Tag: tekstil

  • Desainer Asal Broklyn Ini Hasilkan Fesyen Ramah Lingkungan dari Bahan Tekstil Sisa

    Desainer Asal Broklyn Ini Hasilkan Fesyen Ramah Lingkungan dari Bahan Tekstil Sisa

    7cloud.asia – Jonas King dari Brooklyn, New York, termasuk di antara sekelompok desainer baru yang berfokus pada daur ulang busana dan tekstil bekas yang ramah lingkungan.

    Wartawan VOA Nina Vishneva melaporkan, King menggunakan bahan tekstil bekas itu menjadi barang-barang berdesain khusus yang disebutnya lebih ramah lingkungan.

    “Ini kumpulan sisa-sisa potongan bahan (tekstil bekas, red), Anda lihat saya punya potongan bahan ini di mana-mana. Potongan-potongan bahan ini adalah hidup saya.” demikian Jonas King menjelaskan karyanya yang disbeut produk ramah lingkungan itu.

    Baca: Sustainable fashion dari ControlNew

    Desainer di Brooklyn ini menjahit kembali, mewarnai ulang, mengubah dan mendaur ulang potongan-potongan bahan itu.

    King menggunakan pendekatan ramah lingkungan yang lebih jauh untuk karya modenya.

    Yang terbaru, King menciptakan pakaian warna hijau hasil celupan dengan pewarna dari bunga dan daun-daun ivy.

    Berikutnya, ia berencana menggunakan dandelion dan bunga matahari untuk mendapatkan warna-warna tanah untuk pakaiannya. Ia menjual kemeja, celana dan tas melalui situs toko busananya, 2fifty. 

    Baca: Batik berkelanjutan hadir di JF3 2023

    Bajunya sendiri adalah karya tambalan yang terdiri berbagai warna, pola dan aneka jenis bahan.

    Ia juga seorang upcycler, tren ramah lingkungan terbaru di mana bahan-bahan lama bisa mendapat ‘kehidupan baru’ dengan nilai lebih tinggi ketimbang produk awalnya.

    Untuk King, produknya adalah pakaian.

    Baca: Ngetred di AS, thrifting cara berpakaian yang lebih ramah lingkungan

    Sang pendiri, Jessica Schreiber, mengatakan, “FabSrap” mengumpulkan sekitar 3,5 ton bahan setiap pekan.

    Ia menjelaskan, sewaktu disortir, kita bisa lihat ada kain-kain lepas di sini, semuanya sisa kain.

    “Kami kirim ke mesin penghancur, dan inilah hasil akhirnya, yang disebut shoddy. Orang menggunakannya sebagai pengisi bantal, jok bangku, boneka binatang.” terangnya sebagaimana dikutip VOA Indonesia.

    Baca: Era baru thrifting, mengubah pakaian bekas jadi fesyen bernilai tinggi

  • Produk Tekstil Impor Bermotif Tradisional Banjiri Pasar Indonesia, Butuh Regulasi untuk Membendung

    Produk Tekstil Impor Bermotif Tradisional Banjiri Pasar Indonesia, Butuh Regulasi untuk Membendung

    7cloud.asia – Produk tekstil dan pakaian impor bermotif kain tradisional Indonesia seperti motif batik, tenun, sulam, songket dan lain-lain membanjiri pasar Indonesia.

    Wakil Ketua DPR Koordinator Bidang Industri dan Pembangunan (Korinbang), Rachmat Gobel menilai banjir produk tekstil impor ini ironis dan perlu dicegah.

    Dia menegaskan, pencegahan dapat dilakukan dengan regulasi yang masih diterima norma perdagangan internasional.

    ”Kain tradisional kita itu warisan leluhur. Ada nilai-nilai dan budaya di sana, bukan hanya soal ekonomi,” katanya dikutip Parlementaria, Senin (24/6/2024).

    Baca: Festival tenun di Desa Sukarare

    Pencegahan ini perlu segera dilakukan agar industri kain tradisional dan seniman kain tradisional tidak punah dan dapat terus berkarya.

