Tag: temulawak

  • Ditetapkan sebagai Tanaman Obat Unggulan, Ini Segudang Manfaat Temulawak

    Ditetapkan sebagai Tanaman Obat Unggulan, Ini Segudang Manfaat Temulawak

    7cloud.asia – Beberapa waktu yang lalu, temulawak (Curcuma zanthorrhiza) ditetapkan sebagai tanaman obat unggulan.

    Sebab, temulawak memiliki segudang manfaat. Diantaranya mengendalikan kadar gula darah.

    Penetapan resmi ini disampaikan dalam pameran alat kesehatan dan farmasi dalam rangka Hari Kesehatan Nasional ke-59 di JCC Senayan, Jakarta.

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa penetapan temulawak sebagai tanaman obat tradisional unggulan Indonesia didasarkan pada banyaknya kandungan yang terdapat di tanaman tersebut.

    Diantaranya zat besi, vitamin, kalsium, sodium dan asam folat.

    Selain itu, temulawak juga mengandung banyak zat aktif salah satunya kurkuminoid yang berkhasiat untuk mencegah berbagai penyakit hati seperti fatty liver, sirosis bahkan kanker hati.

    Baca: 9 manfaat teh hijau untuk kesehatan

    “Penyakit fatty liver itu pengobatannya susah, tapi ada tanaman Indonesia yang bisa mengobati. Karena itu butuh antioksiden yang bernama Kurkumin,” kata Budi.

    Temulawak sebenarnya tanaman asli Indonesia khususnya Pulau Jawa. Kemudian menyebar ke negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina.

    Kini temulawak sudah dapat dijumpai di Korea, India, Jepang, Amerika hingga ke negara-negara Eropa.

    Hal ini karena temulawak memiliki khasiat untuk kesehatan. Bagian yang paling berkhasiat untuk kesehatan dan yang paling banyak mengandung senyawa aktif adalah bagian rimpang induk dan akar temulawak.

    Baca: manfaat ekonomi dan kesehatan daun kelor

    Temulawak memiliki sejumlah manfaat bagi tubuh, yaitu:

    1. Memperkuat imunitas tubuh
    Manfaat ini berasal dari beragam nutrisi serta antioksidan yang dapat membantu kinerja sel darah putih dan produksi antibodi.

    Jika daya tahan tubuh kuat, tubuh akan lebih kuat melawan berbagai kuman dan virus penyebab penyakit.

    2. Mencegah dan mengatasi infeksi
    Temulawak mengandung senyawa xanthorrhizol dan kurkuminoid yang berfungsi sebagai antimikroba.

    Berbagai riset menyebutkan bahwa ekstrak temulawak dapat membasmi dan menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit, seperti bakteri Salmonella dan E.coli.

    Baca: 8 tanaman ini efektif mengurangi polusi udara

    Ekstrak temulawak juga diketahui memiliki efek antivirus dan antijamur, karena itu temulawak bisa dikonsumsi sebagai obat herbal untuk mengatasi infeksi.

    Minuman temulawak juga memiliki efek antiradang dan pereda demam alami, sehingga baik dikonsumsi untuk mendukung proses pemulihan saat Anda sedang sakit, misalnya demam atau flu.

    3. Mengatasi gangguan pencernaan
    Manfaat lainnya adalah dapat meringankan gejala gangguan pencernaan, seperti diare, sakit perut, dan sembelit.

    Selain itu, sebuah penelitian juga menyebutkan bahwa temulawak memiliki potensi manfaat untuk mengobati radang lambung atau gastritis.

    Namun, efektivitas dan keamanan manfaat temulawak yang satu ini masih perlu diteliti lebih lanjut.

    Baca: Miliki tanaman hias dalam ruangan ini sejumlah manfaatnya

    4. Menjaga kesehatan dan fungsi hati
    Beberapa studi ilmiah mengungkapkan bahwa temulawak bermanfaat untuk menjaga kesehatan dan fungsi hati serta mengurangi peradangan pada hati.

