Tag: swasembada pangan

  • Prabowo Disarankan Tinggalkan Cara Jokowi Jika Ingin Wujudkan Swasembada Pangan

    Prabowo Disarankan Tinggalkan Cara Jokowi Jika Ingin Wujudkan Swasembada Pangan

    7cloud.asia – Presiden Prabowo Subianto bertekad mewujudkan swasembada pangan di Indonesia dalam empat tahun mendatang. Ada sejumlah langkah yang disarankan sebuah LSM dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia agar target itu tercapai.

    Salah satu sarannya, Prabowo diminta tidak mengulangi langkah pemerintahan Joko Widodo terutama terkait program food estate.

    Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Henry Saragih, mencatat cara-cara Presiden Jokowi yang disebut gagal, antara lain, konversi tanah-tanah subur pertanian menjadi lahan non-pangan.

    Lainnya, menurut Henry, adanya penguasaan besar korporasi terhadap lahan pertanian.

    ”Sepanjang Jokowi berkuasa 10 tahun, hampir 1,4 juta hektare tanah terkonversi dari lahan ataupun sawah ke non-sawah… Kalau Prabowo mengulang apa yang dikerjakan oleh pemerintahan Jokowi maka akan gagal,” kata Henry dikutip dari BBC News Indonesia.

    Serikat Petani Indonesia dan Himpunan Kerukunan Petani Indonesia memaparkan enam langkah utama yang harus dilakukan Prabowo untuk wujudkan swasembada pangan, yaitu membentuk koperasi petani rakyat, mereformasi kepemilikan lahan.

     

    Baca: Jokowi gagal wujudkan swasembada pangan

    Henry juga mrekomendasikan Prabowo untuk membangun sistem pertanian agroekologis, setop impor pangan, cegah penguasaan oleh korporasi secara masif, hentikan program lumbung pangan atau food estate karena ”terbukti gagal”.

    Henry menggarisbawahi pentingnya model pertanian kerakyatan yang fokus pada para petani untuk mewujudkan swasembada pangan.

    Pertanian kerakyatan, menurut Henry, menjadi pilar penting dalam mencapai swasembada pangan hingga ketahanan pangan lantaran nasib petani berada dalam jerat kemiskinan.

    Henry berkata tekad Prabowo untuk swasembada pangan dalam empat tahun disebut akan gagal jika dia tetap mengulang cara-cara sama, seperti yang dilakukan oleh pemerintahan Joko Widodo.

    Menurutnya, pada masa pemerintahan Jokowi, terjadi konversi secara besar tanah-tanah pertanian yang subur ke sektor non-pangan.

    Baca: Warga Merauke tolak pembangunan food estate di wilayahnya

    Dia mencontohkan pembangunan bandara di Majalengka, Yogyakarta hingga pemukiman di Tangerang telah menggerus lahan penghasil pangan dalam jumlah yang besar.

    “Sepanjang Jokowi berkuasa selama 10 tahun itu hampir 1,5 juta hektare tanah terkonversi dari lahan pertanian ataupun sawah ke non-sawah. Pemerintahan Prabowo harus mencegah konversi lahan pertanian.” katanya.

    ”Karena salah satu kesulitan petani produksi sekarang adalah harga sewa tanah yang mahal dan lahan yang semakin menyempit,” ujarnya.

    Hal itu katanya nampak dari semakin bertambahnya petani ’guram’, yang kini berjumlah mencapai 16 juta orang.

    Hal selanjutnya yang perlu dilakukan Prabowo adalah melaksanakan sistem pertanian agroekologis. Salah satunya adalah dengan mengembangkan pupuk organik dibanding kimia yang harganya semakin mahal.

    ”Harus perbanyak peternakan-peternakan rakyat, baik kambing, sapi, dan lainnya yang menopang pertanian. Ternak kambing itu bagus dari pupuk, daging hingga susunya. Itu yang harus dikembangkan,“ katanya.

    Baca: Proyek food estate dinilai gagal total

    Upaya penting lain yang harus dilakukan Prabowo adalah menyetop impor pangan yang divera Jokowi dilakukan secara besar-besaran dari luar negeri dan mengembangkan koperasi-koperasi petani di tingkat bawah.

    Kedua hal ini, ujarnya, dapat meningkatkan harga jual pangan di tingkat para petani lokal sehingga meningkatkan kesejahteraan petani.

