Tag: tenaga surya

  • Desa Ini Terdampak Krisis Iklim dan Kesulitan Air Bersih, Terbantu Pompa Tenaga Surya

    Desa Ini Terdampak Krisis Iklim dan Kesulitan Air Bersih, Terbantu Pompa Tenaga Surya

    © Aji Styawan / Greenpeace

    7cloud.asia – Penantian panjang warga Timbulsloko, Demak, Jawa Tengah untuk mengakses air bersih akhirnya berbuah manis. Pada Minggu (18/6/2023) lalu, pompa air tenaga surya berhasil dipasang.

    Pemasangan pompa dengan tenaga surya ini berhasil mengalirkan air dari sumur yang telah mereka gali sejak 31 Mei lalu.

    Tidak hanya itu, lampu penerangan di jalan desa yang juga menggunakan tenaga surya, telah menerangi kampung tersebut.

    Pompa air dan lampu penerangan tenaga surya tersebut adalah hasil urun dana dari masyarakat seluruh Indonesia yang peduli akan keberlangsungan hidup warga Timbulsloko.

    Penggalangan dana dilakukan melalui kanal penggalangan dana individu digital maupun tatap muka.

    Baca: Perubahan iklim membuat banjir rob makin sering terjadi

    Timbulsloko merupakan salah satu desa di Demak yang terdampak krisis iklim akibat kenaikan muka air laut. Separuh kampung di Timbulsloko sudah terendam air laut, sehingga warga sulit mendapatkan air bersih.

    Warga Timbulsloko telah bertahun-tahun berdampingan dengan banjir rob yang semakin hari terus naik.

    Upaya masyarakat Timbulsloko untuk bertahan hidup berdampingan dengan kenaikan air laut bukan perkara mudah. Perubahan yang signifikan membuat mereka harus memutar otak dan mencari solusi agar mereka bertahan hidup.

    “Mulai langkanya air, menurutku sejak air naik pompa ini jadi sering mati. Sejak air pasang terlalu ekstrem naiknya, mesin-mesin pompa sering rusak,” terang Ghofur, salah satu warga Timbulsloko.

    Baca: Nasib nelayan terombang-ambing oleh krisis iklim

    Ia menambahkan, “Mudah-mudahan dengan adanya pompa dan panel tenaga surya bisa membantu listrik dan air buat warga.” 

    Air yang semakin sulit dicari dan akses jaringan listrik yang terbatas memaksa warga harus menemukan solusi yang tepat guna dalam kondisi tersebut.

    Air bersih baru tersedia di kedalaman 117-132 meter, jauh lebih dalam dari sumur-sumur masyarakat kota kebanyakan.

    Dengan pompa tenaga surya ini bisa membantu masyarakat menghemat tagihan hingga Rp. 2,5 juta per bulan untuk kebutuhan air mereka.

    “Ini adalah harapan kita semua, dengan kolaborasi bersama anak-anak muda seperti komunitas Solar Generation dan masyarakat, kita bisa mewujudkan solusi yang baik untuk mencegah sebelum semuanya memburuk,” tegas Hadi Priyanto, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia. 

    © Aji Styawan / Greenpeace

    Baca: Krisis iklim picu ‘bedol desa’ di jalur Pantura

    Timbulsloko hanya salah satu dari banyak daerah yang sudah merasakan dampak krisis iklim secara langsung jika kita tidak segera beralih dari energi fosil seperti batubara.

    “Timbulsloko adalah potret dari sekian banyak wilayah, yang memperlihatkan bagaimana krisis iklim sudah sampai di hadapan rumah kita sendiri,” imbuh Hadi Priyanto. 

    Ia memaparkan, negara-negara di seluruh dunia dimandatkan untuk meninggalkan penggunaan bahan bakar fosil sebelum 2030, jika ingin menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 1,5oC dan menjaga dari bencana iklim permanen.

    Alih-alih melepaskan diri dari ketergantungan terhadap batu bara, Indonesia malah akan menambah pembangkit batubaranya hingga 2030, dan akan terus mempertahankan batu bara hingga 2050 dengan berbagai mekanisme teknologi rendah karbon yang sebenarnya adalah solusi palsu.

