Tag: tikus

  • Deretan Bahan Alami untuk Usir Tikus dari Kediaman Secara Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Tikus menjadi momok bagi banyak orang. Hewan pengerat yang dianggap menganggu ini juga senang tinggal berdekatan dengan manusia.

    Selain dianggap menjijikkan, tikus juga merupakan salah satu vektor alias hewan perantara penyakit.

    Namun, mengusir tikus agar menjauh dari kediaman bukan perkara mudah. Pasalnya, tikus termasuk hewan yang mudah dan cepat berkembang biak.

    Banyak orang menggunakan racun untuk mengusir tikus dari sekitar tempat tinggalnya. Namun, cara ini justru berbahaya karena dapat menyebabkan efek samping berlebihan.

    Bangkai tikus yang dimakan satwa lain akan menjadi racun berkelanjutan sehingga justru berdampak negatif pada kelestarian lingkungan.

    Alih-alih memberantas dengan racun sintetis, mengusir tikus dapat dilakukan dengan cara alami. Salah satunya menggunakan bahan-bahan aromatik dari alam. Hal ini karena tikus tidak menyukai aroma menyengat.

    Selain itu tikus juga memiliki indra penciuman yang sangat tajam untuk menunjang aktivitasnya.

    Baca: Mengusir nyamuk dengan cara ramah lingkungan

    Berikut sederet bahan alami yang aromanya tidak disukai tikus dan bisa dimanfaatkan untuk zat penolak atau repelen:

    1. Cengkeh
    Tikus membenci tanaman aromatik seperti cengkeh, kulit jeruk nipis, dam temulawak.

    Berdasarkan penelitian bertajuk Efektifitas Cengkeh (Syzygium aromaticum), Kulit Jeruk Nipis (Citrus aurantiifolia) dan Temulawak (urcuma xanthorrhiza Roxb) sebagai Repelen Tikus Got (Rattus norvegicus) yang dipublikasikan Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, ketiga tanaman tersebut berpotensi sebagai repelen tikus.

    Hasil penilaian disimpulkan bahwa pakan tikus yang dicampur dengan tanaman cengkeh yang diblender memberikan repelensi yang paling tinggi terhadap tikus dibandingkan kulit jeruk nipis dan temulawak.

    Dengan tingkat keefektivitasan repelen tinggi hingga 100 persen yang menyebabkan pengurangan berat badan tikus 31 persen.

    Baca: Perubahan iklim memicu pertumbuhan nyamuk

    Repelen Kulit jeruk nipis dan temulawak masih dapat digunakan sebagai penolak atau pengusir tikus walaupun tingkat efektifitasnya masih jauh di bawah cengkeh.

    Dengan kata lain berdasarkan hasil penelitian tersebut cengkeh sangat direkomendasikan sebagai bahan dasar untuk dijadikan produk penolak hama tikus.

    2. Cuka
    Cuka adalah bahan dapur yang memiliki bau asam yang cukup kuat ternyata dan tidak disukai tikus. Untuk menggunakan cuka sebagai penghalau, campurkan dengan air dalam perbandingan 1:1.

    Lalu semprotkan larutan ini ke area yang sering dilalui tikus. Anda juga bisa merendam bola kapas dalam cuka dan meletakkannya di sarang tikus.

    3. Cabai bubuk
    Bubuk cabai memiliki aroma menyengat dan rasa pedas yang membuat tikus merasa tidak nyaman.

    Taburkan di area yang sering dikunjungi tikus atau di sekitar lubang dan celah tempat mereka mungkin masuk ke rumah. Hati-hati agar bubuk cabai tidak terkena mata atau kulit Anda saat mengaplikasikannya.

    Baca: Peran kupu-kupu dan burung bagi lingkungan

    4. Kapur barus
    Kapur barus dikenal efektif untuk mengusir tikus karena baunya yang tajam. Letakkan beberapa bola kapur barus di tempat-tempat yang sering dijangkau tikus, seperti lemari, gudang, atau di bawah wastafel.