    Jangan sampai, ujarnya, dalam jangka panjang, generasi penerus bangsa hanya akan tahu mengenai kain tradisional ini hanya melalui museum.

    Dia menegaskan, untuk menghasilkan seniman dan pengrajin kain tradisi itu butuh waktu lama. Dan tiap kain tradisional memiliki kekhasan masing-masing.

    “Belum lagi hilangnya lapangan kerja dan potensi ekonomi. Jadi rugi berlipat akibat kita tak memiliki visi budaya dalam masalah ekonomi ini,” tuturnya.

    Baca: Toko amal bekas cegah limbah tekstil

    Industri garmen diketahui mengalami kemerosotan akibat banjir impor pakaian jadi maupun impor pakaian bekas.

    Hal itu terjadi akibat over supply di luar negeri dan praktik dumping, yang diketahui dilakukan China.

    Banjirnya produk tekstil ini juga berdampak pada terjadinya Pengakhiran Hubungan Kerja (PHK) yang masif di industri tekstil.

    Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan salah satu sektor industri padat karya, yang paling banyak melaporkan kasus PHK.

    Baca: Thrifting efektif kurangi limbah tekstil

    Sejak awal 2024 hingga saat ini, sekitar 13.800 pekerja menjadi korban PHK di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dari 10 pabrik di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

    Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda, mengatakan, PHK yang terjadi di sektor THT dipengaruho oleh supplai impor dari China.

    “Produk lokal kalah saing dari sisi harga dari produk impor asal China,“ ujarnya dilansir Kontan.co.id.

  • Hari Bebas Sampah Dunia: UN Habitat Serukan Industri Tekstil yang Berkelanjutan

    Hari Bebas Sampah Dunia: UN Habitat Serukan Industri Tekstil yang Berkelanjutan

    7cloud.asia – Menjelang Hari Bebas Sampah Dunia 2025, berbagai acara dihelat di sejumlah kota di seluruh dunia.

    Acara ini menyoroti sampah yang dihasilkan oleh industri mode dan tekstil dan tantangan lingkungan dan sosial akibat produksi dan konsumsi berlebih yang disebabkan oleh model bisnis linier di sektor tersebut.

    Hari Bebas Sampah Dunia yang diperingati setiap 30 Maret, menjadi fokus acara tingkat tinggi pada tanggal 27 Maret di Aula Majelis Umum PBB di New York,

    Sebuah acara khusus juga dihelat di kantor pusat Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Program Pemukiman Manusia PBB (UN-Habitat) di Nairobi, Kenya, pada hari yang sama.

    Setiap tahun, 92 juta ton sampah tekstil diproduksi secara global. Produksi meningkat dua kali lipat dari tahun 2000 hingga 2015, sementara durasi penggunaan garmen menurun hingga 36 persen.

    Baca: Hari Bebas Sampah Dunia diperingati pada 30 Maret

    Sebelas persen sampah plastik berasal dari pakaian dan tekstil, dengan hanya 8 persen serat tekstil pada tahun 2023 yang terbuat dari sumber daur ulang.

    Pakaian yang dibuang sering berakhir di negara-negara berpendapatan rendah, di mana kurangnya infrastruktur pengelolaan limbah menyebabkan pembuangan, pembakaran, dan konsekuensi lingkungan dan sosial yang parah.

    Selain itu, limbah tekstil dan mode di kota-kota sering berakhir di tempat pembuangan akhir, di mana butuh waktu puluhan tahun untuk terurai dan melepaskan gas rumah kaca yang berbahaya.

    Pendekatan tanpa limbah atau zero waste disebut sebagai kunci untuk transisi yang diperlukan ke pendekatan yang lebih sirkular.

    “Mode yang tidak berkelanjutan memperburuk krisis tiga planet yaitu perubahan iklim, alam, hilangnya lahan dan keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah,” kata Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP.

     

    Baca: Upaya menjadikan desa sebagai bagian solusi pengelolaan sampah

    Dunia, lanjut Inger, perlu fokus pada pendekatan ekonomi sirkular yang menghargai produksi, penggunaan kembali, dan perbaikan yang berkelanjutan.