    Baca: Pengembangan energi terbarukan di Indonesia berjalan lamban

    Padahal, Indonesia sebagai negara dengan skala geografis yang cukup besar memiliki berbagai macam potensi energi terbarukan yang belum dimanfaatkan secara optimal.

    Dengan matahari yang bersinar sepanjang tahun, Indonesia memiliki potensi 3.295 GW tenaga surya yang bisa mencukupi kebutuhan energi seluruh negeri.

    Belum potensi energi lain yang masih belum dimanfaatkan sama sekali seperti energi angin lepas pantai dan gelombang laut.

    Dibutuhkan keseriusan pemerintah dalam implementasi transisi energi, gelombang investasi yang besar juga harus dibarengi dengan payung hukum dan kemauan politik untuk melepas ketergantungan pada jebakan energi fosil batubara.

    Baca: IESR rekomendasikan operasional PLTU batu bara segera diakhiri

    Pembangunan pompa air tenaga surya seperti yang dilakukan warda Desa Timbulsloko ini diharapkan bisa menjadi model demokrasi energi.

    Model demokrasi ekonomi ini memberi kesempatan pada masyarakat bisa saling bahu membahu membangun pembangkit energi terbarukan, untuk mencukupi berbagai macam kebutuhan masyarakat, termasuk air bersih di manapun dan dalam kondisi tersulit sekalipun. 

    “Listrik, air bersih, semuanya kan hak manusia ya. Jadi saya selalu bilang bahwa di dunia ini tidak sempurna, tapi ini lebih baik dan harus dilakukan,” ucap Citra Subiakto, fashion enthusiast yang turut terlibat dalam pengadaan panel tenaga surya di Desa Timbulsloko.

    Baca: Indonesia mulai serius jajaki pengembangan energi hidrogen

     

     

  • Pertama Kali, Konvensi Manufaktur Dunia 2023 Gunakan Pasokan Listrik Hijau

    Pertama Kali, Konvensi Manufaktur Dunia 2023 Gunakan Pasokan Listrik Hijau

    7cloud.asia – Konvensi Manufaktur Dunia 2023 telah resmi dibuka kemarin, Rabu (20/09/2023) di Hefei, ibukota Provinsi Anhui, China Timur. Penyelenggara memastikan menggunakan pasokan listrik hijau untuk acara ini.

    Hal ini merupakan pertama kali dilakukan Anhui untuk mewujudkan pasokan listrik hijau pada keseluruhan proses acara berskala besar.

    Dilansir dari Antaranews, listrik hijau merupakan pasokan listrik dengan emisi karbon dioksida nol atau hampir nol selama proses produksinya. Sebagian besar listrik hijau ini berasal dari sumber-sumber energi terbarukan, seperti tenaga surya, angin, panas bumi dan bioenergi.

    Baca: Sisi gelap di balik transisi ke energi terbarukan

    Hingga akhir Agustus 2023, total kapasitas energi baru yang terpasang di Anhui mencapai 39,07 juta kilowatt.

    Sedangkan output listrik harian tertinggi dari energi baru di provinsi itu pada tahun ini mencapai 19,9 juta kilowatt. Ini merupakan rekor tertinggi terbaru.

    Selama konferensi manufaktur tersebut, listrik hijau dipasok oleh energi bersih, termasuk tenaga surya (fotovoltaik) dan bayu.

    Seluruh lokasi penyelenggaraan konferensi tersebut menggunakan listrik hijau yang diperjualbelikan via mekanisme perdagangan listrik hijau.

    Baca: Desa korban perubahan iklim akhirnya manfaatkan tenaga surya

    Cheng Zheng dari perusahaan pengelolaan pameran internasional Hefei Zhengwen, yang bertanggung jawab atas dukungan logistik acara ini menjelaskan  total konsumsi listrik diperkirakan mencapai  240.000 kilowatt per jam (kWh).

    Jumlah ini setara dengan pengurangan 166.000 kg emisi karbon dioksida berkat pemanfaatan energi bersih.

    Konvensi Manufaktur Dunia 2023 akan berlangsung selama 5 hari dan di gelar di area seluas 80.000 meter persegi dan dihadiri sekitar 1200 tamu undangan.