    Bau kapur barus yang menyengat akan membuat tikus merasa tidak nyaman dan menjauh.

    5. Kayu manis
    Kayu manis memiliki aroma yang kuat yang tidak disukai oleh tikus. Taburkan bubuk kayu manis di sekitar tempat-tempat yang mungkin menjadi sarang tikus.

    Anda juga bisa mencampurkan bubuk kayu manis dengan air dan semprotkan larutannya di area yang sering dikunjungi tikus.

    6. Daun sirsak
    Daun sirsak dikenal memiliki aroma yang khas dan cukup kuat. Bau dari daun sirsak ini ternyata tidak disukai oleh tikus karena bisa mengganggu indra penciuman.

    Untuk memanfaatkan daun sirsak sebagai penghalau tikus,ambil beberapa lembar daun segar, hancurkan, dan letakkan di tempat-tempat yang sering dikunjungi tikus.

    7. Kulit durian
    Durian merupakan buah dengan bau yang sangat kuat dan khas, dan kulitnya tidak terkecuali. Bau kulit durian dianggap sangat mengganggu bagi tikus karena intensitas dan keunikannya.

    Baca: Upaya memetakan kupu-kupu di Indonesia

    Cukup letakkan kulit durian yang sudah dikeringkan di sekitar area yang ingin Anda lindungi dari tikus.

    8. Minyak Peppermint
    Minyak peppermint merupakan salah satu bahan alami yang paling dikenal untuk mengusir tikus. Tikus tidak suka bau mentol yang kuat dari peppermint, sehingga minyak ini sering digunakan sebagai penghalau.

    Teteskan minyak peppermint ke bola kapas atau kain kecil dan letakkan di area yang sering dikunjungi tikus, seperti sudut ruangan, dapur, atau gudang.

    9. Bawang Putih
    Bawang putih memiliki aroma tajam yang tidak disukai oleh tikus. Anda bisa menggunakan bawang putih segar atau bubuk bawang putih untuk mengusir tikus.

    Letakkan potongan bawang putih di sekitar area yang berpotensi menjadi sarang tikus atau campurkan bubuk bawang putih dengan air dan semprotkan larutannya di tempat-tempat yang sering didatangi tikus.

  • Mengenal Burung Hantu Tyto Alba Pengendali Alami Hama Tikus

    Mengenal Burung Hantu Tyto Alba Pengendali Alami Hama Tikus

    7cloud.asia – Pengendalian hama di lahan pertanian tak lagi hanya bergantung pada racun atau perburuan massal. Kini, pendekatan berbasis ekologi mulai diadopsi secara luas.

    Salah satunya melalui pemanfaatan predator alami, terutama dalam mengatasi serangan tikus yang menjadi momok di lahan pertanian.

    Salah satu solusi alami yang terbukti efektif dan efisien adalah pemanfaatan burung hantu jenis Tyto alba sebagai predator alami utama serangan hama tikus.

    Dalam kondisi populasi hama yang normal, kehadiran burung hantu Tyto alba mampu menjaga keseimbangan populasi tikus tanpa perlu penggunaan bahan kimia atau racun berbahaya yang dapat mencemari lingkungan.

    Tyto alba, merupakan spesies burung hantu yang dikenal adaptif terhadap iklim tropis dan tidak agresif terhadap manusia. Tyto alba menjadi pilihan utama dalam strategi pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan.

    Peneliti Ahli Madya yang juga Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yudhistira Nugraha, mengatakan bahwa Tyto alba memiliki kemampuan memangsa tikus dalam jumlah signifikan di alam terbuka. Seekor burung hantu dewasa mampu memakan beberapa ekor tikus per malam.

    Baca: Lebah berperan paling signifikan untuk penyerbukan

    Namun, Yudhistira menekankan bahwa predator alami tidak akan cukup efektif jika terjadi ledakan populasi tikus (outbreak).