    Terakhir, Henry menyebut Prabowo harus mencegah korporasi besar menguasai lahan hingga rantai pasok produk pertanian.

    Penguasaan lahan secara besar, ujarnya, tercermin dari program food estate yang menguntungkan korporasi dibandingkan petani rakyat.

    Jadi, Henry menegaskan, pencapaian swasembada pangan bukan dengan dengan model food estate karena sama saja dengan plantation estate yang sudah ada sejak zaman kolonial.

    ”Jadi modelnya lebih ke memaksimalkan pertanian rakyat dan koperasi-koperasi petani yang dikembangkan, bukan malah korporasi besar,” katanya. (Sumber: BBCIndonesia)

  • IKN Tak Jadi Prioritas Pemerintahan Prabowo Subianto

    IKN Tak Jadi Prioritas Pemerintahan Prabowo Subianto

    7cloud.asia – Presiden Prabowo Subianto meminta pembangunan proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) dilanjutkan. Namun, Prabowo lebih mendorong penguatan infrastruktur untuk program swasembada pangan.

    Hal tersebut dikatakan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo saat ditanyai soal kelanjutan proyek IKN, usai mengikuti rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Senayan, Jakarta, Oktober lalu.

    “Kewajiban PU support pak Presiden swasembada pangan. Berarti support Kementan. Itu dulu yang utama,” kata Dody.

    Dody menyatakan, dirinya mendapat arahan dari Prabowo untuk membantu program swasembada pangan. Khususnya dalam pengadaan komoditas pangan utama semisal beras.

    “Arahannya itu swasembada pangan. Kita ini kekurangan beras loh, yang utama tuh itu. Takutnya nanti Ukraina meledak, Iran meledak, itu kan nanti kita jadi enggak bisa makan. Semua orang kan kalau enggak makan beras seolah-olah enggak makan, jangan lah. Beras itu utama,” bebernya.

    Baca: Pengamat tata kota sebut pembangunan di IKN tidak terencana dengan baik

    Untuk itu, Kementerian PU akan mendompleng produksi beras lewat infrastruktur di bidang sumber daya air, semisal pembangunan bendungan hingga irigasi.

    “Termasuk swasembada air, otomatis. Kalau support Kementan kan itu irigasi dan seterusnya. Air itu wajib karena kan penyediaan air baku. Jakarta contohnya penurunan muka tanah gara-gara air tanah sering disedot,” imbuhnya.

    Kendati begitu, Kabinet Merah Putih Prabowo tidak akan serta merta meninggalkan proyek IKN. Meskipun Dody menekankan swasembada pangan jadi program utama yang bakal pihaknya geluti.

    “Insya Allah langsung. Secepat-cepatnya lah pasti. Tapi pasti yang utama itu (swasembada pangan),” pungkas Dody.

    Sebelumnya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan, Prabowo sempat memberikan pengarahan soal kelanjutan proyek IKN kepada Kabinet Merah Putih saat retreat hari kedua di Akademi Militer (Akmil) Magelang Jawa Tengah, Sabtu (26/10/2024).

    Baca: Anggaran pembangunan IKN dipangkas hingga separuh

    Prabowo menargetkan pembangunan IKN rampung dalam waktu empat tahun.

    “Sesi terakhir sore ini, Pak Presiden Prabowo memberikan pengarahan. Satu dari empat point pengarahan beliau adalah soal IKN,” kata Raja Juli melalui akun Instagramnya @rajaantoni, dikutip dari kanal News Liputan6.com.

    Menurut dia, Prabowo menegaskan bahwa proyek IKN yang dimulai Presiden ketujuh RI Joko Widodo atau Jokowi itu akan dilanjutkan. Prabowo juga menyampaikan komitmen merampungkan pembangunan IKN dalam kurun waktu 4 tahun.

    “Soal IKN sebenarnya sudah sangat jelas. Sudah menjadi keputusan akan dilanjutkan dan diselesaikan. Tidak perlu ada pertanyaan lagi soal itu sebenarnya,” ujarnya.

    “Bahkan beliau sudah punya rencana akan merampungkan pembangunan IKN dalam 4 tahun,” sambung Raja Juli. (Sumber: Liputan6.com)

  • BRIN Rancang Strategi Pencapaian Swasembada Pangan yang Berkelanjutan

    BRIN Rancang Strategi Pencapaian Swasembada Pangan yang Berkelanjutan

    7cloud.asia – Presiden Prabowo Subianto dalam berbagai kesempatan menekankan bagaimana urgensi swasembada pangan di tengan berbagai tantangan global yang terus berkembang.

