Tag: tempat kerja

  • Kenali Gejala dan Cara Mengatasi Kelelahan di Tempat Kerja yang Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental

    Kenali Gejala dan Cara Mengatasi Kelelahan di Tempat Kerja yang Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Beban kerja dan stres berkepanjangan yang didapati di tempat kerja bisa menyebabkan kelelahan fisik maupun emosional sehingga berpengaruh pada kesehatan mental.

    Dilansir Hindustan Times, Minggu (13/10/2024) Konsultan Psikiater, Rumah Sakit Fortis Mumbai, Dr. Kedar Tilwe mengatakan memburuknya kesehatan mental di tempat kerja dapat terjadi dalam berbagai bentuk.

    Tilwe menjelaskan tanda kelelahan adalah kelelahan emosional, kurangnya motivasi, ketidakpedulian terhadap kinerja pekerjaan, perasaan terpisah atau menarik diri, kelelahan, gangguan tidur, dan meningkatnya kecemasan.

    Di sisi medis, Dr Sreystha Beppari, Konsultan Psikolog, Apollo Clinic, Viman Nagar, mengungkapkan stres dan kelelahan akibat pekerjaan tidak hanya terbatas pada dampak mental, melainkan juga memengaruhi kesehatan fisik secara signifikan.

    Stres yang terus-menerus, ujarnya, dapat menimbulkan sakit kepala yang disebabkan oleh ketegangan otot, masalah perut, peningkatan denyut nadi, dan nyeri otot.

    “Namun, seiring waktu, hal itu mengurangi efektivitas pertahanan tubuh yang membuat seseorang rentan terhadap infeksi,” kata Beppari.

    Baca: Beban kerja memicu stres dan keinginan bunuh diri

    Tilwe juga menambahkan, stres dan kelelahan akibat pekerjaan dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, peningkatan denyut jantung, dan risiko penyakit jantung yang lebih tinggi.

    Stres di tempat kerja juga dapat menyebabkan gangguan tidur dan kenaikan berat badan.

    “Paparan stres dan kelelahan yang berkepanjangan dapat menyebabkan kondisi kronis seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit terkait gaya hidup lainnya,” kata Tilwe.

    Sementara itu Konselor dan Terapis Keluarga, pendiri Mindwell Counsel, Delhi Archana Singhal, mengatakan hubungan antara stres kerja dan kesehatan mental sangatlah kompleks.

    Lingkungan kerja yang sehat dapat meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan karyawan, sebaliknya lingkungan yang buruk dapat menurunkan kesehatan.

    Para ahli menyarankan cara menghilangkan stres dengan segera mempraktikkan teknik relaksasi seperti latihan pernapasan dalam dan aktivitas kesadaran penuh seperti latihan panca indra, pernapasan penuh kesadaran, dan makan penuh kesadaran.

    Baca: Cara mengusir stres dengan latihan pernapasan

    Yoga dan meditasi juga dapat membantu terutama jika dilakukan secara teratur. Menggunakan mainan penghilang stres seperti meremas bola smiley juga dapat membantu.

    Membangun hubungan sosial seperti mengobrol dengan keluarga, teman, atau orang kepercayaan membantu merasa ringan dan mengurangi tingkat stres.

    Mengambil jeda untuk istirahat sejenak dan relaksasi dengan gerakan fisik atau berjalan-jalan, juga membantu menenangkan pikiran.

    Jangan lupa juga untuk memberi tambahan energi dengan camilan sehat dan cukup minum air putih sehingga dapat berkonsentrasi dengan baik.

  • Mikroagresi di Tempat Kerja: Hinaan Diskriminatif Berbalut Pujian

    Mikroagresi di Tempat Kerja: Hinaan Diskriminatif Berbalut Pujian

    7cloud.asia – Pernahkah kalian mendengar ujaran bernada pujian seperti ini di tempat kerja:

    “Kamu kalau kurusan pasti lebih cantik, deh”

    “Kamu hebat bisa menyelesaikan tugas itu, padahal kamu perempuan”

    “Kamu pasti bisa lebih ‘perform’ lagi soalnya kan kamu laki-laki”

    Sepintas terdengar seperti pujian dan motivasi atau kalimat biasa saja. Jangan salah, kalimat-kalimat tersebut kerap bermakna sebaliknya. Hal tersebut termasuk ke dalam mikroagresi.

    Mikroagresi adalah sebuah candaan/pujian/basa-basi yang bermakna atau bertujuan untuk mendiskriminasi lawan bicara.

    Diskriminasi ini seringkali dipicu oleh perbedaan identitas gender, orientasi seksual, status disabilitas, usia, kelas sosial, agama, dan identitas lainnya.

    Istilah mikroagresi pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Chester M. Pierce pada 1970 untuk mendeskripsikan rasisme terselubung yang dialami oleh orang-orang kulit hitam.

    Baca: Bekerja secara sehat jauhkan stres di tempat kerja

    Seringkali mikroagresi tidak disadari baik oleh pelaku maupun individu yang terdampak. Apalagi jika ini terjadi di tempat kerja.

