada Impor Garam

    Aher menyebut ada dua hal utama yang menjadi perhatian. Pertama, peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan teknologi dan modernisasi sarana produksi bagi petani garam. Ditambah, penguatan regulasi untuk memberikan kepastian harga yang adil.

    Yang kedua, perlunya peningkatan perhatian pemerintah terhadap sektor pergaraman agar sejalan dengan dukungan yang telah diberikan kepada sektor pertanian lainnya.

    Aspirasi yang kami himpun ini akan menjadi bahan pendalaman lebih lanjut di BAM dan akan diteruskan kepada komisi terkait sesuai dengan ruang lingkup kewenangannya.

    “BAM berkomitmen untuk terus mengawal berbagai aspirasi masyarakat guna mendorong kebijakan yang berpihak pada peningkatan kesejahteraan rakyat serta penguatan kemandirian ekonomi nasional,” pungkasnya.

    Sementara anggota Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR, Slamet Ariyadi menegaskan potensi besar itu belum diimbangi dengan kebijakan yang berpihak kepada petani.

    Dia mendesak pemerintah pusat hingga daerah untuk segera melakukan sinkronisasi regulasi dan menghadirkan intervensi nyata.

    “Pemerintah harus mampu menghadirkan kebijakan yang pro-rakyat. Aspirasi ini bukan sekadar aspirasi, tetapi menjadi tanggung jawab moral bangsa dan negara. Kesejahteraan petani garam tidak bisa ditawar lagi,” tegasnya.

    Dalam kunjungan kerja spesifik ini, banyak aspirasi yang telah disampaikan oleh para petani garam, termasuk terkait kondisi kesehatan mereka.

    Baca: Target Swasembada Garam Saat Produksi Garam Masih Defisit

    Slamet juga menyoroti persoalan kualitas garam rakyat yang masih belum memenuhi standar industri, terutama terkait kadar NaCl (Natrium Klorida).

    Oleh karena itu, ia meminta pemerintah hadir melalui kebijakan yang jelas, termasuk penetapan harga pembelian pemerintah serta memberikan edukasi dan bantuan teknis kepada petani.

    “Negara harus hadir, baik dalam bentuk regulasi yang pasti, penentuan harga, maupun bantuan langsung agar kualitas garam rakyat bisa meningkat menjadi standar industri,” ujarnya.

    Legislator Dapil Jatim XI ini mengingatkan pentingnya peran industri, baik BUMN seperti PT Garam maupun pihak swasta, untuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi petani.

    Apalagi saat panen raya harus ada pengawasan ketat untuk mencegah praktik permainan harga yang merugikan petani.

    “Kami meminta tidak ada oknum yang bermain dalam fluktuasi harga. Petani harus mendapatkan harga yang adil,” katanya.

    Terkait upaya mengurangi ketergantungan impor, Slamet optimistis Indonesia mampu mencapai swasembada garam jika ada keberpihakan nyata dari pemerintah. Dimana pemerintah mencanangkan target swasembada itu pada 2027.

    “Kita tunggu komitmen pemerintah. Jika swasembada garam benar-benar terwujud pada 2027, itu akan menjadi puncak kejayaan bagi petani garam Indonesia,” pungkasnya.

    Baca: Ironi, Mayoritas Wilayahnya Berupa Laut Tapi Masih Impor Garam