    Untuk mewujudkan swasembada pangan tak hanya dibutuhkan produksi pangan berkualitas tetapi juga berkelanjutan.

    Swasembada pangan tidak hanya berfokus pada peningkatan 56 persen produksi pangan guna memenuhi kebutuhan 10 miliar penduduk di tahun 2050, tapi juga mulai bergeser ke tuntutan lainnya.

    Swasembada pangan juga harus memenuhi kriteria tertentu seperti aman, sehat, memiliki fungsi dan standar tertentu, serta terjangkau oleh masyarakat.

    Melansir dari brin.go.id, terwujudnya swasembada pangan juga disertai isu ramah lingkungan dan pangan fungsional juga menjadi orientasi konsumen, khususnya untuk kelas ekonomi tertentu.

    Baca: Perubahan iklim mendorong pengembangan Pertanian Regeneratif

    Kepala Organisasi Riset Tata Kelola Pemerintahan, Ekonomi, dan Kesejahteraan Masyarakat BRIN Agus Eko Nugroho mengatakan, sebagai salah satu negara kepulauan terbesar, Indonesia menghadapi tantangan unik dalam mencapai ketahanan pangan.

    Sebagai negara agraris, produksi pertanian sangat penting untuk mata pencaharian dan stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

    ”Isu – isu ketahanan pangan di Indonesia seperti kekurangan gizi, fluktuasi harga pangan, dan dampak perubahan iklim masih menjadi tantangan yang harus dihadapi,” tegasnya.

    Dia menambahkan, lebih dari 30 persen penduduk mengalami kerawanan pangan, terutama di daerah pedesaan.

    Walaupun perekonomian Indonesia telah menunjukkan ketahanan dengan fokus pada diversifikasi di luar sumber daya alam, kesenjangan pertumbuhan tetap ada. Daerah pedesaan sering tertinggal dari pusat kota dalam pembangunan.

    Baca: Penerapan pertanian regeneratif di Indonesia

    ”Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, strategi pencapaian swasembada pangan harus difokuskan pada beberapa titik kunci utama,” imbuh Agus.

    Kunci utama tersebut yaitu peningkatan keterampilan tenaga kerja di sektor pertanian, terutama dalam penggunaan teknologi modern sebagai kunci untuk mengoptimalkan produktivitas.

    Pencapaian swasembada pangan dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan perlu penguatan pembiayaan dan model bisnis yang berkelanjutan, terutama peningkatan aksesibilitas keuangan yang lebih baik bagi petani dan pelaku industri pangan.

    Selain itu juga dibutuhkan penguatan tata kelola kelembagaan ekonomi serta penerapan teknologi menuju ketahanan pangan, terutama pada sektor produksi dan distribusi, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem pangan nasional.

  • Daftar Riset BRIN untuk Wujudkan Swasembada Pangan Secara Ramah Lingkungan

    Daftar Riset BRIN untuk Wujudkan Swasembada Pangan Secara Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Dalam pidato pengukuhannya pada 20 Oktober lalu, Presiden Prabowo Subianto menyatakan komitmennya untuk mewujudkan swasembada pangan dan energi.

    Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai lembaga penelitian bertanggung jawab menghasilkan riset dan inovasi yang relevan, dalam meningkatkan produktivitas tanaman untuk memenuhi komitmen swasembada pangan dan energi tersebut.

    Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari mengatakan, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana riset dapat berkontribusi dalam memenuhi permintaan pangan, pakan, dan energi terbarukan yang terus meningkat melalui peningkatan produktivitas tanaman pangan seperti jagung, kedelai, dan beras.

    ”Pemanfaatan komoditas tersebut juga berguna bagi pakan ternak dan industri energi terbarukan, seperti biofuel,” ungkapnya saat membuka webinar TERAS bertajuk Increasing Crop Productivity to Meet Indonesia Needs for Food, Feed, and Fuel, Kamis (7/11/2024).

    Puji menambahkan, selain produktivitas, peneliti BRIN harus dapat meningkatkan efisiensi tanaman. Bidang penelitian seperti pertanian presisi, dan pengolahan tanaman pangan sebagai sumber energi terbarukan akan terus dikembangkan.

