Tag: Tradisi Seba

  • Mengenal Uniknya Tradisi Seba Masyarakat Badui, Tahun Ini Singgung Hak Politik

    Mengenal Uniknya Tradisi Seba Masyarakat Badui, Tahun Ini Singgung Hak Politik

    7cloud.asia – Ribuan masyarakat adat Badui yang tinggal di kawasan tanah hak ulayat adat di pedalaman Kabupaten Lebak, Jumat (28/4/2023) melakukan ritual Tradisi Seba di Pendopo Pemkab Lebak, Banten. 

    Acara tahunan Tradisi Seba masyarakat Badui ini akan berlangsung hingga Minggu (30/4/2023) mendatang. Tradisi Seba ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik lokal maupun wisatawan mancanegara. 

    Selama ini masyarakat Badui dikenal sebagai salah satu suku yang menutup diri dari dunia luar. Namun, saat upacara perayaan tradisi seba, ribuan orang Badui, baik Badui Luar maupun Badui Dalam akan melaksanakan perjalanan jauh dari Desa Kanekes ke Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten.

    Tradisi Seba diwariskan secara turun-temurun dan kini menjadi acara yang dinanti-nanti masyarakat. Meski begitu masyarakat suku Badui tetap menjaga makna filosofi leluhur mereka.
     
    Dikutip dari laman kemdikbud.go.id, berikut 6 fakta menarik Tradisi Seba Badui yang tahun ini berlangsung sejak Jumat kemarin.
     

    1. Setahun sekali 

    Tradisi Seba Badui merupakan ritual adat yang telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu. Tradisi Seba diturunkan dari nenek moyang orang Badui ini digelar setahun sekali untuk menyatakan penghormatan kepada penguasa atau pembesar daerah setempat.

    Tradisi Seba Badui biasanya dilaksanakan setiap tahun setelah prosesi puasa selama tiga bulan (Ngawalu) dan berbagi pada saudara serta keluarga (Ngaraksa) selesai dilakukan.

    Dalam Tradisi Seba ini, seluruh masyarakat Badui, terutama para pria akan ikut serta turun gunung menuju kota dan menghadap penguasa daerah atau penggede.

    Penggede yang dimaksud adalah orang-orang yang menjabat di roda pemerintahan, seperti bupati dan juga gubernur. Sebab, suku Badui tinggal di kawasan Lebak, maka pemimpin daerah yang dituju adalah bupati Lebak dan gubernur Banten.

    2. Tidak ada jadwal pasti

    Keunikan Tradisi Seba selanjutnya adalah tidak memiliki jadwal atau waktu yang pasti setiap pelaksanaan setiap tahunnya.

    Jadwal pelaksanaan Seba baru akan diketahui setelah puun atau tokoh adat Badui menerima wangsit dan menyampaikannya pada pemerintah setempat. Setelah itu baru akan dilakukan persiapan pelaksnaan Tradisi Seba.

    3. Penyerahan hasil bumi 

    Dalam bahasa Badui, “Seba” berarti seserahan. Dalam acara tradisi ini, masyarakat Badui akan turun gunung membawa serta hasil pertanian atau hasil bumi mereka, mulai dari pisang, padi, durian, gula aren, dan palawija.

    Seluruh hasil pertanian itu akan dibawa ke kota untuk diberikan kepada penggede. Penyerahan seserahan ini juga menjadi cara mereka mewujudkan rasa hormat terhadap pimpinan-pimpinan di daerah sekaligus bersilaturahmi.

    Tradisi Seba juga memiliki arti bahwa urang kanekes mengaku sebagai bagian dari Republik Indonesia.

    4. Diskusi dan penyampaian wasiat

    Tidak hanya sebagai tradisi yang bermakna mendalam, Tradisi Seba Badui juga digunakan untuk menyampaikan wasiat dari para leluhur adat.

    Secara garis besar, wasiat yang disampaikan tidak akan jauh-jauh dari imbauan untuk menjaga lingkungan dan kelestarian alam.