    Meskipun sering disepelekan, mikroagresi bisa memicu beban emosional yang signifikan bagi individu yang terdampak.

    Akumulasi akibat memaklumi tindakan mikroagresi rekan kerja, tanpa disadari bisa merusak kesehatan korban baik mental, kognitif maupun fisik.

    Bahkan, korban mikroagresi bisa stres akut, mengikis sense of belonging sehingga menghambat kreativitas dan produktivitas kerja.

    Sebab dan pola mikroagresi di masyarakat
    Mikroagresi dapat muncul di mana pun dan kapan pun dalam kehidupan bermasyarakat. Ragam bentuk mikroagresi antara lain komentar merendahkan, pengabaian pendapat, atau asumsi stereotip yang merugikan.

    Di lingkungan kerja, mikroagresi muncul bukan sekadar komentar sepele atau candaan yang tidak disengaja, melainkan manifestasi dari sistem sosial dan kultural yang menempatkan kelompok mayoritas sebagai standar.

    Salah satu studi menyoroti guru perempuan menjadi korban mikroagresi berbasis gender di lingkungan sekolah.

    Mereka lebih sering mendapat perlakuan buruk seperti pengabaian pendapat, stigma terhadap kemampuan profesional, serta pembatasan partisipasi dalam pengambilan keputusan.

    Baca: Gejala stres yang mengganggu kesehatan mental di tempat kerja

    Penulis pernah mengalaminya saat mengikuti seleksi beasiswa. Alih-alih bertanya soal kapasitas akademik, penyeleksi justru menanyakan siapa yang akan mengurus anak.

    Pertanyaan ini mencerminkan bias struktural yang mempertanyakan kapasitas perempuan untuk berkarier sekaligus menjadi ibu.

    Penyandang disabilitas juga sering mengalami mikroagresi yang dikenal sebagai ableist microaggressions.

    Contohnya adalah penerapan beberapa persyaratan khusus yang secara implisit meragukan kemampuan mereka dalam proses rekrutmen calon pegawai negeri sipil (CPNS).

    Dampak mikroagresi
    Mikrogresi bisa menerpa siapa saja tanpa terkecuali. Yang paling umum memang terjadi di lingkungan kerja.

    Salah satu dampak mikroagresi di tempat kerja adalah weathering,, yakni stres kronis akibat berbagai diskriminasi identitas seperti ras, gender, disabilitas, serta relasi kuasa disertai dengan tuntutan profesionalisme secara bersamaan.

    Stres ini timbul karena individu dituntut menyesuaikan diri dengan standar mayoritas dan bekerja secara maksimal tanpa cela.

    Di level personal, mikroagresi menyebabkan seseorang menjadi hyper-aware, kondisi yang menyebabkan seseorang menjadi sangat waspada.

    Baca: Kiat berkembang di tempat kerja 

    Risiko kecemasan sosial dan rasa tidak aman secara psikologis akan memengaruhi kehidupan sosial korban ke depannya.

    Meskipun pencegahan melalui kebijakan organisasi dan perubahan budaya kerja adalah langkah ideal, respons individu yang efektif juga penting untuk meminimalisasi dampak mikroagresi.

    Stigma kelompok yang melekat pada setiap individu
    Di Australia, mikroagresi berbasis ras di dunia kerja menjadi salah satu bentuk yang paling sering dialami oleh pekerja nonkulit putih.

    Penulis pernah menerima komentar: “You are so good at technical stuff, are those what most Indonesian people are known for?”

    Mengaitkan kemampuan seseorang dengan asal-usul etnisnya, alih-alih mengakui usaha dan kapasitas pribadinya, merupakan bentuk microinsult atau mikroagresi.

    Pernyataan semacam ini tidak hanya merendahkan kualitas individu, tetapi juga memperkuat stereotip yang menyederhanakan identitas seseorang.

    Pernyataan lain yang umum dialami oleh pekerja berkulit berwarna di Australia adalah, “Your English is so good. How do you do that?”

    Kalimat tersebut terdengar seperti pujian. namun ketika diucapkan oleh penutur asli Bahasa Inggris (dengan nada mengejek dan mimik muka meremehkan) kepada seseorang dari latar belakang non-Inggris, pernyataan ini dapat menjadi bentuk micro invalidation.

    Pengalaman-pengalaman tersebut bertolak belakang dengan nilai meritokrasi dan fair go yang digaungkan oleh Australia. Prinsip bahwa setiap individu dihargai berdasarkan usaha dan kemampuan, bukan etnisitasnya jauh panggang dari pada api.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Alies Poetri Lintangsari (Assistant lecturer, Universitas Brawijaya) dan Nuri W Veronika (Lecturer of Politics and International Relations, Faculty of Arts, Monash University, Monash University)

  • Cara Cerdas Mengatasi Mikroagresi di Tempat Kerja

    Cara Cerdas Mengatasi Mikroagresi di Tempat Kerja

    7cloud.asia – Mikroagresi adalah bentuk diskriminasi atau perilaku merendahkan yang halus dan sering tidak disadari, yang dapat menyinggung, merendahkan, atau merugikan seseorang atau kelompok tertentu, terutama mereka yang termasuk dalam kelompok minoritas atau terpinggirkan.

