Tag: the economist

  • The Economist Kembali Lontarkan Kritik Tajam ke Pemerintahan Prabowo-Gibran, Siapa di Belakang Ini Semua?

    The Economist Kembali Lontarkan Kritik Tajam ke Pemerintahan Prabowo-Gibran, Siapa di Belakang Ini Semua?

    7cloud.asia – Majalah mingguan asal Inggris, The Economist kembali melontarkan kritik tajam atas sejumlah kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai berisiko bagi stabilitas ekonomi dan demokrasi Indonesia.

    Dalam edisi mingguan yang dirilis Kamis (14/5/2026), The Economist menurunkan dua artikel khusus untuk membahas kepemimpinan Prabowo-Gibran.

    Salah satunya, diberi judul “Indonesia’s president is jeopardising the economy and democracy atau Presiden Indonesia membahayakan perekonomian dan demokrasi”.

    Dalam artikel yang dimuatnya, media asal London, Inggris itu menyebut Prabowo Subianto sebagai Presiden yang boros dan otoriter.

    Bahkan media berlangganan itu menuliskan peringai Prabowo sebagai sosok yang sebelumnya dikenal sebagai pelanggar hak asasi manusia (HAM) kini sebagai pecinta kucing.

    Satu artikel lagi bertajuk “Indonesia, negara mayoritas Muslim terbesar, sedang berada di jalur yang berisiko,”.

    Artikel itu berisi soal potensi krisis yang bakal dihadapi Indonesia seperti Tahun 1998 saat mantan mertua Prabowo, Soeharto memimpin Indonesia.

    Belum ada tanggapan dari Istana terkait dengan pemberitaan The Economist yang sudah berusia dua abad itu. Namun, berita ini menjadi pembicaraan sejumlah pengamat politik dalam negeri yang sebelumnya juga sudah mengritisi kebijakan Prabowo-Gibran.

    Baca: Rezim Prabowo-Gibran Disebut Jadi Pemicu Utama Anjloknya Indeks Persepsi Korupsi Indonesia

    Dalam artikel berjudul The Economist menilai pemerintahan Prabowo memiliki kecenderungan otoriter dan terlalu agresif dalam belanja negara.

    Media tersebut bahkan menyebut Prabowo sebagai sosok yang “terlalu boros dan terlalu otoriter”.

    The Economist menyoroti perubahan sikap Prabowo yang dinilai kerap kontradiktif. Di satu sisi, Prabowo disebut pernah menunjukkan sikap terbuka terhadap kritik.

    “Apakah saya benar-benar otoriter? Saya rasa tidak… Kritik itu baik. Kita tidak boleh digerakkan oleh kemarahan atau dendam,” ujar Prabowo seperti dikutip media tersebut.

    Namun di sisi lain, The Economist juga menyoroti pernyataan keras Prabowo terhadap pihak asing dan organisasi non-pemerintah.

    “Kekuatan asing mendanai NGO untuk menabur perpecahan di antara kita. Mereka mengklaim sebagai penjaga demokrasi, hak asasi manusia, kebebasan pers, padahal itu versi mereka sendiri,” demikian kutipan pernyataan Prabowo yang dimuat The Economist.

    Media tersebut menyebut karakter Prabowo yang berubah-ubah membuat bahkan para sekutunya khawatir terhadap stabilitas makroekonomi dan kondisi demokrasi Indonesia.

    Dalam ulasannya, The Economist menyoroti lima poin utama terkait pemerintahan Prabowo. Pertama adalah belanja negara yang dinilai terlalu besar dan berpotensi membebani fiskal negara.

    Baca: Persepsi Masyarakat terhadap Kinerja Pemerintahan Prabowo-Gibran Cenderung Negatif

    Kedua, adanya risiko pelemahan disiplin fiskal akibat berbagai program prioritas pemerintah yang membutuhkan anggaran jumbo.

    Ketiga, meningkatnya campur tangan negara dalam aktivitas ekonomi nasional. Keempat, peran militer yang disebut semakin menguat di ruang sipil dan pemerintahan.

    Terakhir, The Economist juga menilai oposisi politik di Indonesia semakin melemah di bawah pemerintahan Prabowo.

    Sorotan media asing tersebut muncul di tengah perdebatan publik mengenai arah demokrasi Indonesia pasca Pemilu 2024.

