7cloud.asia – Menjelang Ramadan, tradisi nyekar kembali meramaikan Taman Pemakaman Umum (TPU) Susukan, Ciracas, Jakarta Timur. Menjelang Ramadan, peziarah biasa berdatangan membawa bunga dan air mawar.
Di masa lalu, tradisi nyekar jelang bulan Ramadan menjadi harapan para tukang ngoret mengais rezeki. Namun, pemakaman yang lebih rapi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, membuat jasa ngoret tak lagi seramai dulu.
Ali, 45 tahun, dan Majuk, 59 tahun, warga asli Susukan, sudah hampir belasan tahun menggantungkan hidup dari ngoret membersihkan makam menjelang Ramadan dan Lebaran.
Dengan peralatan sederhana, mereka merapikan rumput liar, menyapu tanah, dan membersihkan nisan. Pada masa-masa ramai, pekerjaan musiman ini pernah menjadi sumber penghasilan utama.
“Dulu seminggu bisa dapat sejuta sampai dua juta,” ujar Ali saat ditemui 7cloud.asia di TPU Susukan, Selasa, (10/2/2026).
Kini, peminat jasanya berkurang. Bahkan, banyak keluarga yang datang membawa gunting rumput, kain lap, hingga sapu sendiri, memilih membersihkan makam keluarganya secara mandiri sebelum berdoa dan menabur bunga.
Kondisi TPU Susukan yang semakin terawat menjadi salah satu penyebab perubahan itu. Perawatan rutin dari petugas pemakaman di bawah dinas terkait membuat area makam relatif bersih jauh sebelum musim ziarah tiba.
Banyak peziarah merasa cukup melakukan sentuhan kecil sendiri tanpa perlu menggunakan jasa tambahan.
“Bagus sebenarnya,” kata Majuk. “Tempatnya jadi enak dilihat. Tapi ya, dampaknya ke penghasilan kami.” sambung Majuk.
Di sisi lain, suasana menjelang Ramadan justru membawa rezeki bagi pelaku usaha lain di sekitar TPU. Penjual bunga bertambah banyak, air mawar laris, dan pedagang kopi ikut mengisi sudut-sudut pemakaman. Penjaga parkir pun kebanjiran kendaraan, terutama pada akhir pekan.
Tradisi nyekar tetap hidup. Masyarakat datang untuk mendoakan keluarga, menabur bunga, sekaligus membersihkan makam sebagai bagian dari persiapan menyambut bulan suci.
Meski peran jasa pembersihan tak lagi sepenting dulu, Ali dan Majuk tetap datang hampir setiap hari.
Bukan semata mencari penghasilan, tetapi menjaga kebiasaan yang sudah menjadi bagian hidup mereka. Di antara nisan dan doa, mereka menyaksikan perubahan berjalan pelan tanpa gegap gempita, namun terasa nyata.
Penulis: Kemal Mustafa