    Mereka yang hadir dari sektor manufaktur termasuk para pejabat pemerintah, duta besar asing untuk China, kepala organisasi internasional dan eksekutif senior dari berbagai perusahaan multinasional.

    Baca: Nasib nelayan terombang-ambing oleh perubahan iklim

    Acara yang menyoroti manufaktur cerdas itu meliputi pameran, konferensi tingkat tinggi, dan forum. 

    Ruang pameran akan menampilkan berbagai teknologi mutakhir, seperti komputer kuantum, roket dan kereta maglev dengan kecepatan maksimum 600 kilometer/jam.

    Selain itu, acara ini juga menampilkan berbagai kegiatan promosi berupa proyek-proyek investasi di negara-negara Eropa, seperti Jerman, Inggris, Prancis dan Italia.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

  • Aktivis Lingkungan Minta PLN Tidak Batasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Atap Rumah Warga

    Aktivis Lingkungan Minta PLN Tidak Batasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Atap Rumah Warga

    7cloud.asia – Menyambut Hari Listrik Nasional, Koalisi Demokrasi Energi menggelar aksi teatrikal dengan menggunakan replika cerobong PLTU dan panel pembangkit listrik tenaga surya. 

    Aksi menolak pembatasan listrik tenaga surya ini dilakukan koalisi yang terdiri dari Greenpeace, Enter Nusantara dan 350 Indonesia digelar di kantor pusat PLN, Jakarta Selatan, Kamis (26/10/2023).

    Aksi ini bertujuan untuk menyerukan kepada PLN, sebagai satu-satunya perusahaan penyedia listrik negara, agar tidak membatasi kapasitas pemasangan pembangkit tenaga surya atap bagi masyarakat.

    Aturan untuk membatasi penggunaan pembangkit tenaga surya ini tertuang dalam memo internal PLN, yang kemudian diakomodir oleh Kementerian ESDM, sehingga mereka berencana untuk merevisi Permen No 26/ 2021 tentang PLTS Atap.

    Baca: Desa ini gunakan llistrik tenaga surya

    Rencana revisi tersebut memuat ketentuan kapasitas pemasangan pembangkit S atap yang semula bisa 100% dari kapasitas terpasang, dipangkas menjadi 10-15%.

    Dalam keterangan tertulis yang diterima ruangkoat.com, Kamis (26/10/2023) Koalisi mengatakan, PLN seharusnya memberikan pilihan sumber listrik bagi masyarakat yang ingin memasang pembangkit listrik tenaga surya atap.

    “Apa yang dilakukan PLN saat ini jelas mempersulit masyarakat yang ingin beralih ke energi terbarukan seperti matahari,” ucap Hadi Priyanto, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.

    “Selain itu, perlu keseriusan dari pemerintah melalui Kementerian ESDM agar memberi kejelasan regulasi dan insentif sehingga transisi energi bisa berjalan optimal dan harga energi terbarukan menjadi lebih kompetitif.” terangnya.

    “Jika PLN terus melayani nafsu oligarki batubara untuk meraup cuan dari sektor energi, masyarakat akan selalu menjadi korban dari kebijakan ini. Sudah saatnya PLN melibatkan masyarakat dalam proses transisi energi sehingga masyarakat bisa berdaulat atas pengelolan energinya sendiri.” tambah Hadi Priyanto

    Baca: Sisi gelap di balik transisi energi ke energi terbarukan

    Sementara Reka Maharwati, dari Enter Nusantara mengatakan, selama ini generasi muda selalu diberikan motivasi untuk menjadi agent of change.

    “Namun kebijakan yang dihadirkan oleh pemerintah belum juga mendengar aspirasi orang muda yang ingin mendorong perubahan ke arah yang lebih baik untuk generasi mendatang,” terangnya

    Transisi energi yang bersih dan berkeadilan, lanjut Reka, bisa mulai diwujudkan dengan segera membatalkan revisi permen tersebut.

    Menurut Ginanjar Aryasuta dari 350 Indonesia, sebagai lembaga strategis dalam penyediaan listrik bagi Indonesia, PLN harusnya berada di garis depan dalam mensukseskan rencana transisi energi berkeadilan.