    Mikroagresi bisa menerpa siapa saja tanpa terkecuali. Yang paling umum memang terjadi di lingkungan kerja.

    Salah satu dampak mikroagresi di tempat kerja adalah weathering,, yakni stres kronis akibat berbagai diskriminasi identitas seperti ras, gender, disabilitas, serta relasi kuasa disertai dengan tuntutan profesionalisme secara bersamaan.

    Stres ini timbul karena individu dituntut menyesuaikan diri dengan standar mayoritas dan bekerja secara maksimal tanpa cela.

    Di level personal, mikroagresi menyebabkan seseorang menjadi hyper-aware, kondisi yang menyebabkan seseorang menjadi sangat waspada.

    Risiko kecemasan sosial dan rasa tidak aman secara psikologis akan memengaruhi kehidupan sosial korban ke depannya.

    Meskipun pencegahan melalui kebijakan organisasi dan perubahan budaya kerja adalah langkah ideal, respons individu yang efektif juga penting untuk meminimalisasi dampak mikroagresi.

    Baca: Mikroagresi di tempat kerja, hinaan diskriminatif berbalut pujian

    Stigma kelompok yang melekat pada setiap individu
    Di Australia, mikroagresi berbasis ras di dunia kerja menjadi salah satu bentuk yang paling sering dialami oleh pekerja nonkulit putih.

    Penulis pernah menerima komentar: “You are so good at technical stuff, are those what most Indonesian people are known for?”

    Mengaitkan kemampuan seseorang dengan asal-usul etnisnya, alih-alih mengakui usaha dan kapasitas pribadinya, merupakan bentuk microinsult atau mikroagresi.

    Pernyataan semacam ini tidak hanya merendahkan kualitas individu, tetapi juga memperkuat stereotip yang menyederhanakan identitas seseorang.

    Pernyataan lain yang umum dialami oleh pekerja berkulit berwarna di Australia adalah, “Your English is so good. How do you do that?”

    Kalimat tersebut terdengar seperti pujian. namun ketika diucapkan oleh penutur asli Bahasa Inggris (dengan nada mengejek dan mimik muka meremehkan) kepada seseorang dari latar belakang non-Inggris, pernyataan ini dapat menjadi bentuk micro invalidation.

    Pengalaman-pengalaman tersebut bertolak belakang dengan nilai meritokrasi dan fair go yang digaungkan oleh Australia. Prinsip bahwa setiap individu dihargai berdasarkan usaha dan kemampuan, bukan etnisitasnya jauh panggang dari pada api.

    Identitas seseorang secara halus diukur berdasarkan standar mayoritas, mempertahankan apa yang disebut sebagai white comfort, kenyamanan sosial dan emosional yang dialami oleh orang kulit putih dalam lingkungan yang menormalisasi whiteness

    Dan, hal ini berlaku baik secara budaya, struktural, maupun institusional.

    Baca: Jauhi stres di tempat kerja dengan bekerja secara sehat

    Mengatasi mikroagresi
    Berikut beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk mengatasi mikroagresi:

    1. Edukasi secara sopan
    Tanggapi dengan sopan tapi tegas, gunakan pernyataan “saya” seperti, “Saya merasa tidak nyaman saat Anda mengatakan…” untuk menyampaikan dampaknya tanpa menyalahkan.

    Setidaknya kesempatan untuk mengutarakan uneg-uneg anda bisa sedikit meringankan beban tekanan mental yang dialami korban.

    2. Diskusi pribadi setelah insiden
    Jika memungkinkan, ajak pelaku berbicara secara pribadi untuk menyampaikan perspektif Anda dan membangun pemahaman, tanpa nada menyudutkan.

    3. Menggalang dukungan
    Sampaikan pengalaman kepada kolega terpercaya untuk memperoleh dukungan emosional. Menggalang dukungan dan membentuk jaringan bermanfaat untuk merespons insiden mikroagresi yang mungkin berulang.

    4. Pelihara kesehatan mental
    Self-care adalah kunci mengatasi dampak mikroagresi yang bisa diraih melalui konseling, meditasi, olahraga, atau menulis.

    Mikroagresi sering dialami oleh kelompok minoritas dan menimbulkan berbagai dampak negatif sehingga upaya untuk mencegah normalisasi mikroagresi sangat diperlukan.

    Di Indonesia, penelitian tentang mikroagresi masih terbatas meskipun telah mulai disadari, terutama di dunia akademis.

    Kesadaran terhadap bentuk dan dampak mikrogresi dapat mendorong respons yang cermat, baik secara individu maupun organisasi demi menciptakan tempat kerja yang lebih inklusif.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Alies Poetri Lintangsari (Assistant lecturer, Universitas Brawijaya) dan Nuri W Veronika (Lecturer of Politics and International Relations, Faculty of Arts, Monash University, Monash University)