Tag: teba

  • Mengenal Teba, Cara Unik Warga Bali Mengelola Sampah Rumah Tangga

    Mengenal Teba, Cara Unik Warga Bali Mengelola Sampah Rumah Tangga

     
    “Tidak heran jika tanah di Balidi masa lalu sangat subur dan bagus untuk pertanian dan berkebun, semua berkat teba ini” ujar Santi sebagaimana dikutip Antaranews.com. 
     
    Baca: Rumitnya mengelola sampah yang dihasilkan warga Jakarta
     
    Kini sistem Teba ini diadaptasi kembali. Oleh Santi sistem ini dinamai Teba Modern. Santi berharap  Teba modern ini bisa jadi alternatif solusi yang tepat dalam pengelolaan sampah rumah tangga. 
     
    Teba modern ini diharapkan jadi salah satu alternatif yang dinilai efektif dan efisien dalam menanggulangi sampah yang menumpuk. Santi menyatakan bahwa Teba Modern merupakan sebuah alat atau tempat membuat sampah organik menjadi pupuk kompos.
     
    “Yang digunakan di teba hanya sampah organik, kalau anorganik akan dibawa ke bank sampah karena masih dapat dimanfaatkan kembali serta bernilai ekonomi,” terang Santi.
     
    Teba modern tak lagi sekadar lubang besar di tanah belakang rumah, melainkan telah dimodifikasi sedemikian rupa menjadi sebuah meja atau bangku di halaman rumah yang dapat digunakan untuk nongkrong atau bercengkerama.
     
    Mereka yang duduk di atas Teba ini tidak sadar jika di bawahnya terdapat lubang sebagai tempat membuat sampah organik menjadi kompos sehingga tidak merasa kotor atau jijik.

    Santi mengatakan, banyak yang belum mengetahui terobosan Teba Modern  karena mereka akan mengira bahwa itu sekadar meja atau kursi untuk duduk-duduk dan berkumpul saja, atau bahkan tidak mengetahui keberadaan Teba Modern karena dibentuk dengan minimalis ini. 

     
    Baca: Jangan gengsi gunakan barang bekas agar tak nyampah

    Santi memaparkan bahwa sebanyak 60 hingga 70 persen sampah organik dari sisa makanan, sayur-sayuran, buah yang membusuk, dapat dimanfaatkan menjadi pupuk kompos yang diletakkan di dalam Teba Modern.

    Inovasi ini pertama kali dirancang oleh Desa Adat Cemenggaon yang kemudian mulai berkembang ke sejumlah sekolah maupun desa yang berada di Bali. Meskipun belum masif dan merata di seluruh Indonesia, Santi dan kawan-kawan pegiat lingkungan tetap optimistis akan dapat menanggulangi sampah organik dengan cara tersebut.

    Hal pertama yang harus dilakukan pada pembuatan Teba Modern adalah dengan menggali lubang biopori sedalam dua hingga 2,5 meter. Kedalaman tersebut sudah paten dan tidak dapat diubah.

    Ya, hal ini karena Teba Modern memanfaatkan bakteri untuk mempercepat proses penguraian sampah organik. Jika hal tersebut tidak dilakukan dengan benar, hal itu menyebabkan bakteri kesulitan menguraikan sampah karena tingkat keasaman yang tinggi dan oksigen tidak dapat menjangkau proses pengolahannya sehingga sampah tidak akan terurai menjadi pupuk,” urai Santi.

     
    Baca: Ini pesan Laura Kiehl pada anak muda

    Pegiat lingkungan lainnya,  Krishna Sindhu, juga turut menjelaskan terkait dengan pembuatan Teba Modern untuk menangani masalah sampah di Bali.

    Ia merinci bentuk Teba Modern yakni kedalaman yang diperlukan adalah 2,5 meter dengan lebar minimal satu meter. Buisnya dari kedalaman tanah itu hanya satu meter, dan 1,5 meter di bawahnya adalah tanah.

    Setelah proses penggalian lubang, sebenarnya Teba Modern dapat dibentuk sesuai dengan keadaan yang berlaku. Mereka menyatakan ketika luas rumah atau bangunan yang akan dibuatkan Teba Modern cenderung sempit, maka disarankan untuk membuat Teba Modern yang menyatu dengan tanah.

     
    Jika luas halaman luas, maka dapat dibuatkan dalam bentuk yang bervariasi, seperti dibuat menjadi meja dan bangku, atau hal lainnya sesuai keinginan.

    Sejumlah siswa dengan dibimbing guru dan aktivis lingkungan menggali lubang untuk “Teba Modern” di halaman SMK Negeri 1 Sawan, Kabupaten Buleleng, Bali. ANTARA/HO-DOk Krishna Sindhu.
    Manfaat 

    Banyak manfaat yang dapat dirasakan atas keberadaan Teba Modern ini. Komang Asti, ibu rumah tangga mengatakan banyak manfaat yang telah didapatnya setelah membuat Teba Modern ini. Pupuk kompos dari sampah organik tersebut dapat dipanen 6 bulan hingga 1 tahun sekali.