    Oleh karena itu, strategi pengendalian harus bersifat komprehensif dengan menggabungkan metode mekanik seperti grobyokan, pengemposan sarang, serta sistem trap barrier sebagai tindakan preventif.

    “Pendekatan terpadu ini menjadi kunci agar populasi tikus bisa ditekan dengan cepat sebelum stabil kembali dengan bantuan predator alami,” ujarnya saat dihubungi Tim Humas BRIN, Kamis (10/4/2025).

    Penggunaan burung hantu sebagai pengendali hama juga memerlukan pengelolaan yang cermat. Jika populasi Tyto alba tidak dikendalikan dan makanan utama mereka menipis, mereka bisa memangsa spesies lain seperti burung kecil, kelelawar, bahkan ternak kecil.

    “Dalam jangka panjang, hal ini bisa mengganggu keseimbangan ekosistem lokal. Oleh karena itu, diperlukan pemantauan dan pengaturan populasi secara berkelanjutan,” kata Yudhistira.

    Untuk mendukung konservasi dan efektivitas burung hantu, salah satu praktik terbaik yang dilakukan petani adalah menyediakan rumah burung hantu atau Rubuha. Rubuha berupa kotak sarang di atas tiang setinggi 4 hingga 5 meter di lahan pertanian.

    Baca: Peran kupu-kupu dan burung bagi kelestarian lingkungan

    Karena Tyto alba tidak membangun sarang sendiri, Rubuha menjadi kunci keberhasilan program konservasi ini sekaligus menjadi fasilitas penting bagi mereka untuk menetap dan berkembang biak.

    Setiap Rubuha biasanya diletakkan dengan jarak 100 hingga 200 meter, tergantung luas lahan. Hal ini juga agar wilayah jelajah antarburung (sekitar 12 hingga 25 hektar per pasang) tidak saling tumpang tindih.

    Sebelum dilepas ke alam, burung hantu bisa ditangkarkan dan dilatih terlebih dahulu di kandang karantina. Dalam fase ini, mereka dikenalkan dengan tikus hidup sebagai pakan, lalu dilepas ke lingkungan pertanian secara bertahap.

    Sistem ini tidak hanya memastikan adaptasi yang mulus, tetapi juga memungkinkan burung berburu tikus secara mandiri tanpa ketergantungan pada manusia.

    “Pemantauan populasi juga tetap diperlukan agar tidak terjadi ketidakseimbangan. Misalnya, saat jumlah tikus menurun drastis dan burung hantu mulai memangsa satwa lain,” imbuh Yudhistira.

    Keberhasilan pendekatan ini sangat bergantung pada keterlibatan petani, edukasi yang memadai, dan dukungan kebijakan dari pemerintah. Fasilitasi penyediaan Rubuha dan pemantauan populasi burung menjadi bagian penting dari pengelolaan ekosistem pertanian yang sehat dan berkelanjutan.

    “Sinergi konservasi yang menyatu dengan strategi pengendalian hama terpadu adalah masa depan sistem pertanian modern yang aman dari hama tanpa merusak lingkungan,” tutup Yudhistira.

    Baca: Keong Darat spesies penting dalam ekosistem

  • Hantavirus Diam-diam Mengancam, Gejalanya Kerap Disangka Flu Biasa

    Hantavirus Diam-diam Mengancam, Gejalanya Kerap Disangka Flu Biasa

    7cloud.asia – Indonesia dan dunia internasional kini tengah mewaspadai ancaman hantavirus. Penyakit yang ditularkan melalui tikus dan dapat memicu gangguan serius pada ginjal maupun paru-paru.

    Meski baru ramai diperbincangkan, virus ini sebenarnya telah lama ada di Indonesia dan diduga banyak kasus tidak terdeteksi karena gejalanya menyerupai flu biasa.