    Kebijakan internal PLN yang membatasi instalasi PLTS atap on grid 10 – 15 persen dari kapasitas daya terpasang menghambat partisipasi publik dalam transisi energi di Indonesia.

    Baca: Banjir rob makin sering terjadi

    Ginanjar menilai, tindakan pembatasan tersebut bertentangan dengan Permen ESDM 26/2021, menghambat pencapaian target bauran energi terbarukan.

    “Kita perlu aksi cepat untuk menangani krisis iklim. Terhambatnya aksi iklim ini selain memberikan ancaman terhadap kerusakan lingkungan juga mengancam masa depan generasi muda.” tegasnya.

    Kemauan pemerintah untuk mengejar target bauran energi terbarukan sebenarnya bisa juga dicapai dengan memberikan akses mandiri energi kepada masyarakat.

    Sebagai perbandingan, proyek besar seperti PLTS Terapung Cirata, kapasitasnya mampu dipenuhi oleh surya atap apabila dipasang pada 200 ribu rumah warga di Jakarta.

    Dengan begitu, capaian target tidak hanya dipenuhi dari pembangkit listrik berskala besar, namun juga dari skala rumah tangga.

    Baca: Transisi energi, mitigasi ke pembangunan yang berkelanjutan

    Indonesia adalah negara tropis yang memiliki potensi energi surya yang sangat besar. Dari potensi sebesar 3,2 juta MW baru 322 MW yang sudah terpasang, artinya baru 0.01% dari total kapasitas yang ada.

    Dengan potensi sebesar itu, Indonesia sangat mampu untuk beralih menggunakan energi terbarukan sepenuhnya.

    Sayangnya, potensi ini tidak didukung oleh kebijakan yang mendukung pengembangannya.

     

  • Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya Makin Digerakkan di Jawa Timur

    Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya Makin Digerakkan di Jawa Timur

    7cloud.asia – Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS) merupakan sebuah solusi penerangan untuk jalan dan kawasan didaerah yang tidak berada dalam area jaringan PLN.

    Anggota Komisi VII DPR RI Ratna Juwita mengungkapkan, penerangan jalan umum tenaga surya juga menjadi solusi untuk efisiensi biaya penerangan di daerah. 

    “Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya ini menggunakan lampu LED hemat energi dengan listrik yang disuplai dari baterai yang sebelumnya di-charge dengan sinar matahari melalui panel surya,” ungkap Ratna

    Ratna meresmikan Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya atau PJUTS di Desa Sumberejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Minggu (18/12/2023).

    Baca: PLN diminta tak halangi pengembangan listrik tenaga surya

    Dalam keterangan tertulis yang diperoleh Parlementaria, Ratna menjelaskan bahwa sejak tahun 2020 pihaknya bekerja sama dengan Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) untuk mewujudkan Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya ini. 

    Kementerian ESDM juga telah melaksanakan pemasangan Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya yang notabene merupakan hasil usulan aspirasinya sebagai anggota Komisi VII DPR yang membidangi energi dan sumber daya mineral. 

    Adapun Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya atau PJUTS tahun 2023 ini tersebar dengan total sebanyak 990 unit.

    Rinciannya, 198 unit di Kabupaten Bojonegoro dan 792 unit di Kabupaten Tuban. Sementara pemasangan PJUTS tahun anggaran 2023 ini total sebanyak 500 unit. 

    Baca: Desa ini gunakan pembangkit listrik tenaga surya

    Jumlah Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya  atau PJUTS tersebut tersebar ke beberapa Kabupaten/Kota, dengan rincian Kabupaten Tuban 200 unit

    Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya juga dipasang di Kabupaten Bojonegoro 130 unit, Kediri 50 unit, Blitar 50 unit, Gresik 20 unit, Kota Tangerang 25 unit, Pesisir Barat 15 unit, dan Pesawaran 10 unit.

    “Bantuan-bantuan yang kami sampaikan ini merupakan usulan kami kepada Kementerian ESDM agar memberikan program yang langsung dirasakan kemanfaatannya oleh warga khususnya yang ada di Dapil saya, yaiu Bojonegoro, dan Tuban,” tambahnya.