    “Dengan bekerja sama, konsumen, industri, dan pemerintah dapat mendukung mode yang benar-benar tahan lama dan membantu mengurangi jejak mode kita.” imbuhnya

    Pada peringatan ketiga Hari Bebas Sampah Dunia ini, UN-Habitat mengeluarkan seruan untuk penyerahan praktik baik tanpa limbah dalam mode dan tekstil untuk ditinjau dan diakui oleh Dewan Penasihat Sekretaris Jenderal PBB tentang Tanpa Limbah.

    Acara di Nairobi menampilkan tiga praktik dari Thailand, India, dan Norwegia yang dipilih oleh Dewan dari 220 kiriman.

    “Gelombang sampah yang meningkat membebani infrastruktur perkotaan, kesehatan masyarakat, dan lingkungan—terutama bagi 1,1 miliar orang di permukiman informal dan daerah kumuh dengan layanan pengumpulan sampah dan sanitasi yang terbatas,” kata Anacláudia Rossbach, Direktur Eksekutif UN-Habitat.

    Baca: Aksi bersih-bersih tak memadai atasi masalah sampah

    “Kami berkomitmen untuk membangun masa depan di mana sampah bukan lagi masalah, melainkan sumber daya.”

    Antara tanggal 1 Maret dan 5 April, puluhan acara berlangsung untuk meningkatkan kesadaran dan membahas solusi di tingkat global, nasional, dan kota. Ini termasuk berbagai inisiatif seperti lokakarya daur ulang, hari bersih-bersih.

    Juga inisiatif penanaman pohon, dan pertukaran mainan, melibatkan anak-anak, kelompok pemuda, ilmuwan, pengungsi, dan pemangku kepentingan lainnya di negara-negara termasuk Brasil, Kanada, Yunani, Italia, Malawi, Arab Saudi, Thailand, Uganda, dan AS.

    Hari Bebas Sampah Dunia ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 14 Desember 2022 untuk mempromosikan pola produksi dan konsumsi berkelanjutan.

    Hari Bebas Sampah Dunia juga diharapkan dapat mendorong perubahan menuju pendekatan siklus hidup, sehingga tidak ada bahan atau sumber daya yang terbuang sia-sia. Hari ini difasilitasi oleh UNEP dan UN-Habitat.

  • Inisiatif UNEP untuk Mendorong Industri Fesyen dan Tekstil yang Lebih Ramah Lingkungan

    Inisiatif UNEP untuk Mendorong Industri Fesyen dan Tekstil yang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Sektor fesyen dan tekstil bukan hanya tentang gaya; sektor ini adalah garda terdepan dalam menghadapi tiga krisis planet yaitu perubahan iklim, hilangnya alam dan keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah.

    Fesyen dan tekstil juga memiliki kepentingan budaya dan ekonomi yang sangat besar, menyediakan mata pencaharian dan rasa identitas bagi jutaan orang.

    Namun, pada saat yang sama fesyen dan industri tekstil menimbulkan risiko bagi pekerja dan lingkungan dalam setiap tahap siklus hidupnya. Karena itu, Program Lingkungan PBB (UN Environment Programme/UNEP) memberi perhatian khusus pada sektor fesyen dan tekstil.

    Inisiatif Tekstil UNEP memberikan kepemimpinan strategis dan mendorong kolaborasi di seluruh sektor untuk mempercepat transisi yang adil menuju rantai nilai tekstil yang berkelanjutan dan sirkular.

    Pekerjaan UNEP meliputi dukungan dan informasi kepada pemerintah, seperti melalui Dialog Kebijakan Tekstil Global, membantu industri, khususnya UKM di negara-negara berkembang, dalam beralih ke model bisnis sirkular

    UNEP juga meningkatkan penggunaan standar industri untuk sirkularitas, menghilangkan bahan kimia berbahaya, sambil mengadopsi pendekatan siklus hidup dan mengatasi kelebihan produksi dan konsumsi berlebihan untuk mendefinisikan ulang model ekonomi industri fesyen.

    Yang mendasari semua ini adalah dukungan untuk pengambilan keputusan berbasis bukti melalui laporan kepemimpinan pemikirannya.

