Tag: terumbu karang

  • AS Hapus Utang Indonesia hingga 35 Juta Dolar untuk Perbaiki Terumbu Karang

    AS Hapus Utang Indonesia hingga 35 Juta Dolar untuk Perbaiki Terumbu Karang

    7cloud.asia – Pemerintah Amerika Serikat (AS) setuju untuk menghapuskan utang Indonesia sebesar 35 juta dolar atau lebih dari Rp 600 miliar selama sembilan tahun ke depan.

    Menteri Keuangan AS menyampaikan penghapusan utang itu pada Senin (8/7/2024). Sebagai imbalannya, Indonesia harus memulihkan dan melestarikan terumbu karang.

    Menurut perkiraan para ahli, Indonesia merupakan petak laut dengan keanekaragaman hayati paling tinggi di dunia yang kini terancam rusak akibat perubahan iklim.

    Terumbu karang berada di bawah ancaman yang meningkat secara global, sebagian besar disebabkan oleh perubahan iklim yang meningkatkan suhu laut.

    Data pada Mei menunjukkan, selama setahun terakhir, hampir dua pertiga terumbu karang telah mengalami stress akibat panas yang cukup buruk untuk memicu “pemutihan”, yang bisa menghancurkannya.

    Baca: Meningkatnya keasaman laut ancam terumbu karang

    Dilansir VOA Indonesia, perjanjian tersebut merupakan pertukaran “utang untuk alam” yang keempat yang dilakukan kedua negara sejak 2009.

    Diperkirakan penghapusan utang ini akan mendanai setidaknya 15 tahun kegiatan konservasi di dua wilayah utama dari apa yang dikenal sebagai “Segitiga Terumbu Karang”.

    Bentang Laut Kepala Burung dan Bentang Laut Banda-Sunda Kecil yang ditargetkan, mencakup luasan ratusan ribu hektar, yang merupakan habitat bagi lebih tiga perempat dari semua spesies terumbu karang.

    Kawasan ini juga menjadi habitat bagi lebih dari 3 ribu jenis ikan, kura-kura, hiu, paus dan lumba-lumba.

    Indonesia memiliki 5,1 juta hektar terumbu karang, yang merupakan 18 persen dari luas terumbu karang dunia, menurut kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif. Tetapi persoalan pemutihan karang tahun ini, telah menimbulkan dampak yang buruk.

    “Dua wilayah ini merupakan pusat dari keanekaragaman hayati,” kata Alexandre Portnoi, penasihat hukum dari Conservation International yang membantu pencapaian kesepakatan ini.

    Baca: Pemanasan global memicu naiknya permukaan laut

    Indonesia memperoleh keuntungan dari penghapusan utang sebelumnya dengan AS pada 2009, 2011 dan 2014, yang secara kolektif dari waktu ke waktu berjumlah hampir 70 juta dolar.

    Penghapusan utang kali ini merupakan yang pertama, yang berfokus pada terumbu karang, dibanding pada hutan hujan Indonesia yang dilakukan sebelumnya, yang terancam oleh perluasan perkebunan sawit.

    Pelestarian terumbu karang lebih sulit dilakukan dalam skala nasional karena utamanya terancam oleh pemanasan planet akibat emisi gas rumah kaca global sebagai dampak dari pembakaran bahan bakar fosil.

    Kondisi merupakan sesuatu yang tidak dapat ditangani sendirian oleh Indonesia.

    Kesepakatan ini, yang ditandatangani pekan lalu dan diumumkan pada Senin, masih diharapkan akan menciptakan perubahan.

    Baca: Nasib nelayan terombang-ambing perubahan iklim

    Kesepakatan ini akan menghapuskan utang Indonesia sebesar 26 juta dolar, di bawah UU Konservasi Hutan Tropis dan Terumbu Karang AS.

    Conservation International akan berkontribusi sebesar 3 juta dolar dan 1,5 juta dolar yang lain akan disumbangkan oleh The Nature Conservancy, kelompok lain yang terlibat erat dalam pertukaran utang ini.

    Pemerintah Indonesia akan berkomitmen untuk pemulihan terumbu karang. Sementara LSM lokal akan menggunakan dana konservasi untuk mendukung proyek-proyek yang secara langsung bermanfaat bagi ekosistem terumbu karang,

    LSM juga akan mendampingi pengalihan mata pencaharian berkelanjutan bagi mereka yang bergantung pada terumbu karang.

    “Ini cukup sederhana,” kata Portnoi, dan menjelaskan bahwa utang yang dihapuskan untuk kepentingan alam ini didesain secara khusus untuk “memutus siklus” utang yang berkontribusi terhadap degradasi lingkungan.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Koralestari, Upaya Konservasi Jutaan Hektare Kawasan Terumbu Karang di Kalimantan Timur

    Koralestari, Upaya Konservasi Jutaan Hektare Kawasan Terumbu Karang di Kalimantan Timur

    7cloud.asia – Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama Global Fund for Coral Reefs (GFCR) dan para mitra lain menginisiasi Program Koralestari untuk kelestarian terumbu karang di Samarinda, Kalimantan Timur.

