Tag: tantrum

  • Studi: Terlalu Sering Menonton Video Pendek di Gawai Bisa Memicu Perilaku Tantrum pada Anak

    Studi: Terlalu Sering Menonton Video Pendek di Gawai Bisa Memicu Perilaku Tantrum pada Anak

    7cloud.asia – Apakah anak Anda sering marah dan tantrum? Jika iya, coba perhatikan lagi kebiasaan mereka selama ini.

    Penelitian terbaru mengungkap, kebiasaan menonton video pendek dari layar gawai ternyata berkorelasi dengan perilaku tantrum pada anak-anak.

    Studi yang melibatkan 1.052 anak SD di China (2024) mengungkap bahwa paparan video pendek merupakan bentuk kesenangan instan yang bisa membuat anak kesulitan mengelola emosi dan mengurangi fokus mereka.

    Akibatnya, anak menjadi lebih gelisah, impulsif, gampang marah, dan sering tantrum. Hal ini disebabkan fungsi eksekutif pada otak anak terganggu.

    Fungsi eksekutif adalah kemampuan kognitif yang berperan dalam mengontrol emosi, menunda kepuasan, mengalihkan perhatian, dan menyelesaikan tugas.

    Fungsi eksekutif diproses terutama oleh lobus frontal (bagian terbesar di area depan otak) dan berkembang pesat di usia dini hingga remaja.

    Bagaimana video pendek mengganggu fungsi otak?
    Menurut teori persepsi adegan dan pemahaman peristiwa alias scene perception and event comprehension theory (SPECT), saat menyaksikan tayangan (baik di film atau video) otak kita bekerja seperti seorang editor.

    Baca: Batasi penggunaan gawai untuk kesehatan fisik dan mental anak

    Otak tidak hanya melihat gambar, tapi juga berusaha mengikuti alur, dan memahami cerita di baliknya lewat dua tahapan.

    Pertama, membagi peristiwa ke dalam potongan-potongan yang bermakna (misalnya “anak mulai bermain”, “anak menangis”). Kedua, menghubungkan potongan itu menjadi cerita utuh yang bisa dipahami dan diingat.

    Masalahnya, banyak video pendek yang viral di TikTok, reels Instagram, ataupun shorts Youtube (seperti Italian brain rot atau skibidi toilet) justru berpotensi mengganggu cara kerja alami otak dalam menelaah dan memahami sebuah cerita.

    Penelitian yang dirilis dalam jurnal Frontiers in Human Neurosciences (2024) mengungkapkan bahwa semakin sering anak menonton video pendek, kemampuan fungsi eksekutifnya akan semakin menurun. Akibatnya, anak kian sulit mengelola emosi dan fokus.

    Efek video pendek dalam mengganggu fungsi eksekutif anak dapat dipahami pula lewat pengaruh tayangan video kartun bertempo cepat di televisi.

    Misalnya, studi (2022) mengungkap anak yang nonton SpongeBob SquarePants dalam sembilan menit, seketika mengalami penurunan fungsi eksekutif. Dampaknya, anak menjadi lebih impulsif, sulit berkonsentrasi, dan tidak bisa menyelesaikan tugas sederhana.

    Setidaknya, ada tiga muatan video bertransisi cepat yang mengacaukan sistem pemrosesan otak:

    1. Visual terlalu mencolok dan cepat
    Transisi kilat, warna menyala, dan suara meledak-ledak membuat pikiran anak belum sempat memahami visual yang dia lihat.

    Baca: Kecanduan gawai dapat memicu keinginan bunuh diri

    2. Pergantian adegan terlalu sering
    Alur yang cepat membuat otak anak belum sempat menjahit potongan adegan-adegan yang didapatkan.

    3. Ceritanya absurd, tidak masuk akal
    Terakhir, kebanyakan video singkat berisi cerita absurd yang membuat otak anak tidak terbiasa memprosesnya.

    Orang tua perlu lakukan ini
    Memahami dampak menonton video pendek terlalu sering dalam melemahkan fungsi eksekutif anak sangatlah penting.

    Dengan begitu, kita sebagai orang tua lebih bisa mewaspadai efek penggunaan teknologi yang tidak bijak terhadap kesehatan mental si kecil, alih-alih menyalahkan kebiasaannya atau melabelinya sebagai anak nakal.

    Sejumlah cara bisa kita lakukan untuk mengurangi kebiasaan anak nonton video pendek, berikut beberapa di antaranya:

    1. Batasi waktu menonton video pendek dan hindari menonton sebelum tidur atau belajar.

    2. Pilih tayangan dengan alur lambat dan cerita realistis, seperti dongeng naratif atau dokumenter anak.

    Baca: Kecanduan gawai dapat mengancam bonus demografi

    3. Latih fungsi eksekutif anak melalui permainan sederhana, seperti board game, bermain peran, atau aktivitas yang melibatkan giliran.

    4. Ajarkan toleransi terhadap kebosanan, misalnya dengan membiarkan anak mengeksplorasi mainan sederhana tanpa distraksi layar.

    5. Periksakan anak ke psikiater atau psikolog jika mereka sering tantrum akibat kebiasaan screen time rutin.

    Ketika anak memiliki fungsi eksekusi yang baik, mereka akan cenderung bersabar dalam menunggu giliran, menenangkan diri saat kecewa, dan berfokus menyelesaikan kegiatan.

    Karena itu, membangun fungsi eksekutif adalah investasi jangka panjang agar anak bisa mengelola emosi dengan baik dan menghadapi dunia digital yang kian kompleks.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Converation, Penulis: Hans Christian (Dosen Ilmu Kedokteran Jiwa & Psikiater, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya)