Tag: toleransi

  • Psikolog : Tindak Kekerasan Marak Karena Toleransi Tidak Diajarkan Sejak Anak

    Psikolog : Tindak Kekerasan Marak Karena Toleransi Tidak Diajarkan Sejak Anak

    7cloud.asia –  Penelitian menemukan adanya korelasi antara pelaku kekerasan yang merupakan orang dewasa dengan minimnya pemahaman toleransi yang ditanamkan ketika masih anak-anak.

    Psikolog sekaligus akademisi Tika Bisono mengatakan bahwa latar belakang paham kekerasan adalah sifat agresif yang sarat pemaksaan yang dialami pelaku saat masih anak-anak. Mereka tidak mengenal apa itu toleransi.

    “Sifat agresif, koersif, intimidatif, pemaksaan dan nati toleransi, merupakan elemen-elemen yang ada di violence atau tindak kekerasan,” kata Tika seperti dilansir Antaranews, beberapa waktu lalu.

    Dia mengatakan seseorang yang jalan pikirannya sudah didominasi oleh paham kekerasan akan menolak penyelesaian masalah atau pencapaian tujuan dengan cara yang toleran.

    Baca: Usia kritis bagi kesehatan mental anak

    Saat menemukan hambatan, ujar Tika, dia akan memaksa pihak lain untuk setuju dengannya. Toleransi atas perbedaan itu tidak ada.

    “Jika dipupuk atau diberi ruang, maka yang akan terjadi adalah distorsi pemahaman bahwa kekerasan itu adalah cara satu-satunya untuk mendapatkan hal yang diinginkan,” ucapnya.

    Seseorang yang agresif, lanjut dia, juga akan menganggap bahwa sifat toleransi menunjukkan kelemahan pemiliknya.

    Tika menambahkan toleransi membuat posisi seseorang setara dengan orang lain. Orang yang agresif akan melihat bahwa untuk mendapatkan kendali, ia tidak boleh setara dengan sesamanya.

    Baca: Belajar berempati bisa diajarkan sejak anak berusia 3 tahun

    “Posisi orang yang mengendalikan ada di atas yang dikendalikan. Tentunya sangat berbahaya jika realitanya saat ini sudah banyak lembaga pendidikan anak di Indonesia yang justru menanamkan prinsip kekerasan dan intoleransi sedari dini,” tuturnya.

    Menurut dia, mereka yang berpaham kekerasan sebenarnya sudah melanggar  empat pilar kebangsaan yaitu UUD 1945, Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

    Jika ada yang bisa diapresiasi pada masa pemerintahan Orde Baru, maka kita akan tertuju pada penekanan rasa nasionalisme yang sangat baik.

    “Di zaman itu, pernah ada Undang-Undang Subversif yang membatasi ruang gerak kaum radikal. Ketegasan Pemerintah kala itu dalam menjaga keutuhan NKRI perlu diacungi jempol, walaupun tetap ada hal yang harus dikritisi,” ujarnya.

    Baca: Hari kesehatan mental sedunia, mengapa kesehatan mental itu penting

    Tika menambahkan bahwa Pemerintah perlu melihat langsung ke sekolah-sekolah yang diduga mengajarkan paham intoleransi dan kekerasan dalam rangka menemukan adanya pelanggaran kurikulum pendidikan yang berlangsung.

    Hal yang dia khawatirkan adalah beberapa sekolah ini sudah tidak menjadikan Pancasila sebagai landasan bernegaranya.

    Bahkan dari lembaga pendidikan ini ada yang sudah mulai mengajarkan teknik bersenjata dan berperang pada anak didiknya. 

    “Materi pelajaran agama yang berisi kisah para nabi justru tidak diambil sifat-sifat teladan mereka, namun dibelokkan untuk membakar semangat berperang,” katanya.

    Baca: Manfaat meditasi untuk kesehatan mental

    Dia pun berharap semua orang tua di Indonesia dapat menanamkan rasa nasionalisme dan toleransi yang tinggi kepada anak-anaknya sebab semangat kebhinekaan sedianya menjadi kekhasan Indonesia.

    Seperti di Singapura dan Malaysia saja, itu sangat susah sekali menyatukan etnis India, Tiongkok, dan Melayu. Mereka tidak punya nilai kebangsaan yang bisa mempersatukan perbedaan etnisnya.

    “Mereka pun iri melihat Indonesia yang walaupun terdiri dari banyak etnis dan suku bisa sepakat untuk bersatu dan menggunakan bahasa yang sama, bahasa Indonesia. Ini jelas tidak akan kita temukan dimanapun kecuali hanya di Indonesia,” kata Tika.

     

  • 25 Tahun Warga Ambon, Maluku Merajut Toleransi dan Kebersamaan

    25 Tahun Warga Ambon, Maluku Merajut Toleransi dan Kebersamaan

    7cloud.asia – Tak terasa di bulan Januari 2024 ini genap 25 tahun sejak konflik pernah merebak di Ambon, Maluku. 

    Kini setelah lebih dua dekade berlalu, warga Ambon terus merajut kebersamaan dan toleransi agar konflik serupa tidak pernah terjadi lagi,  

    Tanggal 19 Januari 1999 menjadi hari yang tak bisa dilupakan bagi warga Ambon, Maluku. Perpecahan yang dipicu konflik saat itu seolah menciptakan sekat antarwarga Maluku.

    Konflik ini sempat mengoyak kedamaian di Kota Ambon, Maluku selama beberapa waktu sebelum akhirnya warga sadar konflik hanya akan membuat mereka menderita.   

    Warga Ambon Maluku yang terkenal akan kuatnya rasa persaudaraan — setelah peristiwa kelabu itu — segera sadar dan bangkit agar tak lantas makin berkonflik.

    Atas panggilan ikatan persaudaraan yang kuat, konflik tersebut justru membuat masyarakat Maluku mempererat persatuan dan kesatuan di antara mereka.

    Baca: Konflik Hamas-Israel picu Islamofobia di Inggris

    Tak memandang latar belakang suku ras dan agama, warga Maluku kembali cepat berdamai dan mengubur dalam-dalam konflik yang pernah terjadi di antara mereka.

    Terwujudnya perdamaian setelah konflik yang melanda Maluku bersumber dari revitalisasi nilai budaya yang dikandung masyarakat Nusa Ina itu jauh sebelum konflik terjadi.

    Ungkapan Ale rasa beta rasa, sagu salempeng patah dua, dan potong di kuku rasa di daging seolah menjadi ungkapan yang menyudahi konflik di antara masyarakat Maluku.

    Ale rasa beta rasa. Ungkapan ini punya makna untuk saling menghormati dan menghargai antarsesama. Hubungan persaudaraan yang kental orang Maluku hingga kini masih tertanam dalam jiwa setiap insan Nusa Ina itu.

    Bagi orang Maluku ungkapan Ale rasa beta rasa tak hanya sebuah ungkapan pertemanan atau persaudaraan. Lebih dari itu, mengandung makna perdamaian yang mendalam atas peristiwa kelam yang pernah terjadi di Maluku.

    Baca: Sulitnya perempuan masuk ke parlemen 

    Tak hanya itu, nilai pela gandong yang terkandung dalam setiap suku di Maluku juga menjadi inspirasi perdamaian.

    Banyak kelompok masyarakat Maluku menjalin hubungan persaudaraan antardesa, tanpa melihat latar belakang agama. Nilai persaudaraan inilah yang menjadi pijakan untuk mempertemukan kelompok yang pernah tercerai-berai.

    Menurut Guru besar Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon, Maluku, Prof. Jhon Ruhulessin, sejarah konflik sosial di Ambon Maluku merupakan suatu pelajaran dan pengalaman berharga bagi segenap orang Maluku khususnya, dan Indonesia pada umumnya

    “Tanpa pembelajaran itu kita akan salah arah dalam menjalani kehidupan sebagai masyarakat yang majemuk dalam berbangsa dan bernegara dengan asas Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,” katanya.

    Sebagai refleksi konflik Maluku 25 tahun lalu, Ruhulessin mengajak seluruh elemen masyarakat terus memperkuat hubungan persaudaraan.

    “Mari kita menegaskan komitmen kebangsaan kita, komitmen kemalukuan kita untuk betul-betul menata masa depan. Sebab, konflik itu tidak menyelesaikan permasalahan tapi malah menimbulkan persoalan dan kekerasan baru,” jelasnya.

    Baca: Koalisi perempuan tolak penafsiran ajaran agama yang mendiskriminasi perempuan

    Mantan Ketua Sinode GPM ini, juga mengatakan bahwa pembangunan di Maluku juga sepatutnya dilakukan dari sisi sosial budaya untuk menjaga toleransi antarumat di daerah itu.

    Senada dengan Ruhulessin, Ketua Pusat Rekonsiliasi dan Mediasi Maluku Dr. Abidin Wakano berpendapat bahwa masyarakat Maluku juga harus cerdas dalam melihat situasi dan kondisi yang terjadi.

    Masyarakat diminta tidak mudah terprovokasi dengan rumor yang disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

    Konflik kemanusiaan yang melanda Maluku tersebut boleh dikatakan sebagai salah satu konflik sipil terbesar di abad 20. Konflik itu sudah banyak memakan korban jiwa dan harta benda.

    Dosen IAIN Ambon ini menepis prediksi banyak orang bahwa pemulihan keamanan pascakonflik membutuhkan waktu 20 sampai 50 tahun. Nyatanya, Maluku bisa kembali normal jauh lebih cepat dibandingkan prediksi banyak kalangan.

    “Hanya dalam waktu beberapa tahun saja kita punya kisah sukses yang luar biasa, dan ini menjadi sebuah catatan dan cerita yang baik untuk semua orang,” jelasnya.

    Baca: Berbagi dengan sesama sambil belanja 

    Oleh sebab itu, Maluku juga harus menjadi laboratorium untuk orang belajar tentang bagaimana mewujudkan perdamaian dalam waktu cepat. Kendati begitu, memang ada satu atau dua hal yang perlu masih dibenahi bersama.