    Baca: Ekspansi kebun sawit mendorong deforestasi dan mengancam lahan tanaman pangan

    “Kemudian penggunaan data satelit untuk pemetaan lahan dan pemantauan iklim merupakan prioritas utama. Pengembangan sistem pertanian berkelanjutan dan rendah emisi juga perlu dikembangkan,” imbuhnya.

    Untuk mendukung riset energi terbarukan, Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Sholihin mengungkapkan, singkong memiliki potensi sebagai sumber etanol berpotensi dikembangkan di Indonesia untuk menjamin ketahanan energi nasional.

    Pengembangan tanaman untuk energi ini juga mengurangi ketergantungan impor minyak bumi, mengurangi emisi gas rumah kaca, serta meningkatkan pendapatan petani.

    Etanol, ujarnya, berasal dari tepung yang difermentasikan dengan bantuan enzim dapat diproduksi dari gula, jagung, singkong, kentang, sorgum dan tepung.

    ”Saat ini etanol telah diproduksi oleh PT Enero Mojekerto dan PT Molindo Malang, yang dapat menghasilkan etanol dengan kualitas bahan bakar sekitar 5,7 persen dari kebutuhan Jawa Timur dan Jakarta,” ucap Sholihin.

     

    Baca: Koalisi Moratorium Sawit serukan penghentian izin perluasan kebun sawit

    Bahkan, pada 2023 pemerintah juga telah meluncurkan motor etanol campuran pertamax dan ethanol.

    “Upaya-upaya ini perlu dikembangkan untuk mendukung ketahanan energi,” jelasnya.

    Sholihin menyebutkan, pemanfaatan singkong untuk produksi etanol dalam skala kecil perlu dikembangkan, karena mudah dibudidayakan dan dapat tumbuh hampir di seluruh wilayah Indonesia.

    “Untuk skala industri kecil di pedesaan singkong dapat menghasilkan 1000-5000 liter/hari. Kuantitasnya masih kecil, namun usaha ini perlu dikembangkan sebagai alternatif sumber energi biofuel karena hemat biaya,” ucapnya.

    Sementara itu untuk mengurangi emisi metana pada lahan pertanian, Destika Cahyana Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, menjelaskan teknologi penginderaan jauh untuk pengelolaan air pada budidaya padi.

    Baca: Menelaah batas atas kebun sawit Indonesia

    Teknologi ini dapat digunakan untuk mendukung pengurangan emisi metana di lahan sawah untuk sistem pertanian yang berkelanjutan, dan rendah emisi.

    Sumber signifikan emisi CH 4 berasal dari kegiatan pertanian, dan Active Remote Sensing (ARS) adalah salah satu teknologi yang kami aplikasikan dalam penelitian.

    “Teknologi ini digunakan untuk sistem pertanian yang dapat mendukung dan memonitor pengurangan emisi metana, hemat biaya, dan waktu,” ungkap Destika.

    Destika menambahkan, ARS adalah teknologi yang memungkinkan digunakan di Indonesia, karena tidak tergantung cuaca.

    “Energi cahaya yang digunakan untuk menjalankan teknologi ini berasal dari alat itu sendiri. Berbeda dengan jenis pasif remote sensing yang mengandalkan sinar matahari,” terangnya.

  • DPR: Turunnya Minat Generasi Muda Jadi Petani Mengancam Target Swasembada Pangan

    DPR: Turunnya Minat Generasi Muda Jadi Petani Mengancam Target Swasembada Pangan

    7cloud.asia – Lebih dari 60 persen petani Indonesia berusia di atas 45 tahun, dan minat generasi muda untuk menekuni sektor pertanian terus menurun.

    Kondisi ini menurut Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan dapat mengancam swasembada pangan seperti yang ditergetkan Menteri Pertanian. Pasalnya, swasembada pangan tidak hanya soal hasil panen tahun ini, tetapi soal keberlanjutan generasi petani.

    “Jika negara tidak serius menyediakan insentif dan akses tanah bagi petani muda, maka dalam 10–15 tahun ke depan kita bisa menghadapi krisis tenaga kerja pertanian,” ujar Daniel Johan dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/10/2025).

    Dia menilai pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengenai target swasembada pangan dalam waktu 2–3 bulan ke depan perlu dibuktikan agar sesuai dengan kondisi faktual di lapangan. Ia memberi sejumlah catatan.