    Dalam siaran persnya, YKAN menjelaskan, program Koralestari itu dilaksanakan di tiga wilayah prioritas dengan total luas 4,1 juta hektare, yang tersebar di perairan Samarinda

    Konservasi terumbu karang itu dilakukan di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K-KDPS), Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur;

    Juga Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu, Provinsi NTT, dan; Kawasan Konservasi Perairan Daerah Lingga (KKPD Kabupaten Lingga), Provinsi Kepulauan Riau.

    “Setelah diluncurkan di Kupang pada 1 Juli lalu, kali ini program diluncurkan juga di Samarinda, Kalimantan Timur, 9 Juli 2024 yang bertujuan meningkatkan upaya perlindungan dan restorasi terumbu karang melalui dorongan kegiatan ekonomi biru,” kata Direktur Program Kelautan YKAN Muhammad Ilman dalam keterangan tertulis Kamis (11/7/2024).

    Baca: AS hapus 35 juta dolar utang Indonesia untuk konservasi terumbu karang

    Ia menjelaskan, visi dari program Koralestari adalah transformasi upaya perlindungan dan restorasi terumbu karang melalui pembiayaan berkelanjutan dari Kawasan Konservasi Perairan yang berdampak positif terhadap kelestarian terumbu karang

    Program Koralestari ini juga diharapkan meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar, dan ketahanan pesisir terhadap perubahan iklim.

    “Sekitar 90 persen kerusakan terumbu karang disebabkan oleh mata pencaharian masyarakat. Sehingga, dengan terbentuknya kelembagaan, pengelolaan kawasan konservasi bisa lebih efektif sekaligus mampu membantu dalam mengembangkan mata pencaharian masyarakat,” jelas Ilman.

    Menurut dia, ekosistem terumbu karang di Kaltim memiliki potensi yang sangat besar. Selain termasuk ke dalam Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), sejumlah perairan di Kaltim pun sudah menjadi kawasan konservasi.

    “Meski begitu, kawasan konservasi di Kaltim itu masih sulit dijangkau karena belum kuatnya kelembagaan,” katanya.

    Baca: Meningkatnya keasaman air laut ancam terumbu karang

    Dalam peluncuran program itu, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKHL KKP) Muhammad Firdaus Agung mengatakan, dalam mengoptimalkan program Koralestari perlu memperhatikan tiga aspek.

    Tiga aspek itu adalah konservasi, pendanaan, dan ekonomi untuk mengurangi tekanan terhadap terumbu karang.

    Menurutnya, perbaikan ekosistem terumbu karang melalui Koralestari dapat dipadukan dengan dorongan ekonomi biru yang berkontribusi bagi kesejahteraan masyarakat.

    “Terumbu karang merupakan ekosistem yang penting bagi kesehatan laut. Secara nasional, program Koralestari mampu berkontribusi bagi kebijakan ekonomi biru dan meningkatkan efektifitas kawasan konservasi,” ujar Firdaus.

    Asisten II Bidang Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Provinsi Kalimantan Timur, Ujang Rachmad menekankan pentingnya kolaborasi untuk menyukseskan program Koralestari.

    Baca: Kenaikan air laut jadi masalah besar bagi lingkungan

    Ia berharap, program ini dapat dijalankan secara kolaboratif antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah kampung, serta mitra-mitra pembangunan, dengan melihat potensi dan kewenangan masing-masing pihak.

    “Nantinya, program Koralestari dapat diintegrasikan dengan rencana strategis kelautan dan perikanan di Kabupaten Berau serta program-program kerja pemerintah lainnya,” papar Ujang.

    Sumber:Antaranews.com

  • UNEP: 80 Persen Terumbu Karang Dunia Terancam Alami Kerusakan

    UNEP: 80 Persen Terumbu Karang Dunia Terancam Alami Kerusakan

    7cloud.asia – Terumbu karang tak hanya habitat penting yang mendukung berbagai keanekaragaman hayati dan mata pencaharian yang luar biasa, mulai dari perikanan hingga pariwisata.

    Namun, lebih dari itu terumbu karang di Pasifik merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya, kepercayaan spiritual, dan tradisi sebagian masyarakat dunia.

    Berbicara di acara “Coral Reefs and People: Honoring culture and advancing action for the Pacific Islands,“ yang dihelat di Nice, Prancis beberapa waktu lalu, Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen mengatakan terumbu karang menghadapi ancaman nyata.

    “Lebih dari 80 persen terumbu karang dunia telah mengalami pemutihan karang selama hampir dua tahun. Tingkat dampak dan kerusakan ekonomi dari gelombang panas laut terbaru ini belum sepenuhnya dipahami,“ ujarnya

    UNEP, lanjutnya, memahami perlunya solusi yang mendesak. Dalam hal ini, UNEP senang bahwa Jaringan Pemantauan Terumbu Karang Global merilis laporan tentang status terumbu karang Pasifik pada Konferensi Kelautan ini.

    Baca: Upaya konservasi jutaan hektare kawasan terumbu karang di Kalimantan

    Hal ini akan memungkinkan perencanaan berbasis bukti untuk konservasi dan pemulihan terumbu karang – seperti halnya laporan yang saat ini dibuat UNEP tentang pentingnya pengelolaan terumbu karang oleh Masyarakat Adat secara global.

    Pengetahuan dan sistem pengelolaan tradisional berlimpah, seperti sistem hak penangkapan ikan adat qoliqoli dan wilayah larangan penangkapan ikan tabu di Fiji.