    Diungkapkannya Program pemasangan Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya  merupakan perwujudan dari visi dan misi pemerintah untuk wujudkan “Pembangunan yang Merata dan Berkeadilan”.

    Baca: Pro Kontra power wheeling di RUU EBT

    Adapun komponen 1 set Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya terdiri atas beberapa peralatan pendung.

    Seperti 1 buah modul surya, 300 Wp, 1 buah lampu LED 40 W/24 V, 1 buah Baterai Li-FePO4 25,6V 40Ah+BMS dan boks baterai, 1 buah Solar Charge Controller, Tiang, pondasi, kabel, dan aksesoris PJUTS.

    PJUTS yang diberikan melalui program ini memiliki jaminan pemeliharaan selama 1 tahun ditambah garansi sistem selama 2 tahun sejak jaminan pemeliharaan berakhir, sehingga total 3 tahun jaminan perbaikan ditanggung oleh penyedia.

    Apabila terdapat kerusakan dapat melaporkan ke pusat layanan perbaikan (service centre), nomor kontak tertera pada QR Code pada tiang lampu PJUTS dan juga dapat melalui layanan pengaduan Ditjen EBTKE.

  • PLTS Atap: Cara Mudah untuk Memanen Tenaga Surya

    PLTS Atap: Cara Mudah untuk Memanen Tenaga Surya

    7cloud.asia – Indonesia berjanji mengurangi listrik pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) secara bertahap hingga ke titik nol pada 2050. Harapannya, asap-asap PLTU tak lagi berkeliaran mengotori bumi dan membikin kita sesak napas.

    Lantas, bagaimana menggantikan pasokan listrik PLTU yang berkurang tersebut? Bagaimana nanti Indonesia menyiapkan energi untuk populasi yang bertumbuh dan makin sejahtera? 

    Penelitian tim dari Australian National University sebelumnya mengungkapkan Indonesia dapat mengandalkan energi surya yang potensinya sekitar 2000 kali lebih besar daripada konsumsi listrik Indonesia saat ini.

    Berikut laporan selengkapnya di tulis oleh David Firnando Silalahi
    Phd Candidate, School of Engineering, Australian National University dan Andrew Blakers Professor of Engineering, Australian National University.

    Tulisan ini telah terbit di The Conversation.

    Baca: Transisi energi di mata capres

    Pasokan listrik PLTU tersebut dapat digantikan dengan produksi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 3700 Gigawatt (GW).

    Indonesia yang sejahtera dan bebas karbon membutuhkan sekitar 10 miliar panel surya pada 2050.

    Panel-panel tersebut dapat diletakkan di atap bangunan, lahan bekas tambang, terapung di danau, waduk, bahkan di atas perairan laut Indonesia yang sangat luas dan relatif tenang.

    Miliaran panel ini hanya membutuhkan lahan seluas 25 ribu kilometer persegi (km2) atau hanya 0,3% dari total luas wilayah Indonesia.

    Kendati demikian, meletakkan miliaran panel tak segampang membuat mie instan. Indonesia membutuhkan peta jalan pengembangan panel surya untuk program energi bersih jangka panjang, pengadaan berskala besar, hingga pasokan peralatannya.

    Sembari menyiapkannya, Indonesia tetap perlu menambah pasokan energi bersih.

    Baca: Warga pulau ini 100 persen gunakan energi terbarukan

    Salah satu usaha tercepat yang sangat memungkinkan kita tempuh adalah memperbanyak pemasangan PLTS di atap bangunan, termasuk di rumah-rumah.

    Mengapa PLTS atap?
    PLTS atap adalah salah satu cara mudah dan cepat Indonesia untuk menambah pasokan energi ramah lingkungan.

    Karena dipasang di atas atap, PLTS ini tidak memerlukan lahan khusus sebagaimana PLTS konvensional (ground-mounted).

    Panel surya bisa dipasang di atap rumah, gedung perkantoran, parkir, rumah sakit, hotel, swalayan, sekolah, rumah ibadah, pergudangan, dan pabrik.

    Ongkos pemasangan PLTS atap ini memang bersumber dari dana masyarakat sendiri atau swasta, bukan dari Pemerintah. Namun, pemasangannya membuat penyediaan listrik kita lebih efisien.