    Kemudian, pupuk kompos tersebut dapat dijual atau dipakai sendiri untuk menyuburkan tanaman di kebun.

    Pemanfaatan Teba Modern yang lainnya adalah ketika hujan deras terjadi, rumah saya tidak pernah tergenang air. Cukup buka saja tutup dari Teba Modern tersebut dan air hujan akan terserap ke lubang biopori, sehingga air akan masuk ke tanah kembali dan dapat membuat cadangan air di tanah.

    Oleh karena itu para pengusaha, baik rumah makan ataupun industri, diharapkan dapat memanfaatkan sistem ini karena dapat membantu Bumi dari momok permasalahan sampah.

    Jika semua terkendali maka Bumi yang asri dan perubahan iklim yang ekstrem dapat dikendalikan. Asti juga turut berharap  masyarakat senantiasa memiliki niat yang besar untuk menjaga Bumi.

     

     

  • Pemkot Jakarta Selatan Mengandalkan Biopori Jumbo dan Teba Modern untuk Program Pengelolaan Sampah Organik

    Pemkot Jakarta Selatan Mengandalkan Biopori Jumbo dan Teba Modern untuk Program Pengelolaan Sampah Organik

    7cloud.asia – Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan mengandalkan sistem biopori jumbo dan teba modern untuk program pengelolaan sampah organik di wilayahnya.

    “Untuk mendukung program ini, Pemkot Jakarta Selatan meminta setiap rukun tetangga (RT) memiliki minimal satu lubang biopori jumbo,” terang Wakil Wali Kota Jakarta Selatan, Ali Murthadho seperti dikutip beritajakarta.id, Kamis (7/5/2026).

    Menurutnya, apabila sekitar 6.000 RT di Jakarta Selatan menerapkan sistem tersebut, penanganan sampah organik dapat dilakukan secara efektif melalui konsep zero organic waste.

    “Kantor-kantor pemerintah juga kami imbau melakukan hal yang sama. Untuk lingkup RT, saya rasa dengan semangat gotong royong dan pemahaman masyarakat terkait persoalan sampah, mereka akan melakukannya,” ungkapnya.

    Ali meminta camat dan lurah dapat memperkuat pemberdayaan bank sampah untuk menangani sampah anorganik seperti plastik dan sejenisnya.

    Baca: Indonesia Darurat Sampah, Hanya 40 Persen Sampah yang Terkelola dengan Baik

    Bank sampah yang sudah berkembang perlu membina bank sampah lainnya agar pengelolaan sampah dapat berjalan lebih optimal.

    “Kita harus memperkuat fungsi bank sampah agar masyarakat dapat memilah dan membawa sampah anorganik tersebut ke sana,” ucapnya.

    Sementara itu, Kepala Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Selatan, Dedy Setiono menyampaikan, program pengelolaan sampah melalui biopori jumbo dan teba modern telah diterapkan di sejumlah lokasi.

    Sistem biopori jumbo di antaranya teah dibangun di Kecamatan Mampang Prapatan dan Kelurahan Tegal Parang.

    Ia menuturkan, program tersebut diharapkan mampu mengurangi pembuangan sampah hingga 50 persen pada Agustus 2026. Bahkan, pada 2027 Jakarta Selatan ditargetkan tidak lagi membuang sampah ke TPST Bantargebang.

    Baca: Atasi Masalah Sampah, DKI Jakarta Percepat Pembangunan PLTSa

    “Penanganan sampah yang paling cepat adalah langsung diselesaikan di tempat, sehingga tidak perlu lagi dibawa jauh ke Bantar Gebang. Semoga inovasi ini berjalan dengan baik,” tandasnya.

    Untuk pengelolaan sampah ini, Pemkot Jakarta Selatan menggencarkan gerakan “Jaga Jakarta Bersih, Pilah Sampah” sebagai upaya mengatasi persoalan sampah menyusul karena keterbatasan daya tampung TPST Bantar Gebang.

    Gerakan tersebut diharapkan menjadi nilai yang tertanam di masyarakat agar persoalan sampah dapat diselesaikan mulai dari lingkungan rumah tangga.

    “Upaya yang kami lakukan adalah edukasi kepada masyarakat yang dibarengi dengan aksi langsung. Sehingga persoalan sampah di Jakarta dapat segera teratasi,” ujar Ali saat memimpin Rapat Koordinasi Wilayah di Ruang Antasari, Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, Kamis (7/5/2026).

    Dalam Rapat Koordinasi Wilayah tersebut, Pemkot Jakarta Selatan juga telah menerapkan pemilahan sampah secara langsung. Seluruh tamu yang hadir diarahkan membuang sampah sesuai dengan jenis dan tempat pemilahannya.