    “Sistem ini penting untuk melestarikan hak-hak Masyarakat Adat dan ekosistem terumbu karang untuk generasi mendatang. Kita harus mendukung mereka,“ tegasnya

    Inger menekankan pentingnya melindungi lautan demi stabilitas lingkungan dan kesejahteraan manusia.

    Mendukung sistem dan kearifan lokal, menurut Inger, merupakan bagian dari pendekatan yang diambil oleh Global Fund for Coral Reefs, sebuah kemitraan swasta-publik yang mendorong investasi yang positif bagi terumbu karang.

    Baca: AS hapus utang puluhan juta dolar untuk perbaiki terumbu karang

    Global Fund for Coral Reefs memperkuat ketahanan ekosistem terumbu karang pesisir, masyarakat lokal, dan ekonomi dengan memobilisasi sumber daya, publik dan swasta, untuk kegiatan seperti kawasan lindung laut, perikanan berkelanjutan, pemulihan terumbu karang, dan pengelolaan air limbah.

    Sebagian besar pekerjaan difokuskan pada habitat yang menunjukkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim, yang disebut refugia.

    Hal ini khususnya relevan dengan kepulauan Pasifik, tempat terumbu karang bernasib lebih baik daripada kondisi global, bahkan setelah terjadinya pemutihan karang secara massal.

    Jadi, pekerjaan Global Fund for Coral Reefs sangat penting untuk mendukung ketahanan terumbu karang di Pasifik dan bahkan di seluruh dunia.

    Di akhir sambutannya, Inger menyerukan peningkatan dukungan dan kapitalisasi Dana Global, sehingga masyarakat lokal, Masyarakat Adat, dan negara-negara dapat menerima dukungan penuh yang mereka perlukan untuk memulihkan, melindungi, dan melestarikan kekayaan alam ini.

    Baca: Kerusakan terumbu karang jadi masalah serius untuk lingkungan

  • IndependenSea: Transplantasi Terumbu Karang di Perairan Pulau Pramuka

    IndependenSea: Transplantasi Terumbu Karang di Perairan Pulau Pramuka

    7cloud.asia – Memperingati HUT ke-80 Kemerdekaan RI, Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Kepulauan Seribu melakukan transplantasi terumbu karang di perairan Pulau Pramuka.

    Kegiatan bertajuk “IndependenSea” ini diadakan di Kelurahan Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara berkolaborasi dengan Indonesian International Student Mobility Awards Alumni Club (IISMA-AC).

    Dilansir Mongabay, terumbu karang di perairan Kepuluan Seribu merupakan salah satu yang terdampak dari pemanasan global.

    Tim peneliti Coral Bleaching Departemen Ilmu Teknologi Kelautan-Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor [ITK-FPIK, IPB] menemukan adanya pemutihan karang di Area Perlindungan Laut [APL] Gosong Pramuka, Kepulauan Seribu, Jakarta.

    Pemutihan karang terlihat juga di beberapa lokasi di Kepulauan Seribu yaitu di Pulau Pari, Pulau Air, Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Jukung, Pulau Kotok, dan Pulau Macan.

    Baca: Penanaman mangrove digalakkan untuk lindungi Kepulauan Seribu dari abrasi

    Terumbu karang dapat digunakan sebagai indikator kesehatan laut. Ini dikarenakan perannya sebagai tempat penyedia kehidupan biota laut seperti jenis parimanta, penyu, karang hias, hiu berjalan, dan hewan endemik lainnya. Bila sudah tidak ada jenis-jenis tersebut, artinya terumbu karang mengalami gangguan.

    Kepala Suku Dinas Parekraf Kepulauan Seribu, Sonti Pangaribuan mengatakan, kegiatan dengan melibatkan generasi muda menjadi wujud nyata kepedulian terhadap kelestarian lingkungan laut dan keberlanjutan ekosistem pesisir Jakarta

    “Rasa bangga saya sampaikan karena masih banyak anak muda seperti mereka yang peduli terhadap lingkungan,” ujarnya, Senin (18/8/2025).

    Menurutnya, kehadiran para pemuda ini menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan bukan hanya dirayakan dengan seremoni, tetapi juga melalui aksi nyata yang bermanfaat bagi keberlanjutan lingkungan.

    “Mudah-mudahan kegiatan bisa menjadi inspirasi generasi muda lainnya untuk menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab untuk merawat bumi,” harapnya.

    Baca: UNEP sebut 80 persen terumbu karang dunia terancam alami kerusakan

    Ketua Pelaksana sekaligus Anggota IISMA-AC, Rafandika Rangga berharap, transplantasi terumbu karang ini dapat meninggalkan warisan lingkungan yang lebih baik karena kelestariannya terjaga.

    Wilayah Kepulauan Seribu, dipilih sebagai lokasi kegiatan karena kawasan ini memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut Jakarta.

    “Dalam aksi ini kami menanam 35 bayi terumbu karang (coral) di bawah laut. Semoga ini menjadi simbol harapan baru bagi keberlangsungan ekosistem laut,” bebernya.

    Ia menambahkan, dalan kegiatan ini dilakukan sinergi dengan Abang None Kepulauan Seribu dan Smiling Coral sebagai organisasi yang bergerak di bidang konservasi laut.