    Adanya PLTS atap di rumah kita membuat sumber listrik menjadi sangat dekat. Ini mengurangi kehilangan energi/susut jaringan yang pasti terjadi dalam proses pengiriman listrik melalui kabel PT PLN yang jauh dari konsumen.

    Baca: Energi terbarukan menjadi kunci Kopenhagen jadi langganan kota ramah lingkungan

    Per Desember 2023, Kementerian ESDM mencatat ada sekitar 8.491 pelanggan PLN yang memasang PLTS atap. Total kapasitasnya mencapai 141 megawatt (MW), hampir menyamai kapasitas PLTS terapung Cirata di Jawa Barat.

    Jumlah terpasang itu baru sebagian kecil saja dari potensi yang ada di Indonesia—yang diperkirakan mencapai 500 ribu MW.

    Indonesia dapat mencontoh Australia yang tekun merangsang warganya memasang PLTS atap. Saat ini, di Negeri Kangguru ada 3,5 juta rumah, sekitar sepertiga, telah memasang PLTS atap.

    Sumbangannya mencapai 8% dari total pembangkitan listrik nasional. Australia, dengan sepersepuluh penduduk Indonesia, menghasilkan tiga perempat listrik lebih banyak dibandingkan Indonesia.

    Saat ini 40% listrik Australia berasal dari energi terbarukan, sebagian besar energi surya dan angin. Jumlah ini meningkat delapan kali lipat dalam satu dekade terakhir.

    Harga listrik (wholesale) Australia tidak berubah selama transisi yang cepat ini. Porsi energi terbarukan ditargetkan mencapai 82% pada tahun 2030.

    Baca: 8 aspek yang bikin sebuah kota disebut ramah lingkungan

    Setiap bulan, Australia memasang panel surya sebanyak-banyaknya di atap rumah dan bangunan – setara 3500 MW per tahun. Indonesia dapat mencontoh hal ini dan merangsang masyarakat dan swasta untuk beramai-ramai memasang PLTS atap.

    Di Australia, ongkos pasang PLTS atap berkapasitas 10 kilowatt adalah sekitar $10.000 dollar Australia. PLTS ini cukup untuk satu keluarga yang terdiri dari 5 orang kaya yang tinggal di rumah serba listrik dengan AC dan kendaraan listrik. PLTS ini memiliki umur sekitar 25 tahun dengan perawatan yang sangat rendah.

    Di Indonesia, PLTS atap sebesar ini dapat menghasilkan hingga 330.000 kilowatt-jam (kWh) selama umur pakainya, dan mengurangi emisi karbon sekitar 300 ton.

    Australia memberikan insentif pemasangan PLTS atap, yang dapat menurunkan harga hingga 70% dari harga pasar. Insentifnya menurun dari tahun ke tahun dan akan dihapus pada tahun 2030.

    Rangsangan pemasangan PLTS bervariasi tergantung negara bagian. Pemerintah negara bagian Victoria, misalnya, mengguyur subsidi harga (rebate) hingga AU$1.400 (sekitar Rp15 juta).

    Ada juga opsi kredit ongkos panel surya atap tanpa bunga untuk rumah hunian atau rumah yang sedang dibangun.

    Baca: Tantangan menerapkan infrastruktur ramah lingkungan

    Insentif yang diberikan untuk masyarakat di Canberra malah lebih besar. Angkanya mencapai AU$2 ribu untuk subsidi dan plafon pinjaman hingga AU$15 ribu.

    Insentif ini memungkinkan industri tenaga surya Australia tumbuh menjadi skala besar dan menghasilkan sistem yang berbiaya rendah dan dapat diandalkan. Indonesia dapat meniru Australia.

    Kapasitas pembangkitan listrik yang dikelola National Electricity Market di Australia sebesar 65 Gigawatt—hampir sama dengan total kapasitas pembangkit listrik (milik PLN dan Swasta) di Indonesia yang mencapai 69 Gigawatt.

    Sistem listrik Australia—yang secara kapasitas hampir sama besar dengan Indonesia—mampu beroperasi tanpa masalah berarti, meskipun terdapat pasokan energi surya dari PLTS atap dan angin (variable renewable energy) yang mencapai 100% pada jam-jam tertentu.