    Sementara itu, pemerintah sebelumnya telah membantah adanya praktik intimidasi terhadap kelompok masyarakat sipil maupun pihak yang kritis terhadap pemerintah.

    Pemilik The Economist
    The Economist adalah media berita dan opini internasional terkemuka yang berbasis di London, Inggris. Media tersebut didirikan pada tahun 1843 yang awalnya merupakan majalah mingguan.

    The Economist berfokus pada analisis mendalam terkait ekonomi, politik, bisnis internasional, teknologi, dan budaya dengan pandangan sosial-liberal.

    Saat ini The Economist juga telah bertransisi ke digital. Di X bahkan pengikutnya mencapai 26 juta lebih yang mana salah satunya anak buah Prabowo Subianto, Natalius Pigai.

    Pemilik The Economist tidaklah tunggal dan dikuasai sejumlah konglomerat dunia.
    Baru-baru ini, miliarder hipotek Kanada, Stephen Smith, telah setuju untuk membeli saham minoritas di The Economist Group.

    Pembelian ini menandai perubahan kepemilikan pertama di majalah berita terkini Inggris yang ternama itu dalam satu dekade terakhir.

     

  • Ekonom: Laporan The Economist Jadi Peringatan Serius Soal Kondisi Tata Kelola Pemerintahan

    Ekonom: Laporan The Economist Jadi Peringatan Serius Soal Kondisi Tata Kelola Pemerintahan

    7cloud.asia – Laporan The Economist yang terbit pertengahan Mei 2026: “Indonesia on a Risky Path” dan “Indonesia’s President is Jeopardizing the Economy and Democracy.” perlu dibaca sebagai peringatan serius mengenai kondisi tata kelola pemerintahan dan kepercayaan publik terhadap institusi negara.

    Demikian kesimpulan yang ditarik oleh sejumlah ekonomi dalam diskusi bertajuk “Menakar Akurasi Laporan The Economist: Apakah Indonesia Menuju Jurang?” di Gedung Trinity Universitas Paramadina, Jakarta.

    Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said mengatakan, isu utama yang diangkat media terkemuka asal Inggris tersebut berkaitan dengan ancaman terhadap ekonomi dan demokrasi Indonesia.

    Seperti diberitakan, The Economist lewat dua artikelnya menyoroti arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo, menyoroti risiko fiskal, pelemahan institusi, dan erosi demokrasi.

    Menurut Sudirman, persoalan yang paling mendasar adalah menurunnya kepercayaan publik akibat melemahnya integritas, meritokrasi, dan mekanisme pengawasan dalam pemerintahan.

    “Seluruh uraian dari The Economist dan akibat ikutannya baik di pasar politik maupun ekonomi ini adalah soal declining trust, soal gap yang melebar antara otoritas di satu sisi dengan legitimasi di sisi lain,” katanya.

    Ia menambahkan bahwa upaya utama yang perlu dilakukan saat ini adalah memulihkan kepercayaan masyarakat dan pelaku ekonomi melalui tata kelola yang lebih baik.

    “Semua pihak rasanya mesti bahu-membahu melakukan restoring confidence, membangun kembali trust,” ujarnya.

    Baca: The Economist Kembali Lontarkan Kritik Tajam ke Pemerintahan Prabowo-Gibran

    Dalam paparannya, ekonom Universitas Indonesia, Prof. Moh. Ikhsan, Ph.D., menilai Indonesia belum berada di tepi jurang krisis, tetapi ruang untuk menghindari risiko tersebut semakin menyempit.

    Ia mengingatkan bahwa sejumlah pola yang muncul saat ini memiliki kemiripan dengan gejala yang mendahului krisis ekonomi 1997–1998.

    “Indonesia belum di tepi jurang, tapi sejarah tidak sedang diam. Ia sedang berbisik dan bisikannya semakin keras,” katanya.

    Ikhsan menjelaskan bahwa pelemahan kredibilitas fiskal, toleransi terhadap pelanggaran aturan, melemahnya institusi independen, dan ekspansi fiskal tanpa disiplin pendapatan merupakan sinyal yang patut diwaspadai.

    Namun demikian, Indonesia masih memiliki sejumlah bantalan ekonomi yang membuat situasinya berbeda dengan kondisi menjelang krisis 1998.