    “Kepulauan Seribu bukan hanya destinasi wisata, melainkan garda terdepan dalam menjaga kelestarian laut,” tandasnya.

    Baca: Konservasi jutaan hektare kawasan terumbu karang di Kalimantan Timur

  • Terumbu Karang yang Rusak Akibat Bom Ikan Sulit Pulih Alami, Bahkan Setelah Puluhan Tahun

    Terumbu Karang yang Rusak Akibat Bom Ikan Sulit Pulih Alami, Bahkan Setelah Puluhan Tahun

    7cloud.asia – Ketika bicara soal penyebab kerusakan terumbu karang, hal pertama yang biasanya terlintas di kepala kita adalah perubahan iklim. Kondisi ini menyebabkan suhu laut memanas, karang memutih, hingga badai siklon yang merusak karang makin sering terjadi.

    Namun, di sejumlah wilayah Indonesia, selain perubahan iklim, ada persoalan lama yang masih terjadi sampai saat ini terkait kerusakan terumbu karang, yakni ledakan bom ikan.

    Praktik ilegal ini dilakukan dengan melempar bom rakitan yang mengandung material seperti pupuk potasium dan minyak tanah ke laut.

    Cara ini memang manjur melumpuhkan ikan seketika, sehingga lebih mudah dijaring. Namun akibatnya, terumbu karang ikut hancur menjadi puing-puing dalam sekejap.

    Berbeda dengan pohon tumbang yang bisa tumbuh lagi, penelitian kami menunjukkan bahwa terumbu yang hancur berkeping-keping akibat ledakan bom ikan tidak bisa pulih kembali secara alami, bahkan setelah puluhan tahun.

    Puing yang selalu bergeser
    Sekilas, puing karang mungkin tampak seperti tahap alami dalam proses pemulihan terumbu.

    Badai dan siklon biasanya memecah karang menjadi puing-puing, yang kemudian menjadi dasar bagi pertumbuhan karang baru.

    Namun, puing karang akibat ledakan bom ikan ini berbeda. Ledakannya memecah karang menjadi potongan-potongan kecil—biasanya kurang dari 10 cm. Pecahan ini ringan, tidak stabil, dan mudah tergeser oleh arus atau gelombang, sehingga tidak bisa menjadi fondasi yang kokoh.

    Baca: 80 Persen terumbu karang dunia terancam kelestariannya

    Ibarat membangun rumah di atas bola-bola, setiap kali karang baru tumbuh, fondasinya bergeser.

    Dari hasil survei di Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara, kami menemukan kurang dari 10 persen fragmen karang yang stabil.

    Bahkan organisme yang biasanya membantu “merekatkan” puing (seperti alga berkapur dan spons), jarang ditemukan. Akibatnya, karang muda sulit bertahan hidup karena terkubur, terbalik, atau tersapu arus.

    Hasil campuran dari upaya awal restorasi
    Di salah satu lokasi studi, kami pernah melakukan restorasi (2003) menggunakan struktur keramik berbentuk kubah yang dikenal dengan EcoReefs. Model ini dirancang untuk meniru cabang karang, memperlambat arus, dan membantu puing agar lebih stabil.

    Dua dekade kemudian, hasilnya mengecewakan. Banyak modul terbalik atau terkubur. Meskipun ada beberapa yang menopang pertumbuhan karang, tutupannya secara keseluruhan sangat rendah.

    Alhasil, kondisi area yang direstorasi tak jauh berbeda dengan lokasi rusak di sekitarnya yang tidak pernah direstorasi.

    Di tempat lain di Indonesia, metode baru seperti “reef stars” dari proyek Mars menunjukkan pemulihan yang lebih cepat. Struktur ini lebih efektif menstabilkan puing, tapi tetap saja membutuhkan pemeliharaan dan pemantauan rutin.

    Baca: Upaya konservasi kawasan terumbu karang di Kalimantan Timur

    Saat restorasi tak sesuai harapan
    Bom ikan bukan cerita lampau. Meski sudah dilarang sejak lama, praktik ilegal ini masih kerap terjadi di beberapa wilayah Indonesia.

    Padahal, warisan kerusakan dari ledakan bom masa lalu sangatlah nyata. Kami menemukan banyak hamparan terumbu karang yang hancur menjadi puing tanpa tanda-tanda pemulihan alami.

    Penelitian kami memberikan tiga pelajaran penting:
    Tidak semua puing sama: Puing akibat badai biasanya lebih besar dan stabil sehingga bisa mendukung pemulihan, sementara puing akibat bom terlalu kecil dan rapuh.

    Ukuran amat menentukan: Pecahan karang yang panjang lebih stabil bertahan, saling mengikat, dan menopang karang muda. Sementara pecahan kecil terlalu mudah bergeser.

    Restorasi butuh perawatan: Membangun struktur atau kerangka dasar saja tidak cukup untuk menyelamatkan terumbu karang, perlu intervensi dan pemeliharaan secara terus-menerus.

    Mendukung pemulihan terumbu karang
    Kami menemukan bahwa pecahan karang akibat bom ikan tetap tidak stabil bahkan setelah puluhan tahun. Fragmen kecil yang terus bergeser menghambat karang muda menetap dan tumbuh.