    Indonesia bisa belajar bagaimana cara Australia mengelola jaringan listriknya tetap andal.

    Salah satu persoalan yang dipikirkan Indonesia untuk memakai energi surya secara besar-besaran adalah faktor kestabilan pasokan listriknya. Hal ini wajar mengingat matahari tidak bersinar sepanjang hari.

    Baca: Mengenal Infrastruktur ramah lingkungan

    Namun, sistem kelistrikan Australia mampu beroperasi dengan lancar, dan dapat diandalkan meskipun energi terbarukan melebihi 70% pada beberapa jam dalam sehari.

    Indonesia dapat belajar dari cara Australia mengelola jaringan listriknya dengan handal. Energi surya dan angin yang bervariabilitas dapat diatasi dengan dengan teknologi penyimpan energi untuk menstabilkan pasokan listrik.

    Riset kami terdahulu mengungkap bahwa di Indonesia terdapat potensi pengembangan PLTA pumped storage jenis off-river (tanpa membendung sungai) di 26 ribu lokasi. PLTA jenis ini dapat dioperasikan sebagai ‘baterai alami’ penyimpan energi.

    Untuk mendukung pemanfaatan energi surya 100%, Indonesia akan membutuhkan fasilitas penyimpanan energi dengan total kapasitas sekitar 1100 GW untuk menyimpan daya selama 10 jam (11 TWh) atau hanya sebagian kecil dari total potensi PLTA pumped storage tersebut.

    Made with Flourish
    Selain andal, riset terbaru kami turut menemukan penggunaan teknologi pumped storage lebih hemat biaya.

    Dengan skenario 100% listrik energi terbarukan yang dipasok dari dominan energi surya, biaya pembangkitan listrik – termasuk pembangkitan, transmisi, penyimpanan energi, dan jaringan transmisi baru – hanya sebesar US$91 per Megawatt jam (MWh).

    Ongkos ini lebih murah dari pada rata-rata biaya pembangkitan PLN saat ini US$98 per MWh. Biaya pembangkitan listrik yang kami hitung juga lebih murah jika Indonesia tidak menggunakan jaringan listrik antarpulau atau supergrid.

    Jika ingin mengandalkan energi surya, Indonesia perlu meredam risiko kebakaran hutan. Sebab, kami menemukan bahwa terdapat periode waktu pada musim kemarau, saat matahari bersinar cerah, radiasi matahari justru lebih kecil.

    Sebagai contoh, kami mengamati tingkat radiasi matahari di Tanjung Selor, Kalimantan Utara, pekan keempat pada Juni 2015 justru lebih rendah 36% dari pada tahun 2010 pada periode waktu yang sama.

    Kami menduga penurunan ini terjadi karena adanya kebakaran gambut dan hutan di Kalimantan. Produksi panel surya yang turun tiba-tiba karena efek asap kebakaran akan mengganggu keseimbangan pasokan. Akibatnya, kita perlu menyiapkan baterai berkapasitas lebih besar sehingga biaya akan membengkak.

  • Teknologi Baru Sel Surya Tandem Pecahkan Rekor dalam Efisiensi Energi (2)

    Teknologi Baru Sel Surya Tandem Pecahkan Rekor dalam Efisiensi Energi (2)

    7cloud.asia – Penelitian baru yang dipublikasikan di Nature menunjukkan bahwa panel surya masa depan dapat mencapai efisiensi hingga 34 persen dengan memanfaatkan teknologi baru yang disebut sel surya tandem.

    Sel tandem baru yang memecahkan rekor efisiensi ini dapat menangkap hingga 60 persen lebih banyak tenaga surya.

    Artinya, jumlah panel yang diperlukan untuk menghasilkan energi yang sama bisa dikurangi, sehingga menekan biaya instalasi dan menghemat lahan (atau area atap) yang dibutuhkan untuk pembangkit listrik tenaga surya.

    Hal ini juga berarti bahwa operator pembangkit listrik akan menghasilkan energi surya dengan keuntungan yang lebih tinggi. Perbedaan nyata terjadi pada instalasi surya di atap, dengan area terbatas dan ruang harus dimanfaatkan secara efektif.

