Tag: teknologi hidrotermal

  • Pemprov DKI Jakarta Manfaatkan Teknologi Hidrotermal untuk Mengolah Sampah Organik yang Dihasilkan Pasar Tradisional

    Pemprov DKI Jakarta Manfaatkan Teknologi Hidrotermal untuk Mengolah Sampah Organik yang Dihasilkan Pasar Tradisional


    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan memanfaatkan teknologi hidrotermal untuk mengolah sampah organik, terutama yang dihasilkan dari pasar tradisional di Jakarta.

    Teknologi hidrotermal adalah metode pengolahan material atau limbah menggunakan air, panas, dan tekanan tinggi, sering disebut sebagai “perebusan canggih” untuk mengurai sampah organik menjadi bahan berguna (seperti kompos/bahan bakar) atau mensintesis kristal.

    Berbeda dengan metode konvensional yang mengandalkan pembusukan alami, teknologi hidrotermal menggunakan uap panas bertekanan tinggi. Hasilnya, sampah organik hancur tanpa perlu dibakar, sehingga jauh lebih ramah lingkungan.

    Dengan pemanfaatan teknologi hidrotermal ini, durasi pengolahan sampah organik yang biasanya memakan waktu hingga 10 hari kini bisa tuntas hanya dalam dua jam.

    Inovasi ini digadang-gadang menjadi solusi untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Sampah Terpadu atau TPST Bantargebang yang telah kelebihan kapasitas. Teknologi ini telah diujicobakan di Area 7 Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur.

    Baca: Pengelolaan Sampah di Pasar-pasar di Jakarta Perlu Dimodernisasi

    Saat meninjau efektivitas alat ini di Pasar Area 7 Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (11/5/2026), Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengapresiasi kecepatan proses ini yang dinilai sangat efisien untuk skala pasar besar.

    “Dengan teknologi hidrotermal, waktu pengolahan sampah dapat dipangkas menjadi sekitar dua jam untuk setiap batch. Ini merupakan inovasi yang sangat baik karena mampu mempercepat proses pengolahan sekaligus menghasilkan produk yang bernilai ekonomis,” ujarnya dikutip beritajakarta.id

    Data hasil uji coba pada April 2026 menunjukkan angka yang impresif. Dari sekitar 1,7 ton sampah organik yang diolah, sistem ini berhasil memproduksi 936 liter pupuk cair.

    Efisiensi waktunya pun mencapai 80 kali lebih cepat. Selain pupuk cair, proses ini menghasilkan residu padat yang sangat berguna untuk media tanam.

    Mengubah Limbah Menjadi Cuan
    Pengelolaan sampah di Pasar Kramat Jati hingga kini masih menyisakan masalah besar.Pasar terbesar di Jakarta memproduksi sekitar enam ton sampah setiap hari, di mana 80 persennya adalah sampah organik seperti sisa sayur dan buah.

    Baca: Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati 

    Tanpa pengelolaan cepat, tumpukan sampah organik yang dihasilkannya akan menimbulkan bau menyengat dan polusi.

    Gubernur Pramono menegaskan, pasar harus mulai mandiri dalam mengelola sampahnya sendiri dan tidak lagi sekadar mengirim limbah ke TPA.

    Pramono berharap, teknologi ini dapat diterapkan di ratusan pasar tradisional di Jakarta.

    “Capaian ini menunjukkan bahwa inovasi pengelolaan sampah dapat memberikan hasil nyata dan terukur. Ke depan, kami ingin implementasi di Pasar Kramat Jati menjadi percontohan bagi pasar-pasar lain di bawah naungan Perumda Pasar Jaya,” tuturnya.