    Baca: Meningkatnya keasaman laut mengancam terumbu karang

    Artinya, temuan kami menunjukkan bahwa terumbu yang rusak akibat bom ikan, sangat kecil kemungkinannya bisa pulih sendiri tanpa bantuan manusia.

    Oleh karena itu, restorasi harus memprioritaskan penstabilan dasar puing dan menggunakan struktur yang sesuai dengan karakteristik lokasi.

    Keberhasilan restorasi ditentukan oleh metode intervensi yang tepat. Pengelola terumbu karang perlu mengidentifikasi asal-usul puing, serta mengkaji kondisi lapangan dan fragmen sebelum mengambil tindakan restorasi, sebagaimana yang kami lakukan dalam studi ini.

    Terumbu karang membutuhkan perawatan jangka panjang agar bisa bertahan hidup, berkembang, dan menjadi tempat hidup ikan-ikan, melindungi pesisir, serta menjadi tujuan wisata bagi jutaan orang.

    Pemantauan berkelanjutan dan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab pun amat dibutuhkan. Restorasi dan pengelolaan yang bijaksana dapat menjaga manfaat ekologis dan sosial dari terumbu karang.

    Pada akhirnya, memberi kesempatan kedua bagi terumbu yang rusak sangatlah penting—baik untuk masyarakat yang menggantungkan hidup padanya maupun bagi keanekaragaman hayati luar biasa yang hidup di dalamnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Satrio Hani Samudra (Data Manager, UCL) dan Tries Blandine Razak (Researcher, School of Coral Reef Restoration, IPB University)

  • Pengamat: Kerusakan Terumbu Karang Pulau Komodo oleh Kapal Wisata adalah Kejahatan Lingkungan

    Pengamat: Kerusakan Terumbu Karang Pulau Komodo oleh Kapal Wisata adalah Kejahatan Lingkungan

    7cloud.asia – Pengamat maritim dari IKAL Strategic Center (ISC), Marcellus Hakeng Jayawibawa menilai insiden kapal wisata Apik yang dilaporkan merusak terumbu karang di perairan Pulau Sebayur Kecil, Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur tidak boleh disepelekan.

    Seperti diberitakan, sebuah video yang beredar di media sosial memperlihatkan jangkar kapal dijatuhkan dan diseret begitu saja di dasar laut pada kedalaman sekitar lima hingga tujuh meter.

    Sauh yang ditambatkan secara sembarangan ini menghantam struktur karang yang menjadi habitat penting bagi ekosistem bawah laut.

    Hakeng menjelaskan Pulau Sebayur Kecil selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi penyelaman favorit wisatawan domestik maupun mancanegara, karena keragaman biota laut dan keindahan terumbu karangnya.

    “Maka kerusakan akibat tarikan jangkar Kapal Apik, adalah kejahatan serius yang dapat menghapus puluhan tahun pertumbuhan alami karang dan memicu degradasi ekosistem laut dalam jangka panjang. Harus ada pihak yang bertanggung jawab atas hal ini,” ujar Hakeng, dalam keterangan tertulisnya pada media, Minggu (2/11/2025).

    Hakeng menegaskan, kerusakan terumbu karang dalam kawasan konservasi seperti Taman Nasional Komodo adalah pelanggaran ekologis serius.

    Baca: Ekowisata melindungi atau justru mengancam kelestarian satwa

    ”Ini bukan hanya soal satu kapal, tetapi potret kegagalan tata kelola pariwisata bahari yang tidak seimbang antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan,” tegasnya.

    Kerusakan terumbu karang, lanjutnya, membawa konsekuensi ekologis dan ekonomi sekaligus. Karang merupakan rumah bagi biota-biota laut, pelindung garis pantai dari abrasi, serta daya tarik utama wisata bahari Indonesia. Namun, ia hanya tumbuh beberapa milimeter hingga sentimeter per tahun.

    “Sekali rusak, kita kehilangan puluhan tahun pertumbuhan. Ini bukan hanya kehilangan estetika laut, tapi juga kehilangan sumber kehidupan ikan, tempat bertelur, hingga sumber penghidupan masyarakat lokal,” tegasnya.

    Hakeng menilai, perlindungan kawasan wisata laut belum dijalankan dengan serius. Meski berada dalam kawasan konservasi, kapal wisata di Sebayur Kecil masih bebas membuang jangkar tanpa sistem jalur tambat atau mooring buoy yang semestinya menjadi standar di lokasi-lokasi penyelaman.

    Jika sebuah area konservasi tidak ditentukan titik koordinat untuk tambat resmi, jika pengawasan tidak berbasis teknologi, maka insiden seperti ini hanya tinggal menunggu waktu berulang lagi.

    Ia juga menyoroti lemahnya koordinasi antarinstansi. Taman Nasional Komodo berada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), namun aktivitas kapal diatur oleh Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) di bawah Kementerian Perhubungan.

    Baca: 80 Persen terumbu karang dunia dalam kondisi terancam

    Di sisi lain, kawasan ini telah ditetapkan sebagai destinasi wisata super prioritas oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sementara itu, perlindungan ekosistem laut berada dalam kewenangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

    Insiden ini tidak bisa hanya berhenti pada penahanan kapal atau nakhodanya. Empat kementerian harus bergerak bersama serta seirama.