    Ini diduga berkat efek antioksidan dan antiradang yang terdapat pada temulawak.

    Meski demikian, jika ingin menggunakan temulawak sebagai pengobatan untuk penyakit hati, Anda tetap perlu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

    5. Mengendalikan kadar gula darah
    Temulawak juga diketahui dapat menurunkan kadar gula dalam darah dan menjaganya tetap stabil.

    Manfaat temulawak ini berasal dari efek antioksidan dan antiradang yang dapat menekan stres oksidatif dan peradangan.

    Temulawak juga diketahui dapat meningkatkan efektivitas insulin dalam mengontrol gula darah.

    Baca: Menengok layanan kesehatan di Papua Pegunungan

    6. Menurunkan risiko terkena penyakit kanker
    Beberapa penelitian menyebutkan bahwa ekstrak temulawak dapat mencegah dan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker, seperti kanker payudara, kanker serviks, dan kanker hati.

    Walau begitu, temulawak masih belum bisa digunakan sebagai pengobatan kanker. Sebab, penelitian terhadap efektivitas temulawak dalam mengobati kanker masih sangat terbatas dan diperlukan penelitian lebih lanjut.

    Manfaat lain temulawak adalah mengontrol tekanan darah, mengurangi kolesterol, dan menjaga kesehatan otak.

    Mengonsumsi temulawak sebaiknya tidak bersamaan dengan obat-obatan dari dokter.

    Bagi orang yang memiliki gangguan empedu, maag kronis, dan kelainan darah tidak dianjurkan mengonsumsi temulawak.

    Jika ingin mengonsumsi temulawak, sebaiknya tak lebih dari 8 gram per hari dalam batas amannya untuk tubuh.

    Penulis: Nurakhmayani/berbagai sumber

  • Bagaimana Membuat Temulawak Mendunia? Belajar dari Ginseng Korea Selatan

    Bagaimana Membuat Temulawak Mendunia? Belajar dari Ginseng Korea Selatan

    7cloud.asia – Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. 

    Temulawak hadir dalam bumbu masakan hingga jamu rumahan sebagai penambah stamina, pelancar pencernaan, dan diperkirakan bisa membantu melindungi kesehatan hati.

    Namun, sebagian besar khasiat temulawak ini masih berakar pada pengalaman turun-temurun. Penelitian dan uji klinisnya masih terbatas.

    Padahal, dunia internasional yang kini gandrung pada obat herbal menuntut bukti ilmiah yang kuat: uji keamanan, dosis yang konsisten, dan uji klinis pada manusia. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi Indonesia untuk mempopulerkan temulawak

    Nilai pasar obat herbal global diperkirakan menembus 37,9 miliar dolar AS (Rp631 triliun) pada 2032. Negara seperti Korea Selatan (Korsel) yang membaca peluang ini sudah membuktikan bahwa tanaman obat bisa menjadi kekuatan ekonomi sekaligus alat diplomasi budaya.

    Temulawak punya potensi ilmiah dan nilai ekonomi besar, tetapi untuk menjadikannya ikon kesehatan global, Indonesia perlu membangun jembatan antara riset, industri, dan diplomasi budaya.

    Baca: Segudang manfaat temulawak sehingga dinobatkan sebagai tanaman super

    Potensi besar, bukti klinis terbatas
    Rimpang temulawak mengandung lebih dari 40 senyawa aktif, termasuk kurkuminoid dan xanthorrhizol, yang memiliki efek antioksidan, antiradang, antibakteri hingga antikanker.

    Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan manfaatnya, misalnya sebagai penurun kolesterol dan meningkatkan performa ternak. Dalam industri pangan dan kosmetik, temulawak mulai dikembangkan sebagai minuman fungsional dan produk kecantikan alami.

    Namun, kendala utamanya adalah minimnya uji klinis manusia berskala besar yang sesuai standar internasional. Tanpa itu, temulawak sulit naik kelas menjadi fitofarmaka alias obat herbal yang diakui secara ilmiah keamanan, khasiat, dan mutunya di skala internasional.