    Sejumlah penelitian menunjukkan hantavirus telah ditemukan di Indonesia sejak 1980-an. Dalam studi komprehensif di berbagai kota besar, seroprevalensi hantavirus pada manusia tercatat mencapai sekitar 11,6 persen.

    Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus tersebut meski tidak pernah didiagnosis secara resmi.

    Kondisi ini dikenal sebagai “iceberg phenomenon”, yakni hanya sebagian kecil kasus yang terlihat, sementara jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih besar.

    Dalam dokumen resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hantavirus dikategorikan sebagai zoonosis emerging atau penyakit baru yang berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat.

    Baca: Hantavirus Telah Masuk Indonesia

    Di Indonesia, penyakit dengan gejala demam umumnya langsung diasosiasikan dengan dengue, tifoid, atau leptospirosis. Padahal, gejala awal hantavirus hampir identik, mulai dari demam, nyeri otot, mual, hingga kelelahan.

    Akibat kemiripan tersebut, banyak kasus diduga salah diagnosis atau bahkan tidak terdeteksi sama sekali.

    Berbeda dengan penyakit lain yang ditularkan nyamuk, hantavirus menyebar melalui debu yang terkontaminasi kotoran tikus. Virus dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara yang mengandung partikel urin, feses, maupun air liur tikus.

    Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan rodensia, luka terbuka pada kulit, hingga permukaan yang telah terkontaminasi.

    Mengacu pada laman resmi Kemenkes RI, hantavirus memiliki dua manifestasi utama yang sama-sama berbahaya. Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa.

    Penyakit ini menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan gejala demam, perdarahan, hingga gagal ginjal.

    Baca: Konvirmasi Kasus Hantavirus Meningkat Dalam 2 Tahun

    Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang lebih sering ditemukan di Amerika. Jenis ini menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan sesak napas akut hingga gagal napas.

    Tingkat kematian atau case fatality rate (CFR) hantavirus juga tergolong tinggi. Pada beberapa tipe virus, angka kematiannya bahkan dapat mencapai 50 persen.

    Di Indonesia, jenis hantavirus yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus (SEOV) yang menyebar melalui tikus rumah seperti Rattus rattus dan Rattus norvegicus.

    Karena hidup sangat dekat dengan manusia, risiko penularan virus ini dinilai lebih tinggi dibandingkan penyakit zoonotik lain yang terbatas di kawasan hutan atau satwa liar.

    Baca: DPR Desak Pemerintah Beri Ketepatan Informasi Soal Hantavirus

    Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Arief Mulyono mengatakan kelompok yang memiliki risiko tinggi terpapar hantavirus.

    Di antaranya pekerja pertanian, petugas kebersihan, pekerja kehutanan, penghuni wilayah pedesaan, hingga masyarakat yang membersihkan gudang atau bangunan tertutup yang lama tidak digunakan.

    Menurutnya, risiko penularan meningkat pada ruangan dengan ventilasi buruk yang terkontaminasi kotoran tikus.

    Untuk mencegah infeksi hantavirus, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, serta menyimpan makanan dalam wadah tertutup.

    Baca: Virus Nipah Ditemukan di Indonesia

    Saat membersihkan area yang berpotensi terkontaminasi, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan sarung tangan. Area tersebut juga sebaiknya disemprot disinfektan terlebih dahulu dan tidak langsung disapu agar partikel debu tidak beterbangan di udara.

    Penguatan surveilans, pengendalian tikus, edukasi masyarakat, serta pendekatan One Health menjadi langkah penting dalam mencegah munculnya penyakit zoonosis seperti hantavirus.