    Mendukung kebijakan
    UNEP berupaya untuk memulai perubahan kebijakan terpadu menuju keberlanjutan dan sirkularitas.

    UNEP mendukung para pembuat kebijakan dalam pengambilan keputusan mereka dengan memetakan kebijakan, mengembangkan rekomendasi, dan menyediakan cetak biru kebijakan, lembar fakta, dan analisis tentang topik-topik tertentu seperti perdagangan tekstil bekas.

    UNEP juga berkontribusi pada koordinasi kebijakan global melalui kerja samanya dengan para pembuat kebijakan dalam ‘Tindakan kebijakan terhadap tekstil – Rangkaian dialog yang difasilitasi oleh UNEP’.

    Menangani bahan kimia berbahaya
    UNEP berupaya untuk menghapus bahan kimia yang menjadi perhatian yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

    Harapannya, sektor fesyen dan tekstil secara luas dapat berkontribusi pada target industri di bawah Kerangka Kerja Global tentang Bahan Kimia.

    UNEP mendukung upaya global dan di dalam negeri, termasuk di Kamboja, Indonesia, Trinidad & Tobago, dan Vietnam, untuk mengurangi penggunaan dan pelepasan bahan kimia yang mengkhawatirkan di seluruh rantai pasokan, termasuk Polutan Organik Persisten (POP) oleh UKM dalam fase pemrosesan basah.

    Mendukung UKM
    UNEP mendorong norma dan praktik industri menuju keberlanjutan. Transisi menuju sirkularitas akan mengharuskan semua pemangku kepentingan untuk bekerja sama, dan UKM sangat penting untuk transisi ini.

    Di tingkat global, UNEP mendukung industri mode dan tekstil dengan menciptakan pengetahuan bersama dan mengubah wacana global dengan mitra strategis, termasuk melalui penyediaan alat untuk menginformasikan pengambilan keputusan.

    UNEP juga mendukung UKM tertentu di negara-negara berkembang termasuk India, india, Kenya, Afrika Selatan, Tunisia, dan Vietnam, serta di tingkat regional (seperti melalui West Asia Sustainable Fashion Academy) untuk menerapkan pendekatan siklus hidup.

    Misalnya, untuk menghitung jejak lingkungan produk fesyen dan tekstil, mengidentifikasi dan menangani bahan kimia berbahaya dalam produksi, dan beralih ke model bisnis sirkular.

    Menangani tekstil bekas
    Tekstil bekas harus dialihkan dari tempat pembuangan akhir dan pembakaran yang dapat dihindari, dan dikelola secara bertanggung jawab untuk memastikan produk tekstil tetap berada dalam sistem sirkular.

    UNEP berupaya mengidentifikasi prioritas utama dalam reformasi perdagangan dan kebijakan untuk meningkatkan sirkularitas tekstil bekas.

    UNEP juga mengembangkan pedoman global untuk menentukan kesesuaian produk perdagangan sebagai ‘tekstil bekas’ dan kriteria untuk membedakan antara tekstil bekas dan limbah tekstil.

  • Nanofiber: Inovasi Baru untuk Alternatif Produk Tekstil Ramah Lingkungan

    Nanofiber: Inovasi Baru untuk Alternatif Produk Tekstil Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Sadar atau tidak, banyak barang yang kita pakai sehari-hari mengandung PFAS (Per-and Polifluoroalkil Substances).

    PFAS adalah sejenis bahan kimia buatan dan berfungsi seperti lapisan pelindung tak terlihat yang membuat benda tidak menyerap air atau minyak.

    Karena keunggulan tersebut, PFAS banyak digunakan sebagai material berbagai produk tahan air, tahan minyak, dan tahan panas seperti jaket waterproof (anti-air), wajan anti lengket, sampai kemasan makanan cepat saji.

    Selain itu, PFAS juga umum dipakai dalam bahan pembuatan alat medis seperti masker medis dan alat pelindung diri.

    Beberapa filter air dan udara pun menggunakan lapisan berbasis PFAS untuk meningkatkan ketahanan terhadap cemaran zat asing.