    Namun, dalam beberapa kesempatan, ada pula makna-makna lain yang terselip di dalam Tradisi Seba ini. Hanya saja karena tak disampaikan secara gamblang, tak semua orang dapat memahami wasiat tersebut.

    Salah satu contoh adalah ketika terjadi Tsunami Selat Sunda pada akhir 2018 lalu. Kejadian itu rupanya telah ‘diramalkan’ masyarakat Badui sejak jauh-jauh hari.

    5. Moment bertemu dengan Suku Badui Dalam

    Secara gaya hidup, masyarakat Badui Luar dan Badui Dalam memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

    Masyarakat Badui luar cukup terbuka terhadap informasi dan teknologi. Mereka sudah mau mengenakan pakaian berwarna dan bergaya seperti kaus dan celana panjang. Badui Luar juga sudah menggunakan teknologi, seperti ponsel atau listrik.

    Sementara Badui Dalam tetap patuh dengan leluhur untuk hidup tanpa teknologi modern. Namun, dalam tradisi seba Badui, kedua komunitas Badui ini akan berkumpul dan berjalan bersama dari Lebak menuju kediaman Gubernur untuk memberikan persembahan terbaik dari hasil bumi mereka.

    Saat pelaksanaan Tradisi Seba inilah, masyarakat luas dapat bertemu dengan mastarakat suku Badui Dalam.

    Baca: Cara masyarakat adat hadapi perubahan iklim

    6. Libatkan ribuan orang

    Setiap kali Tradisi Seba dilaksanakan, jumlah pesertanya dapat mencapai ribuan orang. Baik Badui Dalam maupun Badui Luar akan berjalan kaki bersama, sambil membawa seserahan mereka.

    Saat mengikuti Tradisi Seba, orang Badui Luar biasanya mengenakan pakaian hitam dengan ikat kepala berwarna biru. Sementara Badui Dalam akan mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna putih.

    Selain itu, Badui Luar juga diperbolehkan menggunakan kendaraan bermotor, baik itu motor maupun mobil. Sebaliknya, Badui Dalam tidak diperbolehkan menggunakan kendaraan bermotor sama sekali.

    Menjelang Pemilu 2024 ini tetua masyarakat adat Badui berharap dapat berpartisipasi untuk menggunakan hak politik kami.

    Pemuka adat Badui yang juga Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak Jaro Saija mengatakan masyarakat Badui bebas untuk menggunakan hak politik pada Pemilu 2024, karena tidak ada larangan dari lembaga adat.

    “Kita berharap Pemilu 2024 berjalan damai tanpa menimbulkan perpecahan,” katanya menjelaskan.

    Menurut dia, walaupun masyarakat Badui di kawasan pegunungan kendeng masih kuat terhadap aturan dari lembaga adat. Namun, masyarakat Badui memiliki kewajiban untuk menyukseskan pemilu dengan menggunakan hak politik mereka agar lancar dan terpilih pemimpin berdasarkan nurani hati masyarakat.

    Sebetulnya, pemuka adat melarang warga Badui mengikuti Pemilu karena khawatir menimbulkan perpecahan, salah satu alasannya, bila saja calon kandidat itu tidak terpilih, tentu menimbulkan sakit hati.

    Ia mengatakan pihaknya berharap KPU dan pemerintah Kabupaten Lebak lebih maksimal untuk menyosialisasikan pemilu 2024, karena waktunya kurang tinggal setahun lagi.

    Selama ini, masyarakat Badui mengikuti pemilu dengan syarat tidak ada kampanye juga atribut partai di kawasan hak tanah ulayat Badui.

    “Kami mendukung pemilu damai dan kondusif karena menjadikan kewajiban untuk memilih calon pemimpin bangsa ini,” katanya seperti dikutip Antaranews.com.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     
     
  • Warga Badui Turun Gunung untuk Ikuti Tradisi Seba

    Warga Badui Turun Gunung untuk Ikuti Tradisi Seba

    7cloud.asia – Warga Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten turun gunung untuk menjalani upacara tradisi Seba bersama kepala daerah setempat.