    “Tidak bisa terdapat empat Nakhoda dalam satu kapal, bingung nanti kapalnya mau dibawa kemana. Harus ditentukan siapa yang menjadi penentu kebijakan dan penanggung jawab atas penegakan aturan disana. Kalau tidak, kita hanya akan terus mengulang kesalahan yang sama,” katanya.

    Ditambahkannya, secara hukum, insiden ini berpotensi masuk ranah pidana serta perdata lingkungan.

    Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menyatakan setiap orang yang karena kelalaiannya mengakibatkan kerusakan lingkungan wajib bertanggung jawab.

    Selain itu juga UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya mengatur sanksi bagi tindakan yang merusak ekosistem dalam kawasan taman nasional.

    “Negara memiliki dasar hukum yang kuat untuk menindak. Penegakan hukum bukan untuk menghukum pelaku semata, tetapi untuk menyelamatkan integritas lingkungan dan memastikan kekayaan alam kita ini tetap bisa dinikmati oleh anak cucu kita ke depan,” pungkas Hakeng.

    Baca: Ancaman Ekowisata terhadap ekosistem padang lamun

  • Tutupan Terumbu Karang Dunia Turun hingga 50 Persen, BRIN Kembangkan Indeks Daya Dukung Ekologi Berbasis Ekosistem

    Tutupan Terumbu Karang Dunia Turun hingga 50 Persen, BRIN Kembangkan Indeks Daya Dukung Ekologi Berbasis Ekosistem

    7cloud.asia – Terumbu karang punya peran besar dalam menjaga kelestarian ekosistem laut, sayangnya ekosistem karang dunia mengalami tekanan berat sejak pertengahan abad ke-20.

    Tutupan karang hidup secara global dilaporkan telah menurun hingga sekitar 50 persen, akibat interaksi kompleks antara perubahan iklim dan aktivitas manusia.

    “Degradasi ini tidak hanya dipicu oleh satu faktor, tetapi merupakan akumulasi dari tekanan antropogenik, variabilitas iklim global, serta perubahan kondisi oseanografi,” kata Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi (PRE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Taslim Arifin.

    Saat memyampaikan orasi ilmiah pada acara Sidang Terbuka Pengukuhan Profesor Riset BRIN, di Jakarta, pada akhir Maret lalu, Taslim menegaskan pentingnya pendekatan ilmiah terpadu dalam menjaga keberlanjutan terumbu karang melalui pengembangan Indeks Daya Dukung Ekologi (IDDE).

    Dalam paparannya, Taslim menjelaskan, selama ini terdapat kesenjangan mendasar dalam pengelolaan terumbu karang, mulai dari pendekatan yang masih sektoral dan parsial, keterbatasan integrasi antar-ekosistem, hingga belum adanya standar nasional yang komprehensif.

    Kondisi tersebut dinilai menghambat efektivitas kebijakan konservasi terumbu karang, khususnya di Indonesia.

    Baca: 80 Persen ekosistem terumbu karang dunia terancam kelestariannya

    Merespons kesenjangan tersebut, Taslim mengembangkan konsep IDDE berbasis ekosistem yang mengintegrasikan berbagai parameter penting, seperti faktor geofisik, oseanografi, serta tekanan aktivitas manusia.

    Konsep ini bertujuan untuk mengukur kapasitas suatu wilayah dalam menopang kehidupan tanpa mengalami degradasi.

    Ia menjelaskan, daya dukung ekologi tidak dapat dipahami sebagai batas statis semata, melainkan sebagai hasil interaksi dinamis antara sistem biofisik dan kebutuhan sosial-ekonomi.

    Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan harus mampu menangkap dimensi spasial, temporal, dan ekologis secara bersamaan.

    “Pendekatan terpadu memungkinkan pemetaan distribusi tekanan dan kapasitas wilayah secara lebih akurat, sekaligus memprediksi perubahan kondisi lingkungan dalam berbagai skenario,” kata Taslim.

    Dalam risetnya, ditemukan bahwa penurunan kesehatan terumbu karang berkorelasi erat dengan meningkatnya suhu perairan, sedimentasi, serta konsentrasi nutrien seperti nitrat dan fosfat.

    Baca: Kerusakan terumbu karang di perairan Pulau Komodo 

    Faktor-faktor tersebut umumnya berkaitan dengan aktivitas manusia di wilayah pesisir, termasuk urbanisasi dan praktik pemanfaatan sumber daya yang tidak berkelanjutan.

    Selain itu, fenomena iklim global seperti El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) turut memperparah tekanan terhadap ekosistem karang melalui peningkatan frekuensi kejadian ekstrem.

    Taslim menekankan pendekatan spasial dalam IDDE menunjukkan adanya variasi daya dukung di setiap wilayah, sehingga pengelolaan tidak bisa disamaratakan. Setiap kawasan memerlukan strategi yang disesuaikan dengan karakteristik ekologis dan tekanan yang dihadapi.

    Untuk memperkuat analisis, model sistem dinamik juga digunakan guna menyimulasikan berbagai skenario kebijakan dan memproyeksikan kondisi ekosistem di masa depan.

    Pendekatan ini dinilai penting agar kebijakan tidak hanya berbasis kondisi saat ini, tetapi juga mempertimbangkan arah perubahan dan ketahanan ekosistem.