    “Yang terpenting, masyarakat tetap tenang, waspada, dan memahami langkah pencegahan yang benar,” jelas Arief

  • Jangan Salah! Ini Perbedaan Pes, Leptospirosis dan Hantavirus yang Sama-Sama Ditularkan Tikus

    Jangan Salah! Ini Perbedaan Pes, Leptospirosis dan Hantavirus yang Sama-Sama Ditularkan Tikus

    7cloud.asia – Penyakit yang ditularkan tikus kini menjadi perhatian publik seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap hantavirus. Selain hantavirus, ada dua penyakit lain yang juga berbahaya dan kerap menyerang manusia melalui paparan tikus, yaitu pes dan leptospirosis.

    Ketiga penyakit ini sama-sama berasal dari hewan pengerat, tetapi memiliki penyebab, gejala, hingga tingkat fatalitas yang berbeda. Berikut perbedaan ketiganya.

    1. Penyakit pes

    Pes atau plague merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang hidup pada hewan pengerat, termasuk tikus.

    Dalam sejarah dunia, pes pernah menjadi wabah besar yang menewaskan jutaan orang di Eropa pada pertengahan abad pertengahan.

    Kasus pes lebih banyak ditemukan di daerah pedesaan, kawasan perkebunan, atau wilayah dekat hutan yang menjadi habitat tikus liar.

    Baca: Hantavirus Mengancam, Gejala Mirip Flu Biasa

    Gejala penyakit ini biasanya muncul dalam waktu 2 hingga 6 hari setelah terinfeksi. Penderitanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, menggigil, hingga pembengkakan kelenjar getah bening.

    Meski dapat diobati dengan antibiotik, keterlambatan penanganan bisa memicu komplikasi serius seperti sepsis atau keracunan darah.

    Kondisi tersebut dapat menyebabkan perdarahan hebat pada organ vital hingga berujung kematian.

    1. Leptospirosis

    Selain pes, penyakit lain yang juga sering ditularkan tikus adalah leptospirosis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang bersarang di tubuh tikus.

    Penularan terjadi melalui makanan, minuman, tanah, atau air yang telah terkontaminasi urine tikus. Risiko penularan meningkat saat banjir atau lingkungan yang sanitasi buruk.

    Baca: Angka Kematian Akibat Leptospirosis Meningkat

    Gejala leptospirosis kerap menyerupai flu berat, seperti demam, sakit kepala, muntah, diare, dan nyeri tubuh. Karena gejalanya mirip penyakit ringan, banyak penderita terlambat menyadari infeksi tersebut.

    Padahal, jika tidak segera ditangani, leptospirosis dapat menyebabkan komplikasi serius pada ginjal, hati, hingga gangguan pernapasan. Antibiotik dapat membantu penyembuhan, terutama bila diberikan pada fase awal infeksi.

    1. Hantavirus

    Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus dan mencit yang membawa virus dalam air liur, urine, atau kotorannya.

    Di Indonesia, infeksi hantavirus diketahui dapat menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yakni sindrom demam berdarah yang disertai gangguan fungsi ginjal.

    Reservoir utama hantavirus di Indonesia antara lain tikus got (Rattus norvegicus), mencit rumah, dan tikus ladang. Virus hidup secara persisten di tubuh hewan tersebut tanpa menimbulkan gejala.

    Penularan ke manusia terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang telah mengering dan bercampur dengan debu di udara. Virus juga dapat masuk melalui luka terbuka atau kontak langsung dengan ekskresi tikus.

    Baca: Hantavirus Masuk Indonesia, Tiga Orang Meninggal

    Infeksi hantavirus terbagi dalam dua sindrom utama:

    1. HFRS (Ginjal & Demam Berdarah)
    • Inkubasi: 1–2 minggu (dapat sampai 8 minggu).
    • Gejala awal: demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, dan kulit kuning (jaundice) .
    • Gejala lanjut: gangguan fungsi ginjal seperti penurunan produksi urin dan tekanan darah rendah.
    1. HPS (Paru-paru/Cariopulmonal)
    • Lebih umum di Amerika, namun gejala mirip flu: demam, nyeri otot, mual, muntah, diare.
    • Pada 4–10 hari berikutnya, muncul batuk, sesak napas, dan cairan di paru hingga gagal napas.