    Harga listrik tenaga surya atap dihitung berdasarkan dua ukuran utama. Pertama, total biaya untuk memasang panel surya di atap, dan kedua, berapa banyak listrik yang akan dihasilkan selama 25 tahun masa operasinya.

    Meskipun biaya instalasi mudah diketahui, menghitung pendapatan dari listrik yang dihasilkan dari tenaga surya di rumah mungkin agak lebih rumit.

    Kita bisa menghemat uang dengan mengurangi penggunaan energi dari jaringan, terutama saat harga tinggi, dan juga bisa menjual surplus listrik kita kembali ke jaringan.

    Namun, hal ini akan bergantung pada penyedia jasa listrik. Di Inggris, tempat saya mengajar, dengan bagaimana pemerintah menetapkan harga listrik, operator jaringan akan membayar harga yang sangat rendah untuk listrik ini.

    Baca: Teknologi baru sel surya tandem pecahkan rekor dalam efisiensi energi (1)

    Sehingga menggunakan baterai untuk menyimpan energi tersebut agar bisa digunakan di malam hari terkadang lebih baik daripada menjualnya.

    Berdasarkan pertimbangan rata-rata pengeluran rumah tangga di Inggris, saya telah menghitung penghematan uang yang bisa diperoleh konsumen dari listrik tenaga surya di atap, tergantung pada efisiensi panelnya.

    Jika efisiensi panel bisa ditingkatkan dari 22 persen menjadi 34 persen tanpa menaikkan biaya pemasangan, penghematan tagihan listrik akan naik dari 558 poundsterling setahun (Rp11,37 juta) menjadi 709 poundsterling setahun (Rp14,45 juta).

    Ini adalah peningkatan penghematan sebesar 27 persen, yang dapat membuat atap tenaga surya sangat menarik–bahkan di negara yang sering mendung seperti Inggris.

    Kapan kita bisa membeli panel surya baru ini?
    Seiring dengan perkembangan penelitian, berbagai upaya sedang dilakukan untuk meningkatkan skala produksi teknologi ini dan memastikan ketahanannya dalam jangka panjang.

    Panel surya tandem sejauh ini masih dibuat dalam ukuran kecil di laboratorium. Mentransfer kinerja tinggi ini ke skala besar, seperti ukuran panel surya biasa, merupakan suatu tantangan besar.

    Namun, kita sudah melihat kemajuan. Awal bulan ini, Oxford PV, perusahaan terdepan dalam teknologi perovskit, telah meluncurkan penjualan panel surya tandem pertama mereka yang baru dikembangkan.

    Mereka telah berhasil mengatasi tantangan dalam mengintegrasikan dua bahan surya dan membuat panel yang tahan lama dan andal.

    Baca: AS akan ubah eks fasilitas senjata nuklir jadi pembangkit listrik tenaga surya

    Meski efisiensinya masih belum mencapai 34 persen, langkah ini menunjukkan jalur yang menjanjikan untuk generasi panel surya berikutnya.

    Tantangan lain yang bakal dihadapi dalam pengembangan panel surya tandem ke depan adalah ihwal keberlanjutan material.

    Mengekstrak dan memproses beberapa mineral dalam panel surya bisa sangat boros energi. Selain silikon, sel surya perovskit membutuhkan unsur-unsur seperti timbal, karbon, yodium, dan bromin sebagai komponen agar dapat bekerja optimal.

    Di samping itu, untuk menghubungkan perovskit dan silikon juga membutuhkan bahan langka yang mengandung elemen yang disebut indium, sehingga perlu lebih banyak penelitian untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ini.

    Terlepas dari tantangan-tantangan tersebut, para ilmuwan dan industri terus berupaya mengembangkan panel surya tandem yang lebih maju dan dapat diintegrasikan ke dalam semua hal—dari mobil listrik, gedung, hingga pesawat terbang.

    Perkembangan terbaru menuju sel tandem perovskit-silikon dengan efisiensi tinggi menunjukkan masa depan yang cerah untuk tenaga surya, memastikan tenaga surya terus memainkan peran penting dalam transisi global menuju energi terbarukan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris. Penulis: Sebastián Bonilla (Associate Professor of Materials, University of Oxford)