7cloud.asia – Peneliti Pusat Riset Agama dan Kepercayaan – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ibnu Hasan Muchtar, memaparkan hasil riset mengenai implementasi Tri Hita Karana (THK) sebagai konsep pengelolaan lingkungan berbasis spiritual dan sosial di Bali, yakni di Denpasar, Badung, dan Gianyar.
Dilansir di laman resmi BRIN, Ibnu mengungkapkan, ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan menunjukkan menurunnya keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, antar sesama, dan alam.
“Revitalisasi Tri Hita Karana bukan langkah mundur, tetapi strategi untuk menghadapi perubahan dan tantangan global yang memengaruhi ekosistem pariwisata,” kata Ibnu, dalam Seminar Naskah Publikasi, Monitoring, dan Evaluasi Rumah Program Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (OR IPSH) BRIN, secara daring, Rabu (26/11/2025).
Tim peneliti juga merumuskan strategi melalui pendidikan karakter berbasis budaya lokal, pelibatan komunitas adat, dan harmonisasi kebijakan pemerintah.
Baca Juga: Banjir di Bali dan NTT Tegaskan Pentingnya Pembangunan Kota yang Berkelanjutan
Diskusi turut menyoroti keberlanjutan sistem subak sebagai warisan budaya Bali. Akademisi UIN Kudus, Moh. Rosyid, menegaskan, perubahan lahan, modernisasi, dan tekanan ekonomi mengancam kelestarian sistem irigasi tradisional tersebut.
Dia merujuk pada banjir besar September 2025 sebagai indikator melemahnya daya dukung lingkungan Bali.
“Alih fungsi lahan terjadi masif meskipun sudah ada sembilan peraturan daerah. Penegakan kebijakan perlu diperkuat agar sistem subak tetap bertahan,” tegasnya.
Kepala Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN, Aji Sofanudin, menilai sistem subak seharusnya mendapat perhatian dalam agenda lingkungan internasional.
Baca Juga: Negara dan Korporasi Jadi Pihak yang Paling Bertanggungjawab Atas Terjadinya Banjir Sumatera
Dia mengapresiasi gagasan penyusunan buku kompilasi riset Green Religion dan mendorong pendekatan lintas agama dalam kajian keberlanjutan.
Seminar ini menegaskan Tri Hita Karana dan subak bukan hanya warisan budaya, tetapi fondasi penting bagi keberlanjutan sosial dan ekologis Bali.
Tri Hita Karana adalah konsep hidup yang menekankan keselarasan hubungan antara manusia dengan manusia, alam dan sang pencipta (Tuhan).
Konsep ini dipercaya mampu mewujudkan kehidupan yang peduli lingkungan dan sesamanya.
Kolaborasi riset, sinergi kebijakan, dan peningkatan kesadaran publik dipandang menjadi kunci menjaga ketahanan lingkungan di tengah tekanan pembangunan dan pariwisata modern.
Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial Humaniora
Badan Riset dan Inovasi Nasional
Alamat: Gedung B.J. Habibie, Jl. M.H. Thamrin No. 8,
Jakarta Pusat 1034
Whatsapp:
Email: ppid@brin.