    Ia juga menekankan pentingnya belajar dari pengalaman reformasi yang dilakukan oleh Presiden B. J. Habibie dan Megawati Soekarnoputri, yang menurutnya berhasil memulihkan kepercayaan publik dan menjaga stabilitas ekonomi melalui penghormatan terhadap institusi dan aturan main demokrasi.

    Sebagai penutup, Ikhsan mengingatkan bahwa ancaman terbesar bukan semata-mata krisis ekonomi, melainkan hilangnya kredibilitas institusi negara.

    “Indonesia belum di jurang, tapi kita sedang berjalan menuju ke sana perlahan tapi nyata. Kita masih punya ruang yang besar untuk berbalik arah,” tegasnya.

    Baca: Rezim Prabowo-Gibran Disebut Jadi Pemicu Utama Anjloknya Indeks Persepsi Korupsi Indonesia

    Pandangan senada disampaikan ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin. Ia menilai sebagian besar kritik yang disampaikan The Economist memiliki dasar yang kuat dengan analisanya.

    Hal ini terutama terkait tantangan fiskal, komunikasi pemerintah, independensi bank sentral, iklim usaha, dan kualitas tata kelola kebijakan publik.

    Menurut Wijayanto, pola pengambilan kebijakan yang dilakukan tanpa perencanaan matang berpotensi menciptakan ketidakpastian jangka panjang.

    “Pemerintah untuk menghentikan cara kerja dengan pola reverse planning. Pakai planning yang benar. Kalau project besar ada analisis, kemudian impact analysis, ada piloting, kemudian baru di-eskalasi,” ujarnya.

    Ia juga menegaskan bahwa kritik dari lembaga internasional seharusnya diperlakukan sebagai bahan evaluasi dan perbaikan, bukan dianggap sebagai serangan terhadap pemerintah.

    “Apa yang disampaikan oleh The Economist itu dianggap oleh pemerintah sebagai referensi untuk perbaikan, bukan kritik, bukan mengedepankan teori konspirasi,” katanya.

    Sementara itu, peneliti senior BRIN, Prof. R. Siti Zuhro, memandang laporan The Economist sebagai alarm yang perlu disikapi secara serius.

    Menurutnya, kritik terhadap kondisi ekonomi dan demokrasi Indonesia tidak seharusnya ditolak mentah-mentah, melainkan dijadikan bahan refleksi untuk memperbaiki tata kelola negara.

    Baca: Nilai Tukar Rupiah Sentuh Rekor Terendah Sepanjang Sejarah

    “Narasi Indonesia menuju jurang sebaiknya dibaca sebagai alarm peringatan bagi kita. Jadi enggak usah sensi. Masa sih nunggu jurang beneran kita masuk jurang baru benar?” ujarnya.

    Siti menilai Indonesia tengah menghadapi tantangan berupa melemahnya oposisi politik, meningkatnya pragmatisme partai, sentralisasi kekuasaan, serta berkurangnya kualitas partisipasi publik dalam demokrasi.

    Ia mengingatkan bahwa kemunduran demokrasi sering kali terjadi secara perlahan dan dianggap sebagai sesuatu yang normal.

    “Demokrasi Indonesia belum runtuh, tetapi mengalami proses erosi. Demokrasi formal tetap ada, tapi substansi pengawasan dan partisipasi publik melemah,” katanya.

    Dalam kesimpulannya, Siti menegaskan bahwa Indonesia belum tentu menuju jurang, namun tanpa pembenahan tata kelola politik dan ekonomi yang serius, risiko tersebut dapat menjadi kenyataan.

    “Indonesia belum menuju jurang secara pasti, tetapi tanpa koreksi serius terhadap tata kelola politik dan ekonomi, jurang itu bisa menjadi kenyataan serius dan akut,” tuturnya.

    Melalui seminar ini, para pembicara sepakat bahwa kritik terhadap kondisi ekonomi dan demokrasi Indonesia perlu dijadikan momentum evaluasi untuk memperkuat institusi.

    Kritik juga harus diikuti dengan peningkatan kualitas kebijakan publik, menjaga disiplin fiskal, memperbaiki iklim usaha, serta memastikan demokrasi tetap berjalan secara substantif dan inklusi