Tag: tbc

  • Bedah Rumah Pasien TBC di Jakarta: Rata-rata di Kawasan Padat dengan Sirkulasi Udara dan Kurang Sinar Matahari

    Bedah Rumah Pasien TBC di Jakarta: Rata-rata di Kawasan Padat dengan Sirkulasi Udara dan Kurang Sinar Matahari

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Jakarta Pusat menyelenggarakan program bedah rumah bagi pasien penderita tuberkulosis (TBC).

    Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kota Jakarta Pusat Ahmad Joehandi mengatakan, bedah rumah pasien TBC di Jakarta ini terutama dilakukan pada bangunan berlantai dua.

    Tujuan utama bedah rumah pasien TBC di Jakarta Pusat ini adalah untuk memaksimalkan pencahayaan alami ke dalam rumah dan juga sirkulasi udara.

    “Lantai atasnya itu dikasih pencahayaan, udara terbuka, supaya sinar matahari masuk. Padahal di atas itu rata-rata ada dak,” kata Ahmad dikutip Antaranewsw.com, Jumat (17/5/2024).

    Ahmad mengatakan rata-rata rumah pasien berada di gang sempit dan tidak memungkinkan sinar matahari masuk sehingga inilah alasan tim bedah membuatnya menjadi dua lantai.

    Baca: Solusi tuk kurangi dampak polusi udara pada kesehatan

    Selain itu, rumah hasil bedah pun dibuat memiliki ventilasi yang memadai sehingga memungkinkan udara bertukar dengan baik.

    Bukan hanya ventilasi, tangki septik juga ikut dibenahi sehingga rumah pun menjadi masuk kategori standar layak atau rumah sehat.

    “Rumah standar layak itu ada sinar matahari masuk, sirkulasi udaranya (baik), kemudian juga memplester dan memperbaiki tangki septik. Untuk pekerjaan yang terakhir ini dibantu Perusahaan Daerah PAL Jaya,” kata Ahmad.

    Terkait dengan program bedah rumah tersebut, Pemkot Jakarta Pusat juga membantu pengurusan izin mendirikan bangunan (IMB) setelah rumah dibedah.

    Pemerintah menggandeng BAZNAS/ BAZIS DKI Jakarta untuk menjalankan program ini dan sudah tiga rumah rampung pada tahun ini di tiga kecamatan berbeda yakni Kecamatan Cempaka Putih, Johar Baru, dan Menteng.

    Baca: Kualitas udara Jakarta buruk, warga diminta mengenakan masker

    Pemerintah menargetkan setidaknya ada satu rumah pasien di lima kecamatan lainnya yang juga dibedah tahun ini.

    Sementara itu, dalam kesempatan terpisah Kepala Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Pusat Rismasari mengatakan program bedah rumah merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menanggulangi TBC.

    Berbicara lebih lanjut terkait upaya, pemerintah juga fokus pada Pengobatan pasien TBC tuntas sampai sembuh, pemberian terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) bagi kontak serumah pasien TBC, investigasi kontak oleh tim Komunitas TBC.

    Upaya lainnya yakni kolaborasi dengan kader kesehatan dan lintas sektor, pembentukan tim district public private mix tingkat kota Jakarta Pusat, kampanye edukasi di Kampus Universitas Yarsi.

    Pemkot juga melakukan skrining terintegrasi dengan penyakit tidak menular, dan skrining aktif masif di Lapas /Rutan Salemba.

    “Kami juga melakukan penelusuran kasus aktif di masyarakat dengan menggunakan mobile rontgen serta jejaring dengan klinik, tempat praktik mandiri dokter (TPMD) dan puskesmas serta alur rujukan ke rumah sakit,” ucap Rismasari.

  • Indonesia Peringkat Kedua Dunia Setelah India dalam Jumlah Kasus TBC

    Indonesia Peringkat Kedua Dunia Setelah India dalam Jumlah Kasus TBC

    7cloud.asia – Wakil Ketua Komisi IX DPR, Nihayatul Wafiroh mengungkapkan keprihatinannya terhadap status Indonesia yang kini menempati peringkat kedua tertinggi di dunia dalam jumlah kasus TBC

    Dengan estimasi total kasus mencapai 1.090.000, Indonesia menempati posisi kedua dunia setelah India dalam jumlah kasus TBC

    Adapun, Kementerian Kesehatan mencatat telah mendeteksi sekitar 889.000 kasus TBC, yang merupakan 81 persen dari target deteksi tahun ini sebesar 1.092.000 kasus.