    Tradisi Seba akan digelar di Alun-alun Rangkasbitung, Jumat (17/5/2024) malam dan Gubernur Banten di Kota Serang, Sabtu (18/5/2024).

    “Warga adat yang mengikuti upacara tradisi Seba sebanyak 1.500 orang terdiri atas warga Badui Dalam dan Badui Luar,” kata Tetua Adat Badui yang juga Kepala Kanekes Kabupaten Lebak Jaro Saija di Lebak, Jumat.

    Masyarakat Badui saat ini sudah berkumpul dari 65 kampung sejak pagi dan siap diberangkatkan menggunakan truk terbuka ke alun-alun Rangkasbitung Kabupaten Lebak.

    Kemungkinan pemberangkatan untuk masyarakat Badui Luar menggunakan puluhan truk pukul 12.00 WIB, sedangkan masyarakat Badui Dalam sudah berangkat pada pukul 03.00 WIB dengan berjalan kaki.

    Warga Badui yang akan menghadiri upacara tradisi Seba dengan membawa aneka komoditas pertanian, seperti beras huma, pisang, petai, talas, turubuk tiwu endog, sayuran iris, madu, gula aren hingga penganan ngelaksa.

    Baca : Mengenal tradisi Seba bersama bupati dan gubernur

    Komoditas pertanian ladang itu nantinya diserahkan kepada pimpinan kepala daerah dan pejabat sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

    “Kami berharap pelaksanaan tradisi Seba 2024 berjalan lancar dan semoga hasil pertanian tahun depan menjadi lebih baik,” katanya.

    Menurut Jaro, pelaksanaan perayaan upacara tradisi Seba tahun ini dinamakan “Seba Gede” dengan jumlah peserta 1.500 orang.

    Rangkaian pelaksanaan tradisi Seba itu setelah masyarakat Badui Dalam dan Badui Luar menjalani ritual Kawalu selama tiga bulan dengan berpuasa.

    Baca: Masyarakat Badui siap gelar tradisi Seba

    Namun, ibadah puasa masyarakat Badui dilakukan tiga kali pada bulan Kawalu 1, bulan Kawalu 2 dan bulan Kawalu 3.

    Setelah itu, kata Jaro, masyarakat Badui melaksanakan upacara seren taun atau ngalaksa di rumah tetua kampung dengan menghitung jumlah kepala keluarga menggunakan lidi pohon kaung aren.

    Pelaksanaan seren taun itu di masing-masing kampung untuk mengetahui jumlah warga Badui yang tinggal di kampung itu.

    “Kita hari ini menjalani tradisi adat, yakni Seba dengan Bupati Lebak dan Gubernur Banten,” kata Jaro Saija.

    Babinsa Desa Kanekes, Kabupaten Lebak Sertu Tatang mengatakan pihaknya melakukan pengamanan di pemukiman masyarakat Badui, karena semua laki-laki mengikuti upacara tradisi Seba di Rangkasbitung dan Kota Serang.

    Baca : Mengenal tradisi seren taun

    “Kami bersama kepolisian menjaga keamanan di 68 kampung di kawasan Badui dengan berjalan kaki,” ujarnya.

    Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak Imam Rismahayadin mengatakan masyarakat Badui tiba di alun-alun Rangkasbitung pukul 13.00 WIB.

    Kemudian pada malam harinya akan dilakukan perayaan tradisi Seba dengan bupati dan pejabat serta dihadiri ribuan wisatawan.

    Tujuan upacara Seba secara khusus, antara lain membawa amanat pu’un atau ketua adat, memberikan laporan, menyampaikan harapan, dan menyerahkan hasil bumi.

    Selama ini Seba Badui menjadi salah satu agenda di Provinsi Banten yang masuk dalam Kharisma “Event Nasional Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif”.

    “Kami berharap pelaksanaan upacara perayaan Seba Badui tahun ini berjalan lancar,” katanya.