    Tapi, yang belum banyak disadari adalah bahan kimia ini buruk bagi lingkungan. Material PFAS dikenal sebagai “forever chemical” alias tidak dapat terurai secara alami.

    Imbasnya, limbah PFAS bisa mencemari tanah dan juga sumber air, sehingga mengganggu ekosistem dan mengancam keanekaragaman hayati.

    Banyak studi menunjukkan bahwa PFAS juga dapat mengendap dalam tubuh manusia dan berpotensi menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk kanker dan gangguan hormonal.

    Baca: Mendorong industri fesyen dan tekstil yang lebih ramah lingkungan

    Bahaya PFAS memicu para peneliti mengembangkan inovasi bahan alternatif yang lebih aman dan ramah lingkungan untuk industri, terutama untuk penyaring air dan udara.

    Di antara banyaknya inovasi, nanoteknologi menjadi salah satu opsi yang paling menarik. Sebab, produk nano sangat kecil tapi efektif dan efisien serta dapat terurai di alam.

    Riset yang penulis lakukan bersama tim menemukan salah satu teknologi nano yang bisa menjadi alternatif pengganti PFAS adalah membran berbasis nanofiber.

    Apa itu nanofiber?
    Nanofiber merupakan serat berdiameter pada rentang nanometer (1 – 1000 nm). Dengan ukuran serat yang kecil dan sifatnya yang mudah diubah, nanofiber banyak digunakan sebagai ‘kulit pelapis’ untuk menyaring atau melindungi sesuatu.

    Permintaan nanofiber kini mulai meningkat di industri tekstil, khususnya sebagai pakaian medis, karena lapisannya tidak hanya “tahan air” tapi juga “dapat bernafas” (waterproof and breathable membrane), sehingga bahannya tidak pengap.

    Selain itu, permintaan juga berkembang dari sektor lingkungan seperti untuk filter pengolah limbah, filter untuk mengurangi polusi udara, dan sebagainya.

    Sayangnya, masih banyak pemasok nanofiber yang tetap mencampur serat ini dengan PFAS. Alasannya kembali ke ketahanan PFAS yang tak tertandingi terhadap air dan minyak, serta meningkatkan daya tahan material.

    Baca: UN Habitat dorong industri tekstil yang lebih ramah lingkungan

    Temuan riset: kualitas membran nanofiber sebanding PFAS
    Penelitian kami berhasil menunjukkan bahwa membran nanofiber saja ternyata bisa memiliki ketahanan sebanding dengan material dengan PFAS.

    Kami membuat waterproof and breathable membrane nanofiber dari polivinil asetat (PVAc) dan polisulfona (PSU) yang bebas PFAS.

    Nanofiber atau serat yang sangat kecil dibuat dengan menggunakan metode electrospinning atau listrik bertegangan tinggi. Caranya seperti menarik cairan dengan listrik hingga membentuk serat tipis.

    Ini mirip seperti menarik benang dari lelehan permen kapas, tapi dalam skala yang sangat kecil.

    Melalui beberapa rangkaian pengujian, nanofiber yang kami hasilkan terbukti bisa menahan air tanpa bocor. Di saat yang bersamaan, nanofiber tersebut tetap bisa dengan mudah dilewati oleh udara dan uap air, sehingga terasa “bernapas” dan nyaman digunakan.

    Hal ini terjadi karena nanofiber punya banyak lubang kecil (porositas tinggi), sehingga memungkinkan udara dan uap air lewat.

    Kami memang masih menggunakan polimer sintesis seperti PVAc dan PSU dalam penelitian ini. Namun riset kami bisa menjadi landasan pengembangan material nanofiber yang sepenuhnya berasal dari polimer alami berbasis tumbuhan.

    Beberapa riset menunjukkan, beberapa bahan polimer alami potensial, yakni selulosa, kitin, serta pati yang layak digunakan untuk menghasilkan nanofiber ramah lingkungan.

    Hasil penelitian kami memang menunjukkan potensi besar dalam pengembangan membran nanofiber sebagai alternatif PFAS.