    Secara umum Maluku kembali pulih dari konflik sosial dengan waktu yang sangat cepat sehingga pantas menjadi laboratorium perdamaian di Indonesia bahkan di dunia.

    Membahas toleransi di Maluku juga tak lepas dari kaum perempuan dan anak yang menjadi kaum rentan akibat konflik yang terjadi itu.

    Di tengah ketegangan yang terjadi di antara masyarakat Maluku, muncullah Gerakan Perempuan Peduli, yang dipelopori Suster Brigita Renyaan untuk mengonsolidasikan para perempuan lintas agama dalam penyelesaian konflik tersebut.

    Modal sosial dan persaudaraan yang solid membuat setiap kelompok berjuang untuk mewujudkan perdamaian.

    Sumber: Antaranews.com penulis: Ode Dedy Lion Abdul Azis

     

  • Mengenang Romo Benny Susetyo, Tokoh Dialog Lintas Iman yang Gencar Kampanyekan Toleransi

    Mengenang Romo Benny Susetyo, Tokoh Dialog Lintas Iman yang Gencar Kampanyekan Toleransi

    7cloud.asia – Berita duka kembali menyelimuti Indonesia. Pada Sabtu (5/10/2024), tokoh dialog lintas iman yang juga staf khusus Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), R.D. Antonius Benny Susetyo, meninggal dunia.

    Sosok yang akrab dikenal sebagai Romo Benny mengembuskan nafas terakhirnya pada tengah malam, pukul 00.15 WIB, di RS Mitra Medika Pontianak, Kalimantan Barat.

    Romo Benny yang sebelumnya berkarya di Keuskupan Malang ini tutup usia hanya lima hari sebelum ulang tahunnya yang ke-56.

    Ia meninggal dunia saat tengah menjalankan tugasnya bersama BPIP. Saat ini, BPIP tengah menggelar serial Focus Group Dissusion (FGD) mengenai “Kerapuhan Etika Kehidupan Penyelenggara Negara”. FGD ini digelar di sejumlah kota di Indonesia, termasuk di Pontianak.

    Jenazah Romo Benny rencananya bakal diterbangkan dari Pontianak ke Surabaya, dan selanjutnya dibawa ke Malang untuk dikebumikan Senin, (7/10/2024) di komplek Pemakaman Sukun, Malang.

    Baca: Mengenang Romo YB Mangunwijaya

    Sebelum dimakamkan, jenazah Almarhum terlebih dahulu akan disemayamkan di Rumah Duka Gotong Royong, Malang.

    Aktivis Lintas Iman
    Dilansir Katolikana, Romo Benny selama ini menjadi salah satu sosok pastor Katolik yang cukup dikenal publik karena intensif mengampayekan toleransi dan dialog lintas iman.

    Sebelum mengemban jabatan sebagai staf khusus BPIP, ia merupakan pakar komunikasi politik yang kerap kali wira-wiri dalam berbagai talkshow televisi.

    Kiprahnya itu memang tidak lepas dari latar belakang pendidikan yang dia miliki. Romo Benny merupakan penyandang gelar doktor di bidang ilmu komunikasi dari Universitas Sahid Jakarta pada tahun 2022.

    Baca: Mengenal dokter Lo pahlawan kemanusiaan dari Solo

    Akan tetapi, aktivitas pastor yang relatif dekat dengan dunia politik praktis itu kerap kali mengundang tanda tanya dari umat Katolik. Untuk itulah, pada November 2023, ia mengajukan pengunduran diri sebagai imam diosesan Keuskupan Malang.

    Uskup Malang, Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm., setelah menerima pengunduran diri Romo Benny juga sekaligus mencabut kembali yurisdiksi yang selama ini diberikan kepada Romo Benny.

    Dengan demikian, Romo Benny memang masih menyandang status sebagai imam Katolik. Akan tetapi untuk sementara waktu ia tidak boleh menjalankan fungsi-fungsi imamatnya.

    Selama menjadi imam muda, Romo Benny pernah mengabdi sebagai pastor pembantu di Paroki Situbondo, Keuskupan Malang.

    Baca: Lima sosok difabel yang menginspirasi

    Penempatan Romo Benny Susetyo di Paroki Situbondo hanya berselang sepekan setelah terjadinya kerusuhan hebat di kota santri di kawasan tapal kuda ini. Sedikitnya selusin gereja dibakar habis, termasuk Gereja Katolik Situbondo.

    Tanggung jawab tersebut membuatnya berusaha dekat dengan para tokoh dan kaum muslim di Situbondo dan Bondowoso. Pengalaman ini membuatnya banyak bertemu dengan para kiai dan berkunjung ke beberapa pesantren.

    Selain itu, Romo Benny juga tercatat pernah mengemban amanah sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Agama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

    Tak heran apabila Romo Benny lantas juga dikenal sebagai aktivis dialog lintas iman. Requiescat in pacem, Romo Benny. Selamat beristirahat di dalam kedamaian abadi di surga.

    Sumber:Katolikana