Tag: teknologi ai

  • Empat Cara Penjahat Gunakan Teknologi AI untuk Sasar Lebih Banyak Korban, Simak Cara Menangkalnya di Sini

    Empat Cara Penjahat Gunakan Teknologi AI untuk Sasar Lebih Banyak Korban, Simak Cara Menangkalnya di Sini

    Ilustrasi artificial inteligence atau AI. Foto: interstudio.com

    7cloud.asia – Berbagai peringatan tentang kecerdasan buatan (artificial intelligence) atau yang dikenal dengan teknologi AI sudah ada di mana-mana saat ini.

    Peringatan ini  termasuk pesan menakutkan tentang potensi teknologi AI untuk menyebabkan kepunahan manusia, mengingatkan kita tentang adegan di film Terminator.

    Berikut ulasan tentang bahaya teknologi AI yang ditulis Daniel Prince, Professor of Cyber Security, Lancaster University dan sudah diterbitkan di The Conversation. 

    Rishi Sunak, Perdana Menteri (PM) Inggris – tempat saya saat ini mengajar – bahkan sudah mengadakan pertemuan untuk membahas keamanan teknologi AI.

    Nyatanya, kita sebenarnya telah menggunakan teknologi AI sejak lama – mulai dari algoritme yang digunakan untuk merekomendasikan produk yang relevan saat berbelanja daring, hingga mobil dengan teknologi yang dapat mengenali rambu lalu lintas dan mampu memosisikan diri di jalur yang benar.

    Teknologi AI adalah alat untuk meningkatkan efisiensi, memproses dan menyortir data dalam volume besar, serta melepaskan sebagian beban pengambilan keputusan dari tangan kita.

    Meski demikian, alat ini terbuka untuk semua orang, termasuk para penjahat. Dan kita sudah melihat bagaimana penjahat mengadopsi teknologi AI pada masa-masa awal ini – misalnya penggunaan teknologi deepfake (rekayasa citra atau muka manusia) untuk melakukan pornografi balas dendam (revenge porn).

    Teknologi AI dapat meningkatkan efisiensi aktivitas kriminal. Ini membuka celah bagi pelanggar hukum untuk menyasar lebih banyak orang dan membuat apa yang mereka lakukan lebih sulit dikenali.

    Baca Juga: Tiga Jenis Pekerjaan Ini Belum Akan Tergusur oleh teknologi AI

    Mengamati bagaimana penjahat telah beradaptasi dengan, dan mengadopsi, kemajuan teknologi di masa lalu, dapat menjadi petunjuk bagi kita untuk memahami bagaimana mereka mungkin akan memanfaatkan teknologi AI.

    1. Pancingan (phising) yang lebih baik

    Teknologi AI seperti ChatGPT dan Bard milik Google telah membantu aktivitas penulisan, misalnya memungkinkan penulis yang tidak berpengalaman untuk menyusun pesan pemasaran yang efektif.

    Namun, teknologi ini juga dapat membantu penjahat terlihat lebih dapat dipercaya saat menghubungi calon korban mereka.

    Bayangkan semua email spam dan teks phishing (penipuan online untuk mendapatkan informasi data pribadi) yang tulisannya buruk dan mudah dideteksi.

    Konten tulisan yang masuk akal dan mudah dipercaya adalah kunci untuk dapat memperoleh informasi dari korban.

    Phishing adalah masalah angka: diperkirakan 3,4 miliar email spam dikirim setiap hari. Perhitungan saya sendiri menunjukkan bahwa jika penjahat dapat meningkatkan kualitas pesan mereka sehingga sebanyak 0,000005% saja dari pesan spam tersebut mampu meyakinkan seseorang untuk mengungkapkan informasi, ini akan menghasilkan 6,2 juta korban phishing lebih banyak setiap tahun.

    Baca Juga: Dengan Kecerdasan Buatan atau AI, Le Sserafim dan Fifty-Fifty dinyanyikan oleh Spongebob, Bagaimana Jadinya?

    2. Interaksi otomatis

    Salah satu penggunaan awal teknologi AI adalah untuk mengautomasi interaksi antara pelanggan dan layanan melalui teks, pesan obrolan, dan telepon.

    Hal ini memungkinkan respons yang lebih cepat untuk pelanggan sehingga dapat mengoptimalkan efisiensi bisnis.

    Pihak pertama yang berinteraksi denganmu ketika menghubungi sebuah organisasi kemungkinan besar adalah sistem AI, sebelum kamu berbicara dengan manusia.

    Para penjahat bisa saja menggunakan cara yang sama untuk membentuk interaksi otomatis dengan calon korban dalam jumlah besar, dalam skala yang mustahil dilakukan hanya oleh manusia.

    Mereka dapat menyamar sebagai sebuah layanan sah, seperti bank, melalui telepon dan email untuk mendapatkan informasi yang kemudian memungkinkan mereka untuk mencuri uangmu.