    Riset praklinis (penelitian sebelum obat diuji pada manusia) yang sudah banyak dilakukan perlu dilanjutkan ke tahap klinis melalui konsorsium nasional uji klinis. Pendanaannya bisa bersumber dari lintas kementerian dan kolaborasi riset internasional.

    Untuk memahami bagaimana tanaman herbal dapat menembus pasar dunia, Indonesia bisa belajar dari pengalaman Korsel dalam memasarkan ginseng secara global.

    Belajar dari Korsel dalam pemasaran global ginseng
    Korsel berhasil menjadikan ginseng sebagai ikon nasional dan komoditas ekspor unggulan. Melalui Korea Ginseng Corporation (KGC), produk ginseng kini diekspor ke lebih dari 60 negara dan menguasai sekitar 40 persen pasar dunia.

    Baca: Manfaat daun meniran untuk kesehatan

    Strateginya bukan sekadar menjual produk, tetapi menyesuaikan format dan citra dengan selera global, misalnya dengan produksi suplemen berbentuk gummies dan jelly sticks hingga kampanye dengan duta merek yang akrab bagi publik internasional.

    Kesuksesan ini tidak lepas dari investasi besar pada riset dan inovasi. KGC dan lembaga seperti Rural Development Administration telah menciptakan puluhan varietas ginseng baru yang lebih tahan iklim ekstrem dan memperkenalkan teknik budidaya inovatif untuk menjaga mutu.

    Pemerintah Korsel turut berperan aktif melalui kebijakan Globalization of Traditional Korean Medicine yang mengintegrasikan riset, industri, dan promosi budaya.

    Hasilnya, ginseng bukan lagi sekadar produk herbal, tetapi simbol diplomasi ekonomi dan kebanggaan nasional Korsel.

    Regulasi dan arah baru Indonesia
    Keberhasilan Korsel menunjukkan bahwa riset harus berjalan seiring dengan kebijakan dan dukungan pemerintah.

    Di Indonesia, sejak 2023 Kementerian Kesehatan bersama BRIN, perguruan tinggi, dan lintas kementerian telah menetapkan temulawak sebagai tanaman unggulan nasional.

    Tahun 2025 ditargetkan terbit Keputusan Presiden untuk memperkuat posisinya agar sejajar dengan ginseng Korea di masa depan.

    Baca: Minum air kelapa muda bagus untuk kesehatan

    Indonesia juga memiliki dasar regulasi yang kuat: klasifikasi jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Temulawak bahkan telah tercantum dalam Farmakope Herbal Indonesia dan diakui dalam Farmakope Eropa.

    Namun, penerapan standar mutu di industri masih lemah. Indonesia memerlukan penegakan standar yang nyata, mulai dari budi daya dan standardisasi yang konsisten agar produk temulawak Indonesia layak ekspor.

    Langkah tersebut perlu mencakup sistem sertifikasi produksi pertanian dengan teknologi ramah lingkungan atau Good Agricultural and Collection Practices (GACP), pengolahan dengan sistem pedoman mutu lewat Good Manufacturing Practices (GMP), hingga standardisasi produk akhir.

    Pada akhirnya, untuk bisa memasarkan temulawak secara global, kita perlu strategi terpadu: riset ilmiah jangka panjang, regulasi mutu yang kuat, kemitraan industri-inovasi, serta promosi budaya global.

    Dengan ilmu sebagai paspor, industri sebagai penggerak, dan diplomasi sebagai panggung, temulawak dapat melangkah dari jamu dapur menuju ikon kesehatan dunia.

    Jadi, pertanyaannya kini bukan lagi apakah temulawak bisa mendunia, tetapi apakah kita siap mengantarkannya ke sana?

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Yori Yuliandra (Associate Professor of Pharmaceutical Sciences, Universitas Andalas) dan Elfahmi (Peneliti, Direktur Riset dan Inovasi, Institut Teknologi Bandung)