    Angka penemuan kasus baru TBC menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, ditemukan 724.309 kasus, meningkat menjadi 821.200 kasus pada 2023.

    Peningkatan ini mencerminkan perbaikan dalam sistem pelaporan dan deteksi dini yang terus ditingkatkan oleh pemerintah.

    Namun, TBC tetap menjadi penyebab utama kematian akibat penyakit menular di Indonesia, dengan sekitar 134.000 kematian setiap tahunnya, atau sekitar 14 orang meninggal setiap jam.

    Baca: Pasien TBC di Jakarta rata-rata tinggal di kawasan padat penduduk

    Sebagian besar penderita berada dalam usia produktif, dan sekitar 45 persen di antaranya tidak memiliki pekerjaan, menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang signifikan.

    Untuk itu, Nihayatul menegaskan pentingnya langkah nyata dan sinergi lintas sektor dalam upaya percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC) di Indonesia.

    Hal tersebut disampaikannya usai mengikuti Rapat Panitia Kerja (Panja) Percepatan Eliminasi TBC bersama sejumlah organisasi profesi, lembaga masyarakat sipil, dan kementerian terkait, di Gedung DPR, di Jakarta, Senin (14/7/2025).

    “Karena salah satunya kita ini sudah naik peringkat dari dulu peringkat ke-5 sekarang menjadi peringkat kedua. Nah, satu langkah lagi sudah menjadi peringkat pertama, kita ini dibawah India. Tentunya kita perlu sangat waspada bagaimana untuk bisa menurunkan TBC ini,” ujarnya.

    Nihayatul menjelaskan bahwa tantangan utama dalam penanganan TBC masih cukup kompleks, dimulai dari rendahnya kesadaran masyarakat bahwa penyakit ini bersifat menular.

    Selain itu, keterbatasan alat deteksi dini seperti Tes Cepat Molekuler (TCM) juga menjadi kendala serius karena belum tersedia secara merata di seluruh wilayah Indonesia. Padahal, alat ini dapat mendeteksi TBC melalui sampel air liur secara cepat dan akurat.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

    Tak hanya itu, Indonesia juga masih menghadapi persoalan ketergantungan terhadap impor obat-obatan TBC. Menurut Nihayatul, negara belum memiliki kemandirian dalam produksi obat, yang justru sangat dibutuhkan dalam proses penyembuhan yang cukup panjang.

    Pasien TBC harus menjalani pengobatan rutin minimal enam bulan, dan itu memerlukan kedisiplinan serta pengawasan ketat dari petugas layanan kesehatan.

    “Kalau tidak ada supervisi yang konkret, belum tentu pasien mau atau telaten minum obat setiap hari. Di sinilah pentingnya peran puskesmas atau pos pengendalian TBC untuk benar-benar mengontrol,” ujarnya.

    Kondisi geografis Indonesia yang luas, termasuk daerah-daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), juga menjadi tantangan tersendiri.

    Ketika sampel pasien dikirim ke laboratorium di daerah lain, proses diagnosis bisa memakan waktu hingga satu hingga dua bulan, yang berisiko memperbesar penyebaran penyakit.

    Baca: Solusi untuk kurangi dampak polusi udara pada kesehatan

    Lebih lanjut, ia juga menyoroti minimnya tenaga medis spesialis di banyak wilayah, seperti dokter paru dan dokter penyakit dalam. Bahkan di kota besar pun, ketersediaan obat terkadang masih menjadi masalah yang belum terselesaikan.

    “Transportasi dan distribusi juga menjadi perhatian. Apalagi kita ini kan negara kepulauan. Di daerah pinggiran, masyarakat bahkan tidak menganggap ini penyakit serius. Mereka hanya mengira ini batuk biasa,” tutur Politisi Fraksi PKB ini.

    Menurut Nihayatul, untuk menjadikan eliminasi TBC sebagai program prioritas nasional, pemerintah perlu memperkuat alokasi anggaran dan mengintegrasikan program dengan pendekatan pendidikan masyarakat tentang pentingnya lingkungan hidup yang sehat.

    “Kita juga butuh pendidikan kepada masyarakat. Lingkungannya harus sehat. Masyarakat juga harus dibentuk konsepnya tentang lingkungan yang sehat itu seperti apa,” tambahnya.

    Menutup pernyataannya, Nihayatul menyebut Panja akan merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis praktik baik untuk mendukung target eliminasi TBC tahun 2030.

    Ia juga mengusulkan agar Peraturan Presiden Tahun 2021 yang menjadi dasar kebijakan penanggulangan TBC dievaluasi kembali.