    Tingkat kematian

    • HPS: sekitar 38 persen.
    • HFRS (Hantaan virus): tingkat fatalitas sampai 6 persen.

     

     

  • Hati-hati dengan Tikus: Pakar Entomologi Ingatkan Risiko Penyebaran Hantavirus

    Hati-hati dengan Tikus: Pakar Entomologi Ingatkan Risiko Penyebaran Hantavirus

    7cloud.asia – Merebaknya kasus hantavirus membuat masyarakat mulai khawatir terhadap penyebaran penyakit yang berasal hewan pengerat itu.

    Menanggapi hal tersebut Prof Upik Kesumawati, Kepala Laboratorium Entomologi Kesehatan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, mengingatkan pentingnya kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.

    Dilansir ipb.ac.id, Prof Upik menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus.

    Virus ini sebenarnya sudah lama diketahui dalam penelitian di Indonesia sejak 1980-an dan dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal.

    “Virus ini memang sudah lama ada dan penyebab utama nya adalah tikus. Tetapi kami mengimbau masyarakat untuk tidak perlu khawatir berlebihan,“ ujar Prof Upik Kesumawati.

    Ia menuturkan, manusia dapat terinfeksi setelah menghirup debu yang sudah terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. Penularannya juga dapat terjadi jika melalui kontak langsung dengan kotoran tikus maupun makanan yang telah terkontaminasi.

    Baca: Konfirmasi Kasus Hantavirus di Indonesia Meningkat dalam Dua Tahun Terakhir

    Berdasarkan pedoman Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, hantavirus umumnya menyebabkan dua sindrom utama.

    Pertama,Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang dapat menyerang sistem pernapasan dan menyebabkan penumpukan cairan di paru-paru, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal.

    Gejala awal terinfeksi hantavirus ini meliputi demam, nyeri otot terutama di paha, punggung, dan bahu, badan lemas, sakit kepala, serta gangguan saluran pencernaan.

    Pada kondisi lebih lanjut setelah 4–10 hari, dijelaskan oleh Kementrian Kesehatan melalui situs resminya, penderita dapat mengalami batuk, sesak napas yang berkembang cepat, hingga penurunan kadar oksigen dalam darah.

    Sementara pada kasus HFRS, gejala dapat berkembang menjadi tekanan darah rendah, syok, kebocoran pembuluh darah, bahkan gagal ginjal akut.

    Prof Upik juga menyoroti salah satu jenis hantavirus yang saat ini menjadi perhatian dunia, yakni Andes virus, karena dilaporkan memiliki kemungkinan penularan antarmanusia meski kasusnya sangat jarang terjadi.

    Baca: Penjelasan WHO Soal Hantavirus 

    Sebagai langkah pencegahan, Pakar Entomologi IPB University tersebut mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembangnya tikus.

    “Jangan langsung menyapu atau menyedot debu sarang dan kotoran tikus yang kering karena partikel virus dapat beterbangan dan terhirup. Basahi terlebih dahulu area tersebut menggunakan larutan disinfektan,” jelasnya.

    Selain itu, masyarakat dianjurkan rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah beraktivitas di area yang berpotensi menjadi habitat tikus.

    Ia juga mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala demam disertai gangguan pernapasan atau gangguan ginjal setelah terpapar lingkungan yang dicurigai terdapat kotoran tikus.

    Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, hantavirus memang tergolong penyakit langka, tetapi memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi. Tingkat kematian akibat HPS dapat mencapai sekitar 40 persen, sedangkan HFRS berkisar 5–15 persen.

    Karena itu, pengendalian populasi tikus dan kebersihan lingkungan dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah penyebaran hantavirus di masyarakat.

    Baca: Perbedaan Pes, Leptospirosis dan Hantavirus yang Sama-Sama Ditularkan Tikus