    Penerapan IDDE telah dilakukan di sejumlah wilayah perairan Indonesia, seperti Teluk Saleh, Kepulauan Spermonde, Wakatobi, Teluk Jakarta, hingga wilayah Nusa Penida.

    Baca: AS hapus jutaan dolar utang Indonesia untuk konservasi ekosistem terumbu karang

    Hasilnya menunjukkan bahwa integrasi data oseanografi dan tekanan antropogenik mampu memberikan gambaran kapasitas ekosistem secara lebih realistis.

    “IDDE menjadi instrumen ilmiah yang menjembatani sains dan kebijakan, sekaligus mendukung pengelolaan terumbu karang yang adaptif dan berkelanjutan,” ujar Taslim yang sudah menelurkan 88 Karya Tulis Ilmiah (KTI) ini.

    Lebih lanjut, Taslim mengusulkan pembentukan kerangka nasional perlindungan terumbu karang berbasis daya dukung ekologi.

    Kerangka ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan lintas sektor, dengan mempertimbangkan keterhubungan ekologi, oseanografi, dan sosial-ekonomi antarwilayah.

    Namun demikian, Ketua Kelompok Kegiatan Kesehatan dan Valuasi Ekosistem Pesisir di PRE BRIN ini mengakui implementasi IDDE masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan data, kesenjangan kapasitas sumber daya manusia, serta kompleksitas sistem sosial-ekologi.

    Meski begitu, pengembangan indeks ini dinilai sebagai langkah penting dalam memperkuat tata kelola ruang laut berbasis ekosistem. IDDE juga diharapkan dapat menjadi acuan dalam menetapkan batas pemanfaatan yang berkelanjutan, sekaligus menjaga integritas ekosistem laut di tengah tekanan perubahan global.

    “Ke depan, integrasi sains, kebijakan, dan praktik lokal menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan degradasi habitat,” kata Taslim.

    Ia menekankan pemahaman terhadap ekosistem pesisir harus bergeser dari perspektif statis menuju sistem yang dinamis, kompleks, dan penuh ketidakpastian, sehingga membutuhkan pendekatan pengelolaan yang adaptif dan berbasis ilmu pengetahuan.

  • Riset Tunjukkan Terumbu Karang Indonesia Tahan Panas, Tapi Ketahanannya Ada Batasnya

    Riset Tunjukkan Terumbu Karang Indonesia Tahan Panas, Tapi Ketahanannya Ada Batasnya

     

    7cloud.asia – Indonesia merupakan rumah bagi sistem terumbu karang terbesar dan paling beragam di dunia, yang membentang lebih dari 32 ribu kilometer persegi di seluruh kepulauan Nusantara. Serupa dengan belahan dunia lainnya, terumbu karang kita juga terdampak pemanasan laut.

    Namun, studi baru kami menemukan bahwa meskipun suhu laut terus meningkat, tutupan terumbu karang di sebagian besar wilayah tetap stabil dalam jangka panjang.

    Penelitian kami mengumpulkan data pemantauan terumbu karang dari seluruh Indonesia dalam periode 2004 hingga 2023. Pemantauan ini mencakup 394 lokasi terumbu permanen di 32 wilayah.

    Sebagian besar data datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Wildlife Conservation Society Indonesia Program, WWF Indonesia, dan Operation Wallacea.

    Hasil riset menunjukkan, dari 32 lokasi penelitian, 26 lokasi di antaranya menunjukkan tutupan karang kurang lebih stabil. Dua lokasi malah membaik, dan hanya empat lokasi memburuk.

    Kestabilan ini terpantau bertahan meski suhu permukaan laut meningkat signifikan di seluruh lokasi penelitian antara 1985 hingga 2023, dengan pemanasan lebih tinggi terjadi di Indonesia bagian timur. 

    Walaupun ini jelas kabar baik, tapi bukan berarti terumbu karang kita bakal terus aman ke depannya. Ketika tekanan panas menjadi terlalu sering atau terlalu parah, kehilangan karang bisa meningkat dengan sangat cepat.

    Bahkan terumbu paling tangguh pun punya titik kritis

    Sebagian besar stabilitas yang kami amati didasarkan pada bagaimana terumbu karang menghadapi gelombang panas besar, terutama pada 2010 dan 2016.

    Meskipun peristiwa tersebut sempat memicu pemutihan (bleaching) dan kehilangan karang di beberapa wilayah, banyak yang pulih setelahnya.

    Tetapi, gelombang panas yang terjadi beberapa tahun terakhir dan prediksi kedepannya terjadi lebih berat. Karena itu, temuan kami ini pun tidak bisa ditafsirkan sebagai bukti bahwa terumbu karang Indonesia aman dari perubahan iklim.

    Gelombang panas laut kini semakin intens di seluruh dunia. Pada April 2024, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) mengonfirmasi peristiwa pemutihan karang global keempat. Mereka melaporkan bahwa tingkat tekanan panas yang dapat memicu bleaching telah memengaruhi sekitar 84,4% terumbu karang dunia antara Januari 2023 hingga September 2025.

    Indonesia juga terdampak tren global ini. Di Selat Dampier, Raja Ampat, sebuah studi terbaru mendokumentasikan pemutihan karang massal terkait dengan gelombang panas laut pada 2024.