    Menurut Daniel, swasembada pangan merupakan cita-cita nasional yang mulia, namun keberhasilan sektor pertanian tidak cukup diukur semata dari capaian angka produksi atau Nilai Tukar Petani (NTP) yang meningkat di atas kertas.

    “Bagi kami, persoalan utama pertanian nasional bukan hanya berapa banyak beras yang dipanen, tetapi seberapa kuat fondasi ekosistem pertanian kita untuk menopang ketahanan pangan secara berkelanjutan,” kata Daniel

    Baca: Solusi krisis pangan adalah reforma agraria 

    “Maka swasembada pangan harus nyata, bukan sekadar janji-janji atau angka politik,” imbuhnya.

    Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berkomitmen untuk mengejar target Presiden Prabowo Subianto mewujudkan swasembada pangan dalam 2-3 bulan ke depan.

    Hal itu disampaikan Amran dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (9/10/2025).

    Amran mengatakan, total produksi beras Indonesia pada tahun ini telah mencapai 33,1 juta ton. Ia menargetkan, produksi tersebut bisa mencapai 34 juta ton pada akhir tahun.

    Daniel mengapresiasi kenaikan produksi beras nasional menjadi 33 juta ton. Namun ia mengingatkan masih banyaknya petani yang menghadapi beban biaya produksi tinggi akibat harga pupuk, benih unggul, dan solar subsidi yang tidak merata.

    “Banyak daerah pertanian yang masih kesulitan mendapatkan pupuk subsidi tepat waktu, sementara harga eceran pupuk non-subsidi naik signifikan. Jadi biaya produksi yang tidak efisiensi penting untuk diatasi karena bila tidak akan menggerus daya saing produksi petani kita,” ungkap Daniel.

    Baca: Prabowo-Gibran mengulang 3 dekade kegagalan ‘food estate’

     

    “Perlu digarisbawahi, swasembada tidak akan berarti jika petani tetap hidup dalam ketidakpastian dan margin keuntungan yang tipis,” sambung Legislator dari Dapil Kalimantan Barat I tersebut.

    Daniel pun menyoroti ketergantungan tinggi sektor pertanian terhadap impor bahan baku seperti pupuk, pestisida, dan alat pertanian. Menurutnya, kemandirian pangan tidak bisa dicapai jika rantai pasok produksinya masih bergantung pada bahan impor.

    “Nah Pemerintah, harus menyiapkan strategi substitusi impor dan memperkuat industri hulu pertanian dalam negeri agar ketahanan pangan benar-benar berdiri di atas kaki sendiri,” jelas Daniel.

    Anggota Komisi Pangan dan Pertanian tersebut juga menilai, data curah hujan ekstrem dan pola musim yang tidak menentu tahun ini harus menjadi perhatian. Daniel menyebut, perubahan iklim menjadi ancaman nyata bagi stabilitas produksi pangan.

    “Target swasembada tidak akan tercapai tanpa adaptasi iklim di sektor pertanian. Misalnya, pembangunan embung, irigasi presisi, serta varietas benih tahan kekeringan dan banjir,” sebutnya.

    “Pemerintah sering kali hanya menyoroti sisi produksi, tetapi melupakan investasi pada sistem irigasi dan konservasi lahan yang rusak,” imbuh Daniel.

    Baca: Food estate untuk mencapai swasembada pangan tapi mengancam lingkungan

     

  • Di Balik Klaim Swasembada Pangan Ada Penghancuran Pangan Lokal

    Di Balik Klaim Swasembada Pangan Ada Penghancuran Pangan Lokal

    7cloud.asia – Di balik target ambisius pembukaan jutaan hektare lahan sawah baru melalui program food estate yang mengatasnamakan swasembada pangan, tersimpan persoalan yang lebih besar.

    Bahwa pembangunan swasembada pangan yang berfokus pada peningkatan produksi beras semata, terlalu sering mengabaikan keberlanjutan lingkungan dan perlindungan hak masyarakat lokal.

    Ketika ekspansi lahan dijadikan jalan utama menuju swasembada, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya apakah Indonesia mampu memproduksi lebih banyak beras, melainkan siapa yang memperoleh manfaat dan siapa yang harus menanggung dampaknya.