    Namun, terdapat beberapa hambatan yang masih harus dihadapi agar penggunaannya bisa optimal. Apa saja hambatannya akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation, Penulis: Rizky Aflaha (Ph.D student, Universitas Gadjah Mada)

  • Mengadu ke BAM DPR, Pedagang Thrifting: Bukan Kami yang Merusak Pasar dan UMKM

    Mengadu ke BAM DPR, Pedagang Thrifting: Bukan Kami yang Merusak Pasar dan UMKM

    7cloud.asia – Barang thrifting yang masuk ke Indonesia diperkirakan sekitar 3.600 kontainer, atau hanya 0,5 persen dari total 28.000 kontainer tekstil ilegal yang beredar di Tanah Air.

    Angka tersebut menunjukkan bahwa thrifting atau pakaian second bukan merupakan ancaman utama bagi keberlangsungan industri pakaian jadi dan tekstil tanah air terutama UMKM.

    Hal ini terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Badan Aspirasi Masyarakat DPR dengan pelaku usaha pakaian bekas dari berbagai daerah di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (19/11/2025).

    Dalam forum tersebut, para pedagang thrifting memberikan testimoni yang menggambarkan kompleksitas persoalan di lapangan.

    Rifai Silalahi, perwakilan pedagang dari Pasar Senen, Jakarta, mengatakan bahwa usaha pakaian bekas merupakan bagian dari UMKM yang telah bertahan puluhan tahun.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta dukung Menkeu larang thrifting

    Ia menegaskan bahwa pelaku thrifting bukanlah ancaman bagi UMKM, bahkan tidak bersinggungan secara langsung dengan produk lokal.

    “Yang merusak pasar itu bukan kami, tapi banjirnya produk impor baru. China menguasai 80 persen, ditambah barang dari Amerika, Vietnam, dan India sekitar 15 persen. Produk lokal hanya tersisa 5 persen,” ungkap Rifai dalam pertemuan tersebut.

    Merespons aspirasi tersebut, Wakil Ketua BAM, Adian Napitupulu menegaskan bahwa BAM DPR akan menindaklanjuti seluruh masukan dengan menggelar dialog lanjutan bersama kementerian terkait, terutama Kementerian Keuangan dan Kementerian Perdagangan.

    Menurutnya, penyelesaian persoalan thrifting hanya dapat dicapai jika seluruh pemangku kepentingan duduk bersama dan melihat isu ini secara menyeluruh, termasuk aspek ekonomi, sosial, dan keberlanjutan hidup pedagang.

    Adian menegaskan, kebijakan negara tidak boleh hanya didasarkan pada persepsi atau stigma, tetapi harus berpijak pada data yang akurat.

    Baca: Alasan mengapa thrifting makin dilirik anak muda

    Adian menegaskan komitmen DPR untuk memastikan bahwa aspirasi para pelaku usaha thrifting menjadi perhatian serius dalam proses penyusunan kebijakan pemerintah.

    Adian menekankan bahwa BAM DPR ingin mendengar langsung kondisi di lapangan, terutama karena wacana larangan impor pakaian bekas kembali mengemuka dan memunculkan kekhawatiran luas di kalangan pelaku usaha.

    Ia menilai persoalan thrifting selalu muncul setiap tahun, namun penanganannya tidak pernah disertai pendekatan menyeluruh dan pemahaman bahwa jutaan masyarakat menggantungkan hidup dari sektor tersebut.

    “Negara tidak boleh hanya hadir dengan tindakan, tetapi juga dengan keadilan. Kita tidak boleh mengambil keputusan yang menekan rakyat kecil ketika negara sendiri belum mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai,” ujar Adian.

    Ia juga menyoroti keluhan para pedagang mengenai operasi penertiban yang dinilai represif dan merugikan, membuat para pedagang merasa diperlakukan seperti pelaku kejahatan.

    Menurut Adian, situasi ini tidak boleh terus terjadi. Ia menegaskan bahwa sebelum melakukan penindakan, pemerintah harus memastikan telah hadir dengan solusi yang konkret dan dapat diimplementasikan.

    Baca: Mengolahulang pakaian bekas jadi produk bernilai tinggi