    Baca Juga: Kenali Gen Alfa yang Akan Membentuk Dunia Kerja di Masa Depan

    3. Deepfake

    AI sangat pintar dalam menghasilkan model matematika yang dapat “dilatih” dengan jumlah data yang besar dari dunia nyata dan menjadikan model tersebut bisa melakukan tugas tertentu dengan lebih baik.

    Teknologi deepfake dalam video dan audio adalah contohnya. Penampilan deepfake yang disebut Metaphysic baru-baru mmendemonstrasikan potensi teknologi ini ketika meluncurkan video Simon Cowell menyanyikan opera dalam acara televisi America’s Got Talent.

    Teknologi ini berada di luar jangkauan sebagian besar penjahat, tetapi kemampuan untuk menggunakan AI dalam meniru cara seseorang menanggapi teks, menulis email, merekam catatan suara, atau melakukan panggilan telepon menjadi terbuka lebar dengan hadirnya AI.

    Begitu pula dengan data untuk melatihnya, yang bisa dikumpulkan dari video di media sosial, misalnya.

    Media sosial selalu menjadi ladang bagi para penjahat untuk menggali informasi mengenai target potensial mereka.

    Saat ini AI berpotensi digunakan untuk membuat versi deepfake dirimu. Deepfake ini dapat disalahgunakan penjahat untuk berinteraksi dengan teman dan keluargamu dan meyakinkan mereka untuk menyerahkan informasi tentang kamu kepada penjahat.

    Jika mereka memperoleh lebih banyak hal tentang hidupmu, maka mereka akan lebih mudah, misalnya, menebak kata sandi atau pin akun-akun pribadimu.

    Baca Juga: Kiat Menggunakan Internet yang Ramah Lingkungan

    4. Teknik brute force

    Teknik lain yang bisa digunakan oleh penjahat dengan menggunakan AI adalah secara “brute force”.

    Ini adalah upaya paksa yang dilakukan dengan mencoba berbagai kombinasi karakter dan simbol secara bergiliran untuk melihat apakah ada yang cocok dengan kata sandimu.

    Inilah sebabnya membuat kata sandi yang panjang dan rumit cenderung lebih aman; penjahat akan lebih sulit menebaknya jika menggunakan cara ini.

    Teknik brute force membutuhkan banyak sumber daya, tetapi akan lebih mudah dilakukan jika mereka mengetahui sesuatu tentang target korbannya.

    Mereka, misalnya, bisa menyusun daftar kata sandi potensial yang diurutkan sesuai prioritas – ini membuat prosesnya lebih efisien. Daftar tersebut dapat dimulai dengan kombinasi yang berkaitan dengan nama anggota keluarga atau hewan peliharaan.

    Baca Juga: Implementasi Konsep Kota Pintar di IKN Hadapi Sejumlah Kendala

    Algoritme yang dilatih dengan datamu dapat digunakan untuk membantu menyusun daftar prioritas ini secara lebih akurat dan bahkan bisa menargetkan banyak orang sekaligus – sehingga sumber daya yang dibutuhkan lebih sedikit.

    Fitur AI tertentu dapat dikembangkan, sehingga dapat memanen data online dirimu lalu menganalisis semuanya untuk membuat suatu profil.

    Misalnya, jika kamu sering mengunggah konten di media sosial tentang Taylor Swift, menelusuri unggahanmu secara manual untuk menemukan petunjuk kata sandi akan memerlukan kerja keras.

    Sementara, AI bisa melakukan ini secara otomatis dengan cepat dan efisien. Semua informasi ini bisa mereka gunakan untuk membuat profil dirimu dan kemudian membuat mereka lebih mudah menebak kata sandi dan pinmu.

    Baca Juga: Seperti Apa Perwujudan Konsep Smart City atau Kota Pintar di IKN

    Skeptisisme yang sehat

    Kita tidak perlu takut dengan AI, karena teknologi ini bisa membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Namun, seperti halnya semua teknologi baru, masyarakat perlu beradaptasi dan memahaminya.

    Sama halnya dengan smartphone, sekarang kita mungkin menganggapnya remeh, tetapi dulu kita harus menyesuaikan diri untuk menggunakannya dalam hidup kita. Smartphone memberikan banyak bermanfaat, tetapi tetap ada hal-hal yang perlu diwaspadai, seperti jumlah waktu penggunaan layar (screen time) yang baik untuk anak-anak.

    Sebagai individu, kita harus proaktif dalam upaya memahami AI dan tidak mudah percaya pada informasi yang kita terima.

    Kita harus mengembangkan pendekatan kita sendiri untuk menyikapinya serta memiliki rasa skeptis yang sehat. Kita perlu mempertimbangkan bagaimana kita memverifikasi kebenaran dari apa yang kita baca, dengar, dan lihat.