    Demikian disampaikan Musdalifah Jamal, Pengkampanye Ekosistem Esensial dan Pangan WALHI dalam pernyataannya yang dirilis di laman resmi walhi.or.id, Jumat (12/6/2026).

    Musdalifah mencontohkan apa yang terjadi saat ini di Papua. Pemerintah menargetkan sekitar 100.000 hektare pembukaan sawah baru.

    Pendekatan ini mengabaikan realitas bahwa masyarakat setempat tidak bertumpu pada beras, melainkan sagu, umbi-umbian, dan pangan berbasis hutan.

    Baca: Masalah Berlapis ‘Food Estate’: Mulai dari Panen Loyo hingga Diskriminasi Perempuan

    “Ketika kebijakan dipaksakan seragam, negara tidak hanya mengubah produksi pangan, tetapi juga menggeser sistem sosial, budaya, dan pengetahuan lokal,“ ujar Musdalifah.

    Dia menambahkan, keberhasilan pembangunan pangan tidak dapat diukur hanya dari luas lahan, produksi beras, atau penurunan harga. Bagi masyarakat Papua, murahnya beras tidak menggantikan hilangnya sumber pangan lokal.

    Kondisi ini, ujarnya, adalah bentuk pemaksaan budaya pangan yang menciptakan ketergantungan baru sekaligus meminggirkan peran masyarakat, terutama perempuan, yang secara kultural tidak berada dalam sistem produksi padi.

    Dalam kajian cepatnya, WALHI melihat bahwa risiko serupa juga terlihat di wilayah lain. Di Sumba Tengah (NTT) lahan pertanian tradisional tengah dikembangkan menjadi food estate dengan program difokuskan pada padi dan jagung dengan optimalisasi lahan kering melalui sumur bor.

    Namun kebutuhan air tinggi di wilayah kering berpotensi memicu krisis air jangka panjang. Di Kalimantan Tengah, pengembangan padi di lahan rawa serta singkong dan jagung di Gunung Mas menunjukkan masalah kesesuaian lahan; tanah podsolik yang asam menyebabkan tanaman tidak optimal hingga gagal panen.

    “Pembukaan gambut di wilayah ini juga meningkatkan risiko kebakaran dan emisi karbon,“ imbuh Musdalifah.

    Baca: Pemuda Adat Papua Tolak Percepatan Program Cetak Sawah di Sorong

    Sementara itu, berdasarkan catatan dari WALHI Sumatera Utara dan Serikat Petani Indonesia di Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, terdapat food estate hortikultura dengan skema kemitraan korporasi yang berpotensi menciptakan konflik agraria dan ketergantungan petani terhadap pasar.

    Alih fungsi lahan dalam skema ini, menurut Musdalifah, kerap menyasar hutan, gambut, dan rawa yang sering dianggap “lahan kosong”. Padahal, ekosistem ini memiliki fungsi ekologis vital yakni menyimpan air, menjaga iklim, dan menopang keanekaragaman hayati.

    ”Kerusakannya akan meningkatkan risiko banjir, kekeringan, dan kebakaran,” tegas Musdalifah.

    Apa yang terjadi di Kalimantan Tengah yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan karena dilakukan pada kawasan yang secara historis merupakan pusat kebakaran gambut, yang pada akhirnya justru mengancam produksi pangan itu sendiri

    Selain itu, proyek skala besar ini membuka potensi konflik agraria. Masuknya program ke wilayah adat tanpa persetujuan yang bermakna berisiko menyingkirkan masyarakat dari ruang hidupnya.

    Dalam beberapa kasus, petani juga semakin bergantung pada sistem produksi yang dikendalikan pihak eksternal. Pendekatan ini berpotensi menghasilkan krisis baru: kerusakan ekologis, konflik sosial, dan hilangnya sistem pangan lokal yang adaptif.

    Ketahanan pangan tidak bisa dibangun dengan menghancurkan fondasi ekologis dan sosialnya sendiri.

    Karena itu, Kementerian Pertanian perlu mengubah arah kebijakan dari ekspansi lahan dan produksi beras semata, menuju penguatan pangan lokal, perlindungan hak masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.

    “Tanpa mendorong itu, Kementan hanya melakukan klaim dengan angka statistik, dan terus ekspansif merusak lingkungan, hutan dan ruang hidup orang adat, dengan pertaruhannya krisis di lapangan terus membesar,“ pungkas Musdalifah.