    Ketika kami membandingkan perubahan tutupan karang dengan akumulasi tekanan termal, kami menemukan bahwa tutupan karang tetap stabil pada tingkat panas rendah hingga sedang. Namun, terdapat penurunan tajam setelah tekanan tersebut melewati ambang kritis sekitar 12 DHW.

    DHW (degree-heating weeks) adalah metrik yang menggabungkan seberapa panas suhu air dari biasanya dan berapa lama panas itu bertahan.

    Bayangkan ini sebagai “dosis panas” kumulatif bagi terumbu karang. Misalnya, 12 DHW bisa berarti suhu panas bisa bertahan 12 minggu dengan suhu air 1°C di atas maksimum musim panas normal, ataupun enam minggu pada 2°C di atas normal.

    Dalam penelitian kami, kehilangan karang menjadi jauh lebih mungkin terjadi setelah suhu melampaui 12 DHW. Dengan kata lain, banyak terumbu karang Indonesia tampaknya mampu menyerap tekanan panas tingkat sedang—tetapi itu hanya sampai batas tertentu.

    Dan perlu dicatat bahwa istilah “stabil” di sini mengacu pada total area yang masih tertutup karang hidup, yang merupakan satu-satunya metrik yang konsisten dipakai dalam berbagai program pemantauan di Indonesia. Namun, adanya tutupan juga tak menjamin terumbu karangnya benar-benar sehat.

    Sebuah terumbu, misalnya, masih bisa mempertahankan tingkat tutupan yang stabil meskipun karang-karang besar dan tua sudah mati. Jenis karang paling tahan panas yang tersisa mungkin hanya beberapa spesies.

    Bentuk dan struktur terumbu pun bisa jadi sudah tak lagi kompleks sehingga ikan dan hewan laut lain tak bisa berlindung di sana.

    Jadi, dari luar bisa saja kita melihat seperti “masih ada karangnya”, tetapi sebenarnya kualitas ekosistemnya sudah menurun. 

    Perlindungan tak bisa hentikan pemutihan, tapi bisa bantu pemulihan

    Terumbu karang Indonesia tidak merespons tekanan panas dengan cara yang sama. Beberapa komunitas karang bisa pulih dengan cepat setelah mengalami pemutihan, sementara yang lain kesulitan.

    Ini terutama di wilayah yang mengalami polusi, sedimentasi, penangkapan ikan destruktif, dan pembangunan di kawasan pesisir yang mengurangi kemampuan mereka untuk pulih kembali.

    Penelitian kami menyoroti bahwa bahkan terumbu di dalam kawasan konservasi laut (MPA) pun tidak bisa menghindari pemutihan ketika suhu laut melonjak. Status perlindungan tidak bisa menghentikan laut dari pemanasan, tetapi bisa secara signifikan meningkatkan peluang pemulihan dengan mengurangi tekanan lokal.

    Di Aceh, terumbu di sekitar Pulau Weh mengalami kerusakan parah akibat peristiwa bleaching pada 2010. Menariknya, beberapa di antaranya berhasil pulih ke tingkat tutupan karang sebelum terjadi pemutihan enam tahun sebelumnya. Pemulihan ini kemungkinan besar didukung oleh upaya perlindungan jangka panjang.

    Di Lombok,
    khususnya di sekitar Teluk Sekotong, tekanan panas yang berulang dan intens telah memicu kehilangan karang yang besar, termasuk penurunan besar setelah peristiwa bleaching parah tahun 2016. Keadaan semakin parah karena terumbu-terumbu ini juga dihantam berbagai tekanan manusia yang menghambat kemampuan mereka untuk pulih.

    Contoh-contoh ini memperkuat alasan mengapa perubahan iklim dan pengelolaan terumbu lokal tidak bisa diatasi secara terpisah.

    Meski mengurangi tekanan lokal tak akan mencegah pemutihan saat gelombang panas ekstrem terjadi, langkah tersebut bisa memberi peluang yang sangat dibutuhkan terumbu untuk bertahan dan pulih setelahnya. 

    Mengapa pemantauan jangka panjang penting?

    Penelitian kami adalah analisis skala nasional pertama yang menghubungkan perubahan jangka panjang tutupan karang di Indonesia, dengan tekanan termal di sejumlah besar terumbu yang dipantau.

    Tanpa pemantauan jangka panjang, kita tidak bisa mengetahui terumbu mana yang mampu menghadapi tekanan panas, pulih setelah pemutihan, atau perlahan memburuk.

    Jika Indonesia ingin melindungi terumbu karangnya secara efektif, negara ini membutuhkan strategi nasional yang lebih kuat dan terkoordinasi untuk memantau kondisi karang dan dampak pemutihan.

    Kerangka ini harus melampaui sekadar tutupan karang, dengan memantau tingkat keparahan bleaching, angka kematian, kemampuan pemulihan, rekrutmen karang muda, komposisi komunitas, serta perubahan struktur dari waktu ke waktu.

    Seiring terus menghangatnya laut, masa depan terumbu karang Indonesia tidak hanya bergantung pada toleransi alaminya, tetapi juga pada kemampuan kita menjaga kondisi yang memungkinkan mereka untuk pulih.


    Tries Blandine Razak, Adjunct Research Associate, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.