    Tindakan sederhana ini akan membantu kita sebagai masyarakat mendapatkan keuntungan dari penggunaan AI sekaligus memastikan kita dapat melindungi diri dari potensi bahayanya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris

    Baca Juga: Pengembangan Teknologi untuk Mengatasi Masalah Sampah Plastik

  • Ilmuwan China Kembangkan Teknologi AI untuk Prakiraan Cuaca

    Ilmuwan China Kembangkan Teknologi AI untuk Prakiraan Cuaca

    7cloud.asia – Para ilmuwan baru-baru ini berhasil mengembangkan sebuah model baru untuk prakiraan cuaca submusiman menggunakan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

    Model baru ini, yang dinamai “FuXi-Subseasonal” dan dikembangkan oleh tim ilmuwan dari Akademi Kecerdasan Buatan untuk Ilmu Pengetahuan Shanghai, Universitas Fudan.

    Selain itu Pusat Iklim Nasional China, mewakili kemajuan signifikan dalam pemodelan iklim berbasis AI dengan rentang prakiraan yang diperluas hingga 42 hari.

    Model baru ini diluncurkan pada Jumat (8/12) di Paviliun China dalam sesi ke-28 Konferensi Para Pihak dalam Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (COP28) di Dubai, Uni Emirat Arab, ungkap Universitas Fudan.

    Baca: Di tengah fenomena El Nino BMKG imbsu perlu lakukan manajemen air

    Menurut para ilmuwan, anomali submusiman secara signifikan berkontribusi pada peristiwa iklim yang berdampak tinggi.

    Hal ini meningkatkan kemampuan prediksi pada skala waktu tersebut merupakan persyaratan mendesak untuk memajukan ilmu iklim.

    Model baru ini mengintegrasikan arsitektur pengubah dengan sampel acak terpandu (guided random sample) dalam ruang laten untuk memperhitungkan ketidakpastian yang mendasari prediksi submusimanan.

    Dengan demikian, model ini dapat menghasilkan prakiraan dengan akurasi yang lebih tinggi daripada prakiraan Pusat Eropa untuk Prakiraan Cuaca Jangka Menengah (European Centre for Medium-Range Weather Forecasts/ECMWF).

    Baca: BMKG keluarkan peringatan dini seluruh Indonesia

    Menurut Qi Yuan, direktur Akademi Kecerdasan Buatan untuk Ilmu Pengetahuan Shanghai yang juga profesor di Universitas Fudan, model baru ini mengatasi berbagai kendala terkait kondisi awal yang tidak akurat.

    Selain itu, sinyal pemaksaan eksternal (external forcing signal) yang tidak memadai pada skala waktu submusiman dan mengatasi kesenjangan yang mencolok dalam prakiraan cuaca.

    “Pencapaian ini menjawab tantangan teknis yang telah lama ada dalam penelitian perubahan iklim. Pencapaian ini menawarkan potensi untuk penilaian yang lebih tepat waktu dan akurat terhadap risiko terkait iklim,” tutur Qi.

    Selain itu, model baru ini juga secara signifikan meningkatkan kemampuan dalam memprediksi fenomena atmosferis Osilasi Madden-Julian (Madden-Julian Oscillation/MJO), dengan memperluas kemampuan prediksi MJO dari 30 menjadi 36 hari.

    “Prediksi MJO yang akurat sangat penting bagi perencanaan pertanian, kesiapsiagaan bencana dan mitigasi risiko, serta penelitian iklim jangka panjang,” tambah Qi.

    Baca: Curah hujan tinggi, waspada bahaya banjir dan longsor

    Melalui prakiraan submusiman untuk proses cuaca besar, seperti panas yang intens, pendinginan yang parah, dan curah hujan yang lebat, “FuXi-Subseasonal” dapat mencapai tingkat presisi yang tinggi yang tidak dapat dicapai oleh metode teknis tradisional, kata Qi.

    Seiring dengan kemajuan yang dicapai dengan kemampuan AI-nya yang canggih, model ini pasti akan membuat kemajuan signifikan dalam mengatasi spektrum tantangan yang lebih luas terkait iklim.

    Sehingga memberikan kontribusi pada pemberdayaan pengembangan energi terbarukan, pembangunan sistem tenaga listrik jenis baru, pemastian ketahanan pangan pertanian, serta pencapaian transformasi sosial-ekonomi yang berkelanjutan, lanjut Qi.

    Dunia perlu menemukan jalur inovasi teknologi yang lebih efektif untuk mengatasi risiko iklim global yang makin parah. AI memiliki potensi yang luar biasa dalam manajemen risiko perubahan iklim, kata Wu Libo, seorang profesor di Universitas Fudan.

    “Dengan teknologi canggih seperti ini, kita dapat mengatasi risiko perubahan iklim secara lebih baik,” ujarnya.

    